
Revan yang memandang isteri nya senyum-senyum sendiri pun bertanya ada apa.
"Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa ada yang kamu pikirkan?"
"Enggak kok, aku cuman berfikir tentang anak-anak yang nanti nya sekamar. Jadi, aku nggak lelah ke sana ke sini untuk mengecek satu per satu."
"Sebab itu aku memberikan solusi tadi."
"Sudah, kalian jangan bertengkar. Mama pusing melihat kalian bertengkar. Jika bukan papa mu pasti kalian, atau si kembar."
"Maaf ya ma kalau kami selalu membuat Mama merasa pusing dengan kelakuan anak, menantu dan juga cucu-cucu mama. Habis nya kebanyakan cucu ini ma, masa Revan mau tambah lagi katanya. Biar bisa buat tim sepak bola, kan aneh. Tata rasanya nggak kebayang bagaimana jadinya jika benar. Hmmm."
"Bagus dong, Ta. Banyak anak, banyak rezeky." sambung Tommy.
"Bener itu kata papa, sebagai menantu yang baik harus dengar kan ucapan papa mertua nya. Banyak anak, banyak Rezky."
"Kalian ini para pria tau nya hanya mengatur, kami para wanita yang mengandung dan melahirkan yang sangat lelah. Apalagi, menjaga dan merawat anak-anak itu tidak mudah! Kalian tau nya hanya mencari uang saja. Membantu menjaga anak aja nggak mau." bela mama Lily.
"Bener banget tuh ma, apalagi anak mama ini. Jika di adek nangis malam, dia hanya bertanya kenapa baby menangis. Tapi, nggak bangun untuk membantu menenangkan. Tau nya hanya marah dan memerintah."
"Jika suami mu begitu lagi, bilang sama mama."
"Memang nya Mama mau ngelakuin apa sama Revan? Mama nggak bisa hukum Revan."
"Kenapa tidak bisa? Mama ini kan Mama mu, walau kamu sudah berumah tangga dan memiliki anak. Mama masih berhak atas dirimu."
"Ada papa di sini, papa nggak akan membiarkan mama menghukum anak kesayangan nya ini. Iyakan pa?"
"Benar dong, mana mungkin papa biarin mama memukul mu. Karena, papa ingin memukul mu secara langsung. Jika, ada papa kenapa harus mama yang menghajar mu." Shinta merasa di bela oleh kedua mertua nya, ia menjulur kan lidah dan meledek ke arah suami nya.
"Papa kan harusnya membela aku, bukan diri nya. Sudah lah! Revan mau masuk kamar aja."
"Ye ngambek kan, kaya Alan dan Alana saja." ledek Shinta kembali, Shinta pun pamit kepada mertua nya untuk kembali ke kamar. Tommy dan Lily pun tertawa melihat kelakuan anak dan menantu nya.
"Mereka memang pasangan yang sangat unik."
__ADS_1
"Benar sekali ma, dulu Revan tidak seperti ini."
"Seperti nya anak kita udah bucin pa."
"Bucin? Apa itu ma?"
"Itu loh pa, yang anak sekarang bilang. Bucin, budak cinta."
"Hahahahahahahaha." Tommy tertawa lepas mendengar ucapan isteri nya.
"Mama ini, kok bisa tahu bahasa seperti itu."
"Mama di ajarin oleh Alan dan Alana, Pa. Cucu-cucu mu itu sangat pintar. Mama selalu belajar bahasa kekinian dari mereka."
"Ada-ada saja anak sekarang. Lagian kenapa Revan bisa seperti itu ya? Dulu, dia memang tidak cuek, tapi juga nggak se bucan seperti yang mama katakan tadi."
"Bucin papa, bukan bucan!"
"Ha iya, sama aja nya itu ma." ujar Tommy yang menahan malu karena salah di hadapan isteri nya.
