
"Jika kau saja tidak merasa keberatan dan merasa berhutang Budi padaku, kenapa aku tidak? Kau telah menganggap anak-anakku seperti anak mu dan begitu juga dengan aku. Ikatan kita sudah semakin erat, sungguh dulu aku mengira jika kehadiran mu akan membuat hubungan ku dan Revan akan hancur namun ternyata aku salah. Kita semakin dekat, hubungan kita juga semakin erat. Ayah dan Ibu juga sudah menganggap mu sebagai anak mereka, tanda nya kau adalah kakak ku. Sudah lah, aku tidak akan kesal jika kau memberikan asi pada anakku. Justru aku akan merasa senang, jika kau begitu perhatian dan menyayangi anak-anakku."
Caca tersenyum kepada Shinta, ia pun memeluk Shinta dengan erat, Caca meneteskan air mata nya tanpa sepengetahuan Shinta lalu segera menghapus nya.
"Jika kau memiliki masalah katakan saja." ujar Shinta secara tiba-tiba, Caca hanya menggeleng dan tetap tidak ingin memberitahu. Bukan diri nya tidak mempercayai Shinta, namun Caca tidak bisa menceritakan keburukan suami nya lagi.
Caca juga tidak ingin jika Shinta marah dan membenci Arvan.
Shinta juga tidak ingin memaksa, namun diri nya tidak tenang melihat kegelisahan di raut wajah Caca.
Caca dan Shinta saling melepaskan pelukan mereka satu sama lain. Caca mengatakan kepada Shinta jika diri nya hanya merindukan mama nya Elsa.
"Aku hanya merindukan mama ku, dan aku berfikir. Apakah aku pantas menjadi seorang ibu dan isteri yang baik setelah apa yang sudah aku lakukan kepada anakku."
"Kau ini, sudah berulang kali aku katakan, kau adalah wanita terhebat di dunia ini, isteri dan ibu terbaik di seluruh dunia. Tidak ada yang bisa menyaingi diri mu, terutama aku. Jadi, jangan berfikir jika diri mu tidak pantas menjadi seorang ibu atau isteri. Kau mengerti?"
Caca pun mengangguk, ia mengira perselingkuhan suami nya karena diri nya yang tidak baik menjadi seorang isteri.
Sungguh, Caca sangat menyayangi suami nya dia tidak sanggup jika harus berpisah dari sang suami, namun ia juga terlalu sakit jika terus berada di dekat suami nya dan membayangkan bagaimana suami nya mengabiskan malam bersama wanita lain..
Terlebih lagi, Xienna secara terang-terangan mengganggu keluarga mereka.
"Tata. Bagaimana jika seandainya suami kita memiliki wanita lain?" tanya Caca tanpa sengaja kepada Shinta.
Pertanyaan nya tentu membuat Shinta bertanya-tanya apakah Arvan berselingkuh, namun Caca mengelak. Ia mengatakan jika diri nya membayangkan hal yang menyakitkan saja.
"Aku mengira jika diri ku saja yang terkadang memikirkan hal itu, ternyata kau juga. Namun, jika aku mengetahui jika Revan berselingkuh sungguh aku akan mencabik-cabik daging Revan dan wanita itu."
Caca menoleh ke arah Shinta, ia mengira jika Shinta bercanda. Namun, raut wajah Shinta begitu serius. Ternyata, sisi lain dari Shinta begitu sadis.
Entah itu benar atau tidak, namun raut wajah Shinta sangat serius.
"Dulu, saat Rayhan membatalkan pernikahan kami aku merasa hancur, namun itu karena aku yang mandul. Aku menerima hal itu, walau sepenuh nya tidak. Tapi sekarang, jika suami ku selingkuh dan meninggalkan ku, aku akan mencabik-cabik kulit daging nya, kenapa? Aku sudah memberikan nya anak dan melakukan hal sebisa ku. Kenapa dia selingkuh? Tanda nya dia yang memang tidak pernah puas memiliki aku." ujar Shinta dengan tatapan kosong nya.
