Ibu Sambung

Ibu Sambung
Episode 4


__ADS_3

Aku berusaha bangkit, jiwa detektif ini memaksa untuk mencari tahu bayangan tadi.


Sangat hening, kulihat hanya ada panci dan kawan-kawannya lagi nogkrong. Aku khawatir jangan-jangan arwah tante Rani dendam dan tiba-tiba bawa pisau lalu menancapkannya di perut langsing ini.


Tapi, aku enggak mungkin mati sekarang. Kalau mati ... yakin aja lah, novel ini pasti seketika tamat.


Kata pak Ustaz rasa takut itu harus dilawan, sehancur apa pun wajahnya dan sehoror apa pun bentuknya Dorabela harus berani, aku ingin menanyakan langsung maksud makhluk itu memanggil-manggil setiap waktu.


Agak merinding sebenarnya.


Lirik ke kiri, lirik ke kanan. Apa kalian melihat bayangan putih di sekitar sini? Jika iya, katakan bayangan putih.


Langkah demi langkah, perasaanku mulai tak enak, sepertinya ada sesuatu yang mengikuti.


Sekali lagi kulirik. "Huuuuuuaaaaaa!"


Langkahku secepat cahaya melintasi ruang tengah dan ruang tamu menuju halaman depan, rasanya kaki ini mengambang di udara. Kalau saja sedikit lebih cepat, bisa saja tubuh kurusku terbang melayang bebas.


Tapi, kenapa bayangan putih itu berubah hitam?


Huhu ... itu bayanganmu, Dorabela!


"Tante, kok lari-lari?" tanya Cici yang berdiri di ambang pintu. Kepo sekali.


"Enggak papah, lagi jogging aja ...." Ku pacu kedua kaki untuk lari-lari di tempat. Malu dong ngaku takut sama anak kecil.


"Jogging, kok pakai daster." Lah, ada apa dengan daster? Entah dari mana asal nyinyiran itu. Kulihat kiri kanan tak ada siapa-siapa hanya ayam mondar-mandir tak tahu arah jalan pulang.


Masa iya, suara Cici tiba-tiba nge-Bass?!


"Aku di sini, toh. Bodi aduhai kayak gini masa enggak kelihatan, sih ...."


Kubalikkan badan, seorang wanita dengan gincu merah merona berdiri di balik pagar bambu. Sungguh mati aku terkejut melihat alisnya yang cetar membahana, rapi sekali, tadinya aku pikir dia emaknya Shincan, tapi dari bentuk kening dan hidungnya lebih mirip Squidward. Bodinya jelmaan nona Puff. Mungkin saja orang ini keturunan Bikini Bottom.


Agar terkesan ramah kubungkukkan badan dan melempar senyuman termanis ke arahnya. Kata emak, tidak baik jadi orang judes, nanti temannya hanya cikit.


"Oh, jadi kamu istrinya Darman, kok kayak pembantu, sih?" tanya wanita itu seenak mulutnya.


What? bisa-bisanya dia bilang aku ini pembantu ...?!


"Iya, aku istri om Darman!" Entah mengapa aku merasa bangga, kutegakkan badan dan membusungkan dada yang hampir saja rata.


Wanita paruh baya itu malah tersenyum sinis. "Ternyata anak seumuran kamu tergila-gila juga dengan Darman."


Lah, siapa yang tergila-gila, sih? Aku di sini sebagai korban woy, nikahnya aja dipaksa.


Ini orang ngomong sesuka jidatnya yang lebar.


"Darman mana?"


Lah, kenapa nanyain suami orang. "Ada perlu apa?"


"Bukan urusan, Lu!" judesnya sambil membengkokkan bibir.


"Yasudah ...." Aku paling enggak suka cari ribut dengan orang lain, meladeni orang yang cari masalah bagi Dora, itu sangat ... sangat unfaedah. Segera kuambil langkah masuk ke dalam rumah dan lekas menutup pintu.


"Dasar tukang pelet!" teriaknya.

__ADS_1


Bodoh amat.


"Tante ... buka pintunya!" Teriak Cici. Astaga anak itu terkunci di luar. Kepo, sih!


****


Sore Hari


Setelah menyiapkan makan malam, dan beres-beres rumah kumandikan tiga kurcaci om Darman.


Tepuk- tepuk, kupakaikan bedak di pipi Angga.


"Tante ... aku mau juga." Doni mengangkat dagunya. Saat kuelus pipi bocah itu dengan bedak, Cici malah menatapku tak berkedip. Bisa kubaca pesan yang tersirat dari netranya.


"Cici, mau juga?" tawarku, dia malah senyum-senyum enggak jelas. Anak kecil mah gitu kalau lagi jaim. Malu-malu meong.


"Sini, aku pakein!" Cici mendekat. Aku tepuk-tepuk juga pipinya, melihat rambutnya yang ikal aku jadi gemas. Ku elus-elus. Kasian sekali anak-anak ini. Masih kecil udah kehilangan emaknya.


"Bapak!" seru tiga boca itu dengan kompaknya lalu berlarian memeluk kaki om Darman.


Lah, sejak kapan om-om ini berdiri di situ? aku harus gimana, masa harus meluk juga.


"Wuih ... udah wangi anak-anak bapak." kata om Darman sambil melirik ke arahku.


Ngapain lirik-lirik gue sih. bikin salah tingkah aja.


Kubalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan ruang tengah menuju kamar. Jangan sampai om Damar memanggilku.


Aku duduk termenung di atas dipan, kulihat tubuhku dari ujung kaki hingga ke atas. Entah dari segi mana nenek sihir tadi ngatain aku kayak pembantu.


Kucoba berdiri di depan menatap pantulan bayangan yang cantik bagai gadis korea. Mata bening, bibir mungil, hidung mancung, alis perfeksionis. Uwuw beud dah gue.


