
Setelah memastikan anak nya tertidur, Revan keluar kamar menuju kamar si kembar. Ia mendengar tangisan bayi nya. Segera Revan masuk dan mengambil baby Al dari keranjang tidur nya.
Kini, Revan menyadari bagaimana sulitnya sang isteri yang menjaga anak-anak nya.
Selama ini, aku selalu menyalahkan segala sesuatu atas hal yang di lakukan anak-anak, aku melimpahkan segala nya kepada isteri ku. Namun, sekarang aku mengerti. Bagaimana sulit dan lelah nya menjaga anak-anak sebanyak ini. Sungguh melelahkan ~batin Revan.
Revan menggendong, menenangkan baby nya dengan sangat hati-hati, namun baby Al tidak mau diam. Dia bingung harus bagaimana.
"Tuan, maaf. Sini, biar saya saja." terdengar suara baby sister anak-anak yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar si kembar. Revan menoleh ke arah baby sister itu.
"Kenapa? Kenapa kau di sini? Bukan kah kau sedang tidak enak badan? Sudah, lebih baik kau istirahat saja." perintah Revan kepada baby sister nya, namun baby sister itu pun menolak dengan lembut.
"Maaf, Tuan. Saya sudah baikan dan sekarang saya bisa merawat anak-anak kembali."
"Apa kau yakin?"
"Iya, Tuan." akhirnya Revan memberikan baby Al kepada baby sister tersebut, walau mengurus anak nya sebentar. Tubuh Revan terasa sangat pegal. Ia pun segera pergi dari kamar si kembar menuju kamar nya.
Shinta yang menggeliat sedikit membuat Revan merasa gemas. Revan berjalan perlahan mendekati sang isteri.
"Kau begitu sangat imut jika menggeliat begini," Revan naik ke atas ranjang, berbaring di samping sang isteri dan memeluk nya dengan erat.
*********
Di sisi lain, Arvan dengan penuh pertanyaan-pertanyaan di dalam pikiran nya mencoba untuk tenang di dalam taxi.
Dia mencoba mengingat-ingat tentang masa lalu, yang ia fikirkan adalah Caca berselingkuh saat diri nya tidak ada di rumah.
__ADS_1
"Mengapa kau tega melakukan ini padaku?" mata Arvan memerah, terlihat diri nya begitu kacau.
Taxi berhenti di halaman Rumah mereka, setelah memberikan beberapa lembar uang kepada supir taxi. Arvan segera turun dan menuju rumah nya.
"Kembalian nya, Pak."
Arvan menghentikan langkah kaki nya, menoleh ke arah supir taxi itu.
"Ambil saja kembalian nya."
"Terimakasih banyak, pak." Arvan langsung membalikan tubuh nya, melangkah kan kaki masuk ke dalam rumah.
Arvan meminta segelas air minum kepada pelayan, Arvan menunggu kepulangan isteri nya. Ia ingin meminta jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benak nya.
Cekrek!
"Sa-sayang, aku bisa menjelaskan ini semua." ujar Caca yang menangis, memegang tangan Arvan. Arvan masih berusaha untuk tenang, ia tak ingin terbawa emosi yang nanti nya akan menyakiti sang isteri yang ia cinta.
"Bisa kah kau jelaskan segala nya?" ujar Arvan yang masih menahan emosi nya. Caca terdiam sejenak.
"Ak-aku." Caca terdiam, dia masih takut untuk memberitahu kebenaran nya.
"Ayo, katakan! Kenapa kau diam? Bisakah kau menjelaskan nya padaku?" tatapan mata Arvan begitu tajam tak bersahabat.
"Se-sebenar nya dia adalah anak kita."
"Kau berbohong!" Caca kaget dengan nada tinggi Arvan, tangan nya ber-gemetar hebat, mencoba menggenggam tangan suami nya, tangan nya keringat dingin.
__ADS_1
"Katakan!" teriak Arvan kembali.
"Anak siapa itu? Mengapa kau tega mengkhianati ku?"
