Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 53


__ADS_3

Shinta merasa sangat malu memakai baju yang begitu terbuka seperti ini, dia medumel dalam hati dan mencoba memeremkan matanya.


"Sial, kenapa aku susah tidursih. Sedikit saja aku bergerak pasti ketahuan kalau aku belum tidur" Umpatnya dalam hati.


"Yatuhan, tolong aku. Segeralah pagi" Shinta masih saja komat kamit meminta pertolongan seperti diculik saja. Tangannya sudah gemetar dan dingin.


"Kenapa kau lasak sekali" Ucap Revan yang merasa keganggu dengan Shinta. Shinta tak berani menoleh kearah Revan, Revan melingkarkan tangannya di perut Shinta, hal itu membuat Shinta kaget dan ketakutan


"Ya Tuhan, aku belum siap sekarang" Shinta berdoa dalam hati, dahinya sudah dibasahi dengan cucuran keringat. Mengerti akan ketakutan yang Shinta rasakan, Revan mengubah posisi Shinta untuk berhadapan dengannya. Shinta masih tak berani menatap Revan, ia gemetaran dan keringat dingin sedari tadi.


"Sudah tidurlah, aku takkan berbuat lebih dari ini" Revan mengelap keringat yang membasahi dahi Shinta, Shinta menganggukkan kepala. Merasa dirinya sudah aman Shinta memejamkan matanya dan tertidur di pelukkan Revan. Entah mengapa, walaupun Shinta merasa belum biasa dengan situasi seperti ini namun ia merasa nyaman berada di pelukkan Revan.


Keesokan paginya, Shinta terbangun terlebih dahulu. Ia mengikat rambutnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah selesai membersihkan dirinya ia keluar dari kamar mandi dan melihat Revan masih nyenyak dengan tidurnya. Shinta keluar kamar dan mencari dimana kamar Syifa berada.


"Selamat pagi nyonya, sudah bangun pagi-pagi begini" Shinta tersenyum ramah.


"Pagi Bi"


"Nyonya sedang apa pagi-pagi begini keluar kamar?"


"Saya mencari kamar Syifa Bi"


"Itu kamar non Syifa nyonya" Menunjukkan kamar Syifa.


"Jangan manggil nyonya bi, panggil saja Shinta atau tata" Ucap Shinta tersenyum ramah pada pelayan rumah.


"Baik nak Shinta"


"Kalau begitu saja kekamar Syifa dulu ya bi"

__ADS_1


"Iya non, eh maksud saya nak Shinta" Shinta pergi meninggalkan pelayan dirumah ini, dan menuju kekamar Syifa, ia membuka pintu kamar Syifa dan melihat Puterinya masih tertidur pulas. Shinta masuk ke dalam kamar Syifa dan mendekatin Puterinya.


"Astaga, pantas saja semua masih pada tidur. Baru jam 4 pagi ternyata" Ia menepuk dahinya sendiri. Shinta berjalan pelan-pelan dan naik ke kasur tidur Syifa. Ia masuk kedalam selimut Puterinya dan memeluk Syifa, menciumin pipi Puterinya. Ia tertawa dan sedikit menjahili Puterinya, namun Syifa yang mungkin sangat kelelahan akibat pesta semalam tak terbangun sedikitpun, Shinta pun tertidur kembali memeluk Puteri kecil nya yang masih terlelap.


***************


Revan terbangun, dan tak menemui isterinya di sebelahnya, ia mencari Hpnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia bangkit dari kasurnya dan membersihkan diri dahulu dikamar mandi, setelah selesai membersihkan tubuhnya. Ia keluar kamar dan mencari keberadaan Shinta yang tak ada.


"Selamat pagi Tuan" Sapa pelayan yang ada dirumah.


"Pagi Bi, apa bibi melihat Shinta?"


"Nak Shinta ada di kamar nona Syifa tuan" Ucap pelayan


"Baiklah bi, terimakasih" Revan pergi menuju kamar Syifa, ia membuka sedikit pintu dan melihat Shinta yang begitu sabar menyisirin rambut anaknya, Revan tersenyum melihat pemandangan pagi ini. Gelak tawa Shinta dan juga Syifa menggema di kamar Syifa.