Ia juga selalu mengatakan kepada Revan, jika Revan berselingkuh dari nya. Revan akan kehilangan ia dan juga anak-anak mereka, Shinta akan membawa anak-anak mereka pergi yang jauh.
Revan tidak akan ia berikan kesempatan untuk melihat anak-anak nya walau hanya bayangan anak-anak saja.
Shinta sangat membenci pengkhianatan, namun Caca tak seberani itu. Ia jauh lebih takut kehilangan suami nya, Caca sudah pernah kehilangan pria yang ia cinta, cinta pertama nya. Caca tidak akan membiarkan suami pernikahan nya yang ke dua pun di rebut oleh orang lain.
Mungkin, itu terdengar egois namun cinta membuat Caca akan melakukan segala nya. Ia tidak mau kalah lagi oleh takdir.
"Tapi, aku yakin. Suami kita tidak akan melakukan hal yang membuat kita bersedih, terutama Arvsn. Dia sangat mencintai diri mu, dia bahkan rela melakukan apa saja untukmu, jadi menyakiti mu itu hal yang sangat mustahil." ujar Shinta kepada Caca.
Caca menatap Shinta, ia berharap jika yang di katakan oleh Shinta itu benar.
Andai saja, jika itu semua benar dan memang terjadi. Mungkin aku tidak akan mengalami hal tadi apalagi harus berhadapan langsung dengan wanita itu!
Caca menggerutu di dalam hati, ia masih berharap jika ucapan suami nya benar dan itu hanya lah jebakan saja.
Shinta menggoyang kan tubuh Caca untuk memecahkan lamunan Caca..Caca pun kaget, dan bertanya kepada Shinta ada apa? Shinta hanya menggeleng, ia tahu jika Caca tidak mendengar kan nya dan memikirkan hal yang lain.
"Ca, lebih baik kau pergi istirahat saja. Otak mu sedang tidak berjalan, dan lihat lah. Kau seperti nya membutuhkan istirahat untuk menenangkan pikiran mu."
Caca pun hanya mengangguk, dan berlalu pergi meninggalkan Shinta.
"Jika kau merasa sudah siap, kau bisa cerita kepada ku agar beban di pikiran mu itu hilang."
Caca menghentikan langkahnya karena ucapan Shinta, Caca menangis, namun ia membelakangi tubuh Shinta sehingga Shinta tidak melihat tangisan nya.
Caca segera menghapus air mata nya, ia membalikkan tubuh nya ke arah Shinta, dan tersenyum mencoba meyakinkan Shinta.
"Seribu kali kau bertanya seperti itu, jawaban ku tidak akan berbeda. Akan tetap sama ,aku hanya merindukan mama ku saja. Aku pergi ke kamar dulu ya?"
Caca pun berpamitan kepada Shinta, Shinta mengangguk. Caca melanjutkan langkah kaki nya lagi menuju kamar.
******
Di dalam kamar, ayah Gunawan memandangi isteri nya yang sedang tertidur dengan lelap.
Ayah Gunawan tiada henti nya berdoa untuk kesembuhan isteri nya, ia berharap agar isteri nya bisa segera sembuh.
Sayang kamu harus kuat untukku dan anak-anak, kami sangat membutuh kan mu terutama aku. Tolong, jangan tinggal kan kami, tetap lah kuat dan berjuang untuk kesembuhan mu. Kau harus berjuang sedikit lagi!
Gunawan memegang punggung tangan isteri nya, menatap wajah teduh isteri nya.
Ia mengingat-ingat masa-masa muda nya bersama sang isteri.
Di mana ia mengatakan perasaan nya dan mengajak kekasih hati nya untuk berhubungan lebih serius dengan ikatan pernikahan.
Di saat itu, Syafa begitu sangat bahagia terlihat dari pancaran mata nya yang berbinar-binar. Syafa adalah cinta pertama nya dari pandangan pertama. Gunawan selalu berdoa agar Syafa adalah pasangan hidup yang di kirimkan tuhan untuk menemani nya sampai akhir hayat.
