
Revan memeluk dan mencium pucuk kepala Shinta kembali, ia mencoba menenangkan isterinya. Shinta pun memejamkan matanya, ia begitu takut jika seandainya Revan meninggalkannya dan kembali kepada Caca yang sudah banyak berkorban untuk nya apalagi semenjak pernikahan mereka Revan tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Shinta. Shinta pun tak mau mengambil kesimpulan apapun.
"Apa kau mempercayai ku?" Revan menjauhkan kepala Shinta dan menatap mata Shinta dengan dalam
"Caca bagian dari masalalu ku, ia ibu dari anakku. Dia sudah banyak berkorban untukku dan juga Syifa, tapi dia hanyalah masalalu ku. Dan kau masa depanku, jangan takut aku akan meninggalkan mu" Revan memegang kedua tangan Shinta dan mencium punggung tangan Shinta. Shinta pun terharu matanya sudah berkaca-kaca ia kembali memeluk Revan dengan manja.
"Ayo kita sekarang keluar" Revan mengajak Shinta untuk keluar kamar menemui Caca. Shinta pun mengangguk dan bangkit untuk keluar.
Di ruang tamu, Caca bermain dengan Syifa di sofa. Mereka tertawa lepas. Shinta yang melihat itu kembali merasakan takut. Ia begitu menyayangi Syifa, apakah kasih sayang Syifa akan terbagi untuknya dan apa Syifa akan melupakannya.
"Kau kenapa" Revan menoleh kearah Shinta
"Tidak apa apa kok" Shinta mencoba menutupi kesedihannya dan tersenyum namun Revan tau betul yang dirasakan oleh isterinya. Shinta tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan egois tata, dia ibu kandungnya dan juga berhak atas dirinya. Kau hanya perlu terbiasa" gumamnya dalam hati, Shinta mencoba menyemangati dirinya sendiri dan tersenyum. Shinta selalu teringat ajaran ibunya, apapun yang terjadi cobalah untuk ikhlas dan selalu tersenyum
"Hai Van, Ta" Sapa Caca yang menoleh kearah Shinta dan juga Revan.
"Hai" sahut Shinta dan Revan secara bersamaan.
"Mama" Syifa berlari kearah Caca dan memeluknya.
"Sayang" Shinta menggendong tubuh mungil Syifa dan menciumi pipi Syifa berulang-ulang.
"Geli mama hihihi" Tawa Syifa. Caca yang melihat kedekatan Syifa dan juga Shinta pun bahagia sekaligus sedih. Ia bahagia jika Shinta menyayangi Puterinya dengan tulus, sedangkan kesedihannya ia begitu sedih karena walaupu ia ibu kandung dari Syifa namun tak bisa sedekat itu dengan Puteri kandungnya sendiri.
"Ma, Syifa mau tidur dirumah Tante ini" Pamit Syifa kepada Shinta, Shinta hanya terdiam dan menatap Revan suaminya. Bagaimana pun Caca ibu yang telah melahirkan Syifa, Ia tak berhak untuk melarang
"Boleh kan ma, pa" tanya Syifa kembali.
"Boleh sayang" jawab Revan dan mengacak rambut Puterinya dengan gemas
__ADS_1
"Hore" heboh Syifa, ia minta untuk turun dari gendongan Shinta, setelah Shinta menurunkan tubuh mungilnya Syifa meloncat kesana dan sini dengan kesenangan siapapun yang melihat nya pun akan gemas akan keimutan Syifa yang tanpa di buat buat. Caca pun tersenyum bahagia dan mengucapkan banyak terimakasih.
"Terimakasih banyak" caca memeluk tubuh Shinta dengan erat.
"Kalau begitu kami pamit dulu yaaa" Caca melepaskan pelukannya dari Shinta
"Sebentar, aku akan menyiapkan keperluan untuk Syifa nanti dirumahmu" Shinta pun berlalu kekamar, ia menyiapkan segala keperluan Syifa nanti di rumah Caca. Setelah menyiapkan segalanya, Shinta keluar membawa barang-barang apa saja yang dibutuhkan oleh Puterinya tersebut
"Sayang, kau jangan nakal ya disana. Jangan repotkan Tante Caca" Ucap Shinta kepada Syifa, iya mencium pipi Puterinya.
"Kalau begitu kami pamit ya" Ucap Caca, Syifa pun berpamitan kepada Shinta, Revan dan juga Lili.
