
Mendengar ucapan Shinta, kemarahan Revan pun langsung meredam ia langsung memeluk tubuh mungil isterinya itu dengan erat, Revan semakin merasa bersalah mendengar isakan Shinta. Seharusnya ia menanyakan dulu apa yang terjadi bukan malah bersikap kasar pada Shinta. Revan melepaskan pelukan itu dan menghapus air mata Shinta dengan kedua ibu jarinya
"Jangan menangis lagi, maaf kan aku" Revan mengecup bibir Shinta dengan lembut.
"Aku terlalu panik melihat Syifa yang tiba-tiba menjadi ketakutan melihatmu" Ucap Revan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Sekali lagi maaf kan aku ya" Revan mengecup pucuk kepala Shinta. Shinta pun mengangguk, ia juga merasa bersalah tak seharusnya Syifa menjadi korban ke khawatirannya. Rasa takut berlebihan yang ia rasakan membuat Shinta tak terkendali.
"Bagaimana ini, sekarang Syifa takut dengan ku hiks" air mata Shinta terus saja mengenang di pipinya, Revan mencoba menenangkan Shinta namun usahanya sia-sia. Yang mampu menenangkan hati Shinta saat ini adalah Syifa Puterinya.
"Sebentar ya" Revan pamit kepada Shinta untuk kekamar Syifa, Revan berlalu pergi meninggalkan Shinta dikamar mereka.
*********
Syifa masih saja menangis di pelukan lili, sudah dari tadi lili berusaha membujuk cucunya namun Syifa masih saja menangis ketakutan. Tangan mungil nya gemetar, ia tak menyangka Shinta yang selalu menunjukan wajah yang menyejukkan hati tiba tiba menjadi orang asing baginya, Revan mendekati Puterinya yang masih menangis di pelukkan sang ibu.
"Sayang" Revan mengambil ahli menggendong Syifa. Lili yang mengerti akan tatapan dari sang putera pun berlalu pergi meninggalkan ayah dan anak tersebut.
"Puteri papa yang cantik kenapa menangis hey" Revan mencium pipi Syifa berulang-ulang.
"Ma...ma jah....at hiksss" Syifa menghapus Hingus yang keluar masuk dari hidungnya
"Sayang" Revan mencoba menenangkan Puterinya.
"Apa Syifa tau, mama Shinta begitu menyayangi Syifa" Syifa pun menggelengkan kepalanya, kepala Revan begitu pusing, ia memijit dahinya dengan lembut. Bagaimana menjelaskan semua pada Puterinya. Revan sejenak memejamkan matanya dan menghembuskan nafas dengan kasar. Memegang pipi Syifa.
"Papa mau nanya boleh?" Syifa pun mengangguk
"Apa papa menyayangi Syifa?" Tanya Revan dengan lembut kepada Puterinya. Syifa pun mengangguk
__ADS_1
"Apa papa tidak pernah memarahi Syifa ketika Syifa nakal?"
"Papa selalu marah kalau Syifa nakal" ucapnya dengan suara senggugukkan.
"Nah, ketika papa marah dengan Syifa apa berati papa tidak sayang dengan Syifa?" Syifa pun menggeleng
"Apa Syifa membenci papa?" Syifa pun menggelengkan kepala nya kembali
"Tidak mungkin Syifa benci, Syifa sangat sayang sama papa" Syifa mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher sang papa.
"Nah begitu juga dengan mama sayang, mama begitu menyayangi Syifa dan sangat menyesal telah membentak Syifa tadi. Mama tidak sengaja sayang"
"Tapi Syifa takut papa, Syifa takut kalau mama tidak sayang lagi sama Syifa hiks"
"Tidak sayang, mama begitu sayang sama Syifa" Kini suara Shinta terdengar Syifa mengangkat kepalanya dan melihat Shinta yang mendekat kearahnya.
"Maafkan mama nak" kini Shinta memegang tangan mungil Syifa dan menciumnya, Shinta menangis menciumi tangan Puterinya.
