
Revan menatap istrinya tanpa mengatakan apapun. Shinta pun juga menatap mata suaminya dengan tangisan menyesal.
"Alana, sudah ya nak? Kamu minum dulu biar tenang!"
Revan memberikan segelas air putih yang ada didekat meja kamar Alana, memang setiap kamar tersedia air putih.
Alana menyeruput sedikit demi sedikit air putih yang di berikan oleh papanya
"Alana kamu jangan menangis nak! Kamu harus tenang!"
"Alana sudah tenang pa," kini perasaannya jauh lebih baik, setelah mengungkapkan semua rasa sakitnya
"Maaf jika perkataan Alana kurang ajar, Alana memang egois, dan Alana hanya ingin mengungkapkan semuanya yang Alana pendam selama sepuluh tahun belakangan ini,"
"Alana, sayang. Maafin mama ya nak? Mama enggak pernah mau kehilangan kalian,"
Alana menatap mamanya dengan mata yang sendu "Tapi mama udah lama kehilangan Alana!"
Alana segera bangkit, ia berlari keluar kamar. Shinta ingin mengejar, namun di cegah oleh Revan "Biarin dia tenang sekarang! Kalau kamu mengejarnya dia akan semakin merasa tidak nyaman."
Shinta menangis sejadi-jadinya "Aku gagal menjadi seorang ibu,"
"Itu yang selama ini aku katakan kepada mu, namun kamu tidak mendengar kan aku dan mengatakan jika anak-anak kita anak yang baik, dan aku yakin. Bukan hanya Alana yang merasakan itu, tapi juga Alan juga Syifa. Semenjak kehadiran Khanza kamu hanya fokus dengannya!"
"Aku hanya ingin menjaga amanah dari Caca. Aku takut gagal, seperti menjaga Al anak kita,"
"Tapi kenyataannya, kamu kehilangan anak kamu sendiri yang masih ada. Aku tahu, Shinta. Kepergian Al bukan hal yang mudah untuk kamu, bukan hanya kamu. Aku juga! Apalagi setelah Ibu dan Ayah telah tiada. Kamu semakin terluka, tapi bukan hanya kamu yang merasa kehilangan, aku dan anak-anak juga kehilangan mereka. Tapi mau sampai kapan? Kamu fokus ke Khanza, dan itu semakin membuat anak-anak merasa enggak kamu sayang!"
Shinta terdiam, kepergian anak dan kedua orang tuanya membuat ia sangat rapuh.
"Aku tidak menyalahkan kamu, sayang! Namun jika sudah begini, harus bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan waktu tidak bisa di putar kembali. Tapi, selagi masih ada waktu, kamu bisa perbaiki semuanya. Kita bisa memperbaiki segalanya, tapi aku mohon. Kamu harus bisa melupakan kesedihan kamu dan merelakan Khanza. Khanza itu milik Caca dan Arvan. Jika Syifa, dia anak aku dan aku masih memiliki hak untuk membawanya tinggal bersama kita, sedangkan Khanza? Aku tidak bisa apa-apa, aku juga menyayanginya namun aku sadar dia bukan milik kita. Dia hanya di titipkan sementara waktu, dan kamu begitu tenggelam dalam sepuluh tahun ini!"
******
Alana duduk di halaman belakang, ia merenung. Dahulu, kakek dan neneknya masih ada. Ia bisa mencurahkan segalanya kepada mereka, namun lima tahun lalu. Kakek dan nenek dari mamanya sudah di panggil oleh yang maha kuasa. Sedangkan kakek dan neneknya dari sang papa, pergi ke luar negeri untuk perobatan mereka.
__ADS_1
"Ini cokelat!"
Alan menyodorkan dua cokelat yang berbeda untuk kembarannya, Alana segera menghapus air matanya itu "Tidak, terimakasih!"
"Huft! Kau menolak pemberian saudara kembar mu ini, aku sangat sedih!"
Alan berpura-pura murung, Alana menoleh ke arah Alan yang cemberut "Sini!"
Akhirnya Alana menerima dua cokelat dari saudara kembarnya itu "Bilang apa?" Alan mengganggunya "Terimakasih!"
Alan mengusap rambut Alana dengan lembut "Nah, kau terlihat jelek jika menangis!"
"Memang aku jelek!"
"Haha, kau mengakuinya!" Alan terkekeh dengan adiknya itu. Alana menatap jengah Alan "Kan kau sendiri yang mengatakan jika aku jelek, dan yang cantik hanya Khanza!"
Alan terdiam, ia melihat hidung adiknya yang memerah seperti badut "Tapi, kau sangat cantik jika begini. Seperti badut!" Alan mencoel hidung Alana "Alan!" Alana memarahi saudara kembarnya dengan kesal dan penuh manja.
"Ini makan lah!" Alan menyuruh adiknya untuk memakan cokelat itu, Alana pun memakan cokelatnya. Kini Alan sedikit lega, karena adiknya merasa lebih tenang
"Alan, mengapa kau baik memberikan aku cokelat?"
