Ibu Sambung

Ibu Sambung
Ingin membunuh


__ADS_3

Caca mengangguk di pelukkan Ibu Syafa. Berasa sangat tenang baginya, pelukkan ibu Syafa seakan memberikan kehangatan. Caca juga sejenak melupakan segala kesedihannya.


Saat ini, Caca hanya mempunyai suami, anak dan juga keluarga Shinta. Papa nya yang sudah menikah lagi juga entah kemana, tiada kabar. Semenjak kepergian Mama nya Elsa. Caca menjadi lebih ikhlas, awalnya ia merasa sangat hancur dan membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk melupak kan kesedihannya. Namun, kelahiran baby Khanza membuat dirinya melupak kan segala rasa sakit nya. Mereka duduk menunggu Shinta untuk terbangun dari tidur nya. Ketika sadar, Caca dan kedua orang tuanya mendekati Shinta menanyakan bagaimana keadaannya sekarang. Shinta mengatakan jika dirinya sangat lemah dan pusing. Shinta yang sadar pun menanyakan kabar anak-anak nya. Caca mengatakan segala nya yang terjadi di rumah, dia juga mengatakan jika dirinya memberikan ASI untuk bayi Shinta.


"Aku tidak tega melihatnya menangis kehausan, jadi aku memberikannya ASI ku, maaf kan aku jika aku lancang. Tapi, aku nggak tau harus apa." Caca meminta maaf kepada Shinta.


"Jangan seperti itu, aku seharusnya berterimakasih padamu, sudah mau membantu anakku. Terimakasih banyak, maaf jika aku merepotkan mu dan membuat baby Khanza berbagi ASI dengan anakku."


"Tidak apa, Ta! Dia juga anakku, mereka anak-anak kita. Bukan kah sebagai seorang ibu kita harus menjaga mereka?" tanya Caca. Shinta pun yang masih lemah memeluk sahabat nya itu.


"Terimakasih banyak, Ca. Aku tidak tahu, jika kau tidak ada bagaimana anakku."


"Aku juga memikirkan hal yang sama, jika tidak ada dirimu. Mungkin, Syifa tidak akan tumbuh dengan kasih sayang yang lengkap. Kau memberikan segala nya yang tidak bisa aku berikan kepada Syifa. Jadi, sekarang. Sudah tugasku untuk menjaga anak-anak kita tanpa mem beda-bedakan nya." Keduanya saling melepaskan pelukannya. Sudah cukup lama, Caca dan yang lainnya berkunjung. Mereka pun berpamitan agar Shinta bisa istirahat yang cukup.


***********


Tiga hari berlalu, kini Shinta sudah sehat dan bisa kembali pulang kerumah, Revan membantu isterinya membereskan segala keperluan untuk di bawa pulang. Sebelumnya, ia juga sudah mengurus segala administrasi


"Apakah kita bisa pulang sekarang?" tanya Shinta kepada suaminya.


"Belum, kita harus menunggu dokter agar memeriksa mu terlebih dahulu sebelum pulang kerumah."

__ADS_1


"Baik lah, aku sudah sangat merindukan anak-anakku. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Menyaksikan kehebohan yang di buat oleh si kembar. Juga tangisan bayi kita. Apalagi, sikap protektif Syifa kepada adik-adiknya. Rasanya seperti bertahun-tahun tidak bertemu dengan anak-anak. Aku sangat rindu, melihat senyuman di wajah anak-anakku." Shinta membayangkan wajah ke empat anak-anak nya. Senyuman manis di wajah mereka, manja mereka, tangis tawa anak-anaknya. Ingin sekali rasanya, Shinta berlari pulang kerumah untuk memeluk ke empat anak-anak nya.


"Sayang, menurut ku kita harus menambah pengasuh." ujar Revan, Shinta menoleh ke arah suami nya.


"Kali ini jangan membantah, kau sangat lelah mengurus ke empat anak kita sekaligus, dan satu pengasuh juga tidak akan cukup. Kasihan, jika satu pengasuh mengurus ke empat anak-anak kita. Itu bukan kah hal yang tidak manusiawi?"


