Ibu Sambung

Ibu Sambung
Raisa Membuat Ulah?


__ADS_3

"Tidak! Anak ini sungguh keterlaluan, selama ini kamu sangat memanjakannya. Dan aku hanya bisa melihat tanpa berdaya, lihat lah kelakuannya sekarang!"


Arvan menarik tangan anaknya untuk di bawa ke kamar mandi "Sayang, apa yang sudah kamu lakukan? Jangan!" Caca mencoba menghentikan suaminya namun Arvan tidak mendengarnya


"Diam Caca! Selama ini kamu sudah mendidiknya, aku mengucapkan banyak terimakasih. Dan sekarang biarkan aku yang mendidik dia! Dia sudah sangat keterlaluan, menyalahgunakan kasih sayang yang sudah kamu berikan!"


Raisa yang di bawa ke kamar mandi oleh ayahnya hanya tertawa, dengan sikap Arvan menyiram anaknya dengan seember air. Raisa merasa kedinginan saat sang Daddy menggerujuki dengan seember air


"D-dadddy, ap-apa yang Daddy lakukan!" Raisa gemetar kedinginan, Caca langsung mengambil handuk untuk anaknya


"Sudah! Ini sudah larut malam! Raisa bisa sakit!"


"Besok kita akan kembali ke Indonesia!"


Raisa kaget mendengar ucapan Daddy-nya "Tidak! Raisa enggak mau! Daddy lupa kalau Raisa masih kuliah di sini?"


"Kamu akan pindah kampus! Jangan membantah, keputusan Daddy sudah tidak bisa di ganggu gugat!"


Arvan pergi meninggalkan anaknya dengan perasaan yang kesal, Caca mengeringkan tubuh anaknya dengan handuk


"Ganti pakaian mu, Raisa! Kamu bisa sakit nantinya,"


"Enggak mau! Biarin Raisa sakit di sini, Daddy jahat sama aku, enggak sayang sama aku! Mami tahu sendiri kalau Raisa masih menyelesaikan kuliah. Bagaimana bisa Raisa kembali ke Indonesia, daripada mami di sini lebih baik mami bicara dengan Daddy! Raisa tidak mau kalau kembali ke Indonesia mami mengerti enggak!"


Raisa membentak Caca, Caca pun hanya bisa diam dan menangis "Nak, yang Daddy mu katakan itu benar kita harus kembali ke Indonesia. Kakak dan adik mu menunggu kita, nak!"


"Sudah lah! Mami sangat egois, mami hanya memikirkan mereka saja. Mami enggak mikirin masa depan aku di sini, mimpi dan impian aku di sini mi!" Raisa menangis, meninggalkan maminya dengan gemetar.


Ia panik jika besok harus kembali ke Indonesia, rencananya selama ini akan sia-sia.


"Kenapa Daddy harus pulih sekarang? Seharusnya Daddy sakit saja, sungguh menyusahkan!"


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Raisa, Caca menampar anaknya! Mengapa Raisa sanggup mengatakan itu tentang Daddy-nya


"Selama ini mami selalu mengikuti apa kata mu, demi kebahagiaan kamu karena mami fokus kepada kesembuhan Daddy. Dan mami rela meninggalkan adikmu yang begitu bayi memilih membawa mu, kamu bilang jangan fokus menghubungi keluarga yang ada di Indonesia. Agar kita fokus dengan kesembuhan Daddy, dan sekarang. Daddy sudah sembuh namun itu ucapan kamu?"


Raisa terdiam memegang pipinya yang begitu pedas "Sekarang mami mengerti semuanya, kamu melakukan ini bukan untuk kesembuhan Daddy mu namun untuk kepentingan kamu sendiri!"


Raisa menatap maminya dengan tatapan tajam, matanya berkaca-kaca "Iya, memang benar! Ini semua Raisa lakukan untuk kebahagiaan Raisa, tapi Raisa sayang sama mami, sayang sama Daddy! Namun jika kesembuhan Daddy menghancurkan kebahagiaan aku lebih baik Daddy sakit saja!"


Plak!


Caca kembali menampar anaknya "Kamu sangat egois! Sungguh mami sangat menyesal memiliki anak seperti kamu! Kamu tahu Raisa? Mami mengira kamu anak yang baik, sopan namun melihat diri mu sekarang. Mami melihat sosok nenek kamu di diri kamu, mami tidak mengerti mengapa bayangan buruk masa lalu hadir di diri kamu!"


Raisa tidak mendengarkan ucapan maminya, ia pergi meninggalkan Caca

__ADS_1


Caca menangis, tersungkur meraung, mengapa nasibnya sungguh tidak beruntung? Selama ini Caca selalu menuruti apa kemauan Raisa bahkan memanjakannya namun Raisa menjadi anak yang tidak baik, Caca mengira jika bayangan-bayangan hitam masa lalu sudah hilang. Namun ia salah, Caca semakin mencaci dirinya sendiri yang telah gagal mengurus satu anak saja.


