
Alan mencoba meyakinkan saudara kembarnya itu walau sebenarnya ia merasa ragu namun demi kesembuhan adik kembarnya itu Alan akan melakukan apapun
"Alan mengatakan ini bukan karena biar Alana mau ke psikiater kan?" Alan segera menggeleng dengan cepat "Alana jangan merasa penting deh buat Alan! Alan juga mau ke psikiater ya karena Alan juga ingin merasa tenang jiwanya. Alana kan tahu, kalau Alan suka marah dan emosi karena tingkah Alana,"
Shinta, Revan, Lily, dan Tommy merasa terharu melihat si kembar. Bahkan Tommy bersyukur walau cucunya sering berdebat namun mereka saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Bahkan tidak pernah ada rasa kebencian di antara keduanya
"Wajar saja Alan dan Alana seperti itu karena keluarga mereka juga berasal dari keluarga baik-baik tidak seperti anak Caca. Lihat lah keluarganya, ibu dan kakaknya jahat selalu menyakiti orang lain" batin Tommy
"Iya Alan, Alana mau. Biar kita sama-sama ya?"
Alan mengangguk, memeluk saudara kembarnya itu.
Shinta pun membereskan barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Revan membantu istrinya "Sudah?"
Shinta mengangguk "Sudah, aku akan meletakkan ini dahulu di garasi mobil."
"Biar aku saja, kamu di sini jagain anak-anak dan mama, papa!"
"Ini terlalu banyak, biar aku saja!"
"Sudah lah, jangan keras kepala!"
Shinta dan Revan sempat berdebat hanya karena hal kecil, membuat Alana dan Alan menepuk jidatnya!
"Sudah! Kalian enggak malu bertengkar terus di depan anak-anak?" Lily bertanya kepada anak dan menantunya membuat Shinta dan Revan berhenti berdebat
"Ini ma, Revan selalu saja keras kepala!"
"Hey aku yang keras kepala? Kau yang keras kepala bukannya aku!"
Revan protes tak terima, "Sudah biar mama dan papa saja yang membawakan barang-barang ke garasi. Kalian di sini jagain Alan dan Alana, lagipula dokter juga belum datang untuk melepaskan infus Alana,"
"Ma, biar kita berdua saja!" Revan mengajak ibunya. Akhirnya Revan dan Lily yang membawa barang-barang ke garasi sedangkan Shinta dan papa mertuanya menjaga si kembar
"Cucu-cucu kakek semangat banget mau pulang,"
"Iya dong kakek, di sini sangat membosankan. Alana enggak suka!"
"Siapa yang suka di rumah sakit sayang? Kamu ini ada-ada saja!"
Ketiganya tertawa keras, Shinta tersenyum melihat pemandangan yang ada didepannya. Entah sudah berapa lama mereka tidak bergurau seperti ini
Shinta selalu berdoa agar kebahagiaannya tidak pernah lepas dan bilang "Jangan ambil kebahagiaan anak-anak ku Tuhan, bahkan aku rela menukar nyawa ku demi kebahagian mereka semua," batinnya.
********
Caca membawa Khanza ke rumah sakit menemui Syifa dan suaminya. Ia melihat banyak yang menjaga di luar ruangan suaminya
"Ini pasti orang suruhan Revan yang meminta untuk menjaga luar ruangan," batinnya. Penjaga itu memberikan salam kepada Caca dan anaknya. Caca tersenyum ramah kepadanya dan tidak lupa mengucapkan terimakasih banyak karena sudah menjaga anaknya
"Terimakasih banyak karena sudah menjaga suami dan anak saya,"
"Sama-sama Nona!"
Caca langsung masuk ke dalam ruangan bersama khanza. Terlihat Syifa yang masih menjaga Daddy-nya dengan baik
"Kak, adik kamu Raisa enggak ada datang ke sini?" Caca bertanya kepada anaknya namun Syifa menggeleng "Enggak mi, apa dia ingat punya ke dua orang tua di sini?" Ketus Syifa langsung.
"Kak, kamu jangan begitu. Bagaimana pun Raisa itu juga anak mami, adiknya kamu. Dia sangat menyayangi mami dan Daddy, enggak mungkin dia melupakan kedua orang tuanya di sini!"
"Terserah mami saja. Syifa malas berdebat!"
Arvan perlahan membuka matanya "Di mana aku?"
