Ibu Sambung

Ibu Sambung
Episode 3


__ADS_3

Aroma tumis kangkung begitu menggoda selera, segera kumatikan kompor dan menuangnya ke mangkuk. Kini ia berdampingan dengan telur dadar di atas meja makan. So sweet!


Aku berlarian kecil menuju kamar sambil mengibas rambut panjangku ke kiri dan ke kanan, ke kanan, ke kanan manise ....


"Babang ... sarapannya udah siap!" laporku pada lelaki yang sibuk merapikan rambutnya dengan minyak rambut. Uwuw, Lee Min Hoo nanggung.


"Panggil mbah dan anak-anak, nanti aku nyusul!" seru om Darman.


Aku segera keluar lalu berdiri di depan kamar, harus pemanasan dulu sebelum kejar-kejaran lagi dengan bocah-bocah itu.


"Oke, satu-dua ... satu-dua ... satu-dua." Kugoyangkan pinggul.


"Tiga, empat, lima, enam," sambung Cici, rupanya mereka bertiga sudah berdiri di belakang sambil mengikutiku menggoyangkan pinggul.


"Haiks ... kalian ini!" sorot mataku menatap mereka bergantian.


"Tante lagi senam, ya?" tanya Doni.


"Ho'oh, udah ... ayo kita sarapan dulu." Aku mengambil langkah menuju dapur, syukur kurcaci-kurcaci om Darman mau ikut.


"Mbah, ayo sarapan!" ajakku juga saat melewati lelaki tua yang asyik nonton dangdutan di televisi.


End then, anak-anak itu tak lagi mengekor malah ikut nimbrung dengan kakeknya.


Heran sama anak-anak sekarang, lebih doyan tontonan goyangan rada-rada iuw ketimbang menonton kartun. Kalau begini terus produksi film anak-anak bisa gulung kasur. Lah, kok gulung kasur? Kalau gulung tikar kan masih ada kasur. Haha serius ini enggak lucu. Skip! Skip!


"Hallo, Neng ... morning!" sapa om Darman.


Cheileh, sok inggris.


"Anak-anak udah makan?" Om Darman menarik kursi dan duduk dengan santai. Hidung mancungnya mengendus aroma makanan.


"Hmmm ... lezat!" seru om Darman sambil tersenyum dengan mata terpejam.


"Ini baru mau diambilin, Babang." Tanganku menyendok sayur kangkung ke piring yang kupegang.


"Udah, enggak usah ikutin mau mereka, biarin makan sendiri. Kamu temenin babang aja di sini," tandas om Darman sambil senyum-senyum sok kemanisan. Aku yang lihat bukannya diabetes, malah naik tensi.


Tuh, kan Dora dilema, tapi kata emak harus nurut ama suami. Yadahlah!


Kuantarkan makanan bocah-bocah itu ke depan televisi. Amsyong, mata mereka enggak berkedip menatap pedangdut lagi konser.


"Dora!" Panggil lelaki tua yang membungkus tubuhnya dengan sarung.


"Iya, Mbah?" tanyaku.


"Ambilkan juga mbah makanan!"


Aduhai jin tujuh turunan aku bukan pengikutmu, kenapa jadi babu gini kehidupanku? setiap waktu harus melayani orang-orang ini. Kata mereka nikah muda tuh enak. Enak apanya, sih?


Emak ... Dora kepingin pulang, Mak!

__ADS_1


Tidak .. tidak! Kamu harus kuat Dora karena kamu Dora Explorer!


Kini aku berhadapan denga om Darman di meja makan. Mataku tak berani menatapnya. Apalagi sejak kejadian semalam dan kecupan tadi.


Tapi, aku merasa om Darman ini orang yang baik plus cakep, pada zamannya. Yah, mungkin saja kalau aku seusia dia bakal tergila-gila juga. Asal jangan gila benaran aja.


"Neng, I love u." Haiks, orang ini keterlaluan sekali kata-katanya bagai sambaran petir yang membakar otak, saraf-sarafku rasanya mau putus, badan kaku, lidahku kelu.


Mikir, Om! Astaga, ingat umur kali ....


Tentu saja aku enggak balas ungkapan sok romantis itu. Mesra-mesraan dengan om-om rasanya enggak level.


Om Darman masih saja menatapku, kini ia menopang dagu dengan kedua tangannya. Makanan yang minta disantap jadi menganggur.


Diperlakukan begini aku jadi salah tingkah, tapi enggak boleh ditampakkan. Kutarik nafas dalam-dalam. 'Tuut' Tuh kan malah kentut. Untung saja om Darman lengah.


"Neng, kayaknya babang enggak perlu sarapan lagi, deh!"


Lah loh... masih berlanjut tuh gombalan?


"Liat wajah cantikmu saja babang udah kenyang!" sambungnya.


