Ibu Sambung

Ibu Sambung
Jagoan ku


__ADS_3

Shinta pun terdiam, menoleh ke arah luar kaca mobil. Mata mulai berkaca-kaca, Revan yang menoleh ke arah Shinta pun merasa menyesal karena sudah membentak isteri nya.


"Sayang, nanti di rumah bersiap lah bersama si kembar ya? Setelah aku selesai meeting, dan menjemput Syifa. Aku akan pulang ke rumah menjemput kalian. Kita akan makan ice cream di toko ice cream kesukaan kalian dulu sewaktu bersama Syifa. Udah lama kita nggak makan ice cream bersama."


Shinta menoleh ke arah suami nya, hatinya yang sedikit sedih berubah menjadi bahagia. Terlihat dari sorotan mata nya yang begitu teduh


"Tapi, kau kan tidak suka ice cream?"


"Kan aku yang tidak suka, bukan kalian. Nanti, kalian bisa makan sepuasnya. Tapi, khusus untuk si kembar jangan di bolehin banyak-banyak. Hanya satu cup kecil saja. Nanti, mereka akan sakit jika terlalu banyak makan ice cream."


Shinta mengangguk mengerti, mereka pun membatalkan untuk pergi ke yayasan. Karena ponsel milik Revan berbunyi terus. Setelah mengantar anak dan isteri nya pulang. Revan segara berpamitan untuk pergi ke kantor.


Alana imut dari jauh sudah menatap kesal kedua orang tua nya, benar saja. Alana sangat kesal, karena Alan saudara kembar nya di tambah dengan mama nya yang tidak ada. Shinta mendekati sang anak yang berkacak pinggang. Mulut Alana maju ke depan, matanya semakin tidak terlihat akibat mengerutkan dahi dengan kesal.


"Sayang, kenapa Alana di sini?" tanya Shinta yang mendekati Alana, Shinta memegang jemari Alana, namun Alana yang kesal menepis tangan mama nya.


"Alana nggak mau bicala sama mama!"


"Kenapa nak?" tanya Shinta yang bingung, Alana masih terlihat kesal, pipi nya di basahi oleh Air mata kekesalan. Shinta bingung melihat anaknya menangis, dan wajah yang begitu terlihat kesal. Pengasuh anak-anak pun mendekati Shinta, mengambil baby Al dari gendongan majikannya.


"Non, Alana Sedari tadi mencari keberadaan nona dan tuan. Alana juga selalu bertanya kemana nona dan tuan pergi membawa baby Al." kini Shinta mengerti, mengapa Alana terlihat begitu sangat kesal.


"Sayang, maafin Mama ya? Tadi, mama dan papa mengantar kakak Syifa sekolah, papa juga berangkat kerja. Mama ikut, karena awalnya mau ke yayasan mencari pengasuh tambahan buat kalian ternyata ponsel papa terus saja bunyi karena ada pekerjaan penting yang harus papa tangani. Maaf ya nak? Gini deh, supaya anak mama yang manis ini nggak marah lagi, bagaimana kalau nanti papa udah pulang kita makan ice cream?" mendengar kata ice cream mata Alana terbelalak, dia juga senang karena mama dan papa nya mengajak diri nya makan ice cream. Selama ini, papa nya selalu saja melarang mereka untuk mengkonsumsi es.

__ADS_1


"Sungguh ma?" tanya Alana kembali dengan semangat, Shinta menghapus air mata anak nya. Kini, senyuman indah terukir di wajah anak nya.


"Iya, Sayang. Apa pernah mama berbohong pada Alana? Alana saja yang pernah membohongi mama." Shinta menggelitik perut Alana. Alana pun tertawa, menggeliat kegelian. Shinta mengajak anak nya untuk masuk ke dalam.


"Jam belapa papa pulang ma?"


"Siang, sayang nya mama."


"Hole! Alana mau kasih tau Alan deh. Bial Alan juga belsiap-siap. Bye ma!" Alana melambai kan tangan kepada sang mama dengan senyuman dan tatapan yang seakan me-isyarat kan sesuatu. Shinta tiba-tiba merasa takut, dan kaget. Tidak biasanya Alana melambaikan tangan padanya.


