Ibu Sambung

Ibu Sambung
Luluh


__ADS_3

Ia tau jika tidak seharusnya ia bersikap seperti itu kepada suami, anak dan juga masa lalu Revan.


Namun, ia pun masih tidak bisa menerima segala nya.


"Hey, nona. Ini sapu tangan untuk mu." terdengar suara lelaki yang masih begitu muda mengulurkan tangan nya memberikan sebuah sapu tangan.


Shinta mendongakkan kepala nya melihat asal suara itu, ia menolak untuk menerima sapu tangan dari orang asing.


"Tidak, terimakasih."


Shinta pun bangkit, berlalu pergi meninggalkan pria itu.


Walau ia sedang bertengkar dengan suami nya namun Shinta tidak pernah mencari lelaki lain sebagai pelarian.


Shinta pun mencari taxi untuk pulang ke rumah, namun terlihat mobil Revan yang mendekati Shinta.


Revan membuka jendela mobil nya, menawarkan tumpangan untuk Shinta.


Shinta awal nya menolak, namun ia melihat pria tadi yang ingin memberi nya sapu tangan menatap dan memandangi nya..


Hal itu tentu membuat Shinta risih dan memilih masuk ke mobil.


Revan menatap istri nya. Ia meminta maaf kepada Shinta karena sudah terbawa emosi.


"Maafkan aku, Sayang. Tadi aku kehilangan kendali dan terbawa emosi." ujar Revan..


Shinta pun meminta maaf, tidak seharusnya ia marah-marah kepada Revan.


"Aku juga minta maaf, tidak seharusnya aku seperti ini."


Revan membelai rambut istri nya..Namun Shinta juga meminta waktu kepada Revan.


"Aku mohon, berikan aku waktu dan ruang buat menerima segala nya. Aku tau, mungkin kau dan juga mantan istri mu tidak tau apapun. Tapi ini enggak bakalan terjadi kalau bukan karena kisah kalian dulu."


Revan merasa sedih, bahkan memanggil nama Caca pun enggan untuk Shinta.


Namun Revan tidak mau lagi berdebat dengan istri nya.


Ia pun melajukan mobil nya untuk pulang ke rumah, Revan juga mengatakan akan menjemput si kembar sejam lagi.


Shinta mengangguk, ia menoleh ke belakang dan lelaki itu masih menatap nya.


Shinta merasa Risih sekali, Revan pun mengikuti pandangan istri nya.


Ia bertanya, siapa pria yang ia lihat.


"Siapa dia?" tanya Revan, Shinta menggelengkan kepala nya. Ia pun memang tidak tau siapa lelaki itu


"Aku tidak tau, saat aku di taman belakang ia menghampiri dan memberikan aku sapu tangan." Shinta tetap menjelaskan kepada suami nya agar Revan tidak salah paham.


Ia tahu bagaimana suami nya yang begitu cemburuan, Revan ingin turun dan menghampiri pria yang ingin menggoda istri nya namun di tahan oleh Shinta.


"Jangan buat keributan lagi, sudah cukup. Kepala ku sudah sangat pusing sekarang." ujar Shinta dengan dingin..


Revan pun menuruti permintaan istri nya, hanya Shinta yang bisa membuat Revan yang keras kepala menjadi melunak.


"Baik lah. Kita pulang sekarang."

__ADS_1


Revan yang cemburu pun melajukan pegal gas mobil nya.


Revan meminta kepada Shinta agar tidak mengantar anak-anak lagi. Ia tidak ingin melihat istri nya di ganggu.


Sikap cemburu Revan begitu menggemaskan seperti anak-anak.


Shinta pun menggelengkan kepala nya, tidak habis pikir dengan suami nya.


Di sepanjang jalan Revan gelisah, mendumel. Ingin sekali rasanya ia turun dan memberikan pelajaran kepada lelaki itu.


Terlihat juga lelaki itu jauh lebih muda dari nya, ia takut jika istri nya tergoda dengan orang yang lebih muda.


