
Di dalam kamar, Shinta dan Revan membicarakan rencana liburan mereka bersama Syifa dan si kembar Alan, Alana.
"Hore, Liburan! Liburan!" sorak Syifa dengan senang nya.
"Sayang, jangan loncat-loncat begitu, nanti jatuh!"
"Syifa sangat senang ma, setelah sekian lama. Akhirnya kita berlibur kembali, Yeayyy!"
"Kita akan berlibur di dalam negeri saja ya, aku terlalu banyak kerjaan, Sayang. Kalau berlibur ke luar negeri akan sulit bagi ku untuk mengerjakan pekerjaan ku dari rumah."
"Iya tidak apa-apa. Kita akan kemana?"
"Bali."
"Yeyy, kita ke Bali." sorak Syifa dengan girang nya.
__ADS_1
"Kita akan bermain di pantai dan menikmati udara segar di sana. Ma!"
"Iya, Sayang." Shinta pun menyiapkan keperluan mereka nanti untuk berlibur. Syifa membantu shinta untuk menyiapkan segala nya.
Tok... tok....
Suara kamar mereka berbunyi, Shinta pun membuka pintu kamar nya. Ada seorang pelayan yang sedang berdiri tertunduk di hadapan shinta dan memberitahu bahwa Jennika sedang menunggu di ruang keluarga.
"Baik lah, terimakasih ya." Shinta selalu mengucap kata Terima kasih pada pelayan nya. Sikap ramah dan rendah hati shinta bukan hanya pada keluarga nya saja. Namun, juga pada para pelayan nya. Bahkan, Shinta menganggap para pekerja di rumah mereka seperti keluarga nya sendiri. Shinta pun kembali masuk kamar dan meminta izin pada suami nya untuk ke luar kamar.
"Siapa yang datang?"
"Baik lah!" Shinta pun menggendong si kembar Alan dan Alana. Sedang kan Syifa, berjalan di samping Shinta. Mereka pun ke luar ruangan menemui Jennika.
"Aunty!!" teriak Shinta pada Jennika, Jennika menoleh ke arah shinta dan bangkit dari duduk nya. Jennika mendekati Shinta dan mengambil baby Alana dari gendongan Shinta.
__ADS_1
"Duh, imut nya." Jennika menciumi pipi bulat milik Alana.
"Anak mu imut-imut sekali, Ta!" Jennika merasa sangat gemas.
"Duduk lah!" shinta mempersilah kan sahabat nya untuk duduk. Jennika pun duduk dan asyik bermain dengan baby Alana.
"Sini, Sayang. Duduk di sebelah mama!" Shinta menyuruh Syifa untuk duduk di sebelah nya. Syifa merasa sangat sedih karena sahabat dari mama nya sejak pertama kali datang tidak menghiraukan diri nya.
"Tumben main ke sini?" tanya Shinta pada Jennika. Shinta pun mengelus rambut Syifa dengan lembut.
"Aku rindu pada mu, sudah lama kita tidak bertemu. Dan aku belum pernah menjenguk si kembar. Aku juga mendapat kabar dari Ayah dan Ibu mu bahwa kau sedang mengandung kembali." Shinta tersenyum
"Ia aku sedang mengandung sekarang." Shinta mengelus perut rata nya dan mengecup kening Syifa. Shinta tidak ingin Syifa merasa terabaikan.
"Wah hebat, kau akan mempunyai tiga anak nanti nya." ucap Jennika bersemangat. Ia berbicara dan masih fokus pada si kembar Alana. Mendengar ucapan Jennika, raut wajah Syifa berubah menjadi sedih. Begitu juga dengan shinta, yang merasa tidak suka dengan ucapan sahabat nya tersebut. Syifa ingin pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, Shinta menggengam tangan putri nya agar tetap tinggal
__ADS_1
"Anak ku memang sudah tiga, dan sebentar lagi menjadi empat!" Shinta seakan memberi kan penegasan di dalam ucapan nya tersebut. Jennika pun langsung tersadar dan merasa bersalah dengan ucapan nya.
"Iya, maksud ku tadi empat. Maaf kan aku!" Jennika merasa jadi tidak enak hati.