Ibu Sambung

Ibu Sambung
Ibu Terbaik


__ADS_3

Caca pun tersenyum dengan gaya elegan nya.


Ini aku lagi bersama suami ku, ada yang mau kau katakan? ~Caca


Haha, dasar wanita bodoh! Di depan mu, dia memang mesra dengan mu tapi di belakang mu dia tidur dengan aku. Kasihan sekali kau! ~ Xienna


Caca berusaha tetap tenang, ia tidak mau kebawa emosi yang akan membuat wanita itu semakin senang.


Caca pun membalas ucapan wanita itu dengan tertawa.


Sungguh, awal nya aku merasa kesal. Namun, sekarang aku merasa iba dengan mu. Kau wanita yang cantik, tapi begitu bodoh mau di manfaatkan tubuh mu oleh suami ku. Mau di jadikan nya sebagai pelampiasan semata. Saat dia tidak butuh, dia membuang mu. Walau dia melakukan apapun di belakang ku kepada mu, tapi dia tetap kembali kepada ku. Karena apa? Aku adalah isteri sah nya sedang kan kau? Hanya lah seorang wanita hiburan! ~Caca


Sial! Berani sekali kau menghina ku seperti itu, memang nya siapa kau? Kau tidak mengenal siapa aku! ~Xienna


Aku memang tidak mengenal siapa kamu, tapi melihat cara bicara mu dan cara mu mengganggu suami ku terlihat jelas jika kau bukan lah wanita baik-baik. Wanita baik-baik tidak akan mengganggu milik wanita lain! ~Caca


Xienna yang tidak tahan dengan ucapan Caca pun Langsung mematikan ponsel nya.


Caca menatap suami nya, lalu memberikan ponsel milik suami nya itu, Arvan sekali lagi meminta maaf kepada isteri nya karena sudah membuat Caca sakit dan merasa terkhianati.


"Maaf kan aku, Sayang."


"Sudah lah, Sayang. Mulai sekarang, kita akan menghadapi masalah apapun dengan berdua. Tidak akan ada yang bisa merusak hubungan keluarga kecil kita."


"Aku merasa malu padamu, saat kau melakukan kesalahan. Aku dengan sangat tega menyakiti mu, tapi kau bahkan tau aku telah melakukan hal yang salah walau itu di luar kendali ku. Kau tetap mau memaafkan ku dan bersikap biasa saja." ujar Avan yang menatap mata sang isteri.


Caca mengatakan jika itulah perbedaan nya dengan sang suami.


"Aku paham, jika manusia tidak luput dari kesalahan. Aku memiliki kesalahan, dan kau juga. Aku juga bukan tuhan yang bisa menghukum orang lain hanya karena kesalahan nya. Aku juga tidak bisa melupakan seribu kebaikan orang lain hanya karena satu kesalahan nya saja."


Ucapan Caca mampu membuat Arvan tertampar, ia begitu malu sekali.


Isteri nya bisa bersikap tenang dan dewasa saat masalah yang begitu besar ada di hadapan nya.


Padahal, Caca bisa saja marah bahkan meminta cerai dan menuntut hak asuh anak. Tapi, isteri nya tidak melakukan itu ia malah mendukung Arvan.


Arvan berjanji pada diri nya sendiri, apapun yang terjadi. Ia akan selalu bersama sang isteri dan menghadapi masalah bersama-sama. Ia juga akan selalu ada di samping isteri nya mau senang atau pun duka.


Sebenar nya, Caca tidak sekuat itu. Dia juga merasa sakit, kecewa dan hancur. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Saat ini bagi nya adalah kebahagiaan anak-anak nya. Caca tidak mau membuat anak-anak nya merasa sedih. Biarlah, ia yang menanggung semua ini.


Dan jika memang, suami nya benar melakukan itu walau di sengaja atau tidak. Sadar atau tidak, Caca sudah ikhlas untuk memaafkan suami nya apapun yang terjadi nanti ke depan nya.