"Tapi, kau tahu tidak mudah mencari pengasuh yang benar-benar baik. Aku takut, jika menjaga anak-anak kita dengan tidak baik. Maaf jika aku tidak setuju."


"Sayang, ini demi kebaikanmu Lihat lah! Kau bilang bisa mengurus mereka, dan aku memakai satu pengasuh tapi apa? Kau sakit padahal ada satu pengasuh yang membantu kita. Aku nggak mau kamu sakit lagi."


"Baik lah, tapi aku yang akan menyeleksi mereka ya?" pinta Shinta. Revan pun setuju. Shinta mengembangkan senyuman indah di wajah nya. Memeluk sang suami, tidak lama kemudian. Dokter masuk ke ruangannya dan memeriksa keadaan Shinta. Dokter menyarankan agar Shinta tidak terlalu lelah dalam mengerjakan segala hal juga jangan terlalu stres. Sebab, itu tidak baik untuk wanita yang baru melahirkan atau mengandung.


"Dengar apa kata dokter, kau tidak boleh terlalu lelah. Mengurus anak sekali empat itu bukan lah hal yang mudah."


"Jika sang Ayah terlalu bersemangat membuat anak yang banyak, Sang Ayah juga harus bersemangat menjaga mereka. Bukan hanya ibu saja yang merawat anak-anak." mendengar ucapan dokter. Revan dan Shinta pun tersenyum malu.


"Rencana nya mau tambah lagi dok, agar bisa buat tim sepak bola. Iyakan, sayang?" sambung Revan yang memeluk isterinya di hadapan sang dokter. Dokter itu pun hanya menggelengkan kepala saja lalu beranjak pergi dengan senyum tipis di wajah nya. Ketika dokter pergi, Shinta memukul suaminya.


"Aw!" Revan meringis kesakitan, Shinta pun kembali memukul suaminya.


"Kenapa kau memukuli ku?"

__ADS_1


"Kenapa kau berkata seperti itu, aku kan malu. Lagipula aku tak ingin memiliki anak yang banyak seperti yang kau bilang. Empat anak saja sudah cukup!"


"Di tambah enam anak lagi, jadi genap menjadi sepuluh anak. Kan enak, rumah kita akan menjadi ramai tidak sepi. Jadi hari tua kita, banyak anak-anak dan cucu yang menemani kita."


Shinta yang membayangkannya pun berteriak. Revan kaget dan bertanya mengapa sang isteri berteriak begiti kencang.


"Aku ngeri memikirkan begitu banyak anak kita, rumah akan sekacau apa. Syifa anak yang baik, memiliki sepuluh anak lagi seperti Syifa tak masalah buat ku. Namun, jika kelakuan mereka seperti si kembar Alan dan Alana. Tidak, aku tidak bisa membayangkan nya." gumam Shinta yang begitu ngeri membayangkan nya saja.


"Sepuluh anak seperti Alan dan Alana, bisa-bisa aku mati berdiri melihat tingkah nakal mereka." batin Shinta.


"Bagus, jika anak-anak kita bersifat seperti si kembar. Rumah akan menjadi ramai dan tak akan pernah ada sepi nya. Jika sesama pria, aku akan mengajar kan mereka bermain bola, bermain tinju dan yang lainnya. Itu sangat menyenangkan."


"Tidak! Empat anak saja sudah cukup meramaikan rumah kita. Mereka juga bisa bermain sepak bola, tinju atau sebagainya." gumam Shinta lagi, kedua nya bertengkar hanya karena membahas menambah anak.


Caca dan yang lainnya pun masuk ke dalam kamar untuk menjemput kepulangan Shinta. Shinta mengadu kepada kedua orang tua nya.


"Ibu, Ayah. Lihat lah menantu kalian! Dia ingin membunuh ku."


"Membunuh?"


"Iya, dia ingin membunuh ku."

__ADS_1


Caca, Arvan dan kedua orang tua Shinta pun bingung dengan apa yang Shinta katakan. Mereka pun saling melihat satu sama lain, belum mengerti maksud ucapan Shinta yang mengatakan jika Revan ingin membunuh nya.


__ADS_2