__ADS_1
Gunawan juga selalu menjadikan Syafa ratu di hati nya, ia juga memperlakukan isteri nya bagai kan tuan Puteri.
Kehidupan rumah tangga mereka semakin lengkap dan bahagia dengan kehadiran nya Shinta di kehidupan mereka.
Mereka menjadi orang tua yang sempurna, selalu mendidik anak nya dengan baik.
Masa muda, ibu Syafa juga seperti Shinta. Namun, semenjak bertambah nya usia dan lahir nya Shinta.. Sifat Syafa jauh berubah menjadi lebih baik dari sebelum nya.
Sayang, sembuh lah. Aku mohon, terus lah berjuang melawan sakit mu. Mas ingin, kita melihat cucu-cucu kita menikah dan memiliki anak. Setelah itu, mas bisa pergi bahagia dengan tenang. Tapi, mas butuh kamu untuk menemani mas hidup lebih lama sampai cucu-cucu kita memiliki anak
Ayah Gunawan tak kuasa menahan kesedihan nya, air mata yang ia tahan pun akhir nya pecah.
Pria mana yang sanggup melihat wanita yang di cintai nya lemah seperti itu?
Merasa tangan nya ada tetasan air, Syafa perlahan membuka mata nya. Ia melihat suami nya yang menangis, memeluk punggung tangan nya dengan erat.
Terdengar isakan tangis juga, Syafa mengelus rambut suami nya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Gunawan mengangkat kepala nya, menjauh dari punggung tangan sang isteri.
"Mas, kenapa mas menangis?" tanya Syafa dengan bingung, Gunawan hanya menggeleng dan mengatakan jika isteri nya harus percaya dan yakin jika ia akan sembuh.
Mendengar ucapan dari sang suami nya itu, Syafa langsung mengatakan jika ia sudah berusaha dengan keras.
Gunawan pun mengecup kening Syafa. Ia menguatkan diri nya sendiri, dan juga bersikap dengan penuh semangat di depan isteri nya agar sang isteri bisa melawan penyakit itu.
Syafa tersenyum, ia mengatakan kepada suami nya jika diri nya baik-baik saja..
"Mas, aku baik-baik saja..Mas tidak perlu khawatir pada ku, dan jika mas seperti ini anak-anak akan merasa curiga dan bertanya-tanya apa yang terjadi kepada ayah mereka."
"Mas sudah berusaha semampu mas, tapi mas tidak tahan melihat mu seperti ini."
"Sudah lah, sayang. Jangan seperti itu! Jangan membuat anak-anak merasa curiga terutama Shinta. Karena anak kita itu, pasti tidak akan membuat kita tenang sebelum ia mendapatkan jawaban nya."
Gunawan mengangguk, Syafa pun berusaha memasang wajah yang begitu ceria. Dia tidak ingin membuat suami nya bersedih.
**************
Setelah berbicara kepada Caca, Shinta masuk kmke dapur, ia pun memutuskan memasak bubur untuk ibu nya yang sedang sakit.
"Aku akan membuat bubur, agar tubuh ibu akan enakan. Dan aku juga akan membuat sup sekalian makan untuk yang lain nya."
Shinta pun menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan, setelah selesai
Shinta masuk ke dalam kamar ke dua orang tua nya, ia membawakan sepiring bubur dan segelas air hangat untuk ibu nya Syafa.
"Ibu, waktu nya makan."
Syafa dan Gunawan menoleh ke arah anak mereka, dan tersenyum. Shinta begitu sangat baik mengurus ke dua orang tua nya.
Shinta mendekat, dan duduk di tepi ranjang.
Ibu Syafa perlahan membangkitkan sedikit tubuh nya dalam posisi terduduk.
"Sekarang ibu waktu nya makan ya? Tata sudah memasakkan bubur spesial ini khusus untuk ibu, tata ingin ibu lekas sembuh dan mengurus kami lagi. Tata masih butuh ibu, jangan sakit terus Bu. Tata sangat sedih melihat ibu yang seperti ini."
