
Alana mengerut kan dahi nya, sesekali sesak tangisan masih terdengar di telinga Shinta. Membuat dada nya juga ikut sesak.
Shinta ingin menghibur Alana namun terhenti oleh tangisan bayi nya. Shinta pun bingung harus bagaimana jika ia meninggal kan Alana dalam kondisi seperti ini, Alana akan mengira jika tak ada lagi yang menyayangi diri nya.
"Mama, adik menangis. Kenapa mama tidak menghibul adik sepelti mama menghibul Alana?" ucapan Alana memancar kan senyuman indah di wajah ibu nya. Shinta merasa sangat bahagia, walau pun Alana begitu sangat manja ia tetap perhatian kepada adik kecil nya. Shinta segera menggendong dan menenang kan bayi nya.
"Mungkin dia haus, mama akan memberikan adik susu dulu. Alana mau ikut mama?"
"Enggak, Ma. Kakak mau di sini aja, kalau kakak ikut nanti adik akan menangis."
"Baik lah, Sayang. Kamu di sini dulu ya sama nenek dan yang lain nya." Shinta pun berlalu pergi untuk memberikan ASI nya kepada sang bayi.
****
Alan yang sedang bermain dengan sang kakak pun merasa sangat puas. Alan hanya ingin membagi duka dan bahagia nya bersama sang kakak. Karena menurut nya, hanya Syifa yang bisa memahami diri nya. Tak ada yang lain, apalagi sifat manja Alana sudah merebut perhatian seluruh keluarga.
__ADS_1
Di sisi lain, Syifa pun memikir kan Alana yang menangis tadi. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah Alana menangis dengan serius? Jika benar, Syifa merasa sangat bersalah karena sudah melukai hati sang adik. Ia pun tak mengerti mengapa Alan dan Alana selalu saja tidak akur, padahal mereka adalah saudara kembar.
"Kakak memikil kan apa?" Syifa di kejut kan oleh Alan.
"Ti-tidak, kakak hanya memikirkan tugas sekolah saja."
"Kak."
"Iya?"
"Alan nggak suka punya saudara kembal."
Ucapan Alan bagaikan di sambar petir di siang bolong bagi Syifa.
"Kakak jangan katakan oleh siapapun."
__ADS_1
Syifa yang masih terpaku, di kejut kan oleh Alan yang menggoyangkan tubuh Syifa dengan tangan kecil nya.
"A-apa maksud kamu? Kakak nggak ngerti."
"Alan benci sama Alana yang selalu saja mengambil pelhatian semua Olang. Hanya kalena dia pelempuan, dan Alan lelaki."
Ya Tuhan, Dilema apa ini? Mengapa semua seperti ini?
Tanpa sadar Syifa menetes kan air mata nya.
"Kakak!" teriak Alan kembali.
"Cukup Alan! Kamu nggak boleh seperti itu! Kenapa? Apa kakak pernah didik kamu menjadi manusia yang memiliki penyakit hati? Apa kesalahan Alana? Dia saudara mu! Adik kembar mu! Kalian sejak di kandungan sudah selalu bersama. Kakak nggak nyangka ini dari kamu. Kakak berfikir kamu adalah adik kakak yang paling bijaksana. Kakak akuin, Alana memang memiliki sifat manja Karena memang usia kalian masih belum dewasa. Tapi kamu? Kamu memiliki sifat benci sedalam itu kepada saudara kembar mu sendiri di usia mu yang masih sangat kecil,"
Syifa merasa sangat kecewa dengan adik lelaki nya.
__ADS_1
"Sudah lah lebih baik kakak pelgi saja! Alan nggak mau bicala dengan kakak! Alan pikil kakak Olang yang paling mengelti Alan. Telnyata sama saja."
"Alan, bu-bukan seperti itu." Syifa memegang tangan adik nya, Namun Alan menepis tangan Syifa. Dan berlari pergi meninggal kan Syifa seorang diri. Syifa terduduk dan menangis sejadi-jadi nya. Hal yang tak pernah ia bayang kan terjadi.