
kini Shinta yang hangat kepada para pekerja pun berubah menjadi dingin..
Rasa trauma nya begitu besar, ia memeluk Khanza dengan penuh kasih sayang. Shinta juga berdoa agar Caca, Arvan dan Raisa segera pulih.
Bukan karena ia keberatan dalam menjaga Khanza namun Shinta juga tidak ingin melihat Caca dan keluarga nya seperti itu.
Revan merangkul bahu Shinta, mengajak istri nya untuk pulang ke rumah.
Pengasuh memberikan segala keperluan untuk baby Khanza termasuk persediaan ASI yang di bekukan.
Setelah menerima barang-barang Khanza, Shinta mengajak Syifa untuk naik ke dalam mobil. Mereka duduk di belakang, Syifa mengajak Khanza untuk bermain.
"Nak, mama mau tanya mengapa kecelakaan itu bisa terjadi?" Shinta masih penasaran, bukan nya mereka sedang liburan?
Syifa pun menjelaskan kejadian mengapa peristiwa itu bisa terjadi.
"Tadi nya kita mau pulang ke rumah karena liburan kali ini sangat tidak nyaman. Syifa memikirkan mama, dan Raisa juga melihat Amira. Teman yang sudah membuly kami di sekolah. Raisa sangat ketakutan melihat Amira, jadi Daddy memutuskan untuk pulang. Di perjalanan, Syifa dan Raisa sangat rewel. Kita mengajak Daddy berbicara, kita enggak lihat kalau ada nenek-nenek yang lewat. Daddy ingin menghindari nenek itu, akhir nya mobil kehilangan kendali dan menabrak pohon besar. Luka Daddy juga begitu banyak."
Syifa terlihat sangat sedih, ia pun menyalahkan diri nya sendiri. Shinta menghibur anak nya.
"Jangan sedih, sayang. Ini bukan salah kamu kok."
"Tapi ma, andai saja Syifa tidak rewel. Mungkin ini semua tidak akan terjadi."
"Tapi nak, jangan pernah menyalahkan diri kamu juga."
Syifa menangis, Shinta menghapus air mata anak nya.
"Jangan selalu menyalahkan diri kamu atas apa yang telah terjadi di sekitar mu nak." ujar Shinta, Syifa mengangguk.
Revan pun membenarkan ucapan istri nya, Syifa tidak harus selalu merasa bersalah jika sesuatu terjadi di sekitar anak nya.
Syifa pun tidak mau musibah itu datang, namun itu sudah suratan dari Tuhan. Tidak bisa di hindari, andai pun Syifa tidak mengajak bicara Arvan. Kalau memang harus kecelakaan pasti akan terjadi juga.
******
Di rumah sakit, perlahan Caca membuka mata nya. Ia menoleh ke samping melihat anak nya Raisa masih tidur, Caca terasa sangat haus ia ingin mengambil air minum yang ada di atas meja.
Pintu ruangannya terbuka, Caca kaget melihat Lily yang masih ada di sini.
"Mama dan Shinta belum pulang?" tanya Caca.
"Shinta dan yang lain nya sudah pulang. Mama dan Papa sengaja tetap tinggal untuk menjaga kalian."
Caca merasa terharu, mata nya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika ke dua orang tua Revan seperduki itu kepada nya.
Lily mendekati Caca, ia bertanya apakah Caca membutuhkan sesuatu. Caca mengangguk, ia mengatakan jika diri nya merasa sangat haus.
Lily mengambil segelas air putih yang ada di atas meja, memberikan nya kepada Caca.
Caca menerima gelas itu, meneguk perlahan demi perlahan hingga air putih itu habis.
"Terimakasih ma."
Lily mengambil kembali gelas kosong dari tangan Caca, Lily mengatakan jika anak tidak perlu mengucapkan terimakasih kepada ibu nya. Lily meletakkan gelas kosong itu kembali ke tempat nya
Caca semakin terharu, ia menangis. Lily mendekati Caca dan bertanya apa yang terjadi.
"Nak, kenapa kamu nangis?" Lily menghapus air mata Caca, Caca mengatakan jika diri nya sangat terharu melihat kebaikan keluarga Revan.
Lily mengatakan kepada Caca agar tidak merasa sungkan.
"Mama menyayangi kamu bukan karena kamu menikah dengan anak mama dulu. Walau kalian sudah tidak bersama namun kamu tetap ibu dari cucu nya mama. Mama juga sudah menganggap mu sebagai anak mama sendiri."
Walau papa nya Caca Brian masih hidup, namun Brian pun tidak perduli dengan Caca.
