Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2- Kemarahan Revan


__ADS_3

Di rumah sakit, Arvan merasa sangat khawatir kepada Caca. Ia menunggu dokter untuk keluar dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri. Elsa terduduk santai dengan memainkan ponsel di tangan nya, ia meng khawatir kan Caca namun begitu lah Elsa. Pekerjaan di atas segala nya, hal itu yang selalu membuat Caca tidak terlalu dekat dengan Elsa. Brian pun datang dan menanyakan keadaan Caca kepada Arvan. Sejenak Brian menoleh ke arah mantan istri nya lalu ia pun menggeleng kan kepala nya, di saat seperti ini Elsa masih saja mementingkan pekerjaannya.


Dua tahun yang lalu, Brian memutuskan untuk berpisah dengan Elsa, ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap mantan istri nya tersebut. Elsa yang tidak pernah menghargai dirinya sebagai kepala keluarga apalagi sifat Elsa yang begitu angkuh dan kejam. Ia tak memandang siapapun, kini Brian sudah menikah dengan wanita yang jauh lebih baik dari Elsa, Caca pun mengetahui dan merestui nya karena ia tahu bagaimana sikap mama nya selama ini kepada sang ayah. Caca menghargai setiap keputusan Brian asal pria paruh baya itu pun bahagia. Istri baru Brian bernama Diva. Dari wajah, Elsa jauh lebih cantik dan elegan namun dari hati dan prilaku Diva jauh lebih baik dari Elsa.


"Bagaimana keadaannya ma?" tanya Diva dengan lembut, Elsa yang mendengar suara yang tak asing menurut nya pun langsung menoleh sejenak lalu fokus kembali kepada layar ponsel nya.


"Pekerjaan ku jauh lebih penting dari manusia-manusia yang tak berguna ini," gumam nya dalam hati. Dokter pun keluar dan memberitahu kabar gembira, bahwa Caca sedang mengandung 2 minggu. Arvan mengucap kan syukur kepada Tuhan, ia sangat terharu bahagia, begitu juga dengan Brian dan Diva. Mereka masuk untuk menemui Caca. Elsa pun terpaksa harus menunda pekerjaannya dan masuk ke dalam, mereka memberikan selamat kepada Caca. Caca menangis bahagia, ia tidak menyangka ternyata Tuhan masih mempercayai nya untuk memiliki keturunan. Mereka pun sangat bahagia.


"Akhir nya akan ada yang akan mewarisi segala kekayaan mama," ucap Elsa, ia berharap bahwa ini adalah jenis kelamin laki-laki agar bisa menerus kan perusahaannya.


"Kalau gitu mama pergi dulu, ada hal yang harus mama selesai kan,"


"Iya ma,"


"Hati-hati, jaga kesehatanmu ya nak," Elsa pun segera pergi meninggalkan ruangan itu.


Arvan memeluk Caca, Diva dan Brian memberikan selamat kepada Caca lalu berpamitan untuk pulang. Kini, hanya tinggal Caca dan Arvan yang ada di ruangan.


"Selamat ya sayang," Arvan menciumi wajah Caca dengan berulang-ulang. Ia sangat sangat bahagia, penantiannya selama ini tidak sia-sia. Kesabarannya dalam menghadapi Caca dan membuat Caca untuk bisa mencintai nya juga tidak sia-sia. Walau membutuh kan waktu yang tidak sebentar.


"Pasti Syifa senang deh, dia akan punya adik lagi. Adik nya akan banyak," ucap Caca.


"Iya, Sayang. Kini Syifa tidak akan kesepian lagi, kalau dia bersama Revan dan Shinta ada adik kembar nya yang akan bermain dengan diri nya. Jika Syifa menginap bersama kita, ia akan bermain dengan si jagoan kecil kita," ucap Arvan. Caca dan Arvan pun saling berpelukkan merasakan kebahagiaan. Hubungan yang awal nya tanpa cinta dan penuh kebencian selama bertahun-tahun kini mereka saling mencintai dan melindungi satu sama lain.


*******

__ADS_1


Shinta menatap baby Al dan Alana dengan perasaan kacau, ia menghapus air mata yang mengenang di pipi. Shinta merasakan ada yang memegang punggung nya, ia menoleh ternyata itu adalah Revan. Shinta pun mencoba tersenyum


"Syifa udah tidur?"


