
Raisa masih termenung, ia masih tidak menyangka dengan sikap ibu asrama, Ibu asrama itu menghampiri Raisa membawa segelas susu.
"Hey, kenapa kau tidak memakan nya?" ujar ibu asrama itu dengan penuh ramah, Ibu asrama itu mengambil piring yang berisi makanan itu, mencoba menyuapi Raisa. Raisa menolak dengan sangat sopan
"Tidak perlu Bu, Raisa bisa memakan nya sendiri. Raisa tidak enak jika harus merepotkan ibu."
"Tidak, Ibu tidak merasa keberatan. Ayo, makan dan habis kan makanan mu."
Raisa pun mengambil sepiring makanan yang di bawa oleh ibu asrama, ia memakan nya dengan perlahan. Setelah itu, menghabis kan segelas susu yang di buat oleh ibu asrama.
"Sudah selesai, sekarang. Kamu tidur lah, sebelum tidur belajar. Tapi, jika kamu tidak ingin belajar juga tidak masalah. Istirahat lah yang nyenyak ya? Besok pagi, ibu akan menyiapkan sarapan yang enak buat mu."
"Buat saya? Bukan nya makanan kami di asrama sama semua ya Bu?"
"Iya, Sama kok." bohong ibu asrama itu, Raisa pun naik ke atas menuju kamar nya. Lala yang bersantai di atas kasur menatap Raisa dengan jenuh.
"Kak," panggil Raisa kepada Lala, Lala pun bersikap sok baik kepada Raisa, Raisa tahu jika teman nya itu masih kesal pada nya. Tak mau ada ruang di antara ke dua nya, Raisa pun mendekati Lala. Memulai mengobrol dengan asyik
"Kak, ingat nggak dulu kita sering banget ngebayangi jadi orang sukses. Kita berdua akan membantu anak-anak yang membutuh kan. Kak, aku harap kita akan selalu seperti dulu. Iya, terkadang kita mengalami perkelahian kecil, tapi aku tahu. Jika kau sangat sayang pada ku, begitu juga aku yang begitu menyayangi mu. Tolong, jangan marah lagi kak. Aku tidak sanggup jika kakak terus-terus-an marah begini. Kak, di sini hanya kau yang ku punya, aku selalu bersamamu bahkan di saat kita masih kecil. Kakak tahu, bagaimana perjalanan hidup ku bukan? Apa yang ku lalui tidak mudah, tapi kau datang menghibur ku. Kau menjadi kekuatan ku di saat aku lemah, kau melindungi ku di saat aku takut. Lalu, mengapa sekarang kakak begini?" air mata Raisa menetes, ia tak sanggup menahan kesedihan nya. Lala menoleh ke arah Raisa. Namun rasa iri di hati nya membuat Lala menjadi buta, kasih sayang nya kepada Raisa pun hilang.
"Sebaik nya kau tidur saja, aku juga sudah mengantuk." ujar Lala kepada Raisa, Raisa pun beranjak pergi, naik ke atas tempat tidur milik nya sendiri. Raisa masih menangis, ia tak tahu bagaimana membuat Lala menyayangi nya seperti dulu. Raisa menangis hingga terlelap dengan sendiri nya.
__ADS_1
Lala yang melihat Raisa sudah terlelap, merencanakan misi nya. Ia ingin memberikan pelajaran kepada Raisa saat malam nanti agar tidak terlalu besar kepala di hadapan Syifa.
"Kau yang membuat ku seperti ini, bukan aku yang berubah. Tapi kau, Raisa! Baru mendapatkan kebebasan dan kemewahan sebentar saja kau begitu sombong dan melupakan ku. Kau mencampakkan diri ku. Tapi, aku bukan lah orang bodoh yang bisa percaya lagi dengan wajah polos mu itu. Aku sudah melihat sifat asli mu, dan kau harus menerima pembalasan rasa malu ku, dengan sengaja kau mempermalukan diri ku di depan teman mu itu, kau ingin di anggap hebat bukan? Baik lah, aku akan menunjukan di depan Syifa jika kau bukan lah orang baik!" batin Lala yang memandang Raisa dengan tatapan penuh kebencian. Senyuman licik itu kembali muncul di wajah nya.
