
Krystal dan Raffa kembali ke rumah mereka, ke dua nya pun memutuskan untuk singgah ke rumah orang tua Krystal
Sesampai di rumah ke dua orang tua Krystal, ke dua nya di sambut dengan hangat.
Queen memeluk adik nya itu, sengaja ia tidak mau menatap mata Raffa.
Queen memutuskan untuk melupakan segala nya tentang Raffa walau sebenarnya itu sangat sulit untuk diri nya.
"Bagaimana kabar Shinta? Apakah sudah membaik?" tanya Queen kepada adik nya, Krystal mengangguk mengatakan jika Shinta sudah lebih baik.
"Sudah kak, namun terkadang kak Shinta sering mengingat anak nya. Wajar saja, seorang ibu tidak akan sanggup kehilangan anak nya. Jika aku di posisi Kak Shinta aku akan gila."
Hust!
Krystal di tegur oleh mama dan papa nya, karena diri nya juga sedang mengandung anak.
Mereka tidak mau ucapan anak mereka menjadi kenyataan, Krystal menyengir kepada ke dua orang tua nya.
Queen mempersilahkan adik dan adik ipar nya untuk duduk.
Krystal duduk di bantu oleh Raffa. Perut nya yang mulai membesar membuat nya kesulitan untuk bergerak.
Krystal mengeluh kepada keluarga nya, sakit sekali terkadang untuk nya bergerak.
"Begitu lah nikmat nya merasakan kehamilan, nak." ujar sang mama dengan lembut.
Semenjak penyelamatan ke dua orang tua nya, dan mengetahui semua kebenaran. Mama Krystal sekarang lebih baik kepadanya.
"Ma, Krystal ingin sekali pergi liburan."
"Enggak boleh, sayang. Kandungan mu sudah membesar. Kasian anak kamu."
Krystal memonyongkan mulut nya ke depan, namun ia tidak membantah karena bagi nya perintah kedua orang tua nya adalah larangan yang tidak akan ia langgar.
Queen mengelus rambut adik nya, ia mengatakan kepada Krystal agar jangan terlalu banyak bergerak dan begitu lasak.
"Dik, kamu jangan terlalu banyak bergerak. Kasian anak yang ada di dalam perut kamu."
Queen mungkin tidak beruntung, pernikahan nya dengan Raffa memang tidak di karuniai seorang anak.
Namun, ia juga bersyukur karena mereka tidak harus memiliki ikatan yang lebih jauh. Jika Queen memiliki anak dari Raffa
Hubungan keluarga mereka pasti akan rumit, ini semua memang kesalahan nya.
Ia tidak pernah bertanya kepada Raffa siapa wanita yang Raffa cinta. Dan Queen menyangka jika Raffa mencintai nya, ia terlalu memaksakan kehendak nya dulu
Queen menepis pikiran nya sendiri, ia tidak mau terus berlarut dengan masa lalu..
Yang terpenting saat ini, adik nya Krystal sudah hidup bahagia dengan Raffa
Raffa mengajak Krystal untuk kembali pulang ke rumah, ke dua orang tua Krystal menyuruh mereka untuk menginap namun Raffa menolak dengan halus.
Ia masih menjaga perasaan Queen, Raffa tidak mau kehadiran nya akan membuat Queen merasa sedih karena Raffa juga tau, Queen wanita yang baik.
Raffa beralasan akan pergi ke rumah ke dua orang tua nya. Mertua nya pun mengerti, ke dua nya segera berpamitan untuk pulang.
Di dalam mobil Krystal bertanya, tujuan Raffa untuk pulang. Ia tau sebenarnya suami nya itu menghindar dari kakak nya Queen.
"Krys, Sayang. Bagaimana pun aku pernah menikah dengan Queen, walau aku tidak mencintai nya dan cinta ku hanya kepada mu. Namun, aku menghargai dan menghormati nya sebagai istri ku dulu. Sekarang, dia adalah kakak ipar ku, aku tidak tau bagaimana perasaan nya sekarang. Namun, kami memiliki cerita di masa lalu, aku tidak mau. Hubungan yang sudah membaik ini berubah menjadi kacau, aku harap kamu bisa memahami nya."