"Iya, Sayang. Ibu akan makan."
"Tidak! Ibu tidak boleh makan sendirian. Tata yang akan menyuapi ibu, tidak boleh ada penolakan. Tadi tata menyuapi ayah, sekarang giliran ibu."
Syafa hanya tertawa, ia pun merasa terharu dan menjsdi ibu yang paling beruntung karena memiliki anak sebaik Shinta.
Shinta menyuapi ayah dan ibu nya secara bergantian, hal itu ia lakukan agar ke dua orang tua nya makan.
"Sungguh, masakan anak ayah ini sangat lezat." puji ayah Gunawan, ibu Syafa pun membenarkan ucapan suami nya. Masakan anak nya sungguh lezat, siapapun yang memakan nya pasti akan ketagihan.
Wajah Shinta memerah mendengar pujian Ayah dan Ibu nya.
"Ibu dan Ayah bisa saja, masakan tata tidak seenak masakan ibu."
"Sungguh, sayang. Masakan mu begitu lezat setelah masakan ibu apalagi kalian membuat nya dengan penuh cinta. Tidak ada yang bisa menandingi selezat masakan kalian."
"Ayah bisa saja, nanti jika Caca memasak untuk kalian ayah juga akan mengatakan hal seperti itu."
"Sayang, kalian memasak dengan penuh cinta. Jadi, masakan kalian sudah pasti enak. Tidak ada yang begitu membahagiakan selain di masakin oleh orang yang kita sayangi." ujar ayah Gunawan lagi. Shinta pun tersenyum kepada ayah nya.
Shinta pun dengan semangat menyuapi ke dua orang tua nya secara bergantian.
Ibu Syafa mencari keberadaan Caca, Shinta mengatakan jika Caca sedang istirahat.
"Mereka baru saja pulang Bu, tadi Caca juga ingin menemui ibu untuk melihat keadaan Ibu tapi karena pintu kamar tertutup, Caca tidak berani masuk. Shinta sudah mengatakan kepada nya untuk tidak merasa takut, ibu dan ayah pasti juga tidak akan keberatan dengan itu."
"Iya, nak. Caca juga anak Ibu dan Ayah, kami tidak akan merasa keberatan jika Caca masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Mungkin dia merasa tidak enak saja Bu,"
"Iya, sayang. Apalagi, Caca anak yang begitu pemalu."
Shinta dengan sabar menyuapi ke dua orang tua nya sambil mengajak ke dua orang tua nya berbincang-bincang.
"Sayang, ibu sudah merasa kenyang."
"Tidak ibu! Ibu masih makan sedikit, Ibu harus menghabiskan makanan ibu ya?"
"Tapi nak, ibu sudah merasa sangat kenyang."
"Ibu ku, Sayang. Makan sedikit lagi ya? Ibu harus banyak makan agar ibu bisa lekas sembuh." ujar Shinta dengan mata yang berkaca-kaca hal itu tentu membuat ibu nya merasa tidak tega dan mengiyakan ucapan anak nya.
"Begitu dong Bu, ibu harus banyak makan lalu setelah makan minum obat. Agar pemulihan ibu lebih cepat, Shinta tidak mau melihat ibu seperti ini terus. Ibu harus seperti biasa. Menjadi wanita terkuat di dunia ini haha."
Syafa dan Gunawan pun tertawa melihat kelakuan anak nya, Shinta tetap seperti dulu. Tidak pernah berubah, terutama sikap manja nya.
Tak terasa, Ibu dan ayah nya sudah menghabiskan makanan mereka. Hal itu tentu saja membuat Shinta merasa sangat senang.
"Yey, ibu dan ayah menghabiskan makanan kalian dengan sangat baik."
Syafa dan suami nya saling pandang satu sama lain, mereka pun hanya menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan anak mereka.
Shinta meminta izin kepada ke dua orang tua nya untuk meletakkan piring nya terlebih dahulu ke dalam dapur.