Bahkan tidak pernah bertanya bagaimana kesehatan Caca. Memang papa nya selalu menyambut hangat kedatangan sang anak dan menantu serta cucu namun hanya sebatas itu.
Caca merasa seperti tidak memiliki keluarga selain keluarga Shinta dan Revan.
__ADS_1
Hanya keluarga mereka yang begitu baik dan perduli kepada nya dan juga anak-anak.
"Nak, kamu juga jangan khawatir. Khanza sudah bersama tata."
"Iya ma, maaf sudah merepotkan kalian." ujar Caca. Lily kembali mengatakan jika ia tidak pernah merasa direpotkan sedikit pun.
Lily pun meminta Caca untuk kembali istirahat, Caca mengatakan ia ingin melihat keadaan Arvan suami nya.
Lily mengatakan jika ia dan suami nya Tommy sudah melihat keadaan Arvan, dokter mengatakan jika belum ada perkembangan dari Arvan.
Caca merasa sedih namun Lily menghibur Caca.
"Jangan sedih sayang, banyak lah berdoa agar suami mu segera sadar."
Caca mengangguk, ia berdoa agar suami nya lekas sadar dari koma nya Caca tidak sanggup menjalani hari-hari nya tanpa sang suami, hanya suami dan anak-anak yang saat ini ia punya.
Jika suami nya Arvan berbaring tak berdaya di rumah sakit, siapa yang akan menjadi kekuatan dan pelindung bagi Caca?
Lily meminta Caca untuk jangan stres demi anak-anak nya dan jika Caca stres. ASI nya bisa tidak keluar itu akan berdampak besar bagi Khanza.
Khanza masih membutuhkan banyak ASI dari ibu nya.
*********
Cia merasa puas akhirnya ia bisa menguasai sel itu.
tahanan satu sel dengan Cia yang awal nya sombong dan menghina Cia kini terdiam, tak berkutik sedikit pun. Bahkan menuruti semua permintaan Cia.
Cia wajah nya sangat polos dan anggun namun kelakuan nya begitu jauh berbeda dengan wajah anggun nya.
Siapapun yang melihat tidak akan percaya dengan sisi gelap yang dimiliki oleh Cia.
Cia pun mendapatkan jenguk kan dari papa nya sebenarnya ia enggan menemui keluarga nya kembali namun ia harus tetap menemui papa nya itu.
Polisi membawa Cia dengan tangan yang di borgol untuk menghindari tahanan melarikan diri.
Cia duduk dengan santai, Brian menatap anak yang selama ini ia rindukan.
"Mau ceramah lagi?" ketus Cia, Brian menggelengkan kepala nya.
Cia begitu mirip dengan Lee, Brian sangat menyayangi Lee. Ia merasakan kehadiran Lee kembali, Brian membawa kan makanan untuk Cia namun dengan terang-terangan Cia menolak.
"Tidak perlu, bawa lah kembali makanan itu. Jika tidak ada yang mau di bicarakan lebih baik aku masuk ke dalam. Malas membuang waktu dan energi."
"Tenang lah nak papa hanya ingin melihat kamu. Kamu begitu mirip dengan Lee, anak kesayangan saya."
"Haha, itu tentu saja..Karena kami kembar tapi aku Cia, Pa bukan Lee!"
Brian tau, namun ia merindukan wajah itu. Wajah yang begitu mirip dengan anak kesayangan nya Lee.
Cia tau jika papa nya bertemu hanya untuk menghilangkan rasa rindu nya kepada saudara kembar nya yang sudah tiada itu. Bukan kepada dirinya.
Begitu malang nasib Cia memiliki adik dan juga papa yang tidak perduli kepada nya.
Cia merasa hanya mama nya Elsa yang menyayangi nya. Sedangkan adik dan papa nya tidak.
Cia kembali kesal, membanting rantang bawaan sang papa ke lantai. Tentu saja hal itu membuat Brian terkejut, ia meminta kepada anak nya tuk tidak emosi.
"Jangan emosi nak!"
Cia langsung bangkit, masuk ke dalam. Brian memanggil nama Cia namun Cia tidak menghiraukan nya.
Cia merasa begitu muak dan kesal dengan papa dan juga Caca adik nya.
Padahal Cia menyayangi mereka, namun mereka tidak menyayangi nya.
Cia juga memberikan pesan kepada pengawas jika adik dan papa nya ingin bertemu dengan nya kembali. Ia tidak bersedia, pengawas pun mengangguk.
Menghargai permintaan para tahanan.
__ADS_1
Dengan begitu, Cia tidak harus menemui keluarga yang hanya membuat nya merasa sakit hati saja.
