Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 64


__ADS_3

Shinta uring uringan dikamar, ia begitu merasa frustasi melihat perubahan Revan, sampai sekarang Revan belum juga kembali. Shinta bangkit dari tempat tidur ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya


"Nona semua nya sudah siap, nona bisa pulang sekarang kembali kerumah" ucap pria paruh baya itu.


"Terimakasih pak, dimana suami saya?"


"Tuan sedang ada urusan, tuan berkata nona pulang saja deluan ke kota A" Shinta pun mengangguk lesu, ia mengambil koper yang ada dikamar lalu naik kedalam mobil yang sudah disediakan.


***************


Sampai di kota A, Shinta langsung menuju rumahnya dan menjumpai Syifa yang sedang bermain didalam kamar.


"Mama" teriaknya dan berlari masuk kedalam pelukkan Shinta, Shinta pun menggendong Puterinya dan mencium pipi Syifa. Lili pun menghampiri cucu dan menantunya.


"Kenapa sudah pulang? Dimana Revan?" tanya lili


"Revan sedang ada urusan ma" jawabnya tersenyum. Mengingat suaminya Shinta merasa sedih dan terabaikan.


"Apa dia tak bisa menghargai aku sedikit saja" gumamnya dalam hati.


"Kamu kenapa sedih?" Tanya lili memegang bahu menantunya.


"Tidak ma, Tata hanya rindu saja sama Syifa" Shinta pun menciumi pipi Syifa sampai ia kegelian.


"Hihi geli mama" Shinta pun tertawa melihat wajah Puterinya yang begitu menggemaskan, setidaknya ada Syifa yang selalu menjadi kekuatan bagi dirinya. Shinta menyadari pernikahannya dengan Revan hanya lah karena Syifa gak lebih. Apa yang harus ia harapkan dari lelaki yang tak pernah mencintainya, Shinta pun tersenyum kecut mengingat itu semua walau sesak didalam dadanya. Ia berusaha untuk menutupi segala kesedihannya.


"Sayang, mama ke kamar dulu ya" pamit Shinta. Syifa pun mengangguk, Shinta menurunkan tubuh mungil Syifa ke tempat duduk dan ia pun masuk kedalam kamar. Shinta merenggangkan otot ototnya yang terasa begitu kaku. Ia membersihkan dirinya dikamar mandi, selesai membersihkan diri ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 07 malam namun Revan juga belum pulang, entahlah. Shinta tak tahu dimana suaminya sekarang, dan mengapa tiba tiba sikap Revan berubah menjadi dingin seperti awal mereka menikah. Shinta mencoba membuang kesedihannya, ia keluar dari kamar menuju ruang makan. Walau Shinta tidak selera untuk makan namun ia menghargai mertua dan juga Puterinya. Shinta duduk disamping Puterinya, seperti biasa ia selalu menyuapi Syifa makan.

__ADS_1


"Mama gak makan?" Tanya Syifa


"Kamu makan yang kenyang dulu ya sayang, baru mama makan" ucap Shinta tersenyum pada Puterinya, Syifa mengambil ahli sendok yang ada di tangan Shinta ia menyuapi Shinta.


"Mama juga makan, biar Syifa suapi" Shinta yang mendengar ucapan sang Puteri pun membuka mulutnya, ia begitu terharu melihat Syifa yang menyayangi nya dengan tulus tak terasa air matanya jatuh berlinang.


"Mama jangan nangis" Syifa menghapus airmata Shinta dengan tangannya yang mungil


"Anak mama sudah dewasa ternyata" Shinta mencoel hidung syifa dengan gemas. Kini umur Syifa mau memasukin 6 tahun, Syifa selalu menjadi anak yang baik dan pengertian. Sifatnya juga begitu dewasa wajahnya begitu mewarisi wajah Caca ibu kandungnya.


"Sekarang kamu makan yang banyak ya sayang" Shinta mengambil ahli sendok yang ada ditangan mungil Syifa dan kembali menyuapinya.


