Ibu Sambung

Ibu Sambung
Menginap


__ADS_3

Mulut Arvan bergetar, ia bingung harus mengatakan dari mana. Arvan membayangkan hal yang buruk, bagaimana jika ternyata Raisa tidak siap dengan kenyataan yang ada. Bahkan, ia akan membenci diri nya


Syifa menyemangati sang Daddy, ia tahu mungkin akan sulit untuk Daddy nya berkata yang sejujur nya. Namun, kebenaran tetap harus di lakukan. Demi, kebaikan bersama, Raisa sudah lama menderita kini sudah saat nya ia untuk mengetahui asal usul diri nya.


Raisa semakin bingung, ia melepaskan pelukan nya dari Arvan.


Raisa bertanya, ada apa? Namun, Arvan tetap membungkam.


Di sisi lain, si kembar Alana sedang merasa bosan. Apalagi, kakak nya tidak bersama dia.


"Bosan sekali," ujar Alana.


Ia pun membolak balikan tubuh nya di atas tempat tidur.


Alan yang baru saja datang, melihat saudara kembar nya dengan tatapan bingung.


"Alana, ada apa?"


Alan mendekati Alana, Alana bangkit dari tidur nya. Memonyongkan mulut nya ke depan.


"Alana sangat bosan, kakak tidak ada. Alana mau ke lumah mami aja belsama kakak."


Alan terdiam, dia pun sebenarnya juga merasa sangat bosan, tanpa kehadiran kakak sulung nya.


Alan mengajak Alana bermain saja, namun Alana menolak. Alana sungguh merindukan kakak nya, Alan yang bingung pun tak tahu harus melakukan apa.


"Kita ajak mama dan papa ke lumah glandma aja." saran Alan, lagipula mereka sudah lama tidak ke rumah nenek dan kakek dari mama nya itu.


Alana tersenyum, ia pun setuju dengan saran yang di berikan oleh saudara kembar nya. Ke dua nya turun untuk mencari mama dan papa nya.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kenapa kalian berlari menuruni tangga. Nanti kalian bisa jatuh," ujar Shinta dengan lembut menghampiri kedua anak nya.


"Mama, kami mau ke lumah glandma." ujar Alana dengan manja, Shinta menoleh ke arah suami nya.


Revan yang menatap wajah anak-anak nya begitu gemas pun setuju, ia menyuruh isteri dan anak nya untuk bersiap.


Si kembar Alan dan Alana bersorak senang. Dengan happy mereka naik ke atas tangga menuju kamar untuk bersiap-siap.


Shinta bersiap-siap, ia juga memastikan agar anak-anak nya sudah siap terlebih dahulu. Shinta juga membawa baby sister mereka. Agar, di perjalanan Shinta tak kwalahan. Shinta membawa dua baby sister sekaligus.


Setelah selesai bersiap, mereka pun masuk ke dalam mobil. Revan segera melajukan mobil nya menuju kediaman kedua orang tua Shinta.


*******


Syafa yang sedang bersantai dengan suami pun merindukan anak, menantu dan cucu mereka. Sudah lama sekali mereka tidak mengunjungi rumah nya.


Gunawan merasa jika ia dan isteri nya telah di lupakan. Tidak lama, suara mobil datang di halaman rumah mereka. Sontak membuat Gunawan dan Stafa berdiri untuk melihat siapa yang datang.


Ke dua nya tersenyum senang, melihat anak, menantu dan cucu nya datang. Begitu pula dengan si kembar. Mereka berlari mendekati kakek dan nenek nya. Syafa menangis memeluk kedua cucu nya secara bergantian, ia sangat merindukan cucu-cucu nya.


Shinta menyalami dan memeluk ke dua orang tua nya secara bergantian.


"Ibu sangat merindukan kamu nak, ayah mu juga sangat merindukan mu. sudah lama sekali kalian tidak datang, apalagi menghubungi kami." ucap Syafa menangis di pelukan anak nya, Syafa dan suami semakin menua. Perasaan mereka juga sangat sensitif sekali.


