
Tante ingin ke pemakaman, dan Tante melihat kalian di sana. Lalu tiba-tiba papa mu tidak sadarkan diri, Tante pun mengikuti kalian ke rumah sakit. Sebab itu kita bertemu
Raisa mengangguk "Oh begitu, Raisa pikir Tante menemukan kamu darimana. Ohiya Tante, lalu selama ini mengapa Tante tidak pernah menemui kami?"
"Bagaimana Tante mau menemui kalian, Tante selalu mencari keberadaan kalian namun tidak juga bertemu,"
"Iya gimana Tante mau ketemu, kan kami tidak di Indonesia,"
Cia pun tersenyum melihat tingkah keponakannya. Setelah mengatakan itu, Cia langsung berpamitan kepada keponakannya untuk pergi istirahat ke kamar.
"Tante, tunggu!" Cia pun berhenti, "Ada apa?"
"Dimana suami dan anak Tante?" Cia terdiam, selama ini ia menghabiskan waktunya di penjara. Cia bahkan tidak memiliki kekasih karena fokus dengan kebenciannya terhadap keluarga Shinta.
"Tante tidak memiliki suami, apalagi anak. Tapi Tante memiliki kamu, memiliki Khanza dan juga kak Syifa,"
Raisa pun tersenyum "Tante miliki aku aja jadi anak Tante, Khanza dan kak Syifa juga enggak bakalan mau jadi anak Tante. Karena mereka dengan mami saja tidak dekat apalagi dengan tante, pasti mereka tidak mau!"
Cia sudah menebak itu,.namun bagaimana pun Khanza dan Syifa juga anaknya. Anak dari adik kandungnya sendiri "Tante tahu itu, tapi bagaimana pun mereka adalah anak mami kamu. Dan itu anak Tante juga!"
"Iya Tante!"
Raisa pun langsung masuk ke dalam kamar yang sudah ia pilih. Namun matanya tertuju pada satu ruangan "Tante, itu kamar siapa?"
"Itu kamar nenek kamu,"
"Apakah Tante pernah masuk ke dalam?"Raisa bertanya lagi, Cia pun menggeleng "Tidak sayang! Tante tidak pernah masuk ke dalam kamar nenek kamu, Tante enggak mau merasa sedih karena mengingat nenek kamu!"
"Apakah Tante enggak penasaran tentang kehidupan nenek semasa hidup? Maksudnya setiap orang kan memiliki catatan hidup yang ia tulis di dalam diary, apakah Tante enggak merasa penasaran dengan itu semua?"
Cia terdiam sejenak dengan ucapan keponakannya, mengapa ia tidak pernah kepikiran sejak awal?
"Mungkin saja nenek meluapkan semua kesedihannya di diary itu Tante,"
"Apa yang Raisa katakan ada benarnya, mengapa aku tidak pernah kepikiran selama ini?" Batinnya
"Ya sudah Raisa, kamu istirahat saja. Tante akan masuk ke kamar nenek,"
"Raisa ikut tante! Raisa juga penasaran dengan kamar nenek, apakah di dalam berdebu Tante?"
Cia tertawa dengan pertanyaan keponakannya itu "Tidak lah Raisa! Setiap hari pelayan selalu membersihkan kamar nenek, namun memang Tante tidak pernah masuk! Tante takut merasa sedih mengingat nenek,"
Mereka pun berjalan menuju kamar Elsa, dengan perasaan sedih Cia membuka kamar mamanya. Cia wanita yang baik, hanya saja mamanya selalu menghasut dan menyebarkan kebencian kepadanya.
"Wah, Tante kamar nenek indah dan rapih sekali. Apa ini nenek Tante?"
Dengan mata yang berkaca-kaca, wanita paru baya itu mengangguk "Nenek cantik sekali!" Raisa memuji kecantikan neneknya yang seperti bidadari, namun sayang hati neneknya seperti iblis.