Krystal mengangguk, ia mengerti apa yang suami nya katakan. Memang benar, kakak nya masih mencintai Raffa dan Krystal pun mengetahui itu.
"Rumit sekali hubungan keluarga kita, padahal aku hanya mau kita kumpul tanpa ada nya perasaan yang rumit." ujar Krystal dengan nada yang berat.
Jika bukan karena kakak nya Queen yang menyakinkan Krystal untuk menikah dengan Raffa. Mungkin, wanita itu tidak akan menikah dengan Raffa walau ia sangat mencintai nya.
Krystal sangat menghargai perasaan kakak nya Queen. .
Raffa menoleh, menggenggam tangan istri nya. Mengatakan jika semua nya akan baik-baik saja.
"Queen juga sudah merelakan hubungan kita sayang, jangan merasa bersalah."
Raffa mencoba menghibur istri nya, namun Krystal mengatakan mau sampai kapan mereka begini.
"Mau sampai kapan kita begini? Mau sampai kapan juga kamu menghindar saat pertemuan keluarga fa?" tanya Krystal dengan mata yang berkaca-kaca.
Apalagi, setiap ada acara keluarga. Krystal dan Raffa memilih untuk tidak hadir, karena banyak mulut yang membicarakan hal buruk tentang Krystal tanpa tau kenyataan nya.
Tak jarang, Krystal di tuduh sebagai perusak rumah tangga kakak nya sendiri.
Queen dan mama nya selalu membela Krystal, namun mereka juga tidak mampu menutup mulut orang-orang yang berbicara buruk tentang Krystal.
****
Queen memandang kepergian adik nya, mama nya mendekat memegang bahu Queen.
"Ma, Queen ingin kembali ke India."
Mama Queen melarang anak nya, mama nya ingin Queen menerima kenyataan tanpa harus lari.
"Sayang, mama mau kamu menerima kenyataan tanpa harus lari dari kenyataan ini. Sekarang, adik kamu udah bahagia nak. Kamu harus merelakan nya."
Queen menangis ia juga mengatakan jika diri nya sudah ikhlas dengan pernikahan Krystal dengan Raffa. Namun, Queen juga tidak munafik.
Ia sulit sekali melupakan Raffa, apalagi Raffa adalah cinta pertama nya.
Queen juga tidak tau harus berbagi perasaan ini kepada siapa, tidak mungkin ia berbagi kepada Revan..Karena Revan juga sudah memiliki keluarga, Queen tidak ingin Shinta salah paham.
"Kamu pasti bisa nak." ujar Mama Queen yang memeluk anak nya, kini mama nya harus melihat dan menyaksikan sejarah lama yang terulang kembali.
Namun kasus Queen jauh berbeda, karena sebenarnya Krystal lah yang banyak berkorban untuk kebahagiaan keluarga mereka dan sekarang Krystal berhak untuk bahagia.
********
Setelah menyerahkan jennika ke kantor polisi, Revan pulang ke rumah dengan perasaan marah. Ia mengutuk diri nya karena sudah membiarkan wanita racun masuk ke dalam rumah mereka.
Revan memukul dinding dengan begitu keras hingga membuat tangan nya berdarah.
Tommy dan Gunawan menenangkan Revan, sementara Shinta masih menangis di pelukan Lily.
"Apalagi yang kamu tangisi? Bukan kah kita sudah menemukan pelaku nya?" tanya Revan membentak Shinta..Shinta terdiam, ia tidak tau harus apa.
Revan kesal, mengapa Shinta masih menangisi seorang pengkhianat dan pembunuh.
Hati kecil Shinta melawan, memberontak. Ia yakin jika bukan jennika yang melakukan nya, namun bukti mengarah kepada jennika.