Caca menghapus air matanya dan bangkit ia menemui suaminya yang ada di kamar. Terlihat Arvan begitu murka "Mengapa dia menjadi seperti itu? Sungguh aku tidak menyangka, jika dewasa sifatnya sangat buruk seperti ini!"


Caca diam sejenak lalu menoleh ke arah suaminya "Ini semua salah ku. Aku mungkin ibu yang tidak beruntung, aku ibu yang gagal. Aku gagal mengurus satu anak saja dan meninggalkan anak ku yang lain bersama orang lain,"


Arvan menoleh ke arah Caca ia tahu ketidakberdayaan istrinya "Jangan menyalahkan diri mu! Tapi aku mohon, jangan membelanya lagi jika dia salah! Aku ingin Raisa menjadi wanita yang tidak egois." Caca mengangguk, Arvan mengatakan jika ia sudah memesan tiket keberangkatan mereka besok.


Caca tercengang sejenak, ia memikirkan ucapan Raisa. Masa depan putrinya ada di sini, apakah ia tega menghancurkannya dalam semalam?


"Ta-tapi, bagaimana dengan Raisa? Aku tahu dia salah. Namun kita tidak bisa mengabaikan mimpi-mimpi yang sudah ia bangun di sini, pasti sulit baginya untuk meninggalkan tempat ini,"


"Sudah lah! Semua akan baik-baik saja. Jika kita tetap menuruti permintaannya sama saja kita membiarkan dia hancur!" Arvan menjelaskan kepada Caca, Caca pun hanya bisa pasrah mengikuti perintah suaminya.


Memang selama ini, Caca sudah sangat memanjakan Raisa sehingga anak itu tumbuh menjadi anak yang kurang ajar


*****


Di dalam kamar, Raisa membanting semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya. Ia menangis kesal, mengapa Daddy-nya memperlakukan ia seperti orang asing? Kebahagiaannya sudah lenyap, bahkan sosok Daddy yang selalu ia impikan hancur.


"Daddy jahat! Daddy tidak sayang kepadaku! Mengapa Daddy begitu kejam? Daddy baru saja sembuh, namun sekejap ia menggancurkan semua mimpi-mimpi dan rencana ku! Aku ini anaknya, namun mengapa seperti musuhnya? Dan mami, untuk pertama kalinya mami menampar ku hingga dua kali, padahal sebelumnya membentak ku saja tidak pernah, aku benci Daddy, aku benci!"


Jika Raisa mengetahui perlakuan Daddy-nya terhadap dia ketika sembuh, lebih baik wanita itu meracuni Daddy-nya sampai tiada! Daripada kebahagiaannya di hancur kan seperti ini!


******


Namun Raisa masih tertidur, Caca dan Arvan membangunkan anak mereka namun Raisa tidak mau mendengarkannya


"Sudah hentikan semua kekonyolan mu Raisa! Bangun! Ini perintah Daddy!"


Namun Raisa tak bergeming, Caca yang takut kemarahan suaminya semakin menjadi pun memberikan pengertian kepada anaknya


"Raisa sayang, mami minta maaf karena mami sudah memukul kamu kemarin malam. Mami menyesal nak, tolong bangun ya? Kita akan segera ke bandara, kamu mau kan berkumpul dengan kak Syifa dan adik kamu?" Caca memeluk Raisa dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.


"Untuk apa kamu meminta maaf kepada anak seperti ini? Lihat lah, bahkan ketika kita orang tuanya berbicara, dia tidak mendengarkan atau menganggap kita!"


Arvan tidak pernah membayangkan jika Raisa menjadi anak yang begitu keras kepala.


Raisa duduk, ia berteriak dan mengatakan jika dirinya tidak ingin ikut kembali ke Indonesia "Jika mami dan Daddy ingin pergi, pergi saja! Kalian memang tidak sayang kepada ku. Sudah lah! Pergi lah kalian menemui anak kalian yang lain, tidak perlu mengajak atau memperdulikan aku. Aku bisa hidup sendiri tanpa kalian!"


Arvan mengerang kan rahangnya, matanya sudah memerah. Namun Caca memberikan kode kepada suaminya agar tidak terbawa emosi "Jika kau tidak mau ikut, baik lah! Jangan ikut kami, tetap lah di sini dan hidup dengan sesuai keinginan mu. Daddy tidak akan memanjakan kamu! Dan fasilitas mu akan Daddy cabut, kau mengatakan jika bisa hidup tanpa kami? Baik, buktikan!"


"Terserah Daddy! Jika Daddy ingin mengambil semua fasilitas ku. Aku bisa menjual diri ku untuk memenuhi kehidupanku!"


Raisa!