Revan yang masuk kamar dengan perasaan kesal pun di susul oleh Shinta. Shinta langsung memeluk suaminya dari belakang. Merasakan kehangatan pelukan dari sang isteri, hati Revan berbunga-bunga. Detak jantung nya berdetak lebih kencang. Mungkin memang benar, jika Revan sedang mengalami puber kedua. Untung nya, ia mengalami jatuh cinta dengan isteri nya. Tidak kepada wanita lain
"Jangan marah lagi, Sayang." Shinta semakin mengeratkan pelukannya dengan manja. Revan berpura-pura seakan masih marah.
"Kamu memang suka ya menghina diri ku di hadapan Mama dan papa." ketus Revan.
"Tidak, Sayang! Aku tidak suka! Tapi yang mama dan papa katakan itu kan benar. Lagipula, apa kau tega melihat ku kesakitan lagi jika harus hamil dan melahirkan dalam waktu dekat. Anak kita juga belum ada satu bulan, Sayang. Aku bukan kucing, yang selalu berojol!"
"Tapi, banyak anak kan banyak rezeky." goda Revan kembali, Shinta begitu sangat frustasi menjelas kan kepada suami nya. Dia pun melepaskan pelukan itu lalu menjauh dari tubuh sang suami
"Kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Kenapa di lepas, bukan kah aku masih marah dan kau membujukku?"
__ADS_1
"Aku sangat lelah dan pusing, jika kau ingin marah, ya udah marah lah! Aku ingin istirahat saja, aku sudah cukup lelah menjelaskan nya kepada mu berulang Kali."
"Kan belum sampai seribu kali." Shinta melotot kearah suami nya, bisa-bisa nya Revan masih saja becanda dan menggoda nya seperti ini.
"Begini saja, kau ingin anak yang banyak kan?" tanya Shinta, Revan pun berfikir, lalu ia mengangguk hanya untuk mengerjai isteri nya.
'"Hamil dan melahirkan sendiri!"
"Bagaimana bisa? Aku kan lelaki, tidak bisa hamil atau pun melahirkan."
"Itu urusan mu, bukan urusan ku. Lagipula, kan kau yang mau memiliki anak banyak. Seperti yang kau katakan, banyak anak, banyak rezeky! Ya sudah hamil dan melahirkan sendiri. Agar kau tahu bagaimana sulit nya kami sebagai seorang wanita."
Revan masih berdiri menatap isteri nya dengan menahan tawa. Rasanya ia begitu geli melihat raut wajah sang isteri jika sedang marah seperti ini. Shinta berbaring di tempat tidur dan memalingkan wajah dari suaminya.
"Dasar menyebalkan!"
"Apa katamu?"
Shinta membalikkan tubuh nya, menatap suami dengan wajah kesal dan tatapan sinis nya.
"Kau kan pengusaha, banyak uang. Lain kali, beli lah atau pergi ke doter THT. Agar telinga dan pendengaran mu berfungsi dengan baik. Jangan, hah, hah, apa kata mu, apa kata mu saja!" shinta kembali membelakangi suami nya.
Hahahahahaha!
Revan yang tak tahan lagi menahan tawa nya, ia tertawa dengan lepas dan terbahak-bahak. Perut nya terasa sangat sakit akibat tertawa terlalu keras. Shinta yang mendengar tawa sang suami menjadi kesal dan nge-dumel di dalam hati.
"Lihat lah manusia dingin dan menyebalkan itu. Sudah tau aku marah, bukan nya membujuk dia malah meledek ku dan tertawa begitu keras. Aku doakan dia tersedak biar tau rasa."
Huk! Huk! Huk
Revan yang tersedak membuat Shinta spontan bangkit dan memberikan minum kepada suami nya. Wanita ini memang aneh, sebelumnya ia marah dan menyumpahi suami nya. Namun, melihat suami nya tersedak akibat sumpah yang dia berikan. Diri nya malah khawatir dan memberikan segelas air minum untuk di minum oleh Revan.
"Kau tidak apa?"
"Tidak, entah mengapa tiba-tiba aku tersedak huk!"
__ADS_1
"Tuhan, aku nggak beneran kok memberikan sumpah itu. Aku hanya kesal saja, sungguh!" batin Shinta