Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 22


__ADS_3

Syafa melepaskan pelukkan sang suami, dia paham jika terlalu lama seperti ini. Siang ini bakalan menjadi panjang.


"Mau makan apa Mas?" Tanyanya dengan lembut.


"Apapun yang kamu masak pasti aku akan memakannya dengan lahap" Menggoda sang isteri. Syafa tersipu malu, pipinya memerah, layak nya anak ABG yang sedang jatuh cinta saja haha. Syafa pergi ke dapur memasak masakan untuk suami sekaligus anak tercintanya. Syafa mulai dengan aktifitas memasaknya sedangkan Gunawan mendekat dan memeluk isterinya dari belakang dengan penuh hangat. Keromantisan mereka tak pernah memudar sedikitpun


"Lepas mas" perintahnya dengan manja


"Jangan diamkan aku lagi ya sayang" mencium tengkung isterinya.


**********

__ADS_1


Di rumah sakit Revan masih menunggu sang Puteri agar sadarkan diri, sudah sebulan namun anaknya tak kunjung sadarkan diri. Dokter selalu rajin memeriksa Syifa setiap 2 jam sekali untuk melihat perkembangannya, namun tak ada perkembangan sama sekali. Detak jantungnya normal namun Syifa belum merespon sama sekali, Revan juga selalu mengajak Puterinya berbicara sesuai anjuran dokter. Walau Syifa tak bisa merespon namun pasien yang koma masih bisa mendengarkan ucapan kita.


"Sayang, Papa sudah datang" Duduk di bangku yang terletak tepat disamping anaknya.


"Kau sangat nakal ya sayang, tak mau berbicara pada papa sedikitpun, bahkan kau mampu membuat papa hampir gila karena mu. Bertahan lah nak, segera lah sadar. Karena Papa tak sanggup hidup tanpamu" Menggenggam erat dan mencium tangan anaknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Melihat ketidak berdayaan sang Puteri.


"Apa kau tak sayang pada Papa nak"


"Ayo bangunlah, nanti papa akan membelikan ice cream yang banyak untukmu"


"Papa gak sanggup kehilanganmu nak"

__ADS_1


"Kau dunia papa, kau matahari papa. Cahaya kehidupan papa, Kekuatan papa. Papa mohon jangan menyiksa papa seperti ini nak hikss"


"Kenapa harus kamu yang mengalaminya nak, kenapa harus kamu yang harus menahan rasa sakitnya. Kenapa enggak papa aja, papa emang ga berguna jadi seorang Ayah bahkan menjaga kamu saja papa gagal" Masih menangis histeris di pelukkan anaknya. Syifa belum membuka matanya namun sepertinya ia mendengarkan ucapan sang Ayah. Air mata Syifa membasahi pipinya. Revan melihat sang Puteri mengeluarkan air mata. Ia menghapus air matanya dan segera keluar dari ruangan ICU untuk mencari sang dokter. Tak lama ia masuk bersama dokter


"Ini perkembangan yang bagus, terus lah berkomunikasi kepada Puteri anda Tuan. Ia mendengarkan segala ucapan anda dan merespon nya walau hanya mengeluarkan air mata" Ucap sang dokter. Dokter menyuntikkan beberapa obat di selang infus Syifa, setelah itu ia berpamitan untuk keluar dari ruangan. Revan menggenggam tangan Puterinya dan terus menciumi tangan sang Puteri.


"Papa tau, kau anak yang kuat. Kita akan melewati ini bersama sama nak" Ucap Revan dengan semangat, ia memandangi wajah cantik anaknya, membelai wajah sang anak.


drtttt....drtttttt


Ponsel Revan berbunyi, ia langsung beranjak berdiri dari tempat duduk nya dan keluar ruangan untuk mengangkat telponnya yang berbunyi dari tadi.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanyanya.


"Kamu handle semua nya, saya sedang menjaga Puteri saya" mematikan ponsel, menyimpan di saku celananya.


__ADS_2