
Tak lama kemudian, Polisi datang untuk menangkap Revan. Shinta dan yang lain nya kaget begitu pula dengan Revan.
"Apa salah saya?"
"Apa salah suami saya pak? kenapa kalian menangkap suami saya?" Shinta memegang tangan Revan yang ingin di borgol oleh polisi.
"Beberapa waktu yang lalu, suadara Revan menghubungi kami untuk mengurus beberapa mayat di sebuah gedung tua tepat di mana ibu Elsa di temu kan. Kemungkinan, bapak Revan yang melakukan ini semua."
"Saya tidak melaku kan apapun!"
"Lalu, mengapa Anda kesana? dan kenapa anda bisa mengetahui lokasi tersebut?"
"Saya datang untuk menyelamat kan seseorang!" Revan berusaha memberikan penjelasan. Namun, polisi tetap ingin membawa nya. Shinta pun beralih pada Caca. Ia memegang pipi Caca.
"Ca, jangan diam! tolong bicara sesuatu pada polisi ini, jangan bawa suami ku. Kau tahu, bukan? Revan tidak mungkin melakukan itu. Kau juga pernah menjadi isteri nya, iy-iyaa aku ak-kuin. Hubungan Revan dengan i-ib-bu mu memang tidak baik. Tapi, suam-amii ku nggak akan berbuat hal sekeji itu. Kau tahu itu kan Ca? ayo bicara lah! kata kan pada mereka jika suami ku tak bersalah." Shinta bergemetar dan gugup. Ia berusaha menjelas kan pada Caca. Namun, Caca hanya terdiam.
"Tapi, bukti juga udah ada, Ta. Dan motif Revan sudah kuat, ia sengaja membunuh mama Elsa untuk membalas rasa sakit nya." ucap Arvan yang seakan tidak percaya, tapi banyak alasan Revan bisa berbuat itu. Karena, Elsa juga begitu jahat pada keluarga Revan.
__ADS_1
"Apa kau gila! aku tak akan berbuat hal seperti itu." kesal Revan pada Arvan, ia tak menyangka jika Arvan pun tak mempercayai nya.
"Ca, aku mohon bicara lah! jangan diam saja! kau tau kan suami ku tak akan berbuat hal seperti ini." Shinta memegang pipi Caca, mereka saling pandang. Tatapan mata Caca pun sudah kosong.
"Jika memang bukan diri nya. Lalu, kenapa dia ada di sana?" tanya Caca dengan nada melemah.
"Untuk menyelamat kan kedua orang tua Queen! kau tahu, kedua orang tua Queen di sekap oleh mama mu. Mama mu belum berubah! aku kemarin kerumah mu ingin berkata sejujur nya. Tapi, aku tak bisa karena takut kau tak siap mendengar nya dan kehilangan janin mu lagi."
"Lalu, apa guna nya kau bicara sekarang?" tanya Caca lagi.
"Ca, aku mohon. Percaya sama aku, dan Revan! Revan nggak mungkin ngelakuin hal itu. Ak-aku akan menghubungi Queen, agar kau tahu segala nya."
Shinta terdiam, memandang ke arah suami nya.
"Bahkan kau tak percaya pada ku?" tanya Revan pada Shinta. Belum sempat Shinta menjawab, polisi berjalan untuk membawa Revan pergi. Shinta semakin histeris begitu juga dengan Syifa. Shinta mengejar suami nya yang di bawa oleh polisi
"Tunggu!"
__ADS_1
Polisi pun menghenti kan langkah nya, Shinta menoleh ke arah Caca.
"Lepas kan dia pak!"
"Baik lah." Polisi pun melepas kan Revan dan berpamitan untuk segera pergi. Caca tak menoleh ke arah Shinta dan yang lain nya. Pandangan nya kosong fokus melihat ke arah jenazah sang ibu. Shinta mendekati Caca
"Terimakasih telah percaya."
"Bahkan saat ini aku tak tahu siapa yang harus aku percaya. Terlepas Revan pembunuh ibu ku atau tidak. Aku hanya ingin kedamaian untuk jiwa ibu ku. Tapi, jika memang kau pembunuh nya, Revan. Aku tak akan mungkin bisa di dekat kalian lagi."
"Jadi, kau tak percaya dengan suami ku?"
"Bagaimana aku harus mempercayai nya? dengan sebab apa? hati ku berkata dia tak mungkin melakukan itu, tapi di satu sisi. Begitu banyak alasan ia bisa untuk membunuh ibu ku. Apalagi tujuan nya kemarin adalah menyelamat kan orang tua Queen."
"Aku berani bersumpah, Ca. Aku tak melakukan hal itu."
"Aku berharap semoga memang bukan kau!" jawab Caca tanpa berpaling sedikit pun dari jenazah ibu nya. Arvan mendekati dan memeluk isteri nya. Bahkan, Arvan sangat khawatir dengan keadaan Caca. Ia hanya banyak terdiam. Air mata yang terus menetes tanpa mengeluar kan suara. Arvan sangat tahu, bagaimana saat ini hancur nya perasaan sang isteri.
__ADS_1
Kau memang wanita yang begitu buruk di dunia ini, tapi terimasih. Karena kau telah melahir kan isteri ku. Wanita yang berhati malaikat, jujur aku tak sedih atas kematian mu. Apalagi perbuatan mu selama ini sudah membuat banyak keluarga hancur dan mati terbunuh akibat ulah mu. Tapi, aku bersedih, karena isteri ku harus kehilangan diri mu. Aku bersedih, melihat isteri ku tak berdaya seperti ini. Kau lihat! anak yang selama ini kau hancur kan kehidupan nya, kau rusak kebahagiaan nya. Kau rebut cinta dan juga kedua anak nya. Ia begitu menyayangi mu, bahkan ia tak siap kehilangan mu ~ batin Arvan yang memandangi jenazah ibu mertua nya.