Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2- Merasa hancur


__ADS_3

Caca masuk ke dalam kamar yang di ikutin oleh Arvan, pria itu memberikan segelas air minum pada istri nya.


"Minum lah dulu!" Caca pun mengambil gelas tersebut dari suami nya dan langsung meneguk air itu sampai habis. Arvan tahu saat ini yang di rasakan oleh Caca, Arvan sendiri pun merasa kasihan pada Caca. Wanita sebaik Caca tidak pantas memiliki Ibu yang berhati iblis seperti Elsa, Arvan merangkul tubuh Caca dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana? apa sudah baikan?" tanya Arvan, ia tak ingin membahas tentang Elsa, yang terpenting saat ini adalah kesehatan Caca.


"Sudah agak baikkan,"


"Bagus lah, sekarang kamu istirahat ya," pinta Arvan, pria itu pun mengecup pucuk kepala Caca. Caca pun membaringkan tubuh nya di tempat tidur dan mencoba memejam kan mata nya. Caca masih memikir kan kejadian tadi, mengapa putri nya begitu sangat acuh kepada Shinta. Selama ini dia tahu betul bahwa Syifa sangat menyayangi Shinta dan tak pernah berprilaku buruk pada Ibu sambung nya tersebut. Namun, mengapa tiba-tiba Syifa bersikap tidak baik pada Shinta? apa sebenarnya yang terjadi.


"Jika mama benar terlibat, aku bersumpah akan pergi menjauh dari kehidupan mama dan tak akan pernah memaafkan mama,"


"Caca harap mama tidak akan sejahat itu ma,"


"Caca percaya, mama tidak akan setega itu untuk meracuni pikiran cucu mama sendiri yang masih sangat terlalu kecil." gumam nya dalam hati.


"Mama sudah berubah, ia mama sudah berubah," sejujur nya hati kecil Caca meragukan perubahan sang ibu, namun ia juga sangat berharap jika Elsa benar sudah berubah seperti yang selama ini Elsa tunjukkan. Tiba-tiba perut Caca terasa sangat mual dan seperti di putar-putar. Ia pun segera bangkit dan berlari ke kamar mandi, Arvan mengejar Caca.


"Kamu kenapa?"


"Entah lah, rasanya aku sangat mual dan pusing. Tubuh ku juga sangat lemas,"


"Ayo kita segera periksa ke dokter," ajak Arvan.


"Tidak usah! mungkin ini hanya masuk angin biasa saja." Caca menolak dengan sangat halus, apalagi emang ciri khas nya yang begitu lembut.

__ADS_1


Huek! Huek!


Caca pun memuntah kan yang ada di dalam perut nya, tubuh nya semakin melemah. Untung saja Arvan dengan cepat menangkap tubuh Caca yang ingin terjatuh, Arvan langsung membawa Caca yang sudah tidak sadar kan diri menuju rumah sakit. Elsa yang sedang terduduk santai melihat menantu nya menggendong Caca yang sedang tidak sadar kan diri pun langsung terbangun dan menghampiri Arvan.


"Ada apa ini?"


"Tidak tahu ma, Tiba-tiba Caca pingsan. Arvan akan membawa Caca kerumah sakit,"


"Mama ikut." Elsa pun mengikuti sang menantu menuju mobil. Arvan meletakkan tubuh Caca di kursi belakang, Elsa pun duduk di sebelah Caca dan memegang tubuh putri nya. Arvan berlari dan segera memasuki kursi supir. Ia melajukkan mobil dengan sangat kencang, Arvan begitu kalut melihat kondisi istri nya.


"Mengapa Caca bisa pingsan begini?" tanya Elsa yang juga sangat khawatir pada anak satu-satu nya tersebut.


"Tadi Caca bilang kepala nya terasa sangat berat ma, Caca sempat mual dan muntah-muntah sebelum tidak sadar kan diri ma,"


"Dasar"


"Tidak! cepat lajukan saja mobil nya dengan cepat" Elsa harus mengontrol diri nya, ia tak ingin berbicara sesuka hati nya seperti dulu. Yang ada mereka akan tahu, bahwa Elsa tidak benar benar sudah berubah. Ingin sekali Elsa memaki menantu nya yang tak becus menjaga putri nya namun ia harus menahan amarah nya.


