
Sesampai di kantin, Shinta dan Revan memesan makanan yang ingin mereka makan. Shinta banyak sekali memesan makanan karena sebelum mereka memesan Revan sudah dulu mengancamnya. Jika ia hanya makan sedikit dipastikan ia takkan bisa bertemu dengan Syifa lagi.
"Dasar lelaki menyebalkan ini, selalu aja memakai senjata Syifa kan aku gak bisa berkutik begini ah" Kesalnya dalam hati. Makanan sudah datang, Shinta dan Revan memakan makanan mereka dengan lahap. Sebenarnya, Shinta kehilangan selera untuk makan namun ia harus menghabiskan makanannya daripada tak bisa berjumpa dengan Syifa pikirnya. Revan melihat Shinta yang melahap makannya dengan terpaksa, ia tersenyum setidaknya ancaman memakai nama Syifa sangat ampuh agar Shinta tak bersedih dan mau makan. Sejam berlalu, Revan membayar makanan itu ke kasir mereka pergi meninggalkan kantin dan berjalan ke ruangan ICU.
"Tuan, Nyonya" panggil salah satu perawat.
"Kenapa suster?" Tanya Revan dan Shinta secara bersamaan.
"Detak jantung pasien melemah kembali, dan Dokter mencari kalian dari tadi" Revan dan Shinta berlari dengan kencang menuju ruangan ICU. Mereka sangat panik, mereka masuk kedalam ruangan ICU namun tak ada Syifa didalam.
"Kemana anakku" Tanya revan. Ia keluar dari ruangan ICU dan ingin bertanya pada perawat.
"Maaf Tuan, nyonya tadi ada anak perempuan yang di bawa keruangan mayat. Dikarena kan kecelakaan mungkin itu anak kalian" Ucap salah satu perawat yang tak mengenal Shinta dan revan.
__ADS_1
tidak mungkin! ini tidak mungkin! " Teriak Revan, Mereka menangis histeris, Shinta menangis senggugukkan. Mereka berlari ke ruangan mayat, ada sosok anak kecil yang tubuhnya di tutupi kain putih. Mereka dua histeris dan menangis memeluk mayat gadis tersebut.
"Tuan, Nyonya. Mengapa kalian disini" Tanya perawat yang mengenal mereka.
"Karena anakku disini!" Bentak nya.
"Maaf Tuan, Nyonya tapi ini bukan Syifa" Revan dan Shinta serentak melepaskan pelukkan itu dan menatap perawat .
"Lalu dimana anakku" Tanya revan
"Baiklah, terimakasih" Revan menghapus air matanya ia segera berlari menuju ruangan di mana Puterinya berada. Ia membuka ruangan itu dan di dalamnya sudah ada Syifa yang sedang bermain dengan seorang wanita orang itu adalah Caca. Revan masuk kedalam dengan wajah yang sangat tidak ramah terhadap Caca. Shinta mengikuti dari belakang
" Dokter cantik" Heboh Syifa, ia sangat senang melihat kedatangan Shinta. Shinta mendekati Syifa dan langsung memeluknya dengan hangat.
__ADS_1
"Papa, Tante ini temen papa. dia menjenguk Syifa papa" Ucap Syifa menatap Caca. Ia tidak tahu bahwa wanita didepannya adaalah ibu kandungnya yang sudah tega meninggalkan ia sedari bayi.
"Sayang kamu main dulu sama dokter Shinta ya, papa mau bicara dengan Tante Caca dulu" Ucap Revan mencium pipi anaknya.
"Iya papa" ucapnya dengan gemas. Revan menarik paksa tangan Caca dengan kasar, ia membawa Caca menjauh dari rumah sakit secara paksa. Sesampai di taman rumah sakit ia melepaskan tangan Caca dengan kasar.
"Awww... Kenapa kau kasar sekali!" Ucap Caca
"Sudah ku katakan jangan pernah mengganggu anakku apakau tidak paham juga!" Bentak Revan.
"Tapi dia juga anakku!" Bentak Caca tak mau kalahnya
"Apa! anakmu? cih! Dia bukan anakmu"
__ADS_1
"Apa kau lupa kau meninggalkan nya disaat dia berusia belum 1 bulan! bahkan kau tak pantas di panggil sebagai ibu! " Tegas Revan mengingatkan kepada Caca bahwa Caca bukan ibu yang baik