
Hati Shinta dan Revan saling lega akhirnya, setelah sekian lama mereka memendam semua kegundahan hati itu, akhirnya mereka menumpahkan segala keluh kesal yang selama ini mereka saling pendam. Takut menyakiti hati pasangan masing-masing malah hati mereka sendiri yang terluka. Shinta tertidur di bidang dada Revan, Revan mengelus rambut Shinta dan sesekali ia mengecup pucuk kepala Shinta.
***********
Semenjak saat itu Shinta dan Revan semakin dekat dan romantis, Revan jauh lebih lembut dan bisa mengontrol emosinya.
"Hmmm masak apasih Ta, wangi banget" Revan memeluk Shinta dari belakang.
"Aku masakin sup buntut buat kamu, dan semua orang yang ada dirumah ini" Ucap Shinta dengan fokus mengaduk Panci yang bersisi sup. Revan mencium pipi Shinta dari samping.
."Awas Van, malu tau kalau sampai mama dan Syifa lihat" Pipi Shinta kini bersemu merah
"Yakan gak apa-apa ta, kamu isteri aku juga" ucapnya.
"Ehemmmm" ledek lili yang baru saja masuk kedalam dapur.
"Mama gak lihat loh ya" Bukannya melepaskan pelukkan itu, Revan semakin menciumin pipi isterinya di depan sang mama yang membuat lili tersenyum bahagia. Sedangkan Shinta mencoba melepaskan pelukan dari sang suami karena malu oleh sang ibu mertua..
"Lihat nak, pipi isterimu seperti Kepiting rebus" Shinta pun menyengir dan Revan semakin terkekeh melihat raut wajah isterinya yang memerah.
"Lepasin Van" Shinta berusaha untuk lepas dari dekapan sang suami namun kekuatan Revan lebih kuat dan dia hanya pasrah saja.
"Revan kangen isteri Revan ma, gapapa kan kalau Revan manja didepan mama" izin Revan kepada sang mama
"Gak apa-apa dong van, mama malah senang melihat kalian kompak begini, enggak berantam terus. Pusing kepala mama ngelihat kalian bertengkar" Membayangkannya saja sudah membuat kepala lili mau pecah.
"Mama mau pergi dulu kerumah Tante Monica, Syifa mama bawa ya. Jadi kalian bisa ehem ehem dirumah"
"Ishhh apasih mah" ucap Shinta semakin malu karena mertuanya terus terusan meledek dirinya. Shinta dan lili begitu dekat, Shinta sudah tidak canggung lagi berbicara kepada sang ibu mertua. Sedangkan ayah mertuanya keseringan pulang pergi keluar negeri jadi tak heran jika ayah mertuanya jarang kumpul bersama mereka. Dari kecil Revan juga lebih sering bersama mama nya ketimbang papa nya.
"Yaudah mama berangkat dulu ya" Revan pun melepaskan pelukannya dari perut sang isteri dan menyalami mama nya begitu pula dengan Shinta.
"Hati-hati ya ma" ucap Shinta dan Revan secara bersamaan.
__ADS_1
"Syifa, apa Syifa udah siap sayang" panggil lili kepada sang cucu, Syifa pun berlari kearah sang nenek. Sebelum pergi ia pamit dulu kepada mama dan papanya.
"Syifa pergi dulu ya ma, pa" Syifa mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Anak mama cantik sekali, seperti bidadari" puji Shinta kepada Syifa.
"Iya dong ma, Syifa kan Puteri raja" jawabnya dengan polos. Mereka pun tertawa mendengar ucapan Syifa.
"Syifa pergi dulu ya mama, mama jangan nakal-nakal. Dada mama"
"Hati-hati ya sayang, jangan nakal. Kasihan nenek nanti" ucap Shinta dan mencium kedua pipi Puterinya.
"Iya mama" Syifa pun bergantian mencium pipi Shinta" Lili dan Syifa pun berlalu pergi tinggal Revan dan Shinta yang ada di rumah. Para pembantu sedang izin pulang ke kampung karena hari libur.