Revan mendekati mama dan juga istri nya. Ia memegang ke dua tangan Shinta dengan lembut, Revan tidak bisa melihat istri nya terus saja menderita seperti ini.
Ia pun meminta kepada Shinta untuk kuat dan kembali bangkit seperti dulu.
"Sayang, kita semua membutuhkan kamu. Mama, papa, aku dan anak-anak butuh kamu."
__ADS_1
Shinta pun mengangguk, menatap suami nya dengan tatapan sendu.
Revan begitu hancur melihat keadaan sang istri, dia hanya mau Shinta memikirkan kesehatan nya.
"Pelaku nya sudah ketemu, Kita akan membawa anak-anak pulang." ujar Revan kepada sang istri.
Shinta meminta kepada Revan untuk tidak menggunakan pengasuh lagi, ia akan menjaga anak-anak namun Revan menolak.
"Tidak! Kamu masih banyak harus istirahat, biarkan pengasuh menjaga anak-anak dan kita akan memantau mereka."
Shinta pun tidak mau lagi melawan, ia menerima semua keputusan suami nya.
Revan menganggap, jika pelaku nya sudah ketangkap dan tidak ada lagi yang harus di khawatir kan.
Revan mencoba menghubungi Arvan ia meminta tolong kepada Arvan untuk mengantarkan anak-anak nya pulang ke rumah.
Ke dua nya pun segera mengakhiri panggilan nya.
"Apa yang Arvan katakan?" tanya Shinta.
Revan mengatakan jika Arvan dan Caca sudah merencanakan liburan untuk anak-anak..
Kemungkinan, pekan depan mereka baru akan kembali
"Kenapa lama sekali?" tanya Shinta kembali, Revan pun mengatakan jika masalah yang datang membuat anak-anak sangat sedih, berlibur adalah solusi yang baik untuk anak-anak mereka.
"Biarkan saja mereka berlibur, biar mereka pun melupakan segala kesedihan nya." ujar Revan.
Lily pun membenarkan ucapan anak nya, mungkin cucu-cucu nya membutuhkan liburan.
Shinta merindukan anak-anak nya yang lain. Mengapa semua nya seperti ini menurut nya, ia pun bangkit bergegas ke kamar.
"Ma, Pa. Shinta mau ke kamar dulu,"
Ke dua mertua nya pun mengangguk, Shinta juga memeluk ayah nya untuk berpamitan ke kamar.
Gunawan meminta maaf kepada anak nya, karena ia tidak selalu ada untuk anak nya. Shinta mengatakan jika itu bukan kesalahan siapa-siapa. Semua sudah terjadi, dan mereka harus melanjutkan hidup mereka semua
Shinta menaiki anak tangga satu persatu, mengamati rumah nya. Ia pun masih tidak percaya jika sahabat nya yang melakukan itu.
Shinta ingin menyelidiki semua nya sendiri, jika benar memang jennika pelaku nya. Ia akan menemui jennika dan memberi pelajaran sendiri kepada sahabat nya.
Namun, jika ini bukan kesalahan jennika. Maka, ia pun harus membebaskan sahabat nya yang tidak bersalah itu.
Shinta masuk ke dalam kamar jennika, mencari jejak di setiap sudut kamar.
Namun, Shinta tidak menemukan petunjuk apapun.
"Jika memang jennika pelaku nya, tidak mungkin ia menyimpan barang bukti di kamar. Pasti ia akan memusnahkan nya tanpa meninggalkan jejak." gumam nya.
Shinta melirik ke atas kamar, ia terkejut ternyata di kamar jennika ada cctv penyadap.
Sementara, ia tidak pernah memasang cctv penyadap di kamar ini..
"Mengapa ada di sini?" Shinta semakin yakin, jika bukan jennika pelaku nya.
Ia juga ingat, selama jennika tinggal di rumah nya Shinta selalu mengunci jennika dari luar saat Shinta meninggalkan kamar jennika.
Tidak mungkin, jennika bisa keluar jika kamar nya saja di kunci dari luar.