"Daddy?" Syifa dan Khanza langsung memeluk Arvan "Daddy sedang berada di rumah sakit. Tadi Daddy pingsan di makam nenek. Daddy kenapa ke sana Daddy?"
__ADS_1
Arvan terdiam sejenak, lalu ia menoleh mencari keberadaan Raisa "Sayang, di mana adik kamu?"
"Raisa pergi, ikut dengan Tante cia,"
Mendengar nama Cia membuat jantung Arvan sakit, belum selesai masalah lain Udah tumbuh masalah baru "Bukan kah dia di penjara?"
"Enggak tahu Daddy, tapi pastinya tidak. Kalau Tante Cia di penjara, dia tidak akan bisa ke sini,"
Caca tertunduk lemas saat suaminya menatap ia dengan sorotan mata yang serius
"Sudah Daddy! Jangan memikirkan apapun lagi, nanti Daddy bisa sakit!"
Syifa meminta Daddy-nya untuk tidak banyak berpikir, ia tidak mau Daddy-nya kembali jatuh sakit
"Kita tahu, saat Raisa sendiri saja dirinya sudah seperti itu. Lalu bagaimana jika ia bersama dengan Cia? Cia orang yang sangat jahat! Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan, bahkan tidak memiliki hati nurani kepada anak kecil sekaligus!"
Syifa bungkam, apa yang Daddy-nya katakan memang benar. Tantenya Cia sungguh wanita yang kejam, bahkan ia tega membunuh baby Al.
Semoga saja tidak ada korban lagi yang akan di bunuh oleh tantenya "Daddy jangan khawatir! Kita akan saling melindungi satu sama lain,""
Tiba-tiba saja Syifa kepikiran, karena ia tahu tantenya tidak akan mungkin menyakiti ia, Raisa dan Khanza. Lalu bagaimana dengan Alana dan Alan?
"Sayang, kamu kenapa?" Arvan bertanya kepada anak sambungnya namun Syifa masih saja bungkam.
"Syifa takut Daddy!"
"Takut apa nak?"
"Syifa yakin jika Tante Cia tidak akan menyakiti aku, Raisa dan juga Khanza. Namun tidak akan menjamin dengan keselamatan Alana dan Alan. Kita semua tahu jika Tante Cia sangat membenci mama dan juga papa Revan."
Caca dan Arvan pun terdiam, membenarkan ucapan anak mereka
"Kakak, mengapa Tante itu sangat jahat? Kenapa dia akan menyakiti kak Alana dan kak Alan?"
Syifa, Caca dan Arvan tidak menjawab pertanyaan Khanza. Karena mereka sendiri pun tidak mengerti mengapa Cia melakukan itu semua.
"Mengapa mami tidak tahu, itu kan kakaknya kakaknya mami," mendengar ucapan Khanza membuat Caca merasa sedih.
"Khanza, itu memang kakaknya mami..tapi bukan berarti mami mengetahui apa perbuatan adiknya, kamu enggak boleh begitu ya sama mami? Kasihan mami nanti sedih,"
"Lalu, kenapa saat Khanza enggak mau sama mami. Mami menyalahkan mama Shinta? Begitu juga dengan kak Raisa yang selalu menyalahkan mama Shinta?"
Khanza menatap kedua orang tuanya secara bergantian, Caca bungkam tidak berani menjawab apapun.
Apa yang ia tanam itulah yang Caca tuai selama ini ia selalu membeda-bedakan anaknya dan selalu membela Raisa yang semakin hari prilakunya semakin kurang ajar. Caca meneteskan air matanya, merasa tersudutkan dengan ucapan anaknya Khanza
"Sayang, maafin mami ya kalau selama ini mami sudah keterlaluan sama kalian. Mami akan mencoba bicara dengan Tante cia!"
Setelah mengatakan itu, Caca menitipkan suami dan anaknya kepada Syifa.
"Nak, tolong kamu jagain Daddy dan adik mu Khanza ya. Mami harus pergi mencari Raisa dan Tante Cia kamu. Mami akan bicara dengan mereka,"
Syifa mengangguk, ia meminta kepada maminya untuk berhati-hati "Mami hati-hati ya? Jika sesuatu terjadi tolong segera hubungi Syifa segera!"
"Iya sayang, mami akan selalu mengabari kamu apapun yang terjadi!"