Syifa yang awalnya merasa takut dengan Shinta kini memberanikan diri memegang tangan Shinta dan menjauhkan tangan Shinta dari telinga ibunya. Syifa pun mengangguk dengan wajah yang sembab dan basah
Tangan Syifa gemetar memegang pipi Shinta dan menghapus air mata ibunya, Shinta langsung memeluk Puterinya dengan lembut
"Maafkan mama nak" Syifa pun mengangguk.
"Apa Syifa sudah tidak marah lagi dengan mama" tanya Shinta dan Syifa pun menggelengkan kepalanya. Shinta pun mengecup setiap inch wajah Puterinya berulang-ulang.
"Duh papa lapar ni, apa anak papa tidak lapar" Revan sengaja mencairkan suasana itu
"Sangat lapar" ucap Syifa dengan polos, Shinta pun menggeleng dan tersenyum
__ADS_1
"Ayo kita makan" ajak Revan, kini Shinta dan Syifa saling menoleh
"Pengen ice cream" ucap mereka berdua dengan kompak dan manja kepada Revan. Revan hanya tertawa geli melihat isteri dan anaknya.
"Oke, ayo kita makan ice cream" ajak Revan.
"Horeee" Teriak Shinta dan Syifa bersamaan. Mereka selalu kompak dalam hal apapun, beberapa hari belakangan ini Shinta kurang memperhatikan Syifa karena begitu banyak Masalah yang ia hadapi, dari mulai kebenaran tentang Rayhan dan kembalinya lagi Caca di kehidupan suami dan anaknya membuat Shinta merasa takut kehilangan suami dan anaknya. Shinta takut tersingkirkan dan jauh dari Syifa. Entahlah, Shinta tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa Syifa. Baginya Syifa adalah sebagian dari hidupnya. Shinta menyayangi Syifa seperti ia menyayangi ibu yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Syifa orang terpenting setelah kedua orang tuanya. Shinta menggendong Syifa dan membawanya keluar dari kamar
************
Revan sudah menunggu mereka di halaman rumah, Shinta pun masuk kedalam mobil dan tetap menggendong Puterinya.
"Apa Syifa tidak sebaiknya dibelakang saja" Tanya Revan, Shinta dengan cepat menggeleng
"Biar kan dia di pangkuanku saja"
"Terserah kau saja" Revan pun melajukan mobilnya membawa isteri dan anaknya ke kede ice cream yang biasa mereka kunjungi.
"Bagaimana kabar Rayhan sekarang?" Tanya Revan di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Belum ada perubahan juga tentang Ray" ucap Shinta seperti enggan membahas mantan kekasihnya, bukan ia tak memperdulikan Rayhan tapi ia ingin satu hari ini saja tanpa ada masalalu di antara mereka, kini Shinta menyadari bahwa hubungan jika ada campur tangannya dari seseorang masalalu itu tidak lah baik dan ia juga menyadari kesalahannya yang telah mengabaikan suami dan anaknya hanya karena mengkhawatirkan kondisi Rayhan. Bagaimana pun Ray hanyalah masalalu didalam kehidupannya, dan apa yang terjadi itu memang sudah kehendak dari Tuhan. Shinta hanya ingin fokus untuk keluarga kecilnya saja.
Sementara, Revan memikirkan hal yang berbeda, ia berfikir bahwa Shinta menjadi diam karena memikirkan kembali mantan kekasihnya itu, Revan menggengam kemudi mobil nya dengan erat, entahla ia merasa sosok Rayhan masih begitu sangat berarti bagi isterinya.
"Apa kau tidak ingin menjenguknya" Ucap Revan kembali, Shinta pun hanya menggeleng dan melihat kesembarang arah.
"Apa ia tak mau menjenguk sekarang karena ada aku, dan ia ingin menjenguk sendirian agar puas untuk berduaan dengan mantan kekasihnya itu" Kini pikiran Revan sudah jauh entah kemana mana. Revan melajukan mobilnya dengan begitu kencang hingga membuat Syifa menangis ketakutan dan memeluk erat Shinta.
"Apa kau sudah gila" kesal Shinta, namun Revan tak mendengarkan ucapan isterinya. Kemarahannya begitu bergejolak, Shinta yang begitu kesal pun menampar Revan dari samping hingga membuat Revan sadar dan memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
"Kau membuat kami takut!" Teriak Shinta.
.