********
Sesampai dirumah Caca, Caca mengajak Syifa untuk masuk kedalam rumahnya. Syifa pun menuruti kemauan Caca. Diruang tamu sudah ada Elsa yang duduk santai, Elsa sengaja tadi pulang cepat dan memberikan ruang kepada Caca dan juga Revan. Ia pun tersenyum dan menghampiri anak dan cucunya.
"Ada cucu Oma rupanya" Elsa ingin menyentuh Syifa namun Syifa menghindar dan bersembunyi dibalik tubuh Caca.
"Ma, sudah lah! Dia hanya belum terbiasa" ucap Caca kepada sang ibu, Caca pun memegang jemari tangan Syifa dan mengajaknya untuk kekamar. Syifa pun mengangguk dan mengikuti Caca menuju kamar Caca.
"Apa kau ingin sesuatu" Tanya Caca kepada Syifa, namun Syifa hanya menggeleng.
"Tante"
"Iya sayang" Caca sebenarnya sedih mendengar Syifa yang memanggil dirinya dengan sebutan Tante. Namun ia tak mau memaksa sang anak dan ingin memberikan Syifa waktu untuk menerimanya
"Syifa kangen mama" Baru saja Syifa pisah dengan Shinta ia sudah merindukan wanita yang dia anggap sebagai ibunya. Caca pun merasa semakin iri karena melihat Puterinya begitu menyayangi orang lain daripada dirinya.
"Tapikan kita baru saja pisah dari mama kamu" Caca mencoba menetralkan hatinya, ia tak ingin membuat sang anak takut dan menjauh lagi dari dirinya.
"Tapi Syifa kangen hiks" Syifa pun menangis dan membuat Caca kebingungan, karena tangisan Syifa yang semakin kuat Elsa pun masuk kedalam kamar Puterinya untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ada apa ini" Tanya Elsa dengan bingung.
"Sayang, kamu kenapa?" Elsa mencoba mendekat ke Syifa dan menenangkannya.
""Syifa kangen mama"
"Inikan mama kamu sayang" ucap Elsa
"Enggak! mama Syifa itu mama Shinta, bukan Tante ini" Teriaknya, Elsa yang mempunyai sifat yang tempramental pun mengepalkan tangannya dengan geram .
"Hei! dia ini ibu kandungmu, bukan wanita itu" Bentak Elsa, Syifa pun semakin takut dan menangis
"Ma, sudah lah!" Caca mencoba menenangkan Puterinya, walau Caca ibu kandungnya Syifa namun ia juga tidak paham bagaimana menghadapi Puterinya. Ia semakin kebingungan, Syifa tidak berhenti menangis apalagi Elsa marah marah didepannya. Akhirnya Caca pun menelpon Shinta dan juga Revan agar menjemput Syifa. 50 menit kemudian, Shinta dan Revan sudah tiba dikediaman Caca. Caca pun menyuruh pelayannya agar membawa Shinta dan Revan masuk kedalam kamarnya.
"Apa yang terjadi, anak mama kenapa menangis" Syifa berlari mendekat kearah sang Puterinya, memeluk dan menciumin Puterinya.
"Syifa mau pulang hiks"
"Kenapa sayang, bukannya kamu mau tidur dirumah Tante Caca" tanya Revan. Syifa menggeleng.
"Ada orang jahat disini pa"
"Pa, mama Syifa itu cuman mama Shinta kan pa" tanya Syifa dengan polos, Revan pun menoleh kearah Caca seakan meminta penjelasan, Caca pun menceritakan semuanya kepada Shinta dan juga Revan.
"Maaf kan mama ku" Caca menunduk kan wajahnya dan merasa bersalah akan sikap ibunya.
"Sudahlah, ini bukan salahmu" Revan memegang bahu Caca.
"Iya, ini bukan salahmu" Shinta pun menimpali. Shinta menggendong tubuh mungil sang anak, Syifa pun terdiam dan tertidur di gendongan Shinta.
"Aku iri padamu, kau bisa begitu memahami Puteriku dan lebih dekat padanya. sedangkan aku seperti orang asing baginya" ucap Caca dengan memasang wajah sedih. Shinta menjadi tak enak hati setelah mendengar ucapan dari Caca. Ia begitu merasa bersalah dan menjadi wanita yang begitu kejam memisahkan ibu dan anaknya.
__ADS_1