Dia akan tetap mempertahankan rumah tangga nya demi kebahagiaan anak-anak. Raisa baru saja bahagia merasa kan kasih sayang dari keluarga yang utuh, tidak mungkin Caca merusak kebahagiaan dan mental anak nya.


Begitu juga dengan Syifa, dia sudah banyak berkorban demi kebahagiaan Caca. Dan juga, Khanza. Dia masih sangat kecil, Caca tidak mau jika Khanza mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh kakak-kakaknya nya Raisa dan Syifa.


"Ya Tuhan, pilihan seperti apa ini?" batin nya.


Arvan mengajak Caca untuk kembali ke luar, bersama yang lain nya. Ia ingin meminta maaf kepada Shinta karena sudah membentak Shinta. Caca pun mengangguk, ia melupakan kesedihan dan rasa sakit nya walau hanya sebentar.


Mereka berjalan ke luar kamar untuk menemui yang lain nya.


Sebelum pergi ke luar halaman rumah, Caca melihat keadaan ibu Syafa dulu di kamar.


Terlihat ibu Syafa dengan istirahat dengan nyenyak, Caca pun tak mau masuk ia takut mengganggu waktu istirahat ibu angkat nya tersebut.


Caca berdoa, agar keadaan ibu Syafa membaik. Setelah itu, ia dan suami pun berjalan ke arah luar.


Shinta yang duduk menemani anak-anak bermain pun melihat ke arah Arvan dan Caca yang kembali lagi. Shinta melihat Caca yang berbeda, raut wajah nya sangat sedih. Walau Caca menutupi nya, tapi Shinta tahu jika Caca sedang mengalami masalah.


"Ta, maafkan aku ya. Tadi, kepala ku sangat sakit. Aku tidak bermaksud membentak mu." ucap Arvan yang meminta maaf kepada Shinta.


Shinta pun mengatakan jika Arvan tidak perlu meminta maaf, ini juga memang kesalahan nya karena sudah berbicara asal dan membuat Arvan merasa tersinggung.

__ADS_1


Arvan pun menggeleng kan kepala nya, menepis ucapan Shinta ia mengatakan jika itu semua tidak benar.


"Tidak, memang aku yang salah. Aku yang terlalu pemarah hari ini karena rasa lelah."


"Lupakan saja, aku juga tidak marah kok padamu. Harus nya aku yang meminta maaf, karena ucapan ku sering kali membuat kalian terluka."


"Makanya, sayang. Kalau bicara itu harus hati-hati, tidak selama nya mood orang itu bagus. Bagaimana jika kami merasa lelah dan tidak ingin bercanda. Pasti kejadian tadi akan terulang." ujar Revan kepada isteri nya.


Caca pun menyudahi perdebatan mereka.


"Sudah lah, yang lalu biarkan berlalu. Tidak perlu di bahas lagi, lagipula Tata juga tidak sepenuh nya salah."


Karena apa yang di katakan Shinta memang lah benar, suami nya sudah berselingkuh dengan wanita lain di belakang nya. Dan Arvan marah, karena takut rahasia nya terbongkar. ~batin Caca.


Arvan melirik ke arah isteri nya, ia tahu jika Caca sedang menyindir nya.


"Sayang, jika kau ingin mengatakan nya kepada mereka. Katakan saja, aku akan menerima nya."


"Mengatakan apa?" tanya Shinta yang menatap Arvan dan Shinta secara bergantian.


"Tidak! Mungkin, mengatakan jika Arvan sangat lelah. Dan kau juga tidak salah, karena kau hanya bercanda. Tapi, karena suami ku begitu banyak pikiran atau lelah dalam berkerja ia jadi Mudah emosi." jawab Caca sambil menatap suami nya.


