Ibu Sambung

Ibu Sambung
Gelisah


__ADS_3

"Baik nona, jika itu yang nona inginkan. Saya tidak akan memberitahu tuan Revan dan nyonya Shinta namun jika terjadi sesuatu kepada nona tolong beritahu saya,"


Syifa tersenyum, walau matanya terlihat sangat sedih namun wanita itu menutupi kesedihannya. Ia tidak mau melihat orang-orang di sekitarnya merasa khawatir


"Paman, apakah Syifa terlihat tidak baik-baik aja? Tidak kan paman? Sebab itu, paman jangan khawatir! Syifa enggak kenapa-kenapa kok dan masalah tangan yang memerah ini, ini enggak apa-apa paman!"


"Tapi nona, saya takut jika tuan tahu dan marah kepada saya!"


"Jangan khawatir paman! Papa dan mama tidak akan tahu, Syifa akan menutupi ini. Dan ini semua akan aman jika paman tidak memberitahu!"


Boddy guard itu pun hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, ia memang sudah menganggap Syifa seperti anaknya sendiri tanpa ragu pria itu mengusap kepala Syifa seperti ayah yang memegang kepala anaknya


"Apakah anda sudah makan nona?"

__ADS_1


Syifa menggeleng, tidak lama ada seorang pelayan yang mengantarkan makanan untuk Syifa. Ia pun kaget "Paman, Syifa tidak memesan makanan sebelumnya, mengapa sudah ada makanan?"


"Papa dan mama nona tadi meminta saya untuk membelikan makanan untuk anda nona, jadi saya memesannya sebelum jalan ke sini,"


Syifa merasa terharu, karena mama dan papanya sangat menyayangi ia. Bahkan selalu perhatian dengannya, walau mereka tidak bersama namun mama dan papanya tidak lupa memperhatikan ia.


"Mama dan papa sangat menyayangi aku namun mengapa aku merasa sedih jika orang lain menyakiti ku? Dia tidak berhak menyakiti ku! Dia tidak memiliki hak itu, kenapa aku sedih? Kedua orang tua ku mati-matian membahagiakan aku namun aku malah sedih hanya demi lelaki yang belum tentu menjadi suamiku," batinnya


Bahkan ia menyesal karena pernah mengenal lelaki kasar seperti Arash! Andai kedua orangtuanya tahu jika Putri kesayangannya ini mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain. Pasti papanya tidak akan membiarkan itu semua terjadi


Di tempat lain, Shinta merasa gelisah. Ia memikirkan tentang anaknya "Sayang, kenapa aku merasa gelisah. Coba kamu hubungi mama dan papa tanya keadaan si kembar dan aku akan menghubungi Syifa. Aku tiba-tiba saja memikirkan Syifa,"


"Kau jangan khawatir Shinta, saat ini Syifa sedang menjaga Daddy-nya. Dan Syifa aman di rumah sakit,"

__ADS_1


"Iya sayang, lagipula aku sudah meminta orang suruhan ku untuk menjaga Syifa dan juga si kembar di rumah sakit. Tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka! Kamu tenang saja ya?" Revan pun mencoba menenangkan istirnya namun hal itu tentu saja tidak membuat Shinta merasa tenang..


Ia akan merasa tenang jika sudah berbicara dengan anaknya, Revan hanya menghela nafas panjang. Mengikuti ucapan istrinya ia pun langsung segera menghubungi kedua orangtuanya.


Lily mengatakan jika semuanya baik-baik saja, lalu Shinta menghubungi Syifa.


Panggilan terhubung


"Sayang, kamu enggak apa-apa di sana kan nak? Apakah sesuatu terjadi dengan kamu? Mama sangat khawatir sayang!"


"Mama semuanya baik-baik aja, Syifa baik-baik aja di sini dan ada paman yang menjaga Syifa. Mama jangan khawatir!"


"Benar nak? Jika memang begitu baik lah, namun jika sesuatu terjadi kepada kamu. Kamu segera hubungi mama ya sayang? Mama merindukan mu, cepat lah pulang!"

__ADS_1


Panggilan terputus


"Sayang, semuanya baik-baik aja kan? Tidak ada yang terjadi kepada anak-anak. Kamu jangan khawatir, itu mungkin karena kehadiran Cia yang membuat kamu merasa tidak tenang."


__ADS_2