Alana mengangguk, tak menggubris ucapan saudara kembarnya itu. Ia pun menghabiskan cokelatnya dengan cepat "Sungguh, hati ku merasa tenang!"
Alana tiba-tiba saja mengatakan itu, namun ia terdiam. Walau Alana begitu keras dan sangat egois namun ia tidak mudah menceritakan kesedihannya kepada orang. Terutama kepada keluarga kecuali hatinya sudah begitu sakit dan kecewa.
"Kau kenapa sedih?"
"Tidak! Aku tidak sedih, hanya ingin merasa tenang saja!"
Alan mengangguk, ia tidak mau memaksa Alana untuk bercerita yang akan membuat Alana semakin sedih.
"Alan, apa kau pernah merasa kecewa?"
Alan mengangguk "Sering, namun aku tidak pernah mengungkapkannya. Dan apa yang kamu rasakan, aku juga merasakan itu. Namun terkadang, aku tidak memikirkan diri ku sendiri, aku memikirkan kebahagiaan orang lain dan mengorbankan perasaan ku!"
__ADS_1
"Lalu, apa kau mengira aku ini egois?"
Alana bertanya kepada saudara kembarnya "Mungkin, namun setiap orang berbeda. Dan perasaan wanita dan lelaki berbeda. Wanita cenderung lebih sensitif seperti mu, karena kalian para wanita menggunakan hati. Sedangkan kaum pria, lebih memikirkan logika. Dan kami enggak pinter mengutarakan perasaan!"
"Kenapa seperti itu? Mengapa tidak bisa?"
"Tidak tahu, tapi yang pasti kami lelaki jauh berbeda seperti wanita yang selalu menangis. Yang selalu meledak-ledak dalam mengutarakan perasaan hati,"
"Apa kau mendengar percakapan aku dengan mama dan papa?"
Alan mengangguk, Alana terdiam "Iya, mungkin aku yang egois. Aku selalu memikirkan diri ku sendiri,"
Alana merasa jika dirinya bersalah. Namun apakah mengungkapkan hati itu salah?
"Tidak! Kau tidak bersalah! Kau tidak egois, itu ungkapan hati yang selama ini kau pendam. Hingga sekarang menjadi bom waktu yang meledak!"
Alan memeluk adiknya, ia pun mengecup kening saudara kembarnya itu "Aku minta maaf Alana, aku tidak memikirkan perasaan mu. Seharusnya, aku bisa memahami mu namun tidak! Aku justru selalu menyalahkan mu, aku menganggap kamu adik ku yang paling egois tanpa aku tahu, jika kamu banyak menyimpan banyak luka yang selalu kamu pendam."
Alana kembali terisak, Alan memeluk saudara kembarnya dengan erat.
"Jika aku bisa Alan, aku akan mengubah semuanya. Meski itu tidak mungkin walau aku mau membawa kamu lewat mesin waktu. Aku akan membawa mu, memperbaiki semuanya. Menemani di masa-masa sepi mu, luka mu."
"Kau tahu? Semenjak nenek Syafa dan kakek Gunawan telah tiada. Aku merasa sendirian, karena hanya mereka yang mengerti aku. Nenek Syafa yang selalu memahami aku, tapi nyatanya? Mereka pergi untuk selamanya, dan aku mungkin di takdirkan untuk sendirian,"
"Tidak Alana! Jangan mengatakan itu! Aku ada untukmu!" Alana menjauhkan kepalanya dari Alan
"Namun nyatanya tidak, Alan! Kamu tidak ada untuk ku. Kamu hanya ada untuk Khanza dan mama, kamu tidak ada untuk ku. Kau tahu Alan? Keluarga kita utuh namun tidak sempurna. Aku merasa seperti tidak memiliki siapapun, aku sendirian. Aku kesepian,"
"Tolong jangan katakan itu Alana! Maafkan kami semua, kami menyayangi mu, dan kami tidak pernah mau kehilangan kamu!"
"Tapi kalian udah kehilangan aku, dan aku kehilangan kalian. Kehadiran aku hanya lah angin yang tak di anggap, aku hanya si pengacau! Aku pengacau di dalam keluarga ini, aku si pembuat masalah. Aku si paling egois di sini, aku tidak bisa memahami kalian. Begitu juga sebaliknya!"
Begitu sesak Alana mengatakan itu, Alan pun merasa teriris dengan ucapan adiknya..
Sebegitu terluka dan menderitanya kah Alana? Dan begitu jahatnya mereka mengabaikan Alana hingga wanita itu menganggap dirinya tak berarti?
__ADS_1
Shinta dan Revan mendengarkan percakapan kedua anaknya, Shinta semakin merasa bersalah. Namun Revan mengatakan tidak ada gunanya terus larut dalam kesedihan.
"Kita mungkin tidak bisa mengubah waktu, tapi kita bisa memperbaiki segalanya sebelum terlambat!"