Ibu Sambung

Ibu Sambung
Keadilan untuk Syifa.


__ADS_3

Revan begitu sangat mendidih mendengar ucapan anak nya. Begitu juga dengan kakek nya Syifa, Tommy.


"Ini tidak bisa di biarkan, mereka harus di beri pelajaran. Biar mereka tahu, berurusan dengan keluarga siapa." ujar Tommy, mama Lily mencoba menenangkan suami nya.


"Pa, Ma-aafin Syifa. Kalau, Syifa udah nggak jadi anak yang baik dan kurang ajar. Jadi nya, didikan mama dan papa di pertanyakan." Syifa semakin histeris, Shinta memeluk sang anak dan menenangkan nya.


"Sayang, jangan menangis! Kamu nggak salah, yang Syifa lakukan itu hal yang sangat benar. Membela teman, itu bukan lah hal yang buruk. Jangan takut nak, Syifa membela kebenaran. Sudah ya, Kesayangan mama dan papa jangan menangis lagi." Shinta menghapus air mata anak nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Revan mengajak anak dan isteri nya untuk pergi ke rumah sakit, Revan melakukan visum kepada anak nya. Dan melaporkan hal ini kepada pihak polisi. Bukan hanya polisi, Revan juga membawa beberapa wartawan untuk menuntut pihak sekolah. Setelah visum, mereka datang ke sekolah. Menuntun dan meminta tanggungjawab kepada pihak sekolah. Revan juga membawa masalah ini ke pihak media dan surat kabar.


**********


"Pak, ada banyak wartawan di luar" ujar satpam sekolah memberitahu kepala sekolah. Kepala sekolah itu berdiri dengan senyuman bangga, ia mengira jika sekolah nya masuk berita karena prestasi murid-murid nya.


"Biar kan mereka masuk, sambut mereka dengan baik."


"Ta-tapi, Pak."


"Sudah, cepat lakukan. Dan suruh mereka masuk."


Satpam itu masih berdiri, tak bergeming. Kepala sekolah yang melihat itu pun memarahi sang satpam.

__ADS_1


"Ada apa lagi? Cepat, Sana!" akhirnya satpam itu pergi, membawa mereka ke ruang kepala sekolah. Betapa terkejut nya kepala sekolah melihat polisi juga datang. Revan, dan Shinta. Selaku kedua orang tua Syifa, meminta pertanggungjawaban kepada sekolah. Mereka juga menuntut pihak sekolah.


"Sabar, Pak. Buk. Jangan emosi, ada apa ini? Kenapa kalian membawa wartawan dan juga polisi?"


"Tanya saja kepada bawahan Anda. Apakah begini sekolah ini bersikap? Membela anak yang orang tua nya memiliki jawaban tinggi, dan menutup mata oleh kebenaran?" teriak Revan kepada pihak sekolah. Seluruh murid menyaksikan itu di luar ruangan..


"Tenang lah, Pak. Kita bicarakan di sini dengan baik." ujar kepala sekolah itu.


"Bagaimana saya bisa tenang, jika salah satu guru di sini menganiaya anak saya?"


Kepala sekolah itu terdiam bahkan tidak terkejut sama sekali, ini bukan pertama kali nya orang tua siswa datang dan mengadu. Tapi, kali ini yang membuat kepala sekolah takut. Kedua orang tua murid yang satu ini langsung membawa beberapa wartawan juga polisi. Nama baik sekolah di pertaruhkan.


Kepala sekolah bersikap sok baik, dan menanyakan apa yang sebenar nya terjadi. Syifa pun kembali menjelaskan masalah itu. Kepala sekolah menyuruh guru yang lain membawa guru yang menampar Syifa tadi dan teman-teman nya untuk menjadi saksi.


"Kenapa? Anda takut karena melihat, murid yang nakal itu adalah anak dari investor tertinggi di sekolah ini?" sentak Revan.


"Bu-bukan begitu pak, namun anak ini kan masih terlalu kecil."


