
Lalu Caca menepis pikiran buruk tentang Shinta "Cukup Raisa! Kamu jangan mempengaruhi mami seperti itu. Harus kamu tahu, hubungan enggak harus karena terikat darah! Keluarga mama Shinta sudah banyak berkorban untuk kita. Untuk mami, Daddy, kak Syifa juga Khanza dan kamu! Kamu enggak ingat gimana sayangnya dulu mama Shinta sama kamu?"
"Mami terlalu naif huft! Dan lihat, apa yang harus mami bayar untuk pengorbanan mereka. Yaitu kak Syifa dan juga Khanza! Mereka jauh dari mami, itu kah yang dikatakan pengorbanan? Dan sekarang, Khanza ya ampun memikirkannya saja aku malas. Mami seharusnya bisa berpikir dong mi, Khanza yang sekecil itu di usianya sepuluh tahun berani melakukan itu,"
"Sudah ya Raisa! Mami enggak mau mendengar apapun lagi dari kamu. Lagipula, adik kamu begitu karena kamu yang kurang ajar! Kamu enggak bisa bedain suasana lagi berduka atau enggak! Udah mami enggak mau terus berdebat sama kamu!"
Caca pergi meninggalkan anaknya "Aku harap kamu enggak terpengaruh dengan ucapan Raisa!" Caca tersentak kaget saat suaminya ada di sampingnya "Sa-sayang, kamu sedang apa di sini?"
"Aku mendengar semua ucapan Raisa. Aku bingung ca, kenapa anak kita sekarang seperti itu! Aku sengaja enggak masuk dan memarahinya karena percuma menurut ku. Aku lelah sudah memarahinya namun ia tidak mengerti!"
Caca pun tidak mengatakan apapun, ia masih melamun "Kamu enggak terpengaruh kan sayang sama ucapan Raisa?"
"Ha, engg-enggak kok!"
"Baguslah, aku mengira kamu terpengaruh dengan ucapan Raisa. Ingat sayang, Shinta tidak pernah merebut anak-anak dari kita dan Raisa sengaja mengatakan itu agar kamu terprovokasi. Kamu ingat kan, bagaimana dulu mama kamu selalu mempengaruhi kamu? Saat ini Raisa melakukan hal yang sama dan aku harap kamu enggak akan terpengaruh!"
Caca mengangguk, ia tahu apa yang suaminya katakan namun ia juga tidak bisa pungkiri jika yang anaknya katakan memang benar.
********
Keesokan paginya
Alana membuka matanya perlahan, ia melihat Alan, dan kakak nya yang terlelap tidur di kasur. Sedangkan mama dan papanya masih terjaga.
Air mata Alana menetes, keluarganya menyayangi ia begitu dalam bodoh sekali ia berpikir jika mamanya tidak menyayanginya
Cekrek!
Suara pintu terbuka, terlihat nenek dan kakek Tommy yang datang.
"Mama, papa!"
Revan dan Shinta langsung mendekat ke arah Lily dan Tommy. Memberikan salam untuk mereka namun Tommy menolak saat Shinta ingin memberikan salam
"Tidak perlu!"
"Pa, tolong lah! Jangan seperti ini di depan anak-anak!" Ujar Revan. Dan Lily juga menasehati suaminya "Pa, kita baru saja sampai. Jangan membuat keributan! Kasihan Alana jika melihat keluarganya bertengkar saat dia di rawat di sini!"
Tommy menghampiri cucunya, dan memeluk Alana "Sayang, cucu kakek!"
Alana memeluk kakeknya "Alana kangen banget sama nenek dan kakek. Jangan pergi-pergi lagi!"
"Iya sayang, kakek enggak akan pergi lagi meninggalkan kamu. Kakek akan menjaga kamu dari orang-orang yang jahat sama kamu!"
Syifa dan Alan juga terbangun saat mendengar suara kakeknya
"Kakek!" Keduanya mendekati Tommy, Tommy pun memeluk ketiga cucunya "Cucu-cucu ku. Sudah pada besar sekarang!"
