Ibu Sambung

Ibu Sambung
Proses Adopsi Raisa


__ADS_3

Caca merasa bahagia, suami nya selalu mendukung dan menyayangi dia dan juga Syifa. Walau Syifa bukan puteri kandung nya dan tidak tinggal bersama mereka. Namun, Arvan selalu memperdulikan keselamatan Syifa.


Caca berfikir sejenak, akan kah ia harus kembali ke panti itu lagi, untuk mencari anak nya lagi. Arvan menegur isteri nya. Caca terdiam, ia bingung harus melakukan apa.


"Aku harus pergi." ujar Arvan. Caca menanyakan kemana suami nya akan pergi. Arvan memberitahu ia akan pergi untuk mengurus keperluan mereka untuk meng-apdosi Raisa. Caca mengangguk, Arvan memeluk lalu mengecup kening Caca dengan penuh cinta dan kasih sayang sebelum pergi menuju asrama untuk menanyakan alamat panti asuhan yang sudah membesarkan Raisa.


**********************


Setelah selesai berbicara dengan Caca, Shinta merasa lebih tenang. Dia yakin, jika Caca dan Arvan akan mengambil keputusan yang terbaik untuk mereka. Lagipula, Caca juga hanya memiliki baby Khanza. Mengurus satu anak lagi tidak akan masalah untuk mereka. Shinta juga berharap kehadiran Raisa di rumah itu akan membuat Caca melupakan masa lalu nya yang kelam.


"Astaga, Sayang. Aku tidak salah lihat?" ujar Revan yang berjalan mendekati isteri nya, alis nya naik satu menatap tidak percaya penampilan sang isteri yang begitu kucel dan berantakan. Shinta memandangi diri nya sendiri di depan cermin, dia pun tak percaya menatap tubuhnya yang begitu berantakan.


"Astaga,sayang. Aku terlalu lelah menjaga anak-anak sehingga tidak bisa mengurus diriku sendiri, ya mau bagaimana lagi? hari ini pengasuh kita sedang sakit dan aku tidak tega untuk menyuruhnya menjaga anak-anak." Revan mendekati sang istri lalu ia memeluknya.


"Tidak apa-apa sayang, bagaimanapun keadaan kamu aku tetap mencintaimu dan kau begini juga karena mengurus anak-anak kita. Aku justru bangga memiliki istri sebaik dan secantik kamu, selain kamu cantik kamu juga mampu mengurus anak-anak kita dengan sangat baik dan dan tidak ada ada istri sebaik kamu aku mencintaimu." Shinta pun merasa begitu terharu mendengar ucapan suaminya yang begitu manis, iya membalas pelukan suaminya dengan begitu erat.


"aku juga mencintaimu,Sayang. Dan bukan hanya dirimu saja, aku juga mencintai anak-anak kita dan seluruh keluarga kita. Aku berharap jika hubungan kita akan terus seperti ini sampai maut memisahkan kita."


Pasangan suami istri itu pun saling memeluk satu sama lain, Revan yang begitu lelah bekerja melihat istrinya lelah itu pun menjadi hilang begitu juga dengan sebaliknya, lelah yang dirasakan oleh Shinta seketika hilang. Keduanya saling tenggelam dalam suasana tersebut, dan hanya pasangan suami istri itulah yang tahu bagaimana mereka menghabiskan waktu siang ini berduaan.


Di sisi lain, Arvan yang sudah sampai di panti asuhan masuk ke dalam panti, ingin bertemu dengan yayasan panti. Arvan di persilahkan masuk ke ruangan yayasan panti. Ia pun, mengatakan hal yang ingin. Diri nya ingin meng-apdosi Raisa. Sebelum meng-apdosi anak itu, Arvan ingin tahu latar belakang keluarga mereka.

__ADS_1


"Sejujur nya, kami tidak tahu asal-usul keluarga Raisa. Karena, anak itu di letakkan di depan pintu panti ini. Kami mendengar tangisan nya, saat itu seperti nya umur Raisa masih satu hari. Kami juga tidak tahu, mengapa ada orang tua yang tega membuang anak nya sendiri. Dan iya, setelah lima tahun berlalu dari peristiwa itu. Ibu kandung Raisa datang ke sini, mencari keberadaan anak nya."