"Ini nenek muda Tante? Cantik banget ya? Seperti bidadari,""
"Iya sayang, nenek kamu sangat cantik. Dan juga baik entah mengapa orang-orang bersikap buruk dan tidak adil kepadanya,"
"Tante jangan sedih! Kita akan membalas semua rasa sakit yang nenek rasakan!"
"Iya sayang, Tante akan membalas orang-orang yang menyakiti hati nenek kamu! Siapapun dia, akan Tante balas!"
"Iya Tante!"
Keduanya masih fokus dengan kamar Elsa yang barang-barangnya tersusun dengan rapih. Kamarnya juga begitu wangi, semasa hidup Elsa memang menyukai wewangian. Sebab itu walau ia sudah tiada. Kamarnya masih saja tetap wangi
Raisa memegang beberapa album neneknya sewaktu muda "Ternyata nenek waktu muda sangat mirip dengan Tante ya?"
"Iya sayang, sangat mirip dengan Tante dan juga mama mu,"
Raisa membuka lemari neneknya, begitu banyak pakaian modis dan branded "Wah, pakaian nenek sangat mahal-mahal ya Tante. Padahal nenek sudah tua, namun style pakaiannya seperti anak-anak muda, ternyata umur bukan lah patokan orang terlihat tua,"
Raisa kaget, bukan kah seharusnya nenek-nenek berpakaian seperti nenek-nenek pada umumnya? Namun mengapa pakaian neneknya begitu elegan dan seksi. Ya walau modelnya memang bukan model terbaru. Namun jika di gunakan masih sangat modis
"Tante juga tidak tahu sayang, mungkin nenek mu sangat suka bergaya,"
"Tante, lihat lah sepatu dan tas nenek juga semuanya branded. Walau sudah lama, namun terlihat sangat bagus. Dan ini bukan seperti model nenek-nenek biasa gunakan. Raisa bisa membayangkan jika nenek dulunya sangat modis dan pintar bergaya. Walau umurnya tidak muda, namun fashionnya seperti anak-anak gadis. Lihat Tante, Raisa tahu ini tidak murah harganya, bahkan tas nenek ada yang seharga milyaran!"
Tentu saja Raisa tahu, karena ia pun pencinta barang-barang branded, namun dibandingkan dengan barang-barang koleksi neneknya. Punya ia bukan lah apa-apa
"Aaaaa, mau nangis Raisa melihatnya Tante. Andai nenek masih hidup pasti sangat menyenangkan shopping bareng nenek!"
Cia tidak mengerti dengan barang-barang branded karena selama ini ia hidup di jeruji besi dan itu semua karena Shinta. Saat masih kecil dirinya pun hanya di sembunyikan saja oleh mamanya, jadi cia tidak memahami tentang fashion.
__ADS_1
Raisa merasa tergiur dengan barang-barang neneknya, jika ia gunakan sekarang orang-orang atau temannya tidak akan percaya jika itu barang neneknya namun Raisa masih memiliki aturan, ia tidak akan memakai barang tanpa seizin yang punya.
"Jika kamu suka, kamu bisa memakai semuanya Raisa! Yang penting kamu nyaman dan bahagia. Percuma juga barang-barang nenek mu tidak ada yang pakai!"
"Beneran Tante? Tante enggak bohong?"
Ujarnya dengan antusias, Cia pun mengangguk "Iya sayang, jika kamu suka. Ini semua milik kamu, lagian buat apalagi semua barang-barang ini?"
Raisa pun melihat begitu banyak perhiasan dan aseksoris lainnya yang mahal-mahal. Bahkan kebanyakan barang limited edition.
"Wah nenek ku memang nenek gaul!" Ujarnya, dengan senang hati Raisa memilih pakaian yang masih modis ia gunakan di zamannya sekarang..
Sedangkan Cia mencari yang disebutkan oleh Raisa tadi "Di mana diary itu?"
Cia mencari di laci lemari, namun tidak ada. Cia yakin pasti mamanya menyimpan sebuah diary itu seperti yang di katakan oleh keponakannya Raisa.
"Di mana diary itu? Aku yakin pasti ada!"
