
Hanya saja, yang berbeda. Syifa begitu kalem sama seperti Alan. Kedua anak nya itu memiliki sifat yang sama seperti Revan. Mudah marah namun juga sangat pendiam.
Alana, mengikuti sifat seperti diri nya, suka sekali bicara dan usil kepada orang lain.
Shinta mengelus rambut ke dua anak nya secara bergantian, dia berharap jika Baby Al nanti anak memiliki sifat seperti Alan. Namun, membuang sifat buruk ayah nya yang mudah sekali marah.
Tidak salah jika Revan memiliki sifat pemarah, Karena itu menurun dari sifat papa Tommy. Shinta yang membayangkan nya pun tertawa sendirian.
Tapi dia tahu, jika suami dan ayah mertua nya itu adalah pria yang sangat baik dan penyayang untuk keluarga.
"Aw." Shinta meringis saat merasa kan punggung nya di lempar sesuatu. Ia pun bangkit, menoleh ke arah tempat tidur yang seperti nya kejatuhan sesuatu.
Shinta mengambil sekecil surat yang di dalam nya terisi batu kecil. Ia mengerut kan kening nya, bertanya di dalam hati siapa yang sudah usil mengerjai diri nya.
Shinta tak menghiraukan nya kembali, ia pun segera membaringkan tubuh nya ke posisi semula. Dan hal itu terjadi lagi, ada seseorang yang melempar diri nya.
Shinta yang kesal pun bangkit, ia melihat ke arah pintu. Ada bayangan besar di situ. Shinta yakin, itu semua ulah dari sang suami yang jail.
Jika tidak mengingat ini di rumah orang tua nya, pasti Shinta akan berteriak dan mengejar suami nya. Namun, ia masih bisa mengendalikan diri.
Shinta sengaja tak menghiraukan sang suami.
Revan yang kesal karena di abaikan pun menjadi frustasi. Jika ia masuk ke dalam, salah satu anak nya pasti akan terbangun. Yang ada, Alan dan Alana akan menangis kembali merindukan Syifa.
Tidak mudah membujuk ke dua anak nya itu.
"Mengapa dia tidak pengertian sekali." ujar Revan dengan kesal.
Revan sengaja lebih cepat mengantar Syifa, agar bisa menghabiskan waktu berduaan dengan sang isteri. Namun, malah pengabaian yang ia dapat.
********
Di kediaman rumah Caca, Syifa melihat Caca, Arvan dan juga Raisa sedang berpelukan.
"Apakah ini waktu yang pas aku kembali? Seharusnya aku menginap di rumah Oma saja. Aku takut menganggu waktu Raisa bersama mama dan Daddy." gumam nya. Syifa ingin membalikkan badan dan pergi dari sana. Namun, Raisa yang melihat nya pun memanggil kakak nya itu.
"Kak, kemari lah!"
Caca dan Arvan pun menoleh ke arah Syifa secara bersamaan. Arvan memanggil Syifa untuk mendekat, dengan langkah yang tidak enak Syifa mendekat.
Segera Arvan memegang tangan Syifa, dan membawa Syifa ke dalam pelukan mereka. Raisa begitu sangat bahagia merasakan kehangatan ini.
Ia tahu, cinta ke dua orang tua nya memang lah tulus. Kesalahpahaman itu hanya lah sementara.
Walau tidak sepenuhnya Arvan memaaf kan Caca. Tapi, dia memang benar mencintai isteri nya dengan tulus.
Pelukan itu pun tanpa lah paksaan, hati Arvan sedikit meluluh. Walau rasa kecewa itu masih besar.
Syifa menangis terharu, ia sangat bahagia melihat sang mama sudah berkumpul dengan keluarga yang seharus nya.
Syifa memang membutuhkan kasih sayang mama nya, namun bagi nya. Raisa lebih membutuhkan itu, karena walau Syifa tidak bersama Caca. Dia masih memiliki nenek, kakek, papa dan juga mama Shinta yang memberikan nya kasih sayang yang penuh.
__ADS_1
Namun, Raisa. Ia hanya lah sebatang kara selama ini. Tumbuh di panti asuhan tanpa kasih sayang dari keluarga. Bahkan, Raisa tidak mengetahui apa arti keluarga yang sesungguh nya.
Kini, Raisa sudah mendapatkan itu semua. Tujuan Syifa saat ini adalah memecahkan kesalahpahaman yang ada di antara mama dan Daddy nya.
Syifa teringat dengan pesan yang mama tata nya kirim kan untuk diri nya, Syifa melepaskan pelukan itu. Mengambil ponsel di dalam tas kecil yang ia bawa.
Namun, tidak ada pesan masuk dari mama nya. Tentu saja hal itu membuat Syifa sedih dan kecewa.
"Mama sudah berjanji memberitahu segala nya dari pesan. Namun, kenapa mama melupakan nya. Apakah itu hanya alasan mama saja agar bisa menghindar?" batin nya.
Wajah nya berubah menjadi murung, ia sempat salah paham dengan ibu sambung nya tersebut.
"Kak, kenapa wajah mu begitu murung?" tanya Raisa yang memperhatikan Syifa yang tiba-tiba berubah. Raisa melepaskan pelukan nya dari mama dan sang Daddy. Arvan langsung melepaskan pelukan nya dari Caca.
Caca tak keberatan sama sekali, setidak nya ia senang karena suami nya mau memeluk diri nya. Caca begitu merindukan pelukan hangat dari sang suami.
Ia pun menoleh ke arah Syifa, dan memerhatikan raut wajah Syifa yang tiba-tiba berubah menjadi murung.
"Ti-tidak."