Arvan terkejut mendengar penjelasan isteri nya, ia mengira jika Caca akan mengatakan segala nya kepada Shinta dan juga Revan di depan anak-anak. Namun, Caca tidak melakukan itu. Bahkan, ia rela berbohong demi menutupi kelakuan Arvan.


"Mami, kapan kita makan ice cream bersama?" tanya Raisa yang menoleh ke arah ibu nya. Caca pun menatap anak nya, dan mengatakan jika mereka akan makan ice cream kapan pun Raisa ingin kan.


"Bagaimana jika hari ini? Tidak, Oma kan masih sakit." ujar Raisa yang bicara sendiri. Ia pun mengurungkan niat nya walau rasanya ia ingin sekali makan ice cream bersama.


Revan pun menyarankan kepada Caca dan Arvan untuk membawa Raisa makan ice cream saja.


"Sebaik nya kalian bawa dia, biar aku dan isteri ku yang akan menjaga ibu."


"Tidak mungkin, bagaimana jika kalian memerlukan sesuatu?"


"Iya, kalian pergi saja. Aku akan menjaga ibu dan anak-anak yang lainnya."


"Alana mau ikut." jawab Alana dengan manja. Alan hanya diam saja, tidak mau banyak bicara. Jika dia di ajak, ia akan ikut jika tidak ia juga akan di rumah saja. Bersama mama, papa, dan kakek nenek nya.


"Baiklah, aku akan membawa anak-anak." ujar Caca.


"Tapi, bagaimana kau membawa mereka? Pasti akan ribet, apalagi si kembar sangat nakal."


"Alana tidak nakal mama, lagipula kakak laisa sudah beljanji pada Alana akan membawa Alana makan ice cleam."


"Alana." tegur Shinta dengan lembut, Alana hanya menyengir saja. Syifa, dan Raisa hanya menggeleng melihat tingkah menggemaskan dari Alana.


"Tidak apa, si kembar tidak terlalu nakal kok. Iyakan sayang?" tanya Caca kepada Alan dan Alana. Si kembar dengan kompak mengangguk.


"Ya sudah, kalian bawa lah si kembar juga. Tapi, biar lah baby Al dan Khanza bersama kami. Kalian bawa satu baby sister untuk menjaga si kembar."


Caca pun setuju dengan saran dari Shinta. Makan ice cream di luar mungkin akan membuat Caca lupa dengan kesedihan nya.


Shinta pun berdiri, ia akan menyiapkan anak-anak nya terlebih dahulu.


"Ayo, sayang. Mama akan membersihkan tubuh kalian dulu." ajak Shinta kepada Alan dan Alana.


Shinta juga meminta kepada Syifa dan Raisa segera bersiap.


Syifa dan Raisa pun mengangguk, sementara Shinta menyiapkan anak-anak. Caca membersihkan dan menyusun mainan anak-anak terlebih dahulu.


Setelah selesai menyiapkan si kembar, Shinta masuk ke dalam kamar Syifa. Ia melihat anak nya apakah sudah bersiap.


Benar saja dugaan Shinta, anak nya pasti masih bingung memilih baju mana yang akan di pakai. Karena, Syifa sudah biasa di sediakan oleh Shinta jika ingin kemana pun. Shinta tersenyum, mendekati anak nya.

__ADS_1


Ia pun mengambilkan baju yang cocok untuk anak nya dari dalam lemari.


"Pakai ini, kak."


Syifa kaget, menoleh ke arah mama nya.


"Ma-mama."


"Mama tau kok kalau anak mama yang satu ini pasti kesulitan memilih pakaian apa yang akan di pakai."


Syifa pun menyengir, bukan karena Syifa bukan anak yang mandiri. Namun Shinta selalu turun tangan langsung jika itu mengenai dengan kebutuhan anak-anak nya. Bahkan, Shinta selalu melarang Syifa untuk jangan pusing memikirkan apapun.


