
Revan membantu Caca untuk duduk.
"Aw" pekik Caca, Revan spontan bangkit dan membantu Caca.
"Kau baik-baik aja?" Tanya Revan dengan khawatir, Caca pun tersenyum melihat sikap Revan yang kembali hangat padanya.
"Aku baik-baik aja"
"Ca, mengapa kau merasakan sakit itu sendirian" Tanya Revan dengan nada penuh penyesalan, setelah pengorbanan Caca yang begitu besar Revan malah membencinya bahkan menjauhkannya dari Puteri kandungnya.
"Apa maksudmu" Caca seolah tak mengerti apa yang Revan bicarakan.
"Berhentilah untuk tak mengetahui segalanya ca, ibumu sudah cerita semuanya"
"Van, yang berlalu biarlah berlalu" Caca memegang bahu Revan. Revan memberikan segelas air putih untuk Caca
"minumlah dulu" Caca mengambil gelas dari tangan Revan dan meminumnya, ia memberikan lagi gelas tersebut kepada Revan
"Dimana Syifa?" Tanya Caca.
"Syifa didalam kamar, biar aku panggilkan" Revan pun berjalan menuju kamar Syifa untuk memanggil Puterinya. Revan menggendong Syifa dan mendekat kearah Caca.
__ADS_1
"Sayang, sekarang kamu gak perlu takut lagi sama tente ini ya. Tante ini baik kok" ucap revan memberikan pengertian kepada anaknya. Syifa masih menyembunyikan wajahnya di tengkuk sang ayah.
"Tidak apa-apa sayang" ucap Revan kembali. Caca pun mencoba mengulurkan tangannya untuk menggendong Syifa namun Syifa menolak
"Pa, Syifa mau sama mama" rengeknya di pelukkan sang ayah.
"Astaga, ca sebentar ya" Revan langsung teringat dengan sang isteri, ia membawa sang anak kekamar nya untuk menemui Shinta, Shinta yang masih di anak tangga pun segera menghapus air matanya dan berlari kedalam kamar untuk pura pura tidur masuk kedalam selimut.
Cekrek
"Mama" teriak Syifa yang turun dari gendongan sang ayah dan berlari ke arah Shinta.
"Sayang" Shinta pun bangkit dan memeluk sang anak, ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Ia takut jika harus kehilangan Syifa
"Sayang, kamu keluar dulu boleh. Papa mau bicara sama mama"
"Tapi Syifa takut ada Tante jahat di bawah pa"
"Sayang, Tante itu tidak jahat. Percaya sama papa" Melihat Revan yang berusaha mendekatkan Syifa kepada ibu kandungnya membuat Shinta semakin sakit dan takut kehilangan, Shinta tak ingin egois memisahkan ibu kandung dan anaknya. Namun di sisi lain, ia juga begitu takut jika Syifa lebih dekat dengan ibu kandungnya dan melupakan Shinta sebagai ibu sambungnya.
"Benarkah ma, Tante di bawah itu baik?" kali ini Syifa bertanya dengan Shinta, Shinta pun bingung mau menjawab apa. Namun ia tak mau egois jika harus melarang Syifa dekat dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
"I... iya sayang, Tante di bawah itu orang baik kok. Kamu sama Tante itu dulu ya nak" Syifa pun menuruti perkataan Shinta, ia keluar kamar.
"Bagaimana kondisi Rayhan" kali ini Revan yang membuka pembicaraan terlebih dahulu, suasana tampak begitu tegang
"Kondisinya belum ada perubahan" Jawab Shinta dengan singkat. Revan pun mengangguk.
"Mengapa kau tadi pulang cepat" Shinta sontak melihat Revan dengan tatapan tidak suka.
"Mengapa ia ingin sekali aku pulang lama, apa ia tak ingin di ganggu bersama mantan isternya" Gumam Shinta dalam hati.
"Mengapa kau melihatku seperti itu" Tanya Revan, namun Shinta tak menjawab pertanyaan dari Revan.
"Ta" Revan memegang tangan Shinta dengan lembut.
"Kamu kenapa" tanya nya lagi
"Enggak, enggak apa apa kok" ungkap Shinta dengan gugup, ia tak ingin melihatkan ke khawatirannya. Bukannya ia tak senang jika Revan mau memaafkan masa lalunya namun entah mengapa ada hal lain yang mengganggu pikirannya. Kedatangan Caca tadi, apalagi kebenaran tentang Caca membuatnya tidak nyaman.
"Ta" Revan memegang pipi Shinta dan menatap kedua mata Shinta, walau Shinta tak mengatakan apapun namun jelas sekali dari sorot matanya ia menyimpan banyak kesedihan dan ke khawatiran
"apa kau tidak suka Caca di rumah kita" Tanya revan.
__ADS_1
"Tidak, maksudku suka kok" ucap Shinta dengan kebingungan.