Logika Shinta mulai main, ia tau jika kebenaran harus segera terpecahkan. Namun, selama pelaku nya belum tertangkap Shinta harus memainkan drama.
Ia harus berpura-pura seperti orang yang tidak waras, setelah kepergian anak bungsu nya
*Jika kau ingin bermain, baik lah akan aku tunjukkan..
Aku juga akan membuktikan jika sahabat ku tidak bersalah, dia hanya korban di sini*!
Namun, Shinta harus tetap diam untuk menemukan bukti-bukti yang ada. Shinta keluar dari kamar jennika.
Ia kaget, karena pelayan berdiri di luar kamar jennika.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Shinta kepala pelayan nya.
"Maaf nyonya, Tuan meminta saya untuk membersihkan kamar ini."
"Oh, silahkan!" Shinta pun berlalu pergi meninggalkan pelayan itu untuk membersihkan kamar jennika.
Shinta masuk ke dalam kamar baby Al. Begitu banyak kenangan anak nya di kamar ini, Shinta sedikit pilu namun ia harus kuat agar pelaku pembunuh anak nya segera tertangkap.
Tidak akan aman untuk anak-anak nya yang lain di rumah jika pelaku itu masih berkeliaran di sini.
Perlahan ia masuk ke dalam kamar anak nya, masih teringat kenangan saat terakhir kali Shinta menemani anak nya tertidur begitu pulas dan menggemaskan.
Shinta terdiam, ia masih bersama anak nya sebelum jennika datang ke rumah ini.
Lalu, ia dan Revan memutuskan untuk pergi ke toko ice cream, setelah pulang mereka bertemu dengan jennika.
Shinta semakin yakin, memang bukan jennika lah pelaku nya. Ia hanya di jadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan seseorang.
Shinta mencari botol susu anak nya, namun tidak ada. Pelaku itu sudah membuang nya dengan baik.
Ia memeriksa di sudut kamar anak nya. Namun memang sudah tidak ada apapun. Ia menyerah, meminta bantuan kepada Tuhan untuk menunjukan kebenaran.
Tuhan tolong berikan petunjuk untuk ku, aku seorang ibu yang memohon kepada mu Tuhan. Tolong tunjukkan jalan agar kami mengetahui siapa pelaku nya, jangan biarkan umat mu yang tidak berdosa menanggung hal yang tidak ia perbuat. Kasihan lah kepada ku, kepada baby ku dan kepada wanita yang sudah menghabiskan hidup nya di siksa dan diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Tuhan, jangan berikan ia penderitaan lagi.
*Shinta menangis, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Shinta pun duduk di tepi tempat tidur, setelah berdoa, dan menangis. Shinta memeluk tempat yang bisa anak nya tiduri.
Setelah puas berbaring dan mengelus tempat yang biasa anak nya tiduri. Shinta beranjak ingin pergi*.
Namun, baju nya tidak sengaja tersangkut oleh suatu benda. Shinta melihat dan mengambil nya.. Satu anting wanita yang tidak ada pasangan nya.
"Anting siapa ini?" Shinta tau di keluarga nya tidak ada yang memakai anting seperti itu, bahkan jennika juga tidak memakai anting yang model seperti itu.
"Apa mungkin ini anting pelaku itu?" ujar nya. Shinta segera menyimpan nya di saku celana, ia akan mencari siapa pemilik anting itu.
Ia yakin, barang itu pemilik pembunuh yang sudah meracuni anak nya sehingga menyebab kan baby Al meninggal..
Shinta juga berdoa dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Tuhan nya karena sudah memberikan satu petunjuk, ia juga meminta kepada Tuhan agar mempermudah urusan nya dalam mengetahui kebenaran itu.
Shinta percaya, kebaikan akan selalu menang. Dan kejahatan akan terungkap cepat atau lambat.
********
Queen memeluk mama nya dengan erat, ia meminta maaf kepada mama nya karena sudah membuat hubungan yang rumit seperti ini.
