
Begitulah sahabat, sesedih apapun kita pasti selalu merasa terhibur jika sahabat di dekat kita dan selalu mensuport kita. Shinta dan Jennika saling berpelukan satu sama lain
"Udah ah pelukannya, aku mau jumpai pasienku dulu yaa" ucap Jennika
"Iya, aku juga habis ini ingin kerumah sakit melihat keadaan Syifa"
"aku ikut yaa, aku ingin melihat anak itu boleh yayayayayaya" mohon Jennika menggantungkan tangannya kepada Shinta.
"Iya-iya, udah lepasin! Kaya anak kecil aja kamu" melihat Jennika dengan malas.
"Kamu tuh yang kaya anak kecil, enak aja bilangi aku!" Protes Jennika.
"Udah ah aku mau keluar dulu, bye" Jennika keluar dari ruangan Shinta. Shinta hanya menggelengkan kepalanya saja melihat Jennika. Walau umur mereka tak muda lagi, namun mereka selalu saja bertingkah seperti anak kecil. Namun selalu bersikap bijak dan dewasa kalau melihat salah satu diantaranya mempunyai masalah.
Pukul 16:00 wib
Shinta bersiap-siap untuk pulang dan kerumah sakit. Ia membereskan semua perlengkapan yang tadi ia pakai untuk para pasiennya.
"Ayo aku udah siap ta" Teriak Jennika yang masuk kedalam ruangan Shinta.
"Ayo, aku juga udah selesai" Mereka keluar dari ruangan, dan menuju ke parkiran.
"Aku sama kamu aja ya ta, mobil aku tinggal aja disini. Lagi malas nyetir" cengir Jennika yang menunjukkan lesung pipinya.
"Dasar, ayo naik" Shinta memakai helm nya setelah Jennika naik, ia melajukkan sepeda motornya kerumah sakit. Sesampai di rumah sakit, Shinta memarkirkan motornya dulu, lalu ia berjalan masuk kedalam rumah sakit.
__ADS_1
"Tungguin ih" Teriak Jenikka.
"Cepatlah, lama sekali!" Geram Shinta yang melihat Jennika sangat lambat. Mereka berjalan keruangan dimana Syifa berada.
"Mama" Teriak Syifa yang melihat Shinta datang. .
"Hallo sayang" ucap Shinta memeluk Syifa dengan penuh kasih sayang.
"Hallo om, Tante" sapanya pada kedua orang tua Revan, yang dibalas senyuman ramah oleh kedua orang tuanya.
"Mama dari mana saja, kenapa tadi malam tidak jenguk Syifa" memanyunkan mulutnya.
"Maaf sayang, ada hal yang harus mama urus"
"Ini teman mama, ia juga dokter gigi sayang" ucap Shinta memberikan penjelasan.
"Hallo anak cantik" sapa Jennika memegang pipi Syifa dengan gemas
"Hallo Tante" Syifa tersenyum dan menyambut jenniaj dengan hangat. Shinta mendekat kearah orang tua Revan .
"Maaf, om, Tante. Revan nya mana ya?"
"Entahlah nak, kami juga tak tahu. Nomernya tak bisa di hubungin, David bilang ada tugas yang harus di kerjakan oleh Revan dan tak bisa di ganggu oleh siapapun" Ucap Mama Revan.
"Oh begitu Tante, baiklah" Shinta tersenyum kepada kedua orang tua Revan.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya mau ke Syifa dulu ya om, Tante" pamit Shinta.
"Iya nak" ucap kedua orang tua Revan. Shinta berjalan mendekat lagi kearah Syifa.
"Cantik sekali dia" Ucap Mama Revan
"Selain cantik ia juga sangat menyayangi cucu kita" sambung papa Revan.
"Semoga ia kelak menjadi cucu kita ya pa"
"Iya ma"
"Ayo ma kita pulang dahulu, biarkan mereka disini agar mereka bisa lebih akrab lagi" ajak papanya Revan
"Ayo Pa" mereka bangkit dan berjalan kearah Shinta dan juga Syifa.
"Nak, Om dan Tante mau pamit pulang dulu, kamu bisa gak jaga Syifa sebentar?" Tanya mama nya Revan.
"Bisa kok Tante, om dengan senang hati" jawab Shinta dengan semangat.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya nak"
"Sayang, kakek dan nenek pulang dulu ya. kamu jangan nakal" mencium pipi Syifa.
"Iya nek, kek" Syifa tersenyum dan memeluk kakek dan neneknya. Mama dan papa Revan berjalan keluar dari ruangan.
__ADS_1