"Sial! sekarang aku harus pura-pura untuk lebih banyak bersabar." kesal nya.


*******


Shinta memandangi wajah Syifa melalui kaca mobil spion. Sebelum nya Shinta ingin memangku Syifa untuk duduk di kursi depan, namun Syifa menolak dengan halus. Syifa berkata ingin di belakang agar lebih leluasa untuk tidur, padahal Shinta tahu bahwa putri nya tidak sedang mengantuk. Walaupun Syifa mengantuk, ia lebih suka tidur di dalam dekapan Shinta. Namun, sekarang Syifa seperti menjauh dari dirinya. Hati Shinta begitu sangat sakit melihat sikap dingin putri nya, Revan menoleh sejenak ke arah istri nya lalu fokus melihat ke depan untuk membawa mobil.


"Sayang, kita makan ice cream yuk." ajak Revan.

__ADS_1


"Enggak deh pa, Syifa mau pulang aja dan langsung tidur," Lagi-lagi Syifa menolak dengan halus, ice cream adalah kesukaan Syifa. Ia akan sangat senang jika di ajak makan ice cream, namun kali ini Syifa menolak membuat Shinta semakin sedih, mata nya sudah berkaca-kaca.


Sesampai di rumah, Syifa turun deluan dari mobil, ia berlari menuju kamar nya dan menangis.


"Apa benar mama tidak akan sayang lagi padaku dan akan fokus ke baby Al dan Alana? hiks," Shinta dan Revan pun turun dari mobil.


"Mengapa sikap Syifa aneh seperti itu," tanya Revan.


"Enggak kok, mungkin Syifa hanya lelah dan mengantuk," Shinta mencoba berfikiran positif. Ia pun meyakinkan suami nya, bahwa semua nya akan baik-baik saja. Walau ia sendiri pun sangat sedih dengan sifat dingin yang Syifa lakukan.


Shinta mencoba untuk menemui Syifa, ia ingin memastikan bahwa tidak ada yang terjadi. Ia ingin menyakinkan hati nya, bahwa Syifa masih lah tetap menjadi Syifa kesayangannya yang selalu bersikap manja padanya. Shinta membuka pintu kamar Syifa dan melihat Syifa sedang berbaring. Mendengar suara pintu terbuka Syifa menghapus air mata nya. Ia bangkit dan menoleh siapa yang masuk.


"Mama,"


"Hai," sapa Shinta, Syifa pun membalas sapaan shinta namun tidak ada lagi senyum kehangatan yang selalu Syifa berikan untuk shinta. Shinta mendekati tubuh Syifa.


"Belum tidur? kata nya mengantuk," tanya shinta mencoba mendekati sang putri


"Ini mau tidur ma,"


"Sayang, kamu kenapa? kok mama liat kamu kaya beda gitu sama mama,"


"Enggak kenapa-kenapa ma, Syifa hanya mengantuk saja," Syifa memberikan senyuman kepada shinta namun Shinta tahu bahwa itu hanya senyuman keterpaksaan saja. Hati Shinta seperti remuk, hancur sehancur hancur nya.


"Sayang," Shinta ingin memegang pipi Syifa namun Syifa menghindar.

__ADS_1


"Maaf ma, Syifa mengantuk. Adik bayi pasti menunggu mama. Sebaik nya mama menemui adik kembar ma" Syifa berkata sambil membaring kan tubuh nya membelakangi Shinta.


"Baik lah, Sayang. Mama akan keluar." Shinta pun keluar dari kamar Syifa dengan perasaan yang sangat hancur. Begitu pun dengan Syifa, setelah mengetahui Shinta sudah pergi ia mengambil bantal untuk menutupi wajahnya, Syifa menangis terisak di bawah bantal yang menutupi wajah manis nya. Perkataan Elsa mampu membuat Syifa merasa sangat takut dan hancur. Ia takut jika benar nantinya Shinta tak akan menyayangi nya lagi.


__ADS_2