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Arvan. Syifa menggeleng, ia pun berbohong dan mengatakan jika diri nya sedikit pusing.
Arvan menyuruh Syifa untuk pergi istirahat, hari juga sudah mulai larut.
"Sayang, sebaik nya kamu istirahat saja jika pusing. Daddy nggak mau kamu sakit begini."
"Tidak masalah Daddy, Syifa baik-baik saja. Pasti, sebentar lagi akan membaik."
Hal itu, pasti akan membuat Daddy nya marah. Dan juga, sikap nya bisa kembali dingin kepada mama Caca. Syifa tidak ingin itu terjadi.
"Sayang, apa yang Daddy katakan itu benar. Lebih baik, kamu dan Raisa istirahat. Ini juga sudah larut malam, mama akan keluar dari kamar ini."
"Daddy juga akan keluar, sayang. Tidur lah!"
"Ma, mama di sini aja ya? Bersama kita, Raisa ingin tidur bersama mama."
Caca menatap Arvan, Arvan melirik sekilas kepada Caca dengan wajah yang dingin. Caca menunduk dan tidak berani memberikan jawaban apapun.
Caca takut jika dia salah bicara dan membuat suami nya kembali marah. Arvan pun tersenyum kepada Raisa dan Syifa. Ia mengatakan jika mami Caca bisa menemani mereka.
"Kenapa harus bertanya kepada Daddy. Kalian bisa menghabiskan waktu dengan mami Caca. Bersenang-senang lah. Tapi ingat, jangan tidur terlalu malam ya?"
"Iya Daddy." ujar Syifa dan Raisa secara bersamaan.
********
"Itu semua kesalahan kamu! Kan mami sudah katakan padamu, jangan membuat masalah. Lihat lah! Sekarang kamu di pecat dari sekolah. Itu sangat memalukan bagi mami. Bagaimana mami menghadapi teman-teman arisan mami?" bentak wanita paru baya yang memarahi anak nya. Anak itu tidak lain adalah Amira.
Amira teman Syifa yang sudah di pecat dari sekolah karena membully Syifa juga Raisa.
"Sudah lah, Mi! Kenapa kamu memarahi anak kita? Dia juga tidak sepenuh nya salah. Harus nya mami juga memantau dia. Bukan hanya sibuk dengan arisan nggak jelas mami itu. Mami tidak pernah perduli dengan Amira seakan dia bukan anak kita!"
__ADS_1
Papa nya Amira begitu sangat menyayangi Amira. Dia pun menghibur anak nya yang terdiam, matanya berkaca-kaca Karena di marahi oleh ibu nya.
"Bu-bukan begitu pi! Mami sayang kok sama Amira. Tapi papi tau kan, Amira anak yang sangat mandiri dan pintar. Dia tidak suka merepotkan mami nya. Iyakan, Sayang?"
Dengan mata yang berkaca-kaca, Amira menatap ibu nya. Ia tak tahu, mengapa ibu nya tidak pernah memberikan dia perhatian seperti ibu yang lain nya.
Ia sering membuang makanan Syifa yang di bawa dari rumah karena Amira iri melihat ibu Syifa yang begitu perhatian.
Tidak seperti mami nya, yang hanya sibuk dengan salon, shopping dan juga arisan bersama teman-teman nya yang glamor.
"Sayang, maafin mami ya? Mami tidak bermaksud memarahi kamu. Tapi, mami sedih melihat kamu begini."
Amira yan begitu muak dengan alasan mami nya pun berlari, menaiki anak tangga menuju kamar nya.
Nenek Amira yang melihat sikap cucu nya begitu tidak sopan pun hanya menggeleng.
"Ini semua karena kau terlalu memanjakan kan nya, Lala! Kau memanjakan nya dengan harta, kau tidak mendidik anak mu dengan benar jadi nya dia seperti itu."
"Ma, apa sih yang mama katakan. Kita pernah hidup susah, aku tidak ingin anakku mengalami nya!"
"Tapi, cara kalian itu salah! Lihat lah dia sekarang, bahkan dia tidak menyesali perbuatannya nya sama sekali."
"Ma, Tolong!"
Angga yang merasa pusing pun mengejar anak nya, untuk menghibur sang buah hati.
Perlahan, Angga mengetuk pintu kamar Puteri nya.
Amira yang begitu marah, mencampakkan segala barang yang ada di dalam kamar nya.
Angga masuk ke dalam kamar, melihat kamar yang begitu berantakan.
"Sayang, kenapa kamu membanting ini semua?"
"Kenapa? Apa papi akan marah seperti yang ibu papi lakukan?"
Teriak Amira, kemarahan nya begitu menggebu-gebu.
"Nak, dia itu adalah mama nya papi. Berati, dia adalah nenek nya Amira. Kenapa Amira berkata dia adalah ibu nya papi saja?"
Mata Amira memerah, tangan nya bergetar. Di usia yang sangat kecil, diri nya memiliki amarah yang begitu mengerikan. Seperti gunung yang meledak.
"Karena dia tidak pernah menyayangi ku, selalu saja marah dan berkata hal seperti itu! Jangan papi kira, Amira tidak mendengar apa yang nenek katakan. Amira dengar pa! Amira mendengar nya!"
Angga mendekati sang anak, lalu menenangkan nya.
"Sudah ya sayang? Cantik nya papi jangan marah-marah lagi. Nanti nggak cantik loh!" mendengar ucapan papi nya, Amira pun tersenyum.
Ia akan luluh jika sang papi yang menenangkan nya, kemarahan nya hilang seketika. Karena Amira juga sangat menyayangi dan mencintai papi nya.
Bagi Amira, hanya papi nya yang menyayangi dan mengerti diri nya.
__ADS_1