Namun saat Cia mencari tidak ada "Tante mencari apa?" Raisa bertanya dengan bingung, cia pun mengatakan jika ia mencari diary Elsa
"Sayang, Tante mencari diary nenek mu. Seperti yang kamu katakan, Tante sangat penasaran tentang keluhan nenek. Dan setiap rasa sakit yang nenek kamu rasakan! Selama ini Tante enggak pernah kepikiran!"
Raisa tidak perduli dengan diary itu, yang ia perdulikan hanya lah koleksi-koleksi branded dan limited edition neneknya saja.
"Selamat mencari Tante! Raisa juga sedang menikmati mencari barang-barang nenek!"
Raisa tahu, jika semua barang-barang yang ada di kamar neneknya di jual,.ia bisa kaya raya. Apalagi emas yang harganya semakin masa ke masa semakin naik.
"Nenekku memang kaya raya, tidak menyangka aku berasal dari keluarga yang begitu kaya!" Batinnya. Ia tahu jika mami dan Daddy-nya begitu berada, namun dibandingkan dengan harta neneknya. Daddy dan Maminya tidak lah ada apa-apanya
Mata cia tertuju kepada satu buku yang ada di bawah baju lipat "Itu pasti diary-nya mama!"
Cia langsung mengambilnya dan memang benar itu diary ibunya. Cia memilih menyimpan dan membacanya nanti, ia ingin membacanya pada saat malam mau tidur.
"Sayang, Tante ke kamar dulu ya. Kamu masih mau di sini?"
"Iya Tante, Raisa masih mau di sini. Masih mau mencoba pakaian-pakaian ini!"
"Baik lah sayang, gunakan jika memang kamu suka ya?"
"Terimakasih banyak Tante, Raisa sayang banget sama Tante walau itu pertama kita bertemu,"
Cia begitu menyayangi anak-anak dari adiknya, walau Caca tidak menganggapnya seperti kakak itu bukan lah hal masalah untuk ia! Baginya, keluarganya adalah kehidupan Cia. Dan dia akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya
************
Caca masih khawatir, begitu juga dengan Shinta. Shinta lebih takut jika Cia kembali menyakiti anak-anaknya "Aku tahu, kakak mu tidak akan mungkin menyakiti mu. Tapi yang aku takutkan dia menyakiti si kembar! Dia kembali untuk menyakiti keluarga ku,"
Shinta merasa gusar memikirkannya, ia pun tidak mengerti mengapa cia begitu jahat kepada keluarga. Padahal ia sendiri tidak mengenal cia
"Aku tidak mengerti, mengapa kakak mu begitu jahat!"
Shinta menggerutu, bahkan mencaci keluarga Caca yang begitu jahat. Padahal dirinya tidak pernah menyakiti Caca sedikit pun dan apapun yang terjadi di masa lalu antara Caca dan suaminya itu hanyalah masa lalu. Bahkan itu terjadi jauh sebelum ia mengenal Revan.
"Ta, aku minta maaf. Aku juga tidak mengerti,"
"Cih! Kau selalu saja mengatakan itu Caca! Namun saat ada apa-apa dengan lantang kau menyalahkan aku! Kau menyalahkan aku dengan semua hal, bahkan tentang Khanza! Padahal kau sendiri yang menitip kan Khanza kepada mu, namun kau selalu saja menyalahkan aku! Kau menyalahkan aku merebut Khanza dari mu. Padahal kau sendiri yang tidak pernah menghubunginya sedikit pun!"
Revan menenangkan istrinya "Sayang, tenang lah! Mengapa kau marah?"
Shinta menatap kesal suaminya "Lalu aku harus apa? Cia, wanita yang membunuh anak ku sedang berkeliaran di luar sana. Bagaimana jika ia melakukan hal yang nekat lagi? Aku tahu, dia tidak mungkin menyakiti Caca, Khanza, Raisa dan Syifa. Namun bagaimana dengan Alan dan Alana? Jika wanita itu sanggup membunuh bayi tidak berdosa apalagi anak-anakku yang lainnya? Lalu kau menginginkan aku diam saja? Santai saja? Gila apa!"
