
Semenjak kejadian kemarin, Shinta lebih teliti dalam merawat ketiga anak nya. Tidak ada yang ia beda-beda kan antara Syifa dan juga si kembar. Lili dan Syafa pun membantu Shinta dalam mengurus si kembar. Jujur, mengurus kedua bayi sekaligus membuat Shinta terkadang mudah lelah dan stres, apalagi ia juga harus mengurus keperluan Syifa, putri sulung nya. Namun, hal itu tak membuat diri nya mengeluh, Revan selalu menawar kan baby sister untuk membantunya namun Shinta menolak, ia ingin ikut serta dalam tumbuh kembang ketiga anak nya
"Sayang, sini mama rapih kan dulu rambut nya." Seperti biasa, Shinta mengurus Putri sulung nya terlebih dahulu
"Ma, kapan kita akan berlibur?"
"Nanti ya nak, beberapa bulan lagi kita akan berlibur,"
"Syifa ingin sekali berlibur ma bersama Mama, Papa, si kembar Alan dan Alana," Syifa mengerucutkan mulutnya ke depan. Shinta mengelus rambut panjang Syifa.
"Mama juga ingin, tapi baby Al dan Alana belum bisa berpergian jauh nak." Shinta mencoba memberikan pengertian kepada putri sulungnya.
"Sudah selesai." Shinta membalikkan tubuh Syifa untuk menghadap diri nya.
"Anak mama sudah cantik," Shinta mencium kening putri nya. Syifa tersenyum dan mencium pipi Shinta
__ADS_1
"Syifa sayang mama."
"Mama juga sayang kamu," Shinta memeluk Syifa yang di balas oleh Syifa, ia memeluk Shinta dengan erat. Syifa begitu sangat merindukan mama nya, ia mengerti semenjak kehadiran adik kembar nya. Kasih sayang dan perhatian Shinta harus terbagi dengan rata, Syifa tak bisa bermain 24 jam dengan Shinta seperti dahulu lagi namun Caca selalu memberikan pengertian kepada syifa
Flashback
Tengah malam Caca mendengar suara tangisan anak perempuan, ia mencari dari mana asal suara itu. Ia melangkah dengan hati-hati
"Suara itu berasal dari kamar Syifa." Batin nya. Caca berjalan lebih cepat, ia membuka pintu kamar Syifa. Benar saja dugaannya, Syifa sedang menangis di pojokan. Wajah nya ia sembunyikan di lutut dengan dua tangan yang terlipat. Caca mendekat ke arah Syifa
"Kamu kenapa?" Caca mengelus rambut Syifa, Syifa mendongak kan kepala nya dan menatap ibu kandung nya tersebut. Mata Syifa begitu sembab.
"Sini nak, kamu kenapa?" Caca menggendong tubuh mungil putri nya dan membawa Syifa dalam pangkuan nya. Namun Syifa tak menjawab pertanyaan dari ibu yang sudah melahir kan nya. Ia masih saja senggugukkan.
"Sayang, kamu kenapa nak?" Lagi-lagi Caca menanyakan hal yang sama terhadap putri nya, Caca menyelipkan rambut Syifa yang berantakan ke belakang kuping Syifa. Caca mendongak kan wajah Syifa yang menunduk, terlihat cairan bening yang membasahi pipi mungil nya. Hati Caca begitu tergores melihat putri nya menangis seperti ini, ia membawa Syifa ke dalam pelukannya. Caca merasa, bahwa Syifa tak bahagia berada di dekat diri nya
__ADS_1
"Apa Syifa tidak bahagia bersama mama Caca nak?"
"Maaf kan mama nak, jika Syifa tak nyaman. Mama akan mengantar kan Syifa ke rumah papa Revan dan mama Shinta" Syifa pun melepaskan pelukkan itu
"Tidak ma, Syifa begitu sangat bahagia berada di dekat mama."
"Lalu, kenapa kamu menangis nak?" Syifa pun terdiam, diam Syifa semakin membuat Caca yakin bahwa diri nya tak berguna sebagai seorang ibu, Syifa tidak nyaman berada di samping nya. Ia berfikir bahwa Syifa sudah mau menerima nya dengan sepenuh hati, namun ia salah. Ia tak mau menjadi egois dan memaksa Syifa untuk selalu bersama diri nya.
*********
***Hai kak, yuk dukung sangra dengan cara like, komen dan berikan vote poin nya untuk menambah semangat sangrainily untuk update setiap hari nya.
*Kok up nya sedikit?
*Kok up nya lama banget?
__ADS_1
Iya berapa hari ini lagi gak semangat buat nulis, yang lain pada pelit sama like dan vote poin nya. Udah update juga sekarang yang like dan komen sedikit, rasanya pingin Hiatus aja jadi penulis. Tapi masih sayang sama pembaca setia sangrainily. Bingung tuh sangrainily jadi nyaðŸ˜***