"Wuih, kamu bisa joget, Neng?!"


Haiks, bikin kaget! Orang ini suka muncul seenaknya.


"Enggak, gak! Aku mau mandi dulu." Segera kuambil handuk dan melewati om Darman yang bersandar di pintu. Jangan sampai ada adegan kecap-kecup lagi.


"Babang juga mau mandi, Neng. Bareng aja, yuk!"


Oh My God! om-om ini ngehalunya ketinggian banget. Ucapannya terus mengiang-ngiang di telingaku.


"Enggak ...!" Secepat kilat aku lari ke kamar mandi. Sejak tinggal di rumah ini jadi sering lari-larian.


"Huwaaaaaaaaaaa ...!" Mataku ternodai. lagi-lagi apes, bapak tua ini kenapa enggak bilang-bilang kalau kamar mandinya lagi dipakai, mana pintunya enggak dikunci.


"Kok malah nyosor, Nduk?" teriak mbah Tarjo dari dalam kamar mandi.


Hailah, kalau tahu ada mbah di dalam mana mau aku masuk.


Keep calm Dora!


"Maapin, Mbah aku enggak tahu!" balasku sambil menahan rasa malu yang teramat malu.


***


Hari mulai malam, langit tampak oranye. Nyanyian murai balik ke sarang bagai omelan emak yang kurindukan.

__ADS_1


Huhu ... emakku yang galak! Aku sangat ingin mendekap tubuh suburmu.


Baru sehari di rumah ini rasanya mau menyerah saja, tapi mau lambaikan tangan ke mana? enggak ada kameranya.


"Neng, ini kan malam minggu, ntar kita ke pasar malam, yah?" ajak om Darman yang sesekali menghembuskan asap dari hidung dan mulutnya.


Iuw, aku paling benci sama asap rokok.


"Terserah Babang saja!" Tanganku sibuk menyisir rambut yang basah.


"Tapi, nanti ... kalau anak-anak udah pada tidur."


Syukur sekali, tadinya aku pikir harus gandeng tiga anak di kerumunan orang banyak. Apalagi sampai minta gendong, iuw bisa keropos tulang-tulangku. Lagian mana muat sepeda kumbang bonceng empat, yang ada penyok tuh barang.


Setelah makan malam, kukeloni Rangga, Doni dan Cici. Bergantian lagu kudendangkan agar perjalanan mereka ke alam mimpi bisa lebih cepat.


"Gimana, udah tewas?" tanya Om Darman saat melepas kaosnya. Aku hanya mengangguk.


Di kamar yang sangat terang, seakan mataku ingin keluar saat roti sobek milik om Darman terpampang jelas.


Ya ampun seksi beud!


Saat om Darman melirik ke arahku, kupalingkan pandangan ke langit-langit kamar. "Cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap ...." Ku tepuk-tepuk pantat Rangga.


Jangan sampai om Damar mengartikan tatapan itu bahwa aku suka padanya.


"Ganti baju, Neng! Kita berangkat," seru om Darman sambil memakai kemeja ala-ala anak muda.


Jantungku semakin bergetar tak menentu. Ia sangat mirip dengan Justin Beiber kalau di lihat dengan ujung mata.


"Babang keluar gih, aku mau ganti baju."


"Enggak, mau!" ucapnya dengan nada sok manja. Iuw bukannya imut malah memuakkan.


Orang tua berlagak seperti anak kecil jelas enggak ada lucu-lucunya. Beda kasus kalau anak kecil yang bersikap dewasa, sudah pasti lucu, imut, gemes dan viral di Tek Tok.


"Kalau gitu, Dora enggak mau jalan." Kubalikkan badan sambil menahan tawa.


"Iya deh, Babang tunggu di depan." Kali ini suaranya mendayu-dayu. Mirip sesekaum yang suka dandan dan pakai rok padahal isinya telor.


***


Di bawah sinar rembulan yang bulat sempurna aku dibonceng om Darman dengan sepeda kumbang tentunya. Angin malam membuat jilbab merahku meliuk-liuk.


Saat melewati sepetak tanah yang dipenuhi kuburan. Aku sedikit mepet ke om Darman. Siapa yang enggak takut, lewat kuburan malam-malam. Meskipun jalanan berbatu ini ada beberapa orang pejalan kaki yang udah pasti mau ke lapangan juga.


"Kang Darman ... I love u!"


"Huuuwaaaaaaah!" Siapa yang enggak kaget, tiba-tiba ada yang menyatakan cinta di tengah jalan. Enggak ada akhlak.


Kepalaku celangak celinguk mencari sumber suara itu, akhirnya sorot mataku menemukan sosok wanita yang berdiri di samping pohon rambutan tak jauh darinya ada banyak emak-emak lagi bisik-bisik. Kalau begini rasanya jadi aktris dadakan digosipin netizen.


"Wuah ... cakep sekali!" seru sekelompok emak-emak yang kami lalui. Alay pake banget ini, mah!


Apa iya segitu populernya om Darman di kampung. Kalau memang begitu, berarti aku orang yang beruntung, pantas saja nenek lampir sok kecantikan tadi siang menyerangku.


Haha ... aku kerjain saja cabe-cabean kering ini.

__ADS_1


Kuberanikan diri melingkarkan tanganku ke pinggang om Darman sambil menyadarkan kepala di punggungnya. Iuw aslinya gue risih!


Dengan senyum penuh kemenangan, kujulurkan lidah ke arah mereka. Jelas sekali wajah-wajah yang mulai keriput itu tampak kepanasan, merah kayak kepiting di rebus pakai sambel ijo, kasih sedikit kecap. Haha ... enak sekali ngerjain emak-emak centil.


__ADS_2