Caca pun diam, apa yang dikatakan oleh Shinta memanglah benar. Berulang-kali Caca menghubungi anaknya Raisa namun Raisa dengan sengaja tidak mengangkat panggilannya
"Aku tidak mengerti, mengapa Raisa begitu? Memang benar Buah tidak akan jauh jatuh dari pohonnya!"
Ucapan Shinta berhasil membuat Caca merasa tersinggung, namun Caca tidak bisa marah. Karena ia dan keluarganya selama ini sudah keterlaluan dengan Shinta.
Bahkan dengan terang-terangan Caca menyalahkan Shinta dengan semua yang terjadi kepada Khanza juga Syifa. Ia selalu mengatakan jika didikan Shinta tidak baik, namun nyatanya ia lah yang gagal mendidik satu anak saja yaitu Raisa.
*******
Di rumah sakit, Syifa berusaha menghindar dari Arash. Ia tidak memahami mengapa Arash bisa mengetahui keberadaannya!
"Lepasin aku Arash! Lebih baik kamu pulang!"
"Enggak sayang, aku enggak mau pulang sebelum kamu memaafkan aku!"
__ADS_1
Syifa merasa kesal dengan mantan kekasihnya, mungkin Arash menemukan keberadaannya dari ponselnya yang di sadap oleh Arash!
"Pergi lah Arash! Papa ku sedang sakit!"
"Tapi aku ingin kamu memaafkan aku sayang, kamu tahu kan hubungan kita udah begitu lama? Aku enggak bisa jauh dari kamu!"
"Sudah lah Arash! Semuanya sudah berakhir dan aku tidak ingin menemui mu lagi! Pergilah dan jangan ganggu aku!" Syifa menepis tangan lelaki itu.
"Sayang, kamu tahu bagaimana sayangnya aku dengan kamu bukan? Dan aku yakin, kamu juga menyayangi ku!"
Syifa tersenyum kecut "Maaf Arash, namun aku tidak bisa dengan lelaki yang tidak menyayangi keluarga ku. Sudah lah, kau lebih baik pergi saja! Aku tidak ingin membahas ini, Daddy ku sedang sakit dan Daddy membutuhkan ketenangan!"
"Tidak! Aku tidak akan pergi!" Syifa meringis saat Arash mencengkram tangannya dengan kuat "Aw! Sakit Arash! Lepasin!" Pekiknya yang meminta Arash untuk melepaskan cengkramannya namun pria itu tidak mau mendengarkan ucapan Syifa.
"Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau memaafkan aku!"
Arash menarik tangan Syifa membawanya untuk keluar dari rumah sakit. "Lepaskan aku! Apa kau gila! Lepasin Arash!" Syifa merasa tangannya merah karena cengkraman Arash yang begitu kuat
Matanya juga sudah berkaca-kaca, walau sekuat tenaga Syifa ingin melepaskan diri dari mantan pacarnya namun kekuatan lelaki jauh lebih kuat.
Entah kepada siapa Syifa meminta bantuan, bahkan orang sekelilingnya tidak perduli "Mama tolongin Syifa!" Syifa memanggil nama mama Shinta-nya untuk membantu ia terlepas dari lelaki yang tidak waras itu
"Aku tidak akan melepaskan mu sayang! Kau hanya milik ku, dan hari ini aku akan menjadikan mu milik ku selamanya!"
"Enggak! Aku enggak mau! Lepaskan aku!"
Arash masih saja menyeret tangan Syifa. Syifa kaget saat lelaki asing yang ia tidak kenal menghentikan mantan pacarnya
"Lepasin dia!"
"Haha, jangan ikut campur masalah orang lain! Kamu siapa?" Teriak Arash dengan marah. Namun lelaki itu dengan dingin melepaskan tangan Arash dari Syifa.
Syifa memegang pergelangan tangannya yang memerah, ia pun menangis. Karena merasa sakit, Syifa tidak menyangka jika mantan pacarnya akan melakukan hal yang tidak pernah Syifa bayangkan sebelumnya.