Lily juga menghampiri ketiga cucunya "Cucu-cucu nenek. Udah besar kamu nak?"
Shinta dan Revan merasa senang karena keluarga mereka berkumpul. Walau tidak lengkap tanpa kehadiran orang tua Shinta yang sudah tenang di sana..
Shinta pun keluar dari ruangan, Revan mengejarnya. Ia tahu jika istirnya pasti merindukan Ayah dan Ibu "Kamu merindukan Ayah dan Ibu?" Ujar Revan yang memeluk Shinta.. Shinta mengangguk "Kenapa mereka pergi begitu cepat? Padahal mereka masih bisa melihat Cucu-cucu mereka di sini,"
"Sudah lah! Itu sudah jalannya! Dan jangan menangis. Aku enggak mau kamu sedih!"
"Andai ibu dan ayah masih ada pasti semua ini tidak akan terjadi!"
"Sudah!"
Revan mengeratkan pelukannya kepada Shinta, ia tahu bagaimana beratnya di posisi Shinta namun ia pun tidak bisa berbuat apapun selain menguatkan istirnya
"Kamu jangan sedih terus! Kalau kamu sedih anak-anak akan ikut sedih!"
"Iya sayang,"
Revan pun mengajak istrinya kembali ke ruangan, terlihat Tommy yang menatap kesal. Ia ingin berbicara kepada menantunya namun ia tahan agar cucunya tidak merasa sedih
Lily dan Tommy memberikan oleh-oleh yang mereka belikan untuk ketiga cucunya
"Ini nenek dan kakek belikan untuk kalian,"
"Wah banyak sekali nek, kek!"
__ADS_1
Alana tercengang melihat oleh-oleh mainan yang begitu banyak. Bukan hanya mainan, ada baju, makanan dan barang lainnya "Nenek kalian selalu membelikan oleh-oleh saat kami kemana pun. Sebab itu, begitu banyak barang bawaan."
"Ma, sebaiknya Revan antar pulang dulu mama dan papa. Kalian harus istirahat perjalanan sangat jauh,"
"Tidak! Papa akan di sini menjaga Alana. Papa enggak mau sesuatu terjadi dengan cucu papa lagi. Dan kalian sudah lah jangan meminta papa untuk istirahat! Lebih baik kalian yang pulang,"
"Revan dan Shinta akan tetap di sini. Papa jangan keras kepala dong! Ma bicaralah dengan papa!" Revan mengadu kepada mamanya, namun Lily tidak menjawab ia tahu saat ini suaminya sangat marah
"Sayang, tujuan kami ke sini untuk menjenguk Alana. Bukan untuk istirahat, maaf kali ini mama setuju dengan papa mu. Jika kalian ingin pulang dan istirahat, kalian saja,"
"Sudah mama, papa, nenek dan kakek jangan bertengkar. Bagaimana kalau kalian bergantian aja menjaga Alana? Biar hari ini mama dan papa. Kakek dan nenek pulang dulu ke rumah tidur, biar besok kalian yang menjaga Alana. Bagaimana?" Syifa pun memberikan kesempatan bersama untuk menjaga Alana
"Karena enggak bisa semuanya kita di sini menjaga Alana. Akan terlalu ramai dan pihak rumah sakit juga pasti tidak akan mengizinkan."
"Ya sudah, papa dan mama setuju. Sekarang tergantung dengan kakek dan nenek!"
"Kamu dan istri mu pulang saja. Besok jadwal kalian menjaga Alana, dan itu keputusan papa!"
"Baik lah pa!" Revan tidak lagi membantah, berdebat pun percuma. Revan mengajak istrinya pulang "Sayang, lebih baik kita pulang sekarang. Biar mama dan papa yang menjaga Alana. Syifa dan Alan ikut papa dan mama pulang ya?"
"Alan di sini aja pa, sama Alana. Alan masih mau menjaga Alana,"
"Ya sudah rapi Alan jangan membuat keributan ya sama Alana?"