"Ibu, maafin Tata. Bukan maksud tata melupakan ibu dan ayah." Shinta pun menangis di pelukan ibunya, ia merasa sangat bersalah karena sudah merupakan sang ibu


"Tata juga sangat merindukan ibu. Maafkan Tata, Bu." bukan ia melupakan kedua orang tua nya, namun masalah yang ada membuat nya tidak ingin kedua orang tua nya khawatir. Shinta dan Syafa saling melepaskan pelukan satu sama lain.


Shinta menoleh ke arah sang ayah, ia tak kuasa menahan tangis nya. Segera Shinta memeluk ayah nya dengan erat.

__ADS_1


"Ayah, maafin Tata. Tata sangat merindukan kalian hiks,"


"Kami juga sangat merindukan mu, Nak. Ayah berfikir jika kamu sudah melupakan kami." Shinta menggeleng. Ia pun berkata jika diri nya tidak pernah melupakan kedua orang tua nya.


"Tolong jangan berbicara seperti itu, Ayah! Tata sayang kalian, tata tidak mungkin melupakan kalian." Gunawan melepaskan pelukan mereka


Gunawan mempersilahkan mereka untuk duduk, si kembar Alan dan Alana duduk di tengah-tengah antara kakek dan nenek nya.


Alana memeluk nenek nya dengan erat, begitu juga dengan Syafa yang memeluk kedua cucu nya dengan begitu erat.


"Di mana cucu ibu yang paling besar? Kenapa dia tidak datang?"


"Syifa sedang berada di rumah Caca, Bu. Makanya dia tidak bisa ikut,"


"Oh begitu. Bagaimana kabar Caca?" Shinta menoleh ke arah suami nya. Revan menggeleng, seakan memberikan kode untuk tidak memberitahu ke dua orang tua Shinta. Revan tak ingin, membuat mertua nya merasa cemas dan khawatir.


"Kabar Caca baik-baik aja, Bu." ujar Shinta yang berbohong, ia juga berfikir jika sebaiknya Caca sendiri yang akan menceritakan segala nya kepada ibu mereka.


"Kaynara juga tidak memiliki kabar, Ibu begitu sangat cemas dengan dia. Ibu sudah menyuruh ayah mu untuk menghubungi nya namun tidak bisa." Shinta juga merasakan hal yang sama, sudah berapa bulan ini kaynara tidak memiliki kabar. Ketika Revan bertanya kepada pihak yang mengatur keberangkatan Kay. Mereka bilang jika kaynara bersama suami nya ada di apartemen.


Namun, kenapa kaynara tidak ada kabar dan tak bisa di hubungi, Shinta meyakinkan kedua orang tua nya jika kaynara akan baik-baik saja, walau ia sendiri tidak merasa yakin dengan itu semua.


Alana mengajak nenek nya untuk bermain, walau Shinta melarang. Namun, Syafa menuruti permintaan cucu nya. Tidak ada yang lebih bahagia selain berkumpul dengan anak, menantu dan cucu di hari tua.


"Kalian sering lah main ke sini! Ayah dan Ibu hanya berdua saja, kami selalu merasa kesepian. Dan kau tata. Kamu hanya satu-satu nya anak kandung kami, hanya kamu yang ayah dan ibu punya. Jika, kamu melupakan kami sebagai orang tua. Bagaimana anak kami yang lainnya tidak melupakan kami." ujar ayah Gunawan, ucapan sang ayah membuat Shinta semakin merasa bersalah.


Ia juga menyadari, Jika diri nya sudah abai kepada kedua orang tua nya.


"Mama dan Papa jangan khawatir, kami akan menginap di sini selama satu pekan. Jadi, mama dan papa tidak akan merasa kesepian. Kalian juga akan puas bermain dengan si kembar." ujar Revan.

__ADS_1


__ADS_2