
Ibu Syafa memasak makanan lezat untuk Reyhan dengan sepenuh hati, walau pertemuan mereka baru kemarin ibu Syafa sangat menyayangi Reyhan seperti anak nya sendiri. Apalagi, Ibu Syafa tidak mempunyai anak lelaki.
"Wah, harum banget masakan ibu sampai kecium dari luar." peluk ayah Gunawan dari belakang, pria paru baya itu selalu memuji sang isteri.
Wanita itu pun tersenyum, ia mengatakan jika masakan itu hanya untuk Reyhan.
"Lalu, bagaimana dengan saya? Apakah saya tidak di beri makan?"
Ibu Syafa mematikan kompor, ia segera berbalik badan menatap mata suami nya lebih dekat.
"Mas, saya akan memasak makanan berbeda untuk mas. Jangan cemberut begitu dong," membelai wajah suami nya. Ayah Gunawan ayah mengangguk, ia pun segera meninggalkan isteri nya yang sedang memasak di dapur.
__ADS_1
"Sayang, kamu begitu berlebihan." gumam Gunawan. Ia tahu, jika isteri nya begitu sangat berlebihan. Bukan nya Gunawan melarang isteri nya untuk menyayangi anak angkat mereka, namun kali ini sang isteri begitu sangat berbeda.
Gunawan melirik ke arah Reyhan yang sedang tertidur di dalam kamar nya yang kebetulan pintu kamar Reyhan tidak tertutup. Gunawan mendekat, berdiri di depan pintu kamar Reyhan.
Apakah anak ini akan menjadi bomerang dalam keluarga kami atau kebahagiaan untuk kami?
Gunawan bertanya di dalam hati nya, ia berharap jika Reyhan akan menjadi kebahagiaan untuk keluarga nya bukan sebagai pemecah keluarga mereka.
Karena kehadiran Reyhan yang baru beberapa hari telah membuat hubungan isteri dan anak nya tidak membaik, ia berharap semua akan segera membaik.
Caca yang begitu bahagia mengurus baby Khanza pun bermain dengan sang anak.
__ADS_1
"Kamu anak yang kami tunggu-tunggu, Sayang." ujar Caca, ia mengingat beberapa kali telah kehilangan janin saat masih di dalam kandungan. Bahkan walau telah memiliki Syifa, ia tidak memiliki kesempatan untuk merawat anak sulung nya itu.
Caca berjanji kepada diri nya sendiri akan merawat dan menjaga Khanza sepenuh hati. Ia pun akan menebus segala kesalahan nya di masa lalu.
"Mungkin, mami bukan ibu yang baik di masa lalu. Namun, sekarang mami janji akan menjadi ibu yang baik untuk kamu sayangku." ujar nya.
"Kamu juga sudah menjadi ibu yang terbaik untuk Syifa, pengorbanan kamu juga sangat luar biasa untuk Syifa. Mungkin, kamu tidak bisa membesarkan Syifa tapi karena pengorbanan luar biasa mu Syifa mendapatkan kehidupan yang layak." ujar Arvan yang menghibur sang isteri, ia tak ingin jika Caca terus merasa bersalah karena telah meninggalkan Syifa saat diri nya masih bayi.
"Itu semua bukan kesalahan kamu, Sayang. Itu semua kesalahan ku dan keegoisan ku." gumam Arvan kembali yang merasa tidak enak hati, Caca menenangkan suami nya.
"Tidak, ini karena keegoisan mama." gumam Caca. Ia mengingat jika prilaku ibu kandung nya begitu buruk dan jahat, walau ibu nya telah tiada namun kesalahan dan kejahatan yang di perbuat oleh sang ibu tidak bisa di maafkan.
__ADS_1
"Biarkan mama tenang di sana, coba lah untuk menerima dan menerima tanpa membenci keadaan." ujar Caca kembali. Ia sadar, Jika yang berlalu tidak dapat di sesali lagi.
"Kamu itu ibu paling hebat di dunia ini untuk anak-anak kita, jadi jangan mengatakan jika kamu ibu yang buruk di masa lalu. Aku tidak menyukai nya." ujar Arvan kepada isteri nya.