"Ak-aku tidak berbohong, sungguh. Itu anak kita,"
"Lagi-lagi kau berbohong!" teriak Arvan, kali ini ia menepis tangan Caca dengan kasar. Amarah yang ia tahan kini tak sanggup ia bendung.
"Su-sungguh, aku tidak berbohong, Sayang. Itu adalah anak kita." Caca mencoba menjelaskan segala nya kepada Arvan
"Sewaktu kau pergi meninggalkan ku untuk tugas di luar negeri, aku tidak menyadari jika jika kehamilan ku memasuki lima bulan. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan waktu itu, hubungan kita juga masih sangat tidak baik. Aku tau, aku salah. Aku merahasiakan ini dari mu juga dari mama, setelah anak itu lahir. Aku mengantar nya di panti asuhan. Saat itu, aku tidak siap menjadi seorang ibu dari anak mu,"
Arvan tak sanggup lagi mendengar ucapan isteri nya, ia memilih pergi meninggalkan Caca sendirian. Caca mencoba mengejar Arvan, namun Arvan tak menghiraukan nya bahkan menepis tangan Caca. Caca menangis sejadi-jadi nya.
"Maafin, aku! Ak-aku tidak bermaksud melakukan ini." kini Caca berlutut di kaki Arvan, Arvan memegang Caca. Menyuruh isteri untuk bangkit.
"Sungguh, aku tak percaya ini. Wanita yang ku pikir berhati malaikat ternyata iblis yang paling mematikan. Bahkan, kau tega membuang anak mu sendiri. Ibu macam apa kau ini? Demi cinta mu kepada mantan suami mu, kau tega membuang anak ku! Apa kesalahan ku Caca? Apa? Ya sekarang aku mengerti, kesalahan ku adalah terlalu mencintai diri mu. Hingga, kau tidak nyaman dengan cinta dan perhatian ku." Arvan meneteskan air mata nya, Caca semakin hancur melihat lelaki yang ia cinta menangis seperti ini.
Arvan tak sanggup berkata apa-apa lagi, hati nya sudah sangat terluka dan rapuh.
"Maaf kan aku, aku menyesal." ujar Caca yang terisak, ia ingin meminta ampunan dari suami nya. Namun, Arvan. Tak bergeming sedikitpun. Hati nya begitu sangat hancur dan begitu kecewa.
"Aku memaklumi segala kesalahan mu, tak pernah menganggap dan menghargai ku sedikit pun selama bertahun-tahun, aku terima segala nya. Tapi, aku tidak bisa menerima kau membuang anakku."
"Aku menyesal, saat itu. Aku berusaha mencari keberadaan nya, aku kembali ke panti itu. Namun, dia tidak ada. Dia sudah di rawat oleh keluarga lain, dan aku tidak bisa menemukan alamat keluarga angkat nya." ujar Caca yang mencoba menjelaskan segala nya kepada sang suami. Revan tersenyum kecut. Menoleh dan menatap isteri nya dengan mata yang memerah dan penuh kemarahan
"Apa kau tahu apa yang anakku alami? Dia di rawat oleh keluarga yang tak punya hati, dia mengalami hal yang begitu sulit. Dia di jadikan pengemis oleh kedua orang tua angkat nya. Apa kau tahu itu?" teriak Arvan kepada Caca yang tak terima, ia menyalahkan Caca atas apa yang di alami oleh Raisa. Caca yang mendengar ucapan suami nya pun begitu terkejut. Ia tak tahu, jika Raisa mengalami hal yang seburuk itu. Diri nya merasa begitu bersalah kepada Raisa.
__ADS_1
"Orang yang bertanggungjawab atas apa yang di alami Raisa adalah kau! Dan aku, tidak akan pernah memaafkan mu! Kau dan ibu mu sama saja! Kalian manusia yang paling kejam yang pernah aku temui, bahkan ibu mu pun tidak pernah membuang mu seperti yang kau lakukan kepada Raisa, anakku!" emosi Arvan begitu meledak, ia kehilangan kendali sampai memukul Caca. Perlakuan kasar nya kini kembali lagi, Caca menerima itu dengan lapang dada karena ia tahu diri nya lah yang memang bersalah.