"Tadi mau tidur katanya,"


"Oh, kamu juga harus istirahat."


"Iya."


"Kenapa sedih? Apa Syifa berprilaku tidak baik lagi?"


"Enggak kok, dia berprilaku seperti biasanya. Menjadi anak yang manis dan pengertian," Shinta tetap membela putri sulung nya tersebut, ia tak ingin Syifa di marahin oleh Revan.


*********


"Sayang, sini mama suap,"


"Nek, Syifa ingin di suapin oleh nenek Lili aja," Syifa tak menghirau kan ucapan Shinta, Lili dan Tommy pun merasa kaget. Tak biasa nya Syifa menolak apalagi untuk di suapin oleh Ibu Sambung nya, Syifa begitu sangat manja dengan Shinta. Shinta pun mencoba memaklumi nya


"Sudah cukup! kenapa kamu sekarang menjadi anak yang kurang ajar?!" bentak Revan kepada Syifa membuat Syifa terkejut dan menangis.


"Apaan sih van! gak seharus nya kamu bentak anak aku begitu," kesal Shinta kepada suami nya


"Maaf ma, tapi Syifa anak mama Caca, bukan anak mama,"

__ADS_1


"Syifa!!!!!" teriak Revan, mendengar ucapan Syifa membuat darah Revan mendidih, Shinta yang mendengar ucapan sang putri pun seperti merasa di sambar petir di siang hari. Syifa pun berlari ke kamar, Revan mengejar anak sulung nya dan ingin memberikan hukuman atas sikap Syifa yang kurang ajar. Shinta menghapus air mata nya, ia mengikuti sang suami, di susul oleh Lili dan juga Tommy. Kemarahan Revan semakin memuncak, ia mendobrak pintu kamar yang di kunci oleh Syifa, Syifa menangis ketakutan melihat kemarahan sang ayah. Revan menarik tangan Syifa dengan paksa untuk keluar kamar.


"Syifa gak mau Pa, lepasin! sakit hiks,"


"Sakit? biar kamu tahu bagaimana seharus nya bersikap pada orang dewasa!" teriak Revan, Shinta melepas kan tangan Revan. Ia langsung memeluk tubuh mungil Syifa dan mencoba menenangkan putri nya yang ketakutan. Sementara Lili dan Tommy mencoba memenangkan Revan yang kemarahannya semakin memuncak.


"Lepasin!" pinta Syifa, namun Shinta tak mau melepaskan putri nya, ia semakin mengeratkan pelukkan itu dan menangis di dalam pelukkan sang putri


"Maaf kan mama, Sayang."


"Hukum lah mama, tapi jangan diam kan mama seperti ini nak,"


"Mama tidak sanggup harus kehilangan kamu,"


"Mama mencintai mu lebih dari diri mama sendiri,"


"Mama bisa gila tanpa diri mu, kamu penyemangat mama. Kehidupan mama," Shinta terus saja mengucap kan isi hati nya dengan ketulusan, membuat Syifa perlahan luluh dan membalas pelukkan sang mama hingga menangis .


"Syifa juga sayang mama,"


"Syifa tidak ingin mama melupakan Syifa,"


"Jika mama melupakan Syifa, Syifa harus terbiasa tanpa mama," Shinta melepaskan pelukkan ya. Ia menghapus air mata Syifa dan menciumi seluruh wajah Syifa.


"Tidak, Sayang! mama tidak akan pernah melupakan atau meninggal kan kamu, kamu anak kesayangan mama," Shinta kembali memeluk syifa, ia mencoba menenangkan Putri nya, akibat terlalu lelah menangis, Syifa pun tertidur di pelukkan Shinta. Wanita itu langsung mengangkat tubuh Syifa dan membaring kan nya di tempat tidur, ia menatap wajah Syifa yang sembab. Berulang kali Shinta menciumi wajah Syifa. Revan masuk dengan wajah dingin nya, ia berniat untuk menyelesaikan masalah ini malam ini juga namun Shinta melarang.

__ADS_1


"Biar kan ia istirahat, besok kita akan tanya dengan baik-baik!"


__ADS_2