"Apakah dia tampan menurut mu?" tanya Revan dengan gusar.


"Lumayan."


Revan langsung menghentikan dan meminggir kan mobil nya, menatap Shinta dengan kesal. Ia pun langsung mendekati Shinta dan mengecup bibir Shinta.


Shinta menjauhkan tubuh Revan dari nya, ia begitu kaget dengan tindakan suami nya itu.


Namun Revan tidak perduli, ia kembali mengecup bibir Shinta, bahkan kecupan itu berubah menjadi *******-******* yang tergesa-gesa.


Shinta kesulitan bernafas, memukul bahu Revan untuk melepaskan diri nya..


Saat Revan sudah puas, ia pun melepaskan Shinta.


Mengatakan kepada Shinta jika diri nya tidak suka jika sang istri memuji lelaki lain.


Shinta merasa bingung, padahal ia hanya menjawab apa yang di tanya oleh suami nya namun itu pun salah.


Jika salah,.mengapa harus bertanya kepada ku?


Sesampai di rumah, Shinta langsung masuk ke kamar jennika.


Jennika yang sedang bersantai pun bangkit menghampiri Shinta.


"Kenapa?" tanya jennika bingung.


Shinta tidak mengatakan apapun, lagi pula ia sangat malu jika harus jujur ke sahabat nya.


"Semoga dia enggak cari aku di sini." gumam Shinta.


"Apakah kamu mengatakan sesuatu, Ta?"


"Hem enggak kok Jen. Aku ke sini karena merasa sepi. Anak-anak sekolah."


Jennika paham apa yang di rasakan oleh Shinta, jennika pun mengatakan mengapa Shinta tidak mengajak Syifa untuk pulang.


Shinta terdiam mendengar nama anak nya.


Revan mengetuk pintu kamar jennika, jennika bangkit untuk membuka nya.


"Shinta di dalam?" tanya Revan. Jennika pun mengiyakan karena memang Shinta ada di dalam kamar nya.


"Tolong beritahu dia jika ayah nya datang."


"Baik."

__ADS_1


Revan segera pergi meninggalkan jennika.


Jennika mendekati Shinta dan berkata jika ayah nya datang di bawah.


"Ta, ayah mu datang tuh. Temuin gih."


Shinta pun mengangguk, ia keluar dari kamar jennika untuk menemui ayah nya.


Shinta perlahan menuruni anak tangga satu persatu.


Ia mendekati sang ayah, lalu memeluk ayah nya dengan erat.


Gunawan membelai rambut anak satu-satu nya itu.


"Bagaimana hari mu nak?" tanya Gunawan. Shinta hanya menggeleng.


"Tidak ada, Yah. Hampa saja rasanya." ujar Shinta dengan jujur karena memang semenjak peristiwa kemarin hati nya pikiran nya terasa begitu hampa.


Gunawan mengatakan kepada anak nya jika semua akan membaik seiring berjalan nya waktu.


Shinta mengajak ayah nya untuk mengobrol di dalam kamar baby Al. Gunawan pun mengiyakan ajakan anak nya.


Di kamar baby Al. Shinta menceritakan segala isi hati nya kepada sang ayah.


"Nak, ayah mungkin tidak mengerti apa yang anak ayah lalui karena ayah tidak di posisi kamu. Tapi nak, ayah juga seperti mu, merasa kehilangan cucu ayah. Begitu juga dengan suami, mertua dan anak-anak kamu. Kita semua kehilangan Al, enggak mudah untuk kita semua menerima kenyataan pahit ini."


"Yah, jika kematian anak tata itu wajar, tata bisa menerima nya..Namun, ini tidak wajar, dan di sengaja. Seseorang membunuh anak tata, memberi kan racun di susu nya menyebabkan Al harus pergi untuk selama nya. Dan ayah tau? Pelaku nya adalah saudara Caca. Tata tidak mengerti mengapa keluarga nya begitu membenci tata."