"Iya papa,"
Shinta, Revan dan Syifa pun pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, Syifa meminta papanya untuk menurunkan ia di rumah Caca
"Pa, kakak ke rumah mami ya. Khanza pasti mencari kakak, kasihan dia."
"Iya sayang, kamu hati-hati ya?"
"Iya pa!"
Revan langsung melajukan mobilnya ke arah rumah Caca. Revan ingin masuk namun Shinta menolak "Sebaiknya kita di sini saja. Jika Khanza melihat kita aku takut dia ingin meminta pulang. Aku enggak enak sama Caca dan Arvan. Kasihan mereka dan biarkan Khanza memiliki waktu dengan kedua orang tuanya."
Shinta tidak ingin bertemu dengan Khanza, bukan karena ia tidak menyayangi Khanza namun karena ia merasa berat dan sedih. Jika Khanza menangis dan ingin ikut bersamanya Shinta akan merasa tidak berdaya seperti kemarin..
Shinta juga mengingat pesan Caca, yang memintanya untuk tidak menunjukkan wajahnya di depan Khanza. Shinta hanya ingin semuanya membaik seperti dulu, dan Caca tidak ada berpikiran buruk tentang ia.
"Mama jangan khawatir, kakak akan menjaga Khanza sebaik mungkin. Kakak enggak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada Khanza. Itu janji kakak sama mama, mama jangan sedih ya? Nanti saat semuanya sudah membaik kakak akan membawa Khanza bertemu mama. Namun untuk saat ini memang lebih baik mama menjaga jarak dengan Khanza, mami lagi sensitif sekarang. Begitu juga dengan Alana dan lebih baik kita yang mengalah untuk saat ini!"
Shinta mengangguk, Syifa ke luar dari mobil menuju rumah maminya. Dan mobil Revan pun melaju pergi meninggalkan kediaman rumah Caca
*******
"Selamat datang kakak ku, enak banget ya kalau bosen di rumah sini pindah ke sana. Dan bosen di rumah sana pindah ke sini! Wah hebat loh," Raisa menyindir Syifa namun wanita itu tidak menggubris ucapan adiknya
Ia langsung masuk ke kamar dan Caca memanggil anaknya "Kenapa kamu baru pulang?"
Syifa menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke arah maminya "Maaf ya mi!" Lalu pergi ke kamar.
"Itu mami lihat kan? Itu lah hasil didikan mama Shinta! Seenaknya saja dengan mami, bahkan kakak tidak izin dengan mami saat pergi kan? Dan mami masih tinggal diam begitu? Mami harus sadar mi! Kakak sudah keterlaluan!"
Caca pun mengejar anaknya, "Syifa kamu enggak dengar kalau mami sedang berbicara dengan kamu?"
"Kenapa mi? Kakak minta maaf ya kalau kakak enggak pulang dan tidak sempat memberitahu mami,"
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah Syifa, entah mengapa Caca terbawa emosi.
Syifa diam, tidak membalas atau mengatakan apapun. Ia menerima segalanya
"Kamu apa-apaan sih!" Bentak Arvan kepada istrinya yang kebetulan lewat di depan kamar Syifa dan melihat apa yang istrinya kakukan
"Udah kamu jangan ikut campur! Ini urusan aku sama anak aku, dia harus aku beri pelajaran agar tahu menghargai kita di rumah ini!"
"Syifa enggak menghargai apa? Dia baru pulang dan kamu melakukan ini?"
"Karena itu aku memberikannya pelajaran! Ia enggak pulang bahkan pergi tanpa berpamitan dengan aku. Coba aja Raisa yang seperti ini,.pasti dengan hebatnya dia sok menjadi paling bijaksana menegur adiknya. Tapi dia sendiri memberikan contoh yang enggak baik!"
"Enggak baik apa? Dia habis dari rumah sakit karena Alana sakit! Kamu kenapa sih?"
