Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 49


__ADS_3

Hari demi hari Syifa makin dekat dengan kedua orang tua Shinta. Revan pun sudah kembali dengan keadaan yang lebih baik. Pernikahan mereka sudah tinggal menghitung hari, segala nya sudah dipersiapkan dengan baik termasuk photo prewedding mereka. Sore ini Revan sengaja berjalan berdua dengan Shinta, ia ingin lebih dekat mengenal calon isteri sekaligus ibu sambung untuk Puterinya.


"Kita mau kemana" Tanya Shinta yang melihat kesembarang arah, Revan masih konsentrasi menyetir mobilnya dan mengabaikan setiap pertanyaan dari Shinta.


Shinta menoleh kearah Revan yang fokus menyetir menggunakan kaca mata hitamnya "Kita mau kemana hey" memukul bahu Revan, karena sebal di abaikan oleh Revan.


"Kau ini berisik sekali, sudah diamlah!" Seru Revan yang tak menoleh sedikitpun, ia masih fokus mengendarai mobilnya dan melihat kedepan.


"Hufff" Shinta melihat jengah, sebenarnya ia ingin sekali melawani Revan, namun dia sangat lelah dan malas berdebat dengan pria es itu. Shinta mengambil hp yang ada di tasnya, memainkan hp nya dan memandangi photo Syifa yang sangat manis walpaper hpnya.


"Manis sekali" Shinta tersenyum sendiri melihat photo gadis mungil yang ada dilayar hp nya, dan sebentar lagi akan resmi menjadi anaknya. "Apa kau gila tersenyum sendiri" Shinta tak menghiraukan ucapan Revan. Revan sekejap melihat kearah Shinta yang tak bergeming sedikitpun dari layar ponselnya. Karena merasa diabaikan, Revan merebut hp Shinta dan melihat apa yang dilakukan wanita itu, ternyata photo Puterinya. Revan pun tersenyum melihat photo sang Puteri dan langsung mengembalikannya kepada Shinta.


"Apaansih!" kesal Shinta, ia kembali lihat sembarang arah luar jendela mobil. "Oiya ada yang ingin aku bicarakan padamu" Ucap Revan. Shinta menoleh kearah Revan.


"Mau ngomong apa" Revan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, menatap Shinta sejenak "Yang mau bicara disini, bukan didepan" kesal Revan, Shinta menoleh kearah Revan. "Mau bicara apa?" Tanyanya sedikit gugup.


Revan memegang tangan Shinta, menatap mata wanita itu "Aku tau kita tak saling mencintai, dan pernikahan kita hanyalah karena Puteri ku saja tapi aku minta ketika kita nanti sudah menikah cobalah untuk menghargai satu sama lain, menjaga satu sama lain, walau kita tak bisa mencintai layaknya sepasang kekasih, setidaknya menyayangi lah layaknya seorang sahabat. Dan kalau bisa kau berhentilah dari profesi mu apa kau bisa? Tanya Revan dengan nada serius.

__ADS_1


Shinta tersenyum dan mengelus bahu Revan "Kau jangan khawatir, dan setelah pernikahan kita. Aku akan resain dari tugasku dan mengurus Syifa dengan baik" Revan tersenyum dengan ucapan Shinta, walau Shinta terkadang sangat menyebalkan namun Shinta orang yang sangat dewasa dalam berfikir. Revan melajukan mobilnya.


********


Sejak saat itu Shinta dan juga Revan sudah mulai Akrab, bisa menghargai satu sama lain walau terkadang masih suka bertengkar hanya karena masalah kecil. Sejujurnya mereka termasuk pasangan yang sangat kompak, apalagi dalam mengurus Syifa. Mereka yang tidak tau akan menyangka bahwa mereka keluarga utuh yang sangat bahagia. 2 Minggu lagi persiapan pernikahan mereka, Shinta merasa sangat gugup. Ia menggenggam jemarinya yang basah


"Apa bisa ya aku menjadi Isteri dan ibu yang baik" Shinta mondar mandir didalam kamar.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Syafa yang mendekati anaknya. Shinta sangat kaget melihat kedatangan ibunya "Maaf, ibu masuk kedalam kamarmu tanpa mengetuk dulu, tadi pintu kamarmu terbuka nak" Shinta tersenyum dan mencium pipi Syafa "Tidak apa-apa Bu, kamar Tata kamar ibu juga" Syafa menyibakkan rambut anaknya ketelinga "Anak ibu sudah besar sekarang, dan akan menikah juga" mencium pucuk kepala Shinta. Shinta mendongakkan kepalanya dan melihat wajah sang ibu.


