
Mereka pun masuk kedalam rumah, Shinta menggendong tubuh mungil Syifa dan menciumi pipi Syifa ber-ulang ulang. Sesampai di ruang tamu mereka ber empat pun duduk di sofa, terlihat Tommy sedang membaca koran sambil menikmati kopi buatan isterinya. Shinta sekilas melihat kearah ayah mertuanya lalu menoleh menatap Syifa. Shinta mencoba menutupi kesedihannya dengan mengajak Puterinya bermain.
"Hihi geli mama" Syifa begitu merasa geli karena pipinya di cium oleh Shinta secara berulang ulang
"Syifa udah makan?"
"Udah mama" Syifa mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu.
"Kalian sudah makan?" Tanya lili kepada anak dan menantunya
"Tadi udah ma, sebelum berangkat kita udah makan" jawab Shinta dengan sopan
"Yaudah, kalau begitu kalian istirahat dulu pasti capek"
"Iya ma, kalau gitu kita ke kamar dulu ya" Ucap Revan lalu bangkit dari duduknya dan mengajak Shinta beristirahat didalam kamar. Mereka pun pamit dan langsung masuk kedalam kamar yang diikutin oleh Syifa. Revan dan Shinta pun berbalik menoleh kearah sang Puteri yang berjalan mengikuti mereka dari belakang
"Sayang kenapa Syifa ikut" tanya Revan dengan lembut
"Syifa mau sama mama, kangen" jawabnya polos, Shinta pun tersenyum dan berjalan mendekat kesyifa lalu menggendong tubuh mungil Puterinya dan membawa syifa ke dalam kamar. Didalam kamar Shinta menduduki Syifa di atas tempat tidur
"Kamu tunggu sebentar ya sayang, mama mau mandi dulu" Ucap Shinta kepada Puterinya, ketika mendapatkan anggukkan dari sang Puteri Shinta langsung masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, selesai Shinta mandi Revan pun bergantian membersihkan tubuhnya. Shinta membaringkan tubuhnya di sebelah Syifa dan memeluk Puterinya dengan erat, rasanya ia begitu sangat merindukan Syifa begitu juga dengan Syifa yang lebih manja dari sebelumnya. Mereka pun tertidur pulas, Revan keluar dari kamar mandi dan melihat anak dan isterinya sedang tertidur pulas dengan berpelukkan. Revan pun tersenyum dan mendekat kearah mereka, Revan mencium kening Shinta dan Syifa secara bergantian. Shinta menggeliatkan badannya dan membuka sedikit matanya, rasanya ia begitu mual mencium aroma tubuh suaminya.
"Kau bau sekali" ucapnya
"Bau? Aku baru selesai mandi dan kamu bilang aku bau?" Revan mencium daerah ketiak nya namun ia merasa tidak ada bau, malah aroma parfum yang biasa ia kenakan.
__ADS_1
"Kau memakai parfum apa? Bau sekali"
"Aku memakai parfum yang biasa aku gunakan sayang" Ucap Revan
"Enggak!" ucapnya galak
"Pergi sana, jangan dekat aku tak suka wangi mu" Shinta pun menutup hidungnya dengan selimut, Revan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal
"Mulai lagi deh" batinnya dalam hati
"Sana jauh-jauh!" Shinta mendorong tubuh suaminya
"Iya-iya, aku keluar" akhirnya Revan mengalah dan pergi meninggalkan isteri dan Puterinya didalam kamar. Namun ketika Revan ingin Keluar dari kamar Shinta menangis layaknya anak kecil yang membuat Revan kaget dan mendekat ke arah isterinya.
"Kenapa menangis sayang" Ucap Revan
"Mama kenapa" Syifa langsung memeluk Shinta dan menghapus air mata wanita yang ia anggap sebagai ibunya
"Papa apain mama, kok mama nangis" ucap Syifa yang memasang wajah galak kepada sang ayah, Syifa melepaskan pelukannya dari sang ibu dan bangkit ia pun berkacak pinggang seolah ingin menantang Revan.
"Papa jangan macam-macam sama mama, nanti papa yang berhadapan langsung sama Syifa kalau buat mama nangis" Syifa memasang wajah galaknya, Bukannya merasa takut namun Revan merasa gemas melihat wajah imut Syifa, bukan hanya Revan, Shinta pun yang awalnya menangis menjadi tertawa terpingkal pingkal melihat tingkah imut putrinya. Revan dan Syifa secara bersamaan menoleh kearah Shinta, Ayah dan anak itu pun merasa bingung dengan sikap Shinta
"Kau sungguh menggemaskan sayang" Ucap Shinta yang masih saja tertawa dan langsung memeluk tubuh mungil Puterinya.
"Bukannya mama tadi menangis, lalu kenapa sekarang tertawa?" Syifa memiringkan kepalanya dan melihat mata sang ibu dengan penuh tanya.
__ADS_1
"Tadi mama menangis karena papa jahat mau ninggalin mama, dan mama tertawa melihat wajahmu yang begitu menggemaskan" Ucap Shinta dengan perasaan yang begitu bahagia dan langsung mencium pipi Puterinya.
"Mengapa sikap Tata begitu membingungkan" Gumam Revan dalam hati, beberapa hari ini ia melihat perubahan sikap sang isteri, emosi sang isteri yang tak terkendali, dan nafsu makan sang isteri yang tak seperti biasanya.
"Sayang, apa kau tak ingin kedokter" Tanya Revan takut-takut, Shinta pun menoleh kearah Revan dengan tatapan yang begitu menyeramkan membuat bulu kuduk lelaki itu merinding.
"Apa kau kira aku sudah tidak sehat sampai harus dibawa kerumah sakit" ketusnya dan mengerucutkan bibirnya kedepan
"Bukan begitu sayang, aku hanya tak ingin kamu kecapean aja" Revan memberikan penjelasan kepada sang isteri agar Shinta tak merasa tersinggung
"Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin bermain dengan Syifa" ucapnya menatap mata indah sang Puteri
"Sayang" panggil Revan dengan suara rendah
"Hmm" tanpa menoleh kearah sang suami
"Apa kau sedang kedatangan tamu?" Revan sangat berhati hati bertanya kepada sang isteri yang seperti macan betina saja galaknya
"Apa kamu gak lihat, aku kan sama kamu sama Syifa, mana mungkin tamu aku datang"
"Maksud aku, kamu lagi menstruasi?" Mendengar pertanyaan dari sang suami, Shinta langsung teringat dirinya yang sudah telat 3 Minggu tidak datang bulan. Namun ia tak berfikir dan berharap berlebihan, Shinta mengira itu hal wajar karena beberapa Minggu belakangan ini Shinta begitu stres dengan adanya masalah yang datang bertubi-tubi
"Belum, mungkin beberapa hari kedepan aku akan datang bulan" jawabnya
"Oh" Revan mengangguk dan menebak sikap aneh sang isteri karena siklus dari menstruasi.
__ADS_1
"Emang kenapa?"
"Tidak sayang, aku hanya bertanya saja" ucap Revan dan menyengir, rasanya ia begitu kwalahan menghadapi perubahan mood sang isteri.