Ibu Sambung

Ibu Sambung
Takut


__ADS_3

Revan menatap isteri nya Dan bertanya apakah melihat anak itu Shinta Kembali mengingat masa lalu nya dengan mantan kekasih nya yang telah tiada.


Shinta yang mendengar pertanyaan dari suami nya pun tertawa geli. "Kamu cemburu dengan nya? Dia masih sangat kecil dan dia adikku."


Revan memalingkan wajah nya, ia bersikap seperti anak-anak apalagi wajah anak itu sangat mirip dengan Rey. Revan berhak untuk merasa cemburu.


"Orang yang telah kau cemburui itu adalah adikku dan masa lalu ku telah pergi. Kau cemburu dengan orang yang telah tiada?" Revan menggelengkan kepala nya, sungguh Revan memang sudah berubah menjadi pria yang sangat bucin.


Hanya karena hal itu dia merasa cemburu. Shinta memang sempat mengingat tentang Rayhan tapi apa guna nya pria itu telah tiada. Dan jika Reyhan masih ada. Itu hanya lah kisah masa lalu yang tidak perlu di bahas lagi.


Revan menatap isteri nya dengan tatapan teduh. "Sudah jangan seperti itu, itu hanya lah masa lalu ku. Kau dan anak-anak adalah masa depan ku dan tujuan ku sekarang dan selama nya. Jangan bersedih. Oke?"


Revan mengangguk, memeluk Shinta dengan begitu manja. "Suami ku yang manja." Shinta membelai rambut suami nya denga perlahan. Sungguh ia merasa sangat gemas dengan tingkah suami nya itu.


"Udah dong, sayang. Jangan cemberut terus nanti jelek loh?"


"Tidak, aku akan tampan bagaimana pun keadaan nya"


"Iya deh suami ku yang tampan, agar menjadi tampan jangan cemberut seperti itu dong. Mana senyum nya."


Revan tersenyum senang melihat istrinya nya yang begitu berusaha membuat nya tertawa. Revan memeluk Shinta dan membisik kan kata manis pada Shinta.


"Aku mencintai mu." Shinta tersipu malu, ia pun membalas ucapan suami nya.. "Aku juga mencintai mu." ke dua nya saling pandang satu sama lain begitu dalam nya pandangan mereka.


Perlahan Revan mengecup kening Shinta lalu bibir nya. Kecupan berulang-ulang di bibir, lalu menjadi ******* yang begitu lembut. Shinta mengikuti permainan yang di berikan oleh suami nya.


Ke dua nya pun masih beradu dalam *******-******* lembut di bibir..


*********


Syifa yang penasaran dengan om baru mereka pun mengajak Raisa untuk melihat Oom baru mereka.


"Kak lucu nggak sih, dia itu lebih muda dari kita namun kita memanggil nya om" tanya Raisa. Syifa pun juga merasakan hal yang sama dengan adik nya namun mau bagaimana lagi. "Jika Oma meminta kita memanggil nya om maka lakukan saja, jangan membantah dan membuat Mama dan launnya marah."


"Tapikan lucu." ujar Raisa. Syifa menegur adik nya ia tidak suka melihat Raisa menjadi julit.


"Sudah, jangan mengatakan hal itu di depan yang lain nya..Kau mengerti? Raisa mengangguk mengerti dengan ucapan kakak nya.


"Iya, kak. Raisa mwngwrti."


"Bagus, kakak senang jika kamu mengerti."


"Kak, di mana dia?" tanya Raisa yang melihat ke kanan dan kiri namun tidak melihat Oom mereka.


"Kakak juga tidak tahu, seperti nya