"Kamu siapa? Beraninya ikut campur!"
"Jangan beraninya dengan wanita, lawan saya jika anda mau!" Keduanya pun mengalami perkelahian membuat Syifa semakin panik. Ia meminta orang sekelilingnya untuk membantu, namun bukannya membantu orang-orang justru memvideokan adegan itu.
Mengapa zaman sekarang lebih memilih mengabadikan momen daripada membantu orang yang membutuhkan pertolongan?
"Nona Syifa, sedang apa anda di sini?""
Syifa bernafas lega, saat orang suruhan papanya datang "Pak, tolong pisahkan mereka!"
Orang-orang suruhan Revan pun memisahkan Arash dan pria itu yang sedang bertengkar "Nona, apakah mereka menyakiti nona?"
Syifa menatap ke arah Arash, ia masih mencintai kekasihnya itu. Jika ia mengatakan kepada orang suruhan papanya pasti mereka akan memukuli Arash. Syifa tidak akan tega melihat Arash yang nantinya akan di pukul oleh mereka
"Tidak paman! Suruh saja dia pergi!" Syifa menunjukan harinya kepada Arash, lelaki itu yang melihat banyak boddy guard pun ketakutan hingga memilih pergi.
Belum sempat Syifa berterima kasih kepada lelaki yang menolongnya, pria itu sudah pergi. Syifa memanggilnya namun tidak di gubris
"Memang wanita sekarang bodoh karena cinta, sudah jelas-jelas ia ingin di sakiti namun masih saja membela pacarnya!" Gumam lelaki itu yang merasa heran, mengapa wanita yang barusan ia tolong masih menutupi kebusukan pria yang jelas-jelas ingin menyakitinya?
Syifa memandangi lelaki yang baru saja menolongnya dari belakang "Nona, anda baik-baik saja?"
Lamunan Syifa memecah "Iya paman, aku baik-baik saja. Kenapa Paman datang ke sini?"
"Karena papa nona yang meminta saja menjaga Nona,"
Syifa mengangguk, mungkin kehadiran Cia tadi membuat Revan merasa khawatir
Sebab itu papanya meminta para boddy guard untuk menjaga dirinya "Nona, tangan anda memerah. Kenapa?"
Syifa segera menggeleng "Tidak apa-apa paman! Jangan khawatir! Syifa baik-baik saja apalagi ada paman sekarang di sini yang menjaga Syifa. Dan paman yang lainnya," walau itu orang suruhan papanya, namun Syifa sudah begitu dekat dengan mereka. Bahkan mereka sudah menganggap Syifa seperti anaknya sendiri.
Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah sakit, Syifa berjalan dengan melamun ia tidak menyangka jika Arash akan melakukan hal yang nekat. Dan Arash tega menyakitinya.
"Mengapa Arash seperti itu tadi? Arash jauh berbeda tidak seperti dulu, untung saja aku sudah memutuskan untuk tidak bersamanya, jika tidak mungkin ia akan memukuli ku jika sedang marah," batinnya
Syifa pun tidak mau lagi memikirkan tentang mantan pacarnya itu, ia hanya fokus dengan kesembuhan Daddy-nya yang sampai sekarang belum sadarkan diri.
"Paman, apakah mami Caca ada di rumah?" Syifa bertanya kepada orang suruhan papanya.
"Saya tidak tahu nona, karena kami tidak melihat mami nona,"
"Begitu ya paman? Terimakasih ya paman,"
__ADS_1
"Sama-sama Nona, namun saya perhatikan mengapa tangan anda memerah? Apakah ada yang menyakiti nona?"
"Tidak apa-apa paman, dan saya minta tolong masalah tadi jangan beritahu papa dan mama ya? Syifa enggak mau kalau mama dan papa merasa khawatir dengan Syifa. Lagipula, paman dan paman yang lainnya sudah ada di sini menjaga Syifa. Jadi Syifa enggak perlu merasa khawatir lagi?"