"Papa" Syifa menoleh kearah pintu dan melihat ayahnya berdiri dibalik pintu yang terbuka sedikit, Shinta pun menoleh dan melihat kearah suaminya. Karena sudah ketahuan, Revan masuk kedalam kamar Puterinya.


"Tidak sayang, papa tadi mau masuk tapi kamu udah lihat duluan" Mengacak rambut anaknya.


"Jangan di acak dong pa, kan berantakan lagi rambut aku" Syifa memonyongkan mulutnya dengan wajah yang begitu gemas. Shinta dan Revan tertawa melihat tingkah anak mereka


"Sini papa cium"


"Gak mau! Papa udah rusakin rambut aku" membuang muka dan menyilangkan kedua tangannya.


"Iya iya deh papa minta maaf ya Tuan Puteri" Bujuk Revan. Shinta hanya menggeleng tersenyum melihat tingah ayah dan anak tersebut. Shinta menatap Revan dengan penuh kagum. Ternyata dibalik sikap dingin dan cuek nya Revan, terdapat sosok ayah yang begitu menyayangi Puterinya. Begitu juga yang Revan rasakan, dibalik sifat kekanakan dan menyebalkan sikap Shinta. Terdapat sosok ibu yang begitu penyayang dan sabar. Mereka saling menatap mata satu sama lain, Syifa melihat kearah kedua orang tuanya yang saling menatap satu sama lain


"Mama, Papa. Syifa lapar" Namun kedua pengantin baru itu tak mendengar ucapan anaknya, dan masih saja saling menatap satu sama lain. Syifa meninggalkan Revan dan juga Shinta didalam kamar, ia menuju dapur untuk mencari makanan.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa sendirian. Dimana mama sama papa kamu" Tanya Lili ibunya Revan.


"Mama sama Papa di kamar nek, mereka saling tatapan mata. Syifa panggil gak ada yang dengar, yaudah Syifa ke dapur sendirian aja" Jawab gadis polos itu, membuat lili tersenyum.


"Yaudah, kamu makan sama nenek aja yuk" Lili menggenggam tangan cucunya dan membawa Syifa kedapur untuk sarapan.


"Hore, ada ayam goreng" Teriak Syifa yang membuat lili menggelengkan kepalanya.


Revan dan Shinta keluar dari kamar, dan ikut sarapan bersama Syifa dan juga orang tua Revan.


"Ehem, akhirnya pengantin baru keluar kamar juga" Ledek lili


"Nek, pengantin baru itu apa" Tanya Syifa dengan polos.


"Pengantin baru itu, kedua pasangan yang baru menikah sayang" jawab lili.


"Apakah Syifa bisa menjadi pengantin baru nek"


"Bisa dong sayang" jawab lili


"Kalau gitu, Syifa besok mau jadi pengantin baru saja" Ucapan Syifa membuat semua orang yang ada di ruangan makan ikut tertawa.


"Kamu bisa menjadi pengantin, kalau sudah besar ya sayang. Sekarang Belum boleh" Lili mencolek hidung cucunya. Shinta duduk disebelah Syifa, dan mengambilkan makanan untuk anaknya.


"Sini sayang, mama suapin" Shinta menyuapi Syifa dengan sabar, setelah selesai menyuapi Syifa. Shinta baru makan. Semua orang sudah selesai sarapan dan meninggalkan ruangan makan satu persatu, Shinta membantu pelayan untuk membersihkan dapur. Awalnya pelayan menolak, namun Shinta bersikeras untuk membantu, karena dirumahnya walaupun ia anak tunggal namun Shinta tak pernah malas-malasan kalau di rumah. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah, ia tak mau membuat ibunya lelah. Apalagi sekarang semenjak ia menikah ia sudah resign dari kliniknya. Itu membuat Shinta merasa bosan jika harus berdiam diri dirumah, apalagi kalau Syifa sekolah paud.


"Nak Shinta selain cantik, baik, rajin lagi" Puji pelayan rumah Revan.


"Terimakasih bi" Shinta tersenyum ramah dengan pujian yang diberikan oleh pelayan rumahnya.

__ADS_1


"Sudah selesai nak Shinta, ini biar bibi saja yang kerjakan, sekarang nak Shinta masuk kamarlah" Shinta menurut perkataan pelayan dirumahnya dan kembali ke kamarnya.


__ADS_2