Prett! Apa dia pikir wajahku ini roti tawar, atau prasmanan? Untung saja aku bukan wanita baperan yang kalau digombal kelepek-kelepek kayak ikan kehausan.


"Yaudah, sini biar Dora yang makan." Kutarik piring berisi makanan dari hadapannya.


"Eits! Nanti kamu gemuk, biar babang saja yang makan!" cegahnya.


****


Semuanya sudah sarapan, rumah bersih kinclong, cucian beres, kini waktunya untuk me time. Om Darman dan mbah Tarjo sudah berangkat ke peternakan kambing. Aku di rumah dengan anak-anak.


Kubiarkan saja mereka bermain robot-robotan dan boneka. Aku mau nonton sinetron 'Ayah yang tertukar Menikah dengan Ibuku, Ternyata Bukan Bapak Kandungku'.


Enak sekali rasanya selonjoran di atas karpet. Kue sisa unduh mantu kemarin dan secangkir teh hangat menemani santaiku.


"Tante, Tante ...," panggil Cici, kulirik saja sebentar. Nanggung sinetron lagi seru-serunya.


"Tante!" Suara anak itu makin kencang.


"Apa sih?" tanyaku dengan nada tinggi.


"Rangga e'e ...."


What?! Aku mematung, tapi sorot mataku bergantian menatap tiga anak itu. Jijik? jangan tanya lagi, sudah pasti sangat jijik. Ingin rasanya terbang ke Samudra Atlantik dan menenggelamkan ikan-ikan di sana.


Aku harus akting. "Aduh, kepalaku pusing sekali, ah sakit!"


"Tante kenapa?" tanya Si Doni yang perutnya bulat besar kayak bola. Ingin kutendang.


"Kayaknya tante mau pingsan, deh." Tanganku memijat kening.

__ADS_1


'Brukk ...!' Pendaratan meleset, sialnya kepalaku kejedot kursi. "Auh .... sial sial" Mulut seksi ini enggak bisa diajak drama.


Kubuka sedikit mata kiri, rupanya anak-anak itu malah cekikikan sambil melet-melet. Kayak monyet!


Kalau begini terus aku bisa ketinggalan sinetron. Dengan rasa sangat terpaksa aku bangun lagi.


"Yey hore ... tante sadar!" sorak mereka kegiirangan.


Hahaha yeay kalian kena prank.


"Cici, kamu kan kakak Angga dan Doni. Kamu harus jadi anak yang baik ... yang rajin ... nurut sama yang lebih tua ... baik hati, rajin menabung, selalu tersenyum, jadi anak yang kuat, iya kan, Sayang?"


"Iya tante, karena Cici adalah Cute Girl."


Yaelah napa Cute Girl, sih?!


"Okey, jadi kamu cebokin Angga, yah?!"


"Siap, Tante!"


Bhahaha ... bego nih, anak. Mau aja dibodohi.


Anak yang rambutnya ikal sebahu itu memboyong adiknya menuju WC. Rupanya semudah ini mengelabuhinya. Apa aku berdosa? Ah, entah lah aku mau lanjut nonton dulu.


Hanyut dalam drama aku memikirkan nasib ibu-ibu sambung di mana saja berada, dari Sabang sampai Merauke, dari pelosok hingga kota, dari dalam Negeri hingga luar Negeri, dari pesisir hingga pegunungan, dari kemarin hingga tadi. Apakah mereka bernasib sama seperti diriku? Merasa tak ikhlas mengurusi anak yang bukan darah daging tulang, urat, dan nadinya. Atau ada kah yang bermati mulia nan suci?


"Dora!"


"Shit! suara itu lagi?" Aku terperanjat.


"Dora!" Suaranya makin mendekat dan keras.


"Dora ...!"


"Arrrrggggghhhhhh ...." Wajah itu, suara itu seperti membawaku ke alam bawah sadar.


Entah mengapa tiba-tiba saja remot yang aku pegang kulempar sekuat tenaga, kakiku melangkah cepat menapaki lantai keramik menuju WC.


"Udah, Nak biar emak aja. Cuci tanganmu." seruku pada Cici lalu merampas gayung dari tangannya.


Kenapa aku ngomong gini, sih?


Tanganku tiba-tiba saja menjulur ke pantat bocah yang jongkok. Menggosok kulit yang dilumuri kotoran warna cokelat menggoda sarapanku untuk keluar lagi dari lambung.


"Tante baik yah, sekarang." Tutur Cici lalu segera keluar dari WC.


Baik ndasmu?!


Otak dan anggota tubuh lainnya tak lagi sinkron. Otakku berkata lain, tanganku bergerak sesukanya. Dengan cekatan ku bersihkan anak ini. Selesai dicebok, kumandikan tak lupa memencet hidungnya mengeluarkan cairan hijau kental.


'Brakk ...!' Tubuhku tersungkur ke lantai dengan nafas tersengal-sengal. Kulihat bayangan putih bergerak cepat menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2