Gunawan mendengarkan segala keluh kesal anak nya, ia pun tidak langsung menyimpulkan segala nya


Gunawan tau jika saat ini hanya nya membutuhkan seseorang untuk mendengar segala keluh kesah dan semua rasa sakit nya.


"Tumpahkan segala nya nak, agar kegelisahan di hati mu mereda."


Shinta pun terus mengatakan hal panjang lebar, bahkan ia menangis.


Gunawan membiarkan anak nya untuk meluapkan amarah nya yang meledak-ledak.


Setelah memastikan anak nya tenang baru lah Gunawan memberikan masukan.


"Nak, apa yang kamu rasakan memang tidak salah. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan itu tidak salah. Namun, kamu melampiaskan nya kepada orang yang salah. Kenapa ayah bilang salah? Nak, suami mu, anak mu dan juga Caca juga tidak salah dalam hal ini mereka itu korban. Misal nya ayah membuat kesalahan, apakah orang harus membenci mu? Padahal kamu tidak tau apa yang sudah ayah lakukan di luar sana."


Shinta menggeleng kan kepala nya


"Atau, kamu pernah membuat kesalahan yang mungkin menyakiti hati orang baik itu di sengaja atau tidak. Apakah anak-anak mu yang harus menjadi sasaran kemarahan orang lain? Tidak nak. Mereka tidak salah, mereka hanya lah korban. Mereka yang di salahkan atas perbuatan yang orang lain lakukan."


Shinta termenung atas ucapan ayah nya.


"Nak, luka Syifa sudah begitu dalam karena masa lalu nya begitu juga dengan Caca dan Revan. Kamu pun tau alasan mereka berpisah itu kenapa, bukan karena keegoisan Caca atau juga Revan. Namun karena keegoisan keluarga Caca dan sekarang kalian sudah bahagia. Jika orang lain yang membuat kesalahan mengapa mereka yang harus kamu salahkan? Apa karena Cia itu kakak nya Caca? Nak, ayah juga sudah mendengar semua nya dari mulut Revan. Dan tadi kamu juga menceritakan segala nya. Ayah tidak menyalahkan kemarahan dan kekecewaan kamu. Namun kamu melampiaskan nya kepada orang yang salah nak. Revan, Syifa dan juga Caca juga korban..Korban dari keegoisan ibu nya Caca di masa lalu. Mengapa mereka juga menjadi sasaran sekarang? Bukan Caca, bukan Revan dan juga bukan Syifa yang membuat baby Al meninggal. Mereka juga terluka dan kehilangan Al. Jangan salah kan mereka nak."


Gunawan berbicara dari hati ke hati kepada anak nya. Ia berharap jika Shinta bisa memahami segala nya.


"Kepedihan dan kehilangan kamu membuat kamu buta dengan kenyataan yang ada. Kamu buta dengan kasih sayang mereka dan kamu buta dengan cinta mu kepada mereka. Mereka menyayangi mu, jangan memusuhi mereka, sayang. Terutama Syifa, Syifa lebih menyayangi dan mencintai kamu daripada ibu kandung nya sendiri."


Shinta menangis mendengar ucapan ayah nya.


"Nak, kamu ingat dulu? Saat ayah tidak setuju dengan pernikahan mu dan Revan karena ia seorang duda dan memiliki anak? Bahkan ayah memukul mu untuk pertama kali nya, tapi kamu meyakinkan ayah dan ibu. Kamu bilang, kamu mencintai Syifa. Menganggap nya seperti anak kandung mu sendiri. Dan pertemuan mu dengan syifa, membuat mu terlahir menjadi seorang ibu. Apa kamu lupa itu semua nak? Kamu menikah dengan Revan bukan karena kamu mencintai Revan. Namun karena kamu mencinta Syifa, namun mengapa kamu sekarang menjauhi nya?"

__ADS_1


Ucapan Gunawan berhasil membuat Shinta menangis. Hati nya perlahan luluh, ia mengingat bagaimana kedekatan nya dengan Syifa dari awal pertemuan.


__ADS_2