
Selesai membersih kan tubuh, Shinta memeriksa si kembar Alan dan Alana yang tertidur pulas. Shinta mencium kedua anak nya itu.
"Anak-anak mama semakin besar sekarang." batin nya.
Malam semakin larut, Shinta memandangi kedua anak nya. Entah angin apa membuat nya mewek dan menangis seperti anak kecil.
"Sayang, ada apa?" tanya Revan yang bingung melihat isteri nya menangis.
Hua.....
Tangis Shinta semakin kencang, membuat Revan semakin bingung.
"Bicara lah! ada apa?" Shinta menggelengkan kepala nya.
"Tidak." Shinta mengelap hingus nya yang keluar akibat menangis.
"Lalu mengapa kau menangis?"
"Tidak tahu, aku hanya ingin menangis saja." rengek nya.
"Astaga. Wanita hamil sungguh ada-ada saja. Menyebalkan!" gerutu nya.
"Apa kau bilang?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya bicara kau sangat menggemas kan." Shinta membulat kan kedua mata nya dengan wajah yang menggemas kan
"Benar kah?" tanya nya dengan mata penuh arti
"Iya, sayangku." Revan mengecup kening Shinta lalu memeluk isterinya. Shinta membalas pelukan suami nya.
"Tidur lah, ini sudah malam." pinta Revan.
"Iya, tetapi setelah aku melihat Syifa dulu di kamar nya ya. Aku ingin memastikan dia sudah istirahat."
"Baik lah, jangan lama-lama." Shinta melepaskan pelukan suami nya dan berjalan keluar untuk ke kamar Syifa.
Cekrek!
"Mama." Syifa langsung menduduk kan tubuh nya dengan mata yang masih terpejam.
"Mengapa mama ada di sini?" mengucek kedua mata nya.
"Mengapa kamu belum ganti baju, nak?" tidak menjawab pertanyaan dari sang anak, Shinta malah mengajukkan pertanyaan balik pada Syifa.
"Maaf, Ma. Syifa sangat kelelahan lalu memilih tidur dan tidak mematuhi ucapan mama." Syifa merasa sangat menyesal. Namun, Shinta sangat memaklumi bagaimana pun Syifa masih berusia 12 tahun. Terkadang sering melakukan kesalahan dan tidak patuh.
"Tidak apa sayang. Sekarang kamu ganti baju dulu ya, biar tidur nya semakin nyenyak."
__ADS_1
"Iya, ma." Syifa turun dari tempat tidur dan segera mengganti pakaiannya. Setelah mengganti pakaian, Syifa kembali ke tempat tidur.
"Tidur lah, Sayang! selamat beristirahat dan selamat malam." Shinta mengecup kening Syifa
"Selamat malam kembali ma, Syifa menyayangi mama."
"Mama juga sangat menyayangi kamu anak ku." mereka pun saling tersenyum menunjukkan kasih sayang masing-masing. Shinta pamit untuk keluar dan Syifa kembali tertidur dengan lelap.
**********
Di kamar lain, ada Caca yang mengelus perut rata nya sambil tersenyum. Ia tak sabar menanti kelahiran anak kedua nya.
"Sehat selalu anak mama."
"Mama nya juga harus menjaga kesehatan agar anak nya sehat." sambung Arvan yang memeluk Caca dari belakang.
"Iya, aku tidak sabar menunggu kehadiran nya."
"Begitu juga dengan ku, Sayang."
"Ini juga anak pertama kamu." ucap Caca.
"Tidak! ini anak ke dua kita. Anak pertama kita Syifa." mendengar ucapan itu membuat Caca tersenyum lebar menunjukkan gigi nya yang rapih dan putih.
__ADS_1
"Ya, mungkin aku sangat jarang berbicara atau pun bermain pada nya saat ini. Karena ia pun mulai dewasa, tetapi rasa cinta dan sayang ku pada nya tidak akan memudar. Dia tetap lah Puteri kesayangan Daddy nya." ucap Arvan