"Bu, Shinta sangat gugup" Syafa tersenyum melihat anaknya. Ia melepaskan pelukkan anaknya, memegang jari Shinta dan membimbing Shinta berjalan ke tempat tidur. Syafa mendudukkan dirinya dan juga Shinta di tepi tempat tidur, Ia memberikan paha nya untuk menjadi bantal tidur anaknya. Shinta tertidur di paha ibunya.


Ia menggenggam tangan sang ibu "Apa aku akan menjadi keluarga bahagia seperti ibu dan ayah?" Tanyanya sendu. Syafa membelai pipi anaknya "Nak, ketika seorang wanita menikah, seluruh hidupnya sudah ia pertaruhkan untuk suami dan keluarga barunya, sayangi dan hormati mertua mu seperti kau menyayangi ibu dan ayahmu"


"Tapi Tata sangat takut Bu, apalagi kekurangan tata yang tak mampu memiliki anak" Ucapnya sedih dan menatap mata sang ibu "Bu, aku dan Revan tak saling mencintai hiks" akhirnya Shinta mengaku kepada ibunya. Syafa yang mendengar ucapan sang Puteri sangat terkejut. Ia memeluk Puterinya dan merasakan takut yang luar biasa, apakah Puterinya bisa bahagia dengan pernikahan yang tanpa adanya cinta. "Tapi walau kami tak saling mencintai Bu, ada cinta di tengah-tengah kami yaitu Syifa" Karena menyadari kegelisahan sang ibu, Shinta mencoba menenangkan dan menyakinkan ibunya bahwa ia akan baik-baik saja.


"Sebelum terlambat, kau bisa membatalkan pernikahanmu nak" Shinta melepaskan pelukannya dari sang ibu, menggenggam tangan sang ibu "Bu, walau aku tak mencintai Revan, namun Tata sangat menyayangi Syifa Bu" menatap ibunya dengan tatapan sendu. "Percayalah pada tata Bu" gumamnya lagi. Syafa mencoba tersenyum dan membelai pipi sang Puteri. "Pikirkan ucapan ibu sekali lagi nak"

__ADS_1


"Tapi Bu" Bantah Shinta, sebelum Shinta melanjutkan omongannya, Syafa sudah bangkit dan berjalan keluar dari kamar, Shinta paham ketika sang ibu sudah tak banyak bicara menandakan bahwa omongannya tidak suka untuk di bantah. Ia menatap punggung belakang sang ibu yang makin menjauh dari kamarnya.


"Bodoh banget sih aku! kenapa ngomong begitu coba ah" Memaki dirinya sendiri, Shinta mengambil hp yang ada di atas mejanya dan mencoba menelpon seseorang.


Terhubung


~Ada apa? terdapat seorang pria yang ada di seberang sana


~van, ada masalah hebat! tugas Shinta dengan suara paniknya, orang yang Shinta telfon adalah calon suaminya yaitu Revan.


~Masalah apa? Tanya Revan dengan bingung. Shinta menceritakan semuanya, dan membuat Revan mengerti


~ Baiklah, kau tak usah khawatir! Pulang aku dari luar kota, aku akan menemui ibumu dan memberikan pengertian. Wajar saja ibumu seperti itu. Sekarang, kau tenanglah serahkan semuanya padaku! ucap Revan memberikan ketenangan kepada calon isterinya yang sangat cemas.


~ Baiklah, aku matikan dulu telfonnya ya, aku sangat sibuk


~Hey, yang menggangu itu kau, dasar pengacau! ucap Revan. Revan mematikan teleponnya.

__ADS_1


"Dasar tidak sopan!" Geram Shinta.


__ADS_2