"Jadi, anda mengira hanya anak saya yang pantas mendapatkan tamparan dari guru yang jauh lebih dewasa dari anak saya?" kesal Revan kepada kepala sekolah itu. Ternyata, benar yang di ucap kan oleh anak nya. Sekolah ini hanya luar nya aja yang begitu bagus, namun di dalam nya. Tidak ada keadilan, hanya mereka yang memiliki jabatan tinggi yang di hargai.


Begitu banyak wartawan yang berdatangan. Menyoroti sekolah yang terkenal paling bagus itu.

__ADS_1


"Apa kesalahan kami? Anak kalian saja yang tidak tahu sopan santun, saya ini guru nya bukan? Seharusnya dia bisa bersikap baik."


"Harus bersikap sopan bagaimana lagi? Seharusnya, anda guru bisa menjadi contoh yang baik untuk para murid, bukan menjadi contoh yang buruk!"


"Itu semua benar. Sekolah ini sangat tidak baik untuk di contoh, luar nya saja yang terlihat bagus. Namun, di dalam nya, begitu buruk." ucap beberapa wartawan. Bukan hanya, wartawan dan polisi saja yang di bawa, Revan juga memanggil Komnas perlindungan anak. Membuat pihak sekolah menjadi bungkam.


Guru sombong yang tadi nya begitu angkuh kepada Syifa, kini menangis meminta maaf. Pihak sekolah pun meminta maaf dengan apa yang terjadi. Namun, semua nya sudah terlambat. Pihak sekolah pun di berikan sanksi, guru yang menampar Syifa di bawa pihak kepolisian dan Amira, anak yang nakal itu harus di keluarkan dari sekolah. Kini, Syifa dan Raisa mendapatkan keadilan.


Jika, pihak sekolah melakukan yang buruk lagi kepada Syifa atau pun anak-anak yang lain. Sekolah itu akan di tutup secara permanen.


Kini, Syifa dan Raisa merasa lega. Mereka mendapatkan keadilan yang seharusnya mereka dapati. Bukan hanya, Syifa dan Raisa. Namun, murid-murid yang selalu mendapat kan perlakuan tidak adil dan korban bully.


"Ma, Pa. Terimakasih" ujar Syifa kepada kedua orang tua nya.


"Sama-sama, Sayang. Lain kali, jika ada yang menyakiti mu, jangan sembunyikan apapun dari kami ya nak? Harus berani bicara, karena keberanian kakak. Bukan hanya kamu dan Raisa saja yang merasa terlindungi, namun anak-anak yang lainnya juga. Tidak akan ada lagi orang yang korban bully." ujar Shinta.


"Dan tidak akan ada lagi, guru yang semena-mena pada murid nya."


Anak-anak murid yang selalu menjadi korban bully pun berterimakasih kepada Syifa dan kedua orang tua nya. Karena, sudah memberikan hukuman kepada orang-orang yang bersalah. Ternyata, guru-guru itu memang buta oleh jabatan. Hanya anak-anak pejabat saja yang mereka lindungi, yang lain nya di anggap seperti bukan manusia. Jika ingin meminta pertolongan dan keadilan pada guru, bukan nya di berikan keadilan. Justru di pukul dengan tidak layak.


Kini, tidak ada lagi guru yang bersikap tidak baik, tidak ada lagi murid yang menjadi tukang bully. Tidak ada lagi, murid yang menderita. Semua nya sudah tenang, dan begitu tanpa adanya tekanan dari para guru-guru.

__ADS_1


Guru-guru menjadi bersikap baik terutama kepada Syifa. Tidak ada yang berani memarahi nya, lagipula tidak ada alasan untuk guru memarahi anak yang baik seperti Syifa.


Syifa anak yang begitu baik, tidak pernah membuat kekacauan, ia juga anak yang sangat pintar. Lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar daripada harus bermain atau jajan sembarangan di luar.


__ADS_2