__ADS_1
Caca terdiam, sekaligus terkejut "A-alana masuk rumah sakit? Kenapa?" Caca menatap Arvan
"Kemarin saat Shinta ke sini, ia memberitahu aku kalau Alana masuk rumah sakit! Dan Syifa ke rumah sakit menjaga adiknya dan saat ia pulang kamu justru memukulnya! Kamu keterlaluan sekarang!"
Caca menyesal, ia tidak bermaksud melakukan itu, Caca hanya terpancing emosi saat Raisa mengatakan itu "Alana kenapa?"
"Alana minum pil penenang, kamu tahu alasan dia minum itu? Karena dia sedih, dia sedih karena mamanya Shinta menyayangi anak orang lain. Bahkan perhatian Shinta dan Revan jadi terbagi. Dan itu semua karena apa? Karena kamu yang telah menitipkan Khanza kepada mereka. Demi menjaga amanah kamu, mereka kehilangan masa depan anak mereka. Dan sekarang kamu membalasnya seperti ini? Kemarin kamu mengatakan hal-hal buruk kepada Shinta dan sekarang? Kamu memukul anak kandung kamu sendiri!"
Caca menatap Syifa yang menunduk tanpa mengatakan satu kata pun.
"Sayang, maafin mami. Sungguh mami tidak tahu apapun!"
Raisa masuk ke dalam kamar, melihat pemandangan yang ada di depannya "Sudah lah mi, itu hanya alasan kakak aja. Lagipula, jika memang Alana sakit kenapa kakak harus menjaganya?"
Syifa tidak menjawab ia memilih diam karena tidak mau membuat suasana semakin runyam.
"Sayang, maafin mami ya nak. Mami menyesal, mami hanya terbawa emosi sungguh mami enggak tahu kalau sebenernya Alana masuk rumah sakit."
"Itu sebabnya kamu jangan langsung mengambil keputusan sebelum mendengar alasan yang sebenernya! Syifa dan Raisa itu berbeda. Dan aku sebagai Daddy-nya mereka mengatakan jika Syifa jauh lebih baik dari Raisa. Dan kamu jika terus mendengarkan ucapan busuk Raisa, itu terserah kamu Caca! Aku enggak tahan lagi lebih baik aku membawa anak-anak keluar dari sini. Biar kamu yang menghadapi Raisa sendirian di rumah!"
"Sayang, tolong jangan lakukan itu kepada ku! Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu, aku menyesal dan meminta maaf untuk kesalahan ku!"
"Aku sudah bosan dengan kata maaf mu namun kamu selalu saja mengulanginya!"
Syifa pun bangkit, menenangkan Daddy-nya "Sudah Daddy, enggak apa-apa. Yang penting Daddy tahu kalau Syifa enggak kemana-mana Syifa di rumah sakit menjaga Alana! Itu sudah jauh lebih baik dari Syifa! Jangan bertengkar lagi Daddy!"
Arvan pun menuruti ucapan anaknya.
Raisa pergi meninggalkan Caca, Arvan dan Syifa di kamar.
"Keluarga drama!" Ketusnya. Raisa bertemu dengan Khanza yang menatapnya tajam bahkan dengan kesal Khanza menjegal satu kakinya agar Raisa terjatuh.
Melihat Raisa terjatuh, Khanza langsung terkekeh-kekeh "Haha! Raisain nenek lampir jatuh haha!"
Mendengar keributan itu membuat Syifa, Caca dan Arvan melihat. Raisa tersungkur ke lantai dan Khanza menertawakan kakaknya.
"Itu akibatnya kalau terus-terusan jahat sama orang, dasar nenek sihir!"
Khanza langsung berlari pergi, kepala Caca terasa pusing mengapa ketiga anaknya tidak pernah akur.
"Kalian kenapa sih tidak pernah akur? Mami pusing!"
"Itu semua karena Khanza dan ajaran mama Shinta yang buruk! Lihat lah, Khanza jadi kurang ajar sama aku!"