"Lalu? Jika ibu nya sudah datang, kenapa dia masih di panti?" tanya Arvan yang memotong pembicaraan yayasan itu.


"Sewaktu umur Raisa empat tahun, dia di adopsi oleh sepasang suami isteri. Namun, nasib Raisa sangat buruk karena dia di jadikan pengemis oleh ke dua orang tua angkat nya. Kami berhasil menemukan nya dan membawa nya kemari di saat dia berusia enam tahun. Jadi, saat ibu kandung nya datang. Kami tidak tahu, di mana keberadaan Raisa. Alamat yang di berikan oleh orang tua angkat nya juga palsu. Anak itu mendapatkan perlakuan yang sangat tidak baik, Tuhan baik mempertemukan kami lagi. Jika tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepada anak itu."


Arvan merasa terkejut mendengar penderitaan yang di alami oleh Raisa, walau ia tidak tahu siapa Raisa namun hati nya terasa sangat hancur dan sakit.


"Kami, juga tidak bisa memberikan Raisa sembarangan. Bukan hanya Raisa saja, tetapi anak yang lain nya juga. Kami begitu sangat takut jika hal itu terulang lagi."


"Saya mengerti apa yang ada rasakan, namun percayalah. Saya dan isteri saya akan merawat Raisa dengan sangat baik. Kami tidak akan menyia-nyiakan diri nya."


"Baik lah, kami akan melihat observasi ke rumah kalian. Silahkan berikan data-data, dan alamat lengkap kalian. Nanti, orang kami akan melihat rumah kalian. Dan satu lagi, sebelum kami melakukan observasi silahkan membawa isteri anda dan juga berkas-berkas pernikahan kalian."


"Jika begitu, silahkan hubungi isteri anda dan bawa ke sini. Saya tidak ingin jika kami salah pilih orang tua lagi untuk meng-apdosi anak-anak panti."


"Baik, saya akan menghubungi isteri saya dan meminta nya untuk ke sini."


Kepala yayasan itu pun mengangguk, Arvan segera menghubungi Caca untuk menyuruh bersiap-siap


Panggilan Terhubung

__ADS_1


Sayang, segera lah bersiap-siap. Kau harus datang ke panti asuhan Raisa, mereka ingin melihat orang tua yang akan meng-apdosi anak-anak panti sebelum melakukan observasi, sebentar lagi supir pribadi kita akan menjemput mu~Arvan


Baik lah, Sayang. Aku akan segera bersiap-siap. Apakah aku harus membawa baby Khanza? ~ Caca


Sebaik nya tidak, aku takut kita akan lama. Semoga, hari ini Raisa bisa kita bawa pulang ke rumah ~Arvan


Oke, aku akan bersiap. See you dear! ~Arvan


See you, Baby!


Panggilan terputus.


Arvan segera memerintahkan supir pribadi nya untuk menjemput sang isteri. Ia juga menyuruh supir untuk meminta pelayan mereka menyiapkan rumah. Karena orang panti asuhan akan datang untuk melihat keadaan rumah.


Caca yang baru menerima panggilan dari sang suami pun langsung bersiap-siap, setelah itu. Mengompres ASI nya untuk stok saat diri nya tidak di rumah lalu menemui baby Khanza terlebih dahulu untuk memberikan ASI secara langsung. Caca menitipkan Khanza kepada sang baby sister.


"Mbak, tolong jagain baby Khanza ya? Saya mau keluar sebentar."


"Baik, Nona."


"Dan jangan lupa, untuk berikan baby Khanza ASI tepat waktu ya? Saya sudah pompa ASI saya, sudah di letakkan di dalam kulkas juga, sebelum di berikan tolong kamu panas kan terlebih dahulu ya."

__ADS_1


"Baik, Nona."


__ADS_2