Brian berusaha memanggil anak nya namun Cia tidak mau lagi bertemu dengan Brian.
Sedih sekali rasanya, Cia mengira jika kehadiran nya akan membuat papa dan adik nya senang dan mereka akan berkumpul sebagai keluarga bahagia namun ternyata Cia salah.
Bahkan adik nya tega menjebloskan diri nya ke dalam penjara.
kepolosan Cia sudah di bumbui oleh kebencian oleh Elsa semasa hidup nya. Jadi Cia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah untuk nya.
Cia merenung, bagaimana penderitaan mama nya sewaktu masih hidup. Pasti mama nya sangat menderita.
Pantas saja setiap malam mama nya menangis, Cia sering melihat mama nya menangis tak berdaya. Padahal itu semua hanya sebuah trik.
Cia yang kesal kembali melampiaskan amarah nya kepada salah satu tahanan satu sel nya. Ia kembali menyiksa tahanan itu hingga diri nya merasa puas..Sudah tiga tahanan yang menjadi korban kemarahan Cia tentu saja membuat tahanan lain menjadi ciut.
Satu sel itu terdapat sepuluh orang namun tidak ada satu pun orang yang berani melawan Cia.
Mereka yakini jika Cia seorang psikopat dan bisa melakukan apapun..
Saat pengawas memukul nya, Cia tidak menunjukkan reaksi kesakitan. Bahkan ia menikmati setiap cambukan demi cambukan di tubuh nya. Siapa pun yang melihat nya pasti merinding.
Tahanan-tahanan itu tidak ada yang berani satu pun berontak atau mengadu kepada pengawas. Mereka hanya berdoa agar selamat dari kemarahan Cia.
Cia memperingatkan kepada teman satu sel nya untuk tidak membuat nya merasa kesal atau marah jika tidak mereka akan menanggung akibat nya.
Cia mengatakan itu dengan wajah tersenyum yang begitu mengerikan.
"Apa kalian mengerti teman-teman ku tersayang?" tanya Cia dengan nada yang begitu lembut, namun membuat siapapun merinding mendengar nya.
Mereka menyesal telah mengganggu Cia. Andai mereka membiarkan Cia dan tidak menggangu nya mungkin ini semua tidak akan terjadi.
*****
Di rumah, Shinta membawa Khanza ke kamar nya. Ia pun menggantikan popok Khanza terlebih dahulu.
Syifa membantu mama nya menjaga Khanza. Si kembar Alan dan Alana pun sudah pulang ke rumah.
Shinta kaget siapa yang menjemput anak-anak nya. Si kembar mengatakan jika yang menjemput nya adalah supir.
Shinta pun memaklumi, mungkin Revan yang meminta supir menjemput si kembar.
setelah selesai menggantikan popok Khanza. Shinta ingin memberikan makan kepada ke dua anak nya, si kembar mengatakan jika mereka sudah makan.
Hal itu membuat Shinta emosi, ia bertanya kepada ke dua anak nya siapa yang sudah memberikan ia makan dengan lancang tanpa meminta izin.
Alana mengatakan jika pengasuh mereka yang memberikan makan.
Shinta menitipkan Khanza dan si kembar kepada Syifa.
Ia pun ke luar dari kamar, memanggil kepala pelayan untuk memanggil semua para pekerja di dalam rumah.
Kepala pelayan dengan takut menuruti permintaan Shinta.
Shinta sekarang menjadi pemarah kepada para pekerja padahal dulu ia selalu bersikap hormat dan hangat kepada para pelayan nya.
Semua sudah berkumpul di halaman belakang. Dengan marah Shinta menegur seluruh pekerja nya.
Ia mengatakan jika tidak ada yang boleh lancang memberikan makanan atau minuman kepada anak-anak nya lagi tanpa izin atau sepengetahuan nya.
Beberapa pelayan ada yang tersinggung, namun beberapa pelayan lagi mengerti.
Shinta baru saja kehilangan anak dan itu karena ulah salah satu pekerja.
Mungkin pelaku itu hanya menyamar namun tetap saja membuat Shinta menjadi lebih tidak percaya kepada siapapun.
Siapapun bisa menjadi siapa aja dan kapan pun. Sebab itu Shinta harus lebih ketat lagi menjaga anak-anak.
Semua pekerja pun meminta maaf kepada Shinta dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
__ADS_1
Shinta memaafkan mereka karena emang anak nya tidak terjadi apa-apa. Namun, jika ini terulang lagi, ia tidak akan memaafkan atau tidak akan segan-segan melaporkan pekerja nya ke kantor polisi.