"Mama terimakasih ya? karena mama selalu menyiapkan kebutuhan Syifa. Padahal, Syifa sudah besar sekarang tapi mama tidak pernah berubah memperhatikan Syifa sampai dari hal sekecil apapun."


"Sayang, kamu itu peri nya mama. Se-dewasa apapun kakak. Kakak tetap lah peri kecil nya mama, mama tidak akan lupa dengan tugas mama untuk kamu."


Syifa memeluk mama nya, ia mengatakan jika diri nya sangat menyayangi ibu sambung nya itu


"Syifa sangat menyayangi mama."


"Mama juga sangat sangat dan sangat menyayangi kamu."


Shinta mengecup kening Puteri nya itu. Lalu, menyuruh Syifa untuk segera memakai pakaian.


Ibu dan anak itu tidak tahu jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dari luar pintu kamar. Orang itu tidak lain adalah Raisa.


Raisa merasa hidup kakak nya begitu sangat beruntung karena memiliki ibu sambung yang begitu menyayangi dan begitu perhatian pada nya..


"Pantas saja kakak lebih betah jika tinggal dengan mama Shinta. Karena mama Shinta begitu sangat telaten mengurus kakak."


Walau Caca menyayangi Raisa dan juga Syifa. Mami mereka tidak pernah sedetail itu mengurus kebutuhan mereka.


Caca hanya tau memasak makanan, menyuruh makan, menyuruh mandi dan tidur saja.


Caca juga sangat menyayangi anak-anak nya, namun jika mengurus anak-anak Shinta jauh lebih baik dan telaten.


Setiap ibu memiliki cara masing-masing dalam mengurus dan menyayangi anak-anak nya. Bukan berarti Caca ibu yang buruk.


Shinta yang tidak sengaja melihat bayangan dari luar kamar anak nya pun, melirik ke arah Raisa yang sedang bersembunyi.


Shinta memanggil Raisa untuk masuk ke dalam kamar, dengan takut Raisa tak bergeming. Shinta pun menyusul Raisa.


Ia tersenyum dan mengatakan jika tidak perlu takut dengan diri nya.


"Sayang, kemari nak! Jangan takut, jika anak-anak ku menganggap ibu mu sebagai mami nya. Berati, kau juga anak ku bukan? Aku juga mama mu bukan? Kenapa takut? Tidak ada anak yang takut dengan orang tua nya sendiri loh."


Raisa yang awal nya menunduk, mulai berani menatap Shinta. Shinta dengan ramah tersenyum pada Raisa.


"Masuk adik! Kenapa di luar aja? Mama Shinta baik kok, kan kakak sudah mengatakan nya dari awal. Jangan takut."


Raisa pun melihat mata kakak nya lalu mengangguk, ia pun dengan langkah perlahan masuk ke dalam kamar kakak nya.


"Anggap lah mama Shinta seperti mami Caca. Mereka adalah ibu kita, jadi kita tidak perlu takut."


"Iya kak, Raisa nggak takut kok Raisa hanya segan dan merasa tidak enak aja harus mengganggu kakak dan mama shinta."


"Sayang, jangan merasa seperti itu. Mama tidak merasa terganggu dengan ada nya Raisa. Mama malah senang jika Raisa pun di sini bersama kami. Keluarga akan semakin lengkap dengan ada nya kamu."


Raisa tersenyum, ia pun berani memeluk Shinta dengan erat, dengan senang hati Shinta membalas pelukan dari Raisa.


Raisa pun merasakan apa yang Syifa Raisa, berada di pelukan mama Shinta terasa sangat nyaman.


Syifa pun begitu bahagia karena adik nya juga dekat dengan ibu sambung nya itu. Syifa tahu, walau terkadang sifat mama nya menyebalkan tapi Shinta ibu yang terbaik di seluruh duni ini.

__ADS_1


Sifat keibuan yang di miliki oleh Syifa juga turun dari shinta.


__ADS_2