Setelah makan malam selesai, Shinta mengantarkan Syifa kembali kedalam kamarnya. Ia bermain dengan Syifa, tawa Syifa membuat kesedihan shintapun berkurang. Malaikat kecilnya selalu memberikan ketenangan bagi kegundahan hatinya. Waktu pun sudah menunjukan pukul 10 malam tak terasa Shinta sudah begitu lama bermain dan tertawa bersama Syifa. Shinta pun menyuruh Puterinya untuk tidur dan membaca kan dongeng. Ketika Syifa sudah tertidur, Shinta pindah ke kamarnya, Revan juga belum pulang dari tadi. Shinta mengambil ponsel dan mencoba menghubungi suaminya namun tak ada jawaban sama sekali, tak lama Revan masuk kedalam kamar. Ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya tanpa menoleh sedikitpun kearah Shinta. Shinta hanya membuang nafas dengan kesal. 45 menit berlalu Revan keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


"Kau kenapa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Shinta.


"Jika kau ada yang lain bilang saja, setidaknya jangan acuhkan aku seperti ini!" Teriaknya kembali namun Revan tak menggubris omongan Shinta, ia mengambil laptop untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Apa salahku?" Shinta berteriak sekuatnya karena merasa kesal dengan Revan yang tak menggubris ucapannya sama sekali.


"Salahku apa" keluar juga airmata yang ia tahan dari pagi tadi


"Bukan kau yang salah namun takdir" Revan bangkit dan berlalu pergi dari kamar. Shinta hanya menangis terduduk dipinggir kasur tempat tidur.


"Apa karena aku tak sempurna?"


"Apa karena aku tak bisa memberikan keturunan untuknya?"

__ADS_1


"Bukankah ia tahu kekuranganku dari awal, namun mengapa ia permasalahkan sekarang"Shinta menangis senggugukkan.


Keesokan paginya, Shinta terbangun dari tidurnya ia melihat Revan juga belum kembali dari tadi malam.


"Mengapa takdir begitu kejam?" gumamnya dalam hati, Revan pun masuk kedalam kamar, Shinta langsung bangkit dan mendekat kearah Revan.


"Aku tau, aku bukan wanita yang sempurna. Aku tak bisa memberikan mu keturunan, jika kau ingin pisah aku rela" Ucap Shinta dengan pasrah, karena ia juga sadar didalam rumah tangga seorang wanita tidaklah sempurna tanpa seorang anak.


"Dulu Rayhan juga meninggalkan ku karena alasan ini padahal kita sudah lama berhubungan, dan sekarang ketika aku menikah pun. Aku harus siap ditinggalkan" ucapnya dengan tersenyum kecut. Mengasihani dirinya sendiri. Revan melihat Shinta yang begitu menatap sembarang arah dengan tatapan kosong, ia mendekat kearah Shinta dan memeluknya.


"Maaf kan aku" Revan mengecup pucuk kepala Shinta.


"Bukan itu, aku menerima mu apa adanya. Namun ada kebenaran yang harus kau tahu" ucap Revan. Shinta menjauhkan kepalanya dan menatap mata Revan. Revan menghapus airmata yang mengenang di pipi Shinta.


"Lalu?" Tanya Shinta dengan bingung. Namun Revan tak sanggup menjawab pertanyaan dari Shinta


"Apa kau masih mencintai mantan kekasihmu" Revan mengepalkan tangannya, dan menguatkan hati untuk jawaban yang akan di berikan oleh Shinta. Ia harus menerima kenyataan jika nantinya Shinta akan meninggalkannya dan kembali kepada mantan kekasihnya.


"Mengapa kau bertanya seperti itu" Tanya Shinta


"Jawab saja, apa kau mencintainya?"


"10 tahun menjalin hubungan dengannya bukanlah waktu yang sebentar, Namun ia memilih meninggalkan ku karena kekuranganku yang gak bisa ia terima, dan memilih menikah dengan wanita lain yang jauh lebih sempurna" Jawabnya dengan nada yang menyedihkan.


"Bukan itu alasannya"


"Maksudmu?" tanya Shinta bingung.

__ADS_1


"Dia meninggalkan mu bukan karena kekurangan yang ada di dirimu" Shinta mengerutkan dahinya bingung.


"Sudahlah, tidak usah dibahas. Dia yang memilih meninggalkan ku lagipula dia sudah bahagia dengan pernikahannya yang sekarang" Shinta tak ingin membahas apapun lagi tentang masalalu nya, karena baginya itu begitu menyakitkan.


__ADS_2