*******
"Ini punya ku!"
"Punya ku!"
"Punya aku! sini, Alan!"
"Tidak, ini punya Alan! Kembalikan."
"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar seperti ini? Apa kalian tidak melihat, mama begitu lelah mengurus adik kalian. Kalian juga tidak terlalu kecil lagi, kalian juga sudah sekolah, tapi kenapa kalian seperti ini? Apa kalian tidak kasihan kepada mama? Adik kalian rewel saja dari tadi, dan sekarang kalian membuat kekacauan." kesal Shinta kepada si kembar.
"Mama, bukan Alana yang membuat kekacauan. Tetapi, Alan! Dia mengambil mainan Alana."
"Tidak mama! Itu tidak Benal. Alan tidak mengambil mainan Alana. Alana yang melebut mainan Alan, Ma!"
"Tidak mama! Alan yang salah."
__ADS_1
"Alana,"
"Alan,"
"Sudah hentikan! Mengapa kalian masih saja berdebat. Mama, Papa, Kakek, Nenek sudah membelikan mainan untuk kalian masing-masing, kenapa kalian masih saja berebutan mainan."
"Itu mainan Alan mama,"
"Tidak mama, itu punya Alana hisks." kini Alana memainkan drama nya lagi, walau ia tahu jika itu mainan Alan.
"Sudah, tolong hentikan. Atau mama akan menghukum kalian berdua. Biar adil, sini mainan nya! Kalian bermain mainan yang lain, apa kalian mengerti?"
"Itu punya Alan mama, kenapa mama tidak pelcaya kepada Alan. Mama menghukum Alan atas apa yang tidak Alan pelbuat, mama tidak adil!" Alan yang merasa kesal pun meluapkan segala emosi nya. Alan begitu memiliki sifat yang sama dengan papa nya. Begitu emosional, Shinta membuang nafas nya perlahan, meletakkan baby Al di keranjang tidur milik baby Al terlebih dahulu lalu mendekati anak nya Alan yang sedang menangis, mengurus anak-anak yang masih sangat kecil membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi. Shinta jongkok, mengimbangi tinggi anak nya. Memegang pipi Alan dengan lembut.
"Sayang, mama tidak bermaksud membuat Alan sedih. Mama juga ingin selalu bersikap adil kepada kalian nak, maaf ya jika mama membuat Alan marah dan berfikiran jika mama tidak adil kepada Alan. Mama hanya tidak ingin, ke dua anak mama ini selalu bertengkar. Mama ingin adil, makanya mama mengambil mainan ini. Jika mama memberikan nya kepada Alan, Alana akan terluka. Begitu dengan sebalik nya, Alan juga akan terluka jika mama memberikan mainan ini kepada Alana. Lebih baik, mama mengambil mainan ini dan kalian bisa bermain mainan yang lain nya. Anak mama yang ganteng satu ini, adalah anak yang paling baik dan pengertian. Alan berbeda dengan yang lain nya, mama juga yakin. Alan nya mama tidak ingin melihat mama bersedih bukan? Jika kalian terus saja bertengkar mama akan sedih, nak."
"Tapi, itu kan mainan Alan ma."
"Begini saja, bagaimana jika kalian main permainan yang lain, dan jika ingin memainkan mainan ini kalian bisa bergantian lima menit sekali. Siapa yang terlebih dahulu main akan di tentu kan dari kalian suwit. Siapa yang menang dia lah yang terlebih dahulu memainkan nya, dan mama akan memberikan waktu lima menit sekali untuk kalian bermain mainan itu. Bagaimana?"
Alan pun mengangguk setuju, begitu juga dengan Alana yang bersorak senang. Dia menyukai setiap tantangan.
__ADS_1
"Tapi, ingat. Jika kalian kalah, harus menerima kekalahan. Mengerti?" Si kembar pun setuju dengan ucapan Mama nya.