Mama nya tidak menyalahkan Queen atau pun Krystal. Ini semua sudah jalan yang sudah Tuhan berikan.
Krsytal memeluk suaminya, ia pun tidak tau harus bagaimana. Ke dua nya diam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Raffa terdiam bukan karena ia mencintai Queen. Namun, ia merasa tidak enak. Karena diri nya, Krystal dan Queen menjadi seperti ini.
Memang rasa sayang ke dua nya tidak berkurang namun tanpa sadar Krystal atau pun Queen saling menyakiti satu sama lain.
Raffa membaw krsytal ke rumah nya..Adik Raffa juga merindukan krystal.
Raffa hanya ingin melupakan sejenak masalah yang ada di antara mereka.
Krystal di sambut hangat oleh keluarga Raffa. Bahkan adik nya Raffa begitu sangat manja dengan Krystal.
Namun, ke dua orang tua Raffa lebih menyukai Queen.
Mereka seringkali mengucapkan kata yang tidak baik kepada Krystal.
Jika ada Raffa, mereka berpura-pura menyayangi Krystal namun jika Raffa tidak ada. Mereka selalu memberikan sindiran-sindiran pedas kepada Krystal.
Namun wanita itu tidak memperdulikan nya, bukan ia tidak mempunyai rasa malu. Namun, Krystal menyayangi dan mencintai keluarga Raffa dengan tulus.
Ia menerima segala perilaku keluarga Raffa mau pun baik atau pun tidak baik.
Queen memang lebih jauh berbakat dari Krystal. Bahkan, Queen sangat cantik seperti boneka.
"Masuk kak!" ajak adik Raffa kepada Krystal. Krystal pun meniruti adik ipar nya itu.
"Kak, aku udah masakin masakan yang enak buat kakak."
Walau adik Raffa itu laki-laki namun ia sangat pintar memasak.
Krystal tersenyum, di rumah Raffa hanya adik nya yang menerima Krystal dengan baik.
Ke dua orang tua Raffa tidak mengetahui kebaikan dan ketulusan krsytal. Mereka hanya menganggap jika Krystal wanita jahat yang merebut Raffa dari kakak nya sendiri.
Raffa mengajak Krystal untuk makan, Krystal mengajak ke dua orang tua Raffa. Namun, ke dua mertua nya itu enggan makan bersama nya.
Krystal tidak banyak mengatakan apapun.
"Kak, ayo kita makan. Biarkan aja mami dan papi. Mereka sudah makan tadi," bohong Gilang, ia tidak mau kakak ipar nya merasa sedih.
"Terimakasih, adik ipar."
Krystal, Gilang dan juga Raffa duduk di meja makan. Mereka pun menikmati masakan yang sudah Gilang masak.
"Sungguh lezat sekali masakan mu adik ipar." puji Krystal. Mungkin, makanan yang ia masak pun tidak selezat ini.
Gilang masih kuliah semester dua, namun dari kecil ia memang sudah hobby memasak.
Raffa juga mengatakan jika Gilang sering menang juara memasak.
"Wah, hebat sekali. Kakak harus banyak-banyak belajar dari kamu."
"Aman kak, nanti Gilang ajarin kakak dan keponakan Gilang masak."
Suara bel rumah Raffa berbunyi, mungkin tamu berkunjung ke rumah ke dua orang tua Raffa.
Krystal ingin membuka pintu, namun di larang oleh Raffa. Ia tidak mau isteri nya terlalu banyak bergerak atau berjalan.
"Sayang, biar aku saja yang membuka pintu nya."
Raffa pun beranjak meninggalkan meja makan..Ia pergi untuk membuka kan pintu nya.
"Saras." tegur Raffa dengan Ramah, Saras adalah sepupu nya..Mereka juga sebaya.
Gilang yang mengintip dari meja makan mendengus kesal mengetahui siapa yang datang.
"Nenek lampir datang." kesal nya
Krystal menegur adik ipar nya itu, siapapun yang berkunjung datang..Gilang harus menyambut nya dengan ramah, jangan mendengus seakan tidak menyukai siapa yang datang.