"Sekarang hanya kita berdua dirumah" Revan kembali memeluk tubuh Shinta dan mencium leher jenjang Shinta
"Ish lepas Van! aku masih masak tau" Shinta tau jika suaminya tidak segera di hentikan, mungkin ritual masak itu akan berhenti dan pagi ini akan menjadi pagi yang panjang untuk mereka berdua. Namun Revan tak mendengarkan sang isteri
"Van!"
"Udah Van, aku masih masak"
"Ya masak aja, aku kan gak ganggu kamu ta"
"Gak ganggu apanya coba!" kesal Shinta, Shinta pun melanjutkan masakannya dan Revan melanjutkan aktivitas nya dan memegang bagian yang ingin ia mainkan. Masakannya pun telah selesai, Shinta mematikan kompornya Revan segera membalikkan tubuh Shinta kehadapannya, dahi Shinta sudah pernah keringat. Bukan hanya karena memasak namun juga karena kejahilan yang dilakukan oleh suaminya.
"Ta, boleh ya" Revan membisikan ucapan itu ditelinga Shinta, Shinta semakin merinding dan memejamkan matanya. Ia sudah tak bisa lagi mengendalikan hasratnya.
Revan pun merasa menang dan membimbing Shinta untuk kekamar. Seharian ini mereka habiskan berdua didalam kamar, bahkan sup yang tadi Shinta masak belum di sentuh sama sekali.
******
Setelah melakukan aktifitas yang melelahkan itu Revan memejamkan matanya di samping sang isteri, Shinta mencoba menetralkan nafasnya.
__ADS_1
"Van, ayo makan" ajak Shinta.
"Kan aku udah makan kamu tadi" spontan Shinta memukul bahu suaminya, ia tak habis pikir manusia dingin seperti Revan pun memiliki pemikiran kotor seperti itu.
"Aku laper Van" Revan pun membuka mata dan langsung bangkit.
"Ayo makan" ajak Revan kepada Shinta
"Tunggu, aku mau mandi dulu Van" Revan pun mengembangkan senyumannya, otak kotornya kembali lagi. Ketika Shinta berjalan menuju kamar mandi Revan pun mengikutinya dari belakang, Shinta berbalik badan ke arah suaminya
"Mau ngapai?" Tanya Shinta dengan curiga.
"Mau mandi lah" jawab Revan dengan entengnya.
"Enak aja! Aku dulu yang mandi baru kamu!"
"Butuh waktu yang lama Ta, aku juga laper. Mending mandi berdua aja" Revan menaikkan satu alisnya kepada Shinta.
"Tadi katanya gak laper"
"Ya kan tadi, sekarang laper lah"
"Hufttt" Shinta membuang nafasnya dengan kasar dan memilih mengalah, karena ia tahu berdebat dengan Revan juga gak bakalan menang untuk saat ini
"Inget ya, cuman mandi gak lebih!" Shinta mencoba memberikan peringatan kepada sang suami, namun Revan tak menjawab dan terlebih dulu masuk kedalam kamar mandi.
"Yaudah cepetan mandi Van"
"Kenapa sih buru-buru, sini aku sabun-in punggung kamu ta"
"Gak usah, aku bisa sendiri Van. Aku bukan anak kecil, kamu mandi aja dulu" Shinta mencoba untuk menghindar dari suaminya yang sedang gila itu. Ia yakin, jika ia menuruti apa kata sang suami pasti mandi mereka akan lama. Namun Revan tak menyerah ia terus saja membujuk Shinta dengan segala macam cara sampai Shinta sendiri lelah dan mengalah.
"Terserah dia saja" gumam Shinta lagi setengah harian ini dia sudah lelah dan gak punya tenaga lagi untuk berdebat. Setiap sentuhan yang diberikan Revan membuat Shinta terlena. Bukannya semakin mempersingkat waktu, kini mereka sudah menghabiskan waktu selama 2 jam di dalam kamar mandi. Dan hanya mereka lah yang tahu apa yang terjadi didalam kamar mandi.
__ADS_1
*Setiap adegan 18+ nya sengaja di cut ya, author belum mahir dalam hal begituan. Silahkan di Bayangi masing-masing saja hehe.