Mendengar mamanya di bicarakan dengan buruk, membuat kepalanya Syifa mendidih geram. Ia pun mendekati Raisa, bahkan menjambak rambut adiknya
Caca dan Arvan terkejut melihat kebrutalan Syifa dengan tangan satunya memegang dagu Raisa dengan kuat. Syifa memberikan peringatan kepada adiknya "Jangan karena aku diam. Kamu bisa seenaknya ya! Apalagi mengapa hal buruk tentang mama Shinta! Kamu pantas mendapatkan itu. Dan dibandingkan dengan Khanza! Dia jauh lebih baik dari kamu!"
Bahkan Syifa dengan liar menarik adiknya agar bangkit, ia membawa Raisa di dekat tangga. Setengah tubuh Raisa ia dorong, namun masih ia tahan agar Raisa enggak jatuh
"Aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini, kalau aku ngelepasin pegangan aku sama kamu. Bisa jadi nama kamu! Ngerti?"
Raisa mengangguk ketakutan, kakak dan adiknya sungguh gila, saat Caca ingin protes Arvan melarangnya.
Arvan tahu jika Syifa tidak akan melakukan hal yang buruk ia melakukan itu agar Raisa bisa menjaga sikapnya.
"K-kak, jangan gini lepasin! Mami, Daddy! Tolong Raisa!" Terlihat Raisa sangat ketakutan, namun Syifa tersenyum menikmati rasa takut adiknya
"Takut juga? Mana sih keberanian kamu yang tadi? Dengar ya Raisa! Mungkin ini memang rumah kamu, tapi aku enggak akan tinggal diam kalau kamu berani sekali saja menghina mama Shinta! Kamu paham?"
Raisa mengangguk, ia pun meminta ampun "Kak, ampun! Tolong jangan lakuin ini,.aku enggak mau mati!"
Syifa menarik adiknya namun ia mendorong Raisa ke lantai "Lain kali kalau punya mulut di jaga! Mama Shinta tidak pernah mengajarkan kami hal buruk namun jika ada yang berani mengganggu' ketenangan keluarga ku, aku bahkan bisa menjadi pembunuh dalam sekejap saja! Dan mami dan Daddy jangan lupa, jiwa psikopat yang ada di diri kami itu bukan karena mama Shinta atau papa Revan. Tapi dari nenek Elsa! Aku bisa menjadi siapa saja, tergantung bagaimana orang bersikap!" Syifa segera pergi meninggalkan mami dan Daddy-nya
Caca terdiam, ia yang kaget pun bahkan jatuh pingsan tak sadarkan diri. Arvan langsung menggendong tubuh Caca dan membawanya ke kamar. Raisa ingin menemani namun Arvan mengusir anaknya
"Lebih baik jangan tunjukan wajah kamu di hadapan aku! Bahkan aku menyesal memiliki anak seperti mu! Jika aku memiliki waktu untuk memutar waktu. Lebih baik aku membunuh mu sewaktu kecil daripada aku harus melihat kau tumbuh menjadi wanita yang kurang ajar seperti ini!"
Raisa menangis mendengar ucapan Daddy-nya. Hancur hatinya mendengar Daddy-nya yang menyesal memiliki anak seperti ia.
"Daddy, kenapa Daddy menyakiti hati ku? Aku sangat menyayangi dan mencintai Daddy. Kenapa Daddy menghancurkan hati aku hiks,"
Arvan tidak menjawab ucapan anaknya, ia membawa Caca ke dalam kamar. Ia juga bingung mengapa anak-anak menjadi seperti ini? Syifa yang ia kenal sebagai orang yang lemah lembut bisa berbuat hal yang nekat.
__ADS_1
"Apa ini hukuman untuk ku? Tapi kenapa harus ke anak-anak ku," ujarnya yang meneteskan air matanya. Rasanya ia tidak rela jika bayangan hitam dari mertuanya ada di dalam diri anak-anaknya terutama kepada Khanza dan Syifa.
"Mengapa harus anak-anak ku? Mereka tidak bersalah. Jika ingin menghukum aku, seharusnya aku saja. Jangan anak-anak ku yang manis-manis. Mereka harus tumbuh menjadi wanita cantik, baik dan lemah lembut. Bukan menjadi wanita kejam,"