"Hust! Enggak boleh gitu Gilang, memang nya siapa yang datang?" tanya Krystal.
"Saras, kakak sepupu Gilang. Tapi kak, dia itu orang nya rese. Omongan nya itu loh, buat malas." Gilang cemberut, Raffa dan Saras pun menuju ruang makan..
Karena ke dua orang tua Raffa berada di kamar, jadi belum mengetahui kedatangan Saras.
"Hey, Queen!" panggil Saras dengan sengaja, dia tau jika itu bukan Queen.
"Krystal nama nya bukan Queen!" ketus Gilang, ia tau jika kakak sepupu nya itu sengaja membuat keributan.
"Oh iya krystal, maafkan aku." ujar Saras
Krystal tidak mempermasalahkan itu, ia pun mempersilahkan Saras untuk duduk.
Saras mengambil tempat di samping Raffa, memang keluarga Raffa lebih banyak menyukai dan menyayangi Queen. Jadi, wajar saja jika mereka merasa tidak terima jika yang menjadi istri Raffa sekarang adalah adik nya Queen sendiri.
"Kamu ingat enggak, dulu pas aku Dateng. Queen selalu memasak kesukaan aku, bahkan kita akan pergi shopping." ujar Saras yang menatap sinis Krystal.
Hati Krystal sedikit sakit, namun ia juga tidak marah..Karena memang kakak nya juga pernah menjadi bagian dari keluarga ini.
"Queen udah jadi masa lalu aku. Ngapain kamu ingat-ingat, mending sekarang kamu terbiasa sama istri baru aku. Enggak kalah asyik dan baik!"
Raffa sebenarnya juga tidak mau membanding-bandingkan Queen dengan Krystal. Karena bagaimana pun Queen adalah kakak nya Krystal.
Namun, ia juga tidak bisa melihat istri nya selalu di perlakukan seperti itu.
Krystal bukan seorang pelakor, ia juga tidak pernah merebut Raffa dari kakak nya Queen..
"Kakak lagian datang ngapain sih cuman buat keributan aja!" bentak Gilang dengan geram. Gilang yakin, jika ini pasti suruhan dari mami nya.
"Diem deh bocil!"
"Biarin bocil, daripada udah tua tapi kelakuan masih seperti anak TK!" sentil Gilang kembali, Saras merasa terhina dengan adik sepupu nya itu.
"Raffa, kamu liat itu adik mu kurang ajar banget sama kakak nya."
"Bodo amat, siapa suruh membanding-bandingkan kakak ipar ku, lemes banget mulut nya kayak enggak di sekolahin."
"Gilang, sudah! Jangan membuat keributan di depan makanan, lagipula kakak enggak apa-apa kok." ujar Krystal, ia tidak mau kehadiran nya justru membuat keluarga suami nya menjadi ribut.
"Saras, kapan datang sayang?" tanya mami Raffa yang tiba-tiba menuju ruang makan..
Gilang sudah menebak, ini pasti ulah dari mami nya.
"Mami juga udah tau kali, basi banget obrolan nya." Gilang merasa kesal, mengapa keluarga nya begitu fake sekali.
Mami Raffa menegur anak bungsu nya itu, dan meminta Gilang untuk masuk kamar.
Namun, Gilang menolak.
"Enggak mau Gilang! Gilang kan masih makan, kenapa enggak mami aja yang ke kamar sama kak Saras atau ke ruang keluarga. Ngapain di meja makan? Enggak makan juga!"
"Gilang." tegur Krystal kembali kepada adik ipar nya, dia tidak mau melihat Gilang menjadi anak yang kurang ajar.
__ADS_1
"Kak yang aku katakan itukan bener..Lagipula, aturan keluarga ini..Kalau enggak makan, ya jangan di meja makan, Iyakan bang?"
Raffa pun setuju dengan ucapan adik nya karena memang itu aturan yang sudah di buat oleh mama nya dari mereka masih kecil.