Setelah mengatakan itu Caca langsung pergi menggunakan mobil pribadi. Supir ingin mengantar namun Caca menolaknya, ia tidak mau membawa orang lain dalam masalahnya sendiri.
"Mungkin saja mereka di rumah mama!"
Caca langsung melajukan mobilnya ke rumah ia sejak kecil ia tempati. Hatinya meringis jika mengingat kenangan itu, Caca juga merindukan kakak Lee-nya mungkin jika saja Lee masih hidup mungkin Lee akan menjaga ia dan keluarganya, Lee tidak akan seperti Cia yang menjadi wanita kejam
Caca turun dari mobil, begitu banyak body guard yang menjaga rumah mamanya.
"Anda siapa?" Tanya salah satu bodyguard yang tidak mengenal dirinya
__ADS_1
"Aku adalah anak dari pemilik rumah ini, lebih baik kau segera menyingkir dari ku!"
"Maaf Nona, tidak bisa!"
Caca yang tidak di bolehkan masuk pun membuat keributan yang akhirnya cia dan Raisa keluar
"Mami, hey! Kenapa kau melarang mami ku masuk? Mau aku pecat?" Raisa berteriak kepada pengawal itu.
Cia pun meminta pengawal mengizinkan adiknya untuk masuk
"Maaf Nona, saya tidak tahu jika nona ini adalah adik anda,"
"Tidak apa-apa!"
Plak!
Raisa yang merasa kesal menampar pengawal itu "Jangan sekali-kalinya kau berani melarang mami ku masuk! Dasar tidak tahu diri!"
"Sudah lah Raisa! Mengapa kau bersikap kasar kepada mereka?" Caca menegur anaknya, ia tidak percaya dengan perbuatan anaknya.
Raisa langsung masuk ke dalam, cia pun meminta adiknya untuk segera masuk "Masuk lah!"
Cia dan Raisa terlebih dahulu berjalan ke dalam, Caca mengikuti mereka dari belakang
Setelah masuk di kediaman rumah Elsa, Caca mengingat setiap bentuk kenangan yang ada di rumah ini. Lamunannya mencegah saat Cia memeluk Caca "Aku senang kau ingat mengunjungi kakak mu ini!"
Namun Caca menepis dan mendorong tubuh Cia "Jangan sentuh aku pembunuh! Apa.kau tidak malu menunjukkan wajah mu di hadapan kami? Enggak malu? Apa keinginan mu datang lagi di keluarga kami kak? Apa kau tidak cukup puas membuat aku menderita? Iya?"
"Aku membuat mu menderita? Kau salah Caca! Aku bahkan selalu melindungi mu, aku melakukan itu demi kebahagian mu!"
"Tidak! Kau tidak membuat aku bahagia kak! Kau justru membuat aku merasa sedih karena ulah mu yang keterlaluan itu! Aku membenci mu!"
"Mami jangan keterlaluan dong sama Tante. Tante itu baik, kenapa mami kasar sama Tante? Ingat mami, kita ini keluarga dan jika terjadi sesuatu nanti sama mami yang akan menolong dan menjaga mami itu Tante Cia! Bukan orang lain, kenapa mami memperlakukan orang asing seperti keluarga namun sebaliknya memperlakukan keluarga sendiri seperti orang asing!"
Caca menatap tajam anaknya "Hentikan omong kosong kamu Raisa! Kenapa kamu memihak kepada orang yang sudah membunuh adik Al?"
"Apa urusannya sama aku mami? Memangnya Al itu siapa aku? Mungkin Tante melakukan itu karena ia kesal dengan Tante Shinta. Jika aku di posisi Tante Cia aku juga akan melakukan hal yang sama,"
Caca tersentak kaget,.menutup mulutnya tak percaya dengan ucapan anaknya.
Dadanya terasa sesak, sungguh ia tidak beruntung memiliki anak yang begitu jahat seperti raisa!
"Sungguh Raisa, mami tidak menyangka jika kamu memiliki pemikiran yang sangat kotor! Bahkan lebih kotor daripada nenek dan Tante mu!"