"Semoga ini hanya perasaan ku saja." Shinta meyakinkan diri nya sendiri. Namun, detak jantung nya tiba-tiba berdegup kencang. Shinta memegang dada nya yang merasa sesak secara tiba-tiba.


"Ada apa ini? Tidak, ini pasti hanya ketakutan ku saja. Hal yang sangat lumrah jika kita melambaikan tangan kepada seseorang." batin Shinta kembali.


Alana masuk kembali ke kamar milik nya dan juga saudara kembar nya. Terlihat Alan yang tak bergeming dari posisi awal Alana lihat. Alana mendekati Alan, Alan yang sedang melamun menikmati kesendirian mu tersentak, ia begitu kaget. Mendengus menatap Alana yang kembali mengganggu nya.


"Ada apa? Apa kau tidak bisa kalau nggak ganggu Alan?"


"Siapa yang mengganggu mu! Alana cuman mau beli tahu. Ah sudah lah! Kau sangat menyebalkan, aku tidak akan membeli-litahu mu!" ucap Alana yang memalingkan wajah nya dari saudara kembar nya itu. Alan yang penasaran mu membujuk Alana untuk diberitahu hal apa yang mau di sampai kan oleh Alana.


Dia begitu menyebalkan, lebih baik Alana diam saja. Bial Alan nanti nggak siap-siap dan di malahi oleh Mama. Lasain Alan! Haha ~ batin Alana yang tersenyum licik


"Alana!" panggil Alan yang tidak sabar, Alana menoleh ke arah saudara kembar nya itu. Dia pun menggeleng dan mengatakan tidak ada yang ingin dia sampaikan.

__ADS_1


"Nggak ada, Alana cuman mau bilang, kalau melamun dapat mengundang hantu hihihi." Alana mencoba menakuti saudara kembar nya itu. Bukan nya merasa takut, Alan semakin tak bergeming dan menggeleng saja.


"Sebaik nya Alana pelgi aja deh, Alan nggak selu huhhh!" sorak Alana yang berlari meninggalkan Alan. Alan pun memutarkan bola mata nya dengan jengah melihat kelakuan saudara kembar nya itu yang selalu membuat diri nya pusing.


"Alan." panggil Alana lagi, baru saja Alan ingin kembali bersantai, Alana mengacaukan imajinasi Alan. Alan pun kembali menoleh kepada Alana, tiba-tiba Alana melambaikan tangan kepada Alan dan berlalu pergi meninggalkan diri nya. Alan merasa ada yang aneh. Mengapa Alana melambaikan tangan padanya hanya karena keluar dari kamar, perasaan Alan pun menjadi tidak tenang. Dadanya terasa sakit.


**********


Siang hari, setelah Revan pulang dari kantor dan menjemput Syifa. Dia menyuruh Syifa untuk mengganti pakaian lebih dulu. Shinta dan Alana sudah bersiap-siap. Revan menanyakan keberadaan saudara kembar Alana.


"Di mana, Alan?"


"Di Kamal, Pa!"


"Apa Alan tidak tahu, jika kita akan pergi untuk ke toko ice cream?"


"Aku sudah memberitahu Alana tadi, Alana mengatakan jika dia akan memberitahu Alan. Sayang, apa Alana udah memberitahu Alan?" tanya Shinta kepada anaknya. Alana menggeleng


"Belum mama, tadi Alana ingin membeli tahu. Namun, Alan menyebalkan dan memalahi Alana. Jadi, Alana memutuskan untuk tidak membeli tahu Alan."


"Astaga, Nak. Kenapa kamu nggak kasih tau Alan?" tanya Revan dengan geram. Ia pun berlalu pergi meninggalkan Shinta dan Alana. Revan masuk ke kamar Alan, Alan terlihat sedang tertidur pulas. Revan tak tega jika harus membangun kan anak nya itu.


"Tidur nya begitu pulas, apakah aku harus membangun kan nya? Tapi, aku tak tega mengganggu tidur nya si jagoan ku." ucap Revan

__ADS_1


__ADS_2