Setelah itu, ia akan memberikan ibu nya minum obat.
"Lihat lah anak kita, sekarang dia begitu dewasa dan menjadi ibu dari empat anak. Dulu, dia bahkan tidak mau berurusan dengan yang berhubungan dengan dapur. Namun sekarang, ia begitu pintas memasak. Mas begitu sangat senang, melihat perubahan yang begitu baik pada anak kita."
"Setiap wanita yang berumah tangga, mereka pasti akan bisa masak dengan sendiri nya. Karena memasak masakan rumah jauh lebih baik daripada masakan di luar."
"Iya, sayang. Untung saja, kita mengajari anak kita untuk mandiri sejak kecil. Dia hanya lemah di bagian memasak namun sekarang anak kita menjadi anak yang sempurna. Bahkan masakan nya begitu lezat, selain menjadi anak yang sangat baik dia juga menjadi ibu yang baik untuk anak-anak nya."
Syafa pun setuju dengan ucapan suami nya, Shinta sudah kembali. Ia pun mengambil obat yang akan di minum oleh ibu nya.
."Waktu nya ibu minum obat."
Sebelum memberikan obat kepada ibu nya, Shinta memberikan segelas air minum kepada sang ayah.
Gunawan menerima nya dengan senang hati, ia juga mengucapkan terimakasih kepada anak nya itu.
Gunawan dan Syafa selalu mengajarkan anak nya untuk mengucapkan kata terimakasih jika di tolong dan maaf jika memang bersalah. Tidak perduli kepada siapapun, walau kepada orang tua, anak dan teman.
"Sama-sama, Ayah."
Gunawan langsung meneguk segelas air minum yang sudah di berikan oleh sang anak.
"Ayah merasa sangat kenyang, lihat lah perut ayah begitu buncit..Jika di masakin oleh kesayangan ayah setiap hari nya pasti tidak akan membutuhkan waktu lama untuk tubuh ayah mengembang."
H A H A H A
Suara tawa yang memenuhi ruangan itu membuat suasana menjadi lebih baik.
Setelah memberikan obat kepada ibu nya, kini Shinta merasa sangat puas.
"Tata senang melihat ibu mau makan dan minum obat, tidak butuh waktu lama. Ibu akan segera sembuh, dan ibu yang akan bergantian memasak untuk kami. Iya kan ayah?"
Gunawan mengangguk, melirik ke arah anak nya.
"Pasti nya, ibu akan memasak masakan kesukaan kita semua. Dan kita tidak akan ada alasan untuk menyudahi makanan kita."
"Ayah benar sekali, tata akan berkali-kali tambah hingga badan tata membengkak."
Ibu Syafa yang melihat ekspresi suami dan anak nya pun merasa geli menahan tawa nya.
"Ayah dan anak selalu saja membuat tingkah yang tiada henti nya membuat perut ibu sakit."
"Apapun akan kami lakukan, demi kebahagiaan kamu, sayang." ujar gunawan menatap mata isteri nya dengan penuh cinta.
Ibu Syafa sungguh wanita yang sangat beruntung karena memiliki suami yang begitu mencintai nya dan selalu menjadikan dan memperlakukan nya seperti ratu.
Bukan hanya di saat mereka pertama kali jatuh cinta, baru menikah atau juga baru mempunyai anak..Namun, sampai umur mereka yang sudah tidak muda lagi dan memiliki banyak cucu.
Sikap Gunawan kepada nya tidak pernah berubah, bahkan Gunawan mampu membuat Syafa jatuh cinta berkali-kali setiap hari nya.
Gunawan adalah cinta pertama Syafa, bahkan saat itu Syafa tidak mengerti apa arti nya cinta. Namun, kehadiran Gunawan membuat nya mengerti apa itu arti cinta.
Mereka juga berpacaran setelah menikah, sungguh kisah yang begitu manis.
Syafa selalu berdoa kepada Tuhan agar Gunawan menjadi cinta pertama dan terakhir nya sampai akhir hayat memisahkan.
__ADS_1
***********