Caca berteriak, menggelengkan kepalanya. Air matanya jatuh mendengar ucapan anaknya "Kamu sadar enggak dengan apa yang sudah kamu katakan? Sudah, mami tidak mau mendengar omongan kosong mu itu. Ayo kita pergi, tidak perlu kamu mandi, sekarang kita balik ke Indonesia!"

__ADS_1


Caca memegang tangan anaknya, namun Raisa menepisnya "Raisa enggak mau balik ke Indonesia, kalian tidak mengerti dengan yang Raisa katakan? Jika kalian mau mengambil fasilitas ku, baik ambillah! Raisa tidak perduli! Sudah jangan menganggu Raisa lagi, pergi kalian!"


Suatu pukulan berat untuk orang tua yang melihat anaknya begitu menjadi pembangkang, Arvan yang belum pulih total pun langsung tumbang dengan semua ini


Daddy!


Sayang!


Caca dan Raisa berlari ke arah Arvan yang tak sadarkan diri, Caca segera menghubungi dokter menuju kediaman mereka.


Raisa menangis, ia takut jika sesuatu terjadi kepada Daddy-nya. Mungkin ia sangat kesal dan marah, namun ia juga tidak menginginkan Daddy-nya kembali jatuh sakit.


Dokter datang, memeriksa keadaan Arvan.


"Dok tolong suami saya!"


Caca menangis meminta tolong kepada dokter, ia pun menatap Raisa dengan tidak percaya "Sudah senang kamu sekarang, nak? Itu yang kamu ingin kan bukan? Baik lah, kamu sudah mendapatkan tujuan kamu. Melihat Daddy kamu kembali sakit seperti ini, puas kamu Raisa? Puas nak? Atau kamu ingin membunuh mami juga?"


Caca melihat pisau di dekatnya, ia mengambil pisau itu dan memberikan kepada Raisa. Mengarahkan Raisa untuk menusuk jantung Caca "Ayo, nak! Jika kamu tidak puas, tusuk pisau itu! Tanjap kan ke jantung mami!" Raisa membuang pisau itu ke atas lantai.


"Mami, maafkan Raisa. Raisa sangat menyesal, jangan seperti ini mami!" Ujarnya dengan terisak, ia pun memeluk maminya "Setelah Daddy sadar, Raisa akan ikut kalian ke Indonesia. Tapi Raisa mohon, jangan mengatakan itu lagi Mami! Raisa sangat menyayangi dan mencintai mami!" Raisa terbata-bata, menangis dengan terisak.


Caca membalas pelukan anaknya, ia tahu jika Raisa bukan anak yang jahat. Ia percaya jika anaknya masih memiliki hati yang baik.


Dokter pun keluar, Caca dan Raisa melepaskan pelukan mereka sagu sama lain, Caca bertanya bagaimana kondisi suaminya dan dokter mengatakan jika Arvan terkena serangan jantung ringan. Dan sebaiknya, jangan membuat Arvan tertekan atau banyak pikiran.


Caca yang mendengar itu pun menjadi lemas, mengapa suaminya sekarang begitu lemah?


"Lalu apa yang harus saya lakukan dok?"


"Pastikan pasien tidak mengalami stres yang berlebihan. Atau pikiran yang akan membuat ia merasa lemah!"


Caca mengangguk, mereka pun menunggu hingga Arvan sadar kan diri.


Setelah Arvan membuka matanya perlahan, Raisa langsung memeluk Daddy-nya. "Daddy maafkan Raisa, Raisa menyesal telah membuat Daddy sakit. Raisa mau ikut dengan Daddy dan mami yang penting Daddy sembuh! Maafin Raisa, Daddy! Raisa sangat menyayangi Daddy dan juga Mami! Ayo Daddy, kita kembali ke Indonesia, Daddy merindukan Khanza dan kak Syifa bukan? Raisa akan ikut!"


Arvan tersenyum memeluk anaknya, ia senang karena Raisa sudah menyadari kesalahannya "Daddy senang nak, kamu sudah menyadari semua kesalahan dan perbuatan kamu. Daddy berharap, kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Kamu tahu betul, bagaimana cinta dan sayangnya Daddy juga mami kepada kamu. Kamu rela meninggalkan adik kamu, demi kamu ikut dengan kami, sayang!"


Raisa terdiam, ia menang menyesali perbuatannya karena sudah membuat Daddy-nya terkena serangan jantung, namun ia masih tidak rela jika daddy dan maminya membagi kasih sayang mereka kepada Khanza dan juga Syifa.


Raisa akan mencari cara lain, yang terpenting saat ini Daddy-nya tidak marah.


Caca kembali mempersiapkan barang-barang mereka untuk kembali ke Indonesia.


"Mami, apa kita akan menetap di Indonesia dan tidak akan kembali lagi?"


Caca sendiri tidak tahu "Mami enggak tahu sayang, namun saat kita kembali lagi ke sini. Kita akan membawa adik dan juga kakak kamu!"

__ADS_1


__ADS_2