"Sudah cukup Caca! Jika kau datang hanya untuk membuat keributan, lebih baik kau pergi saja! Aku bisa merawat Raisa seperti anak ku sendiri! Lagipula, ia sudah bahagia di sini kau sudah memperlakukan anak mu dengan tidak adil! Mengapa kau selalu menyalahkan Raisa, padahal dia yang selalu menemani kamu dan suami mu saat pengobatan Arvan. Namun saat kalian kembali. Kalian justru menyakiti hati keponakan aku!"
Caca tersenyum sinis mendengar ucapan kakaknya "Itu lah kebodohan dan kekurangan mu Cia! Kau selalu mendengarkan penjelasan dari satu pihak bahkan tanpa mencari bukti apakah itu sebuah fakta atau tidak! Kau mudah di pengaruhi, dulu kau sangat bodoh terpengaruh dengan ucapan mama. Namun aku memahaminya karena mama selalu menyayangi mu, tidak pernah menunjukkan sisi gelapnya kepada mu. Dan sekarang, kau percaya dengan anak ku padahal kau baru hari ini bertemu dengannya! Kau tidak mencari bukti kebenaran yang ada! Kau hanya menganggap semua cerita itu dari versi mu saja!"
Cia terdiam, ia menoleh menatap Raisa "Tidak Tante, apa yang Raisa katakan memang benar! Raisa tidak berbohong, Tante jangan percaya sama mama!"
"Iya, kau jangan percaya dengan ku cia! Tidak perlu percaya, dan kau juga jangan percaya dengan ucapan anak ku! Daripada kau menyalahkan satu sisi pihak lebih baik kau cari kebenarannya!"
Cia terdiam sejenak. Memikirkan apa yang dikatakan oleh Caca "Tante, Tante jangan mendengarkan apa ucapan mami..mami mengatakan itu dengan sengaja agar Tante merasa bersalah!"
"Iya Cia! Terus saja kau mengikuti apa katanya! Aku tidak perduli, dan saat kau mengetahui semua kebenarannya. Kamu pasti akan menyesal, namun penyesalan mu percuma karena kebodohan mu yang membuat kau menghabisi anak yang tidak berdosa!"
"Diam! Hentikan semua omong kosong mami! Daripada mami membuat keributan, lebih baik mami pergi saja!"
Cia menatap Raisa yang begitu kurang ajar dengan maminya sendiri, karena sejahat-jahatnya Cia ia tidak pernah membentak ibu yang sudah melahirkannya dan ia pun tahu jika Caca sangat menyayangi mama mereka.
Elsa selalu menceritakan kebaikan Caca selama ini bahkan membentak Elsa saja tidak pernah "Raisa, kenapa kamu membentak mami mu seperti itu? Apa kamu enggak tahu jika itu perbuatan yang salah?"
"Tidak Tante! Bagiku itu tidak salah, mami sudah membuat kekacauan dalam kedamaian rumah ini! Daripada mami terus mencari keributan di sini lebih baik mami mengutus suaminya yang tidak berguna itu!"
Plak!
__ADS_1
Caca menampar Raisa yang sudah keterlaluan "Kau tahu Raisa? Rasanya aku menyesal memiliki anak seperti mu! Anak yang kurang ajar! Sejak kecil aku lebih mengajak mu daripada adikmu yang masih sangat bayi. Itu semua aku lakukan untuk menebus segala kesalahan ku kepada mu namun kau membuktikan jika darah lebih kental dari air! Kau menuruni sifat nenek mu. Bahkan lebih buruk dari nenek mu! Kau sangat keterlaluan sekarang, kau mengatakan jika Daddy mu tidak berguna? Iya memang, kami tidak berguna karena memiliki anak durhaka seperti mu! Bahkan adikmu Khanza saja masih tahu sopan santun!"
Caca menatap Cia dengan tatapan yang sangat serius. "Kau lihat lah! Ini anak yang kau banggakan, yang kau percaya? Dan sekarang kau masih berpikir jika dia selalu kami sakiti? Tidak cia! Bukan kamu yang menyakitinya namun dia yang selalu menyakiti hati kami! Bahkan karenanya, Khanza tidak mau kepada ku. Aku terlalu mempercayai omongan-omongan manisnya dan saat di Indonesia dia menunjukkan sikap buruknya kepada ku! Dan aku sadar, jika aku salah menyayangi anak! Seharusnya dulu aku sudah membuangnya saja! Aku biarkan dia tinggal di panti asuhan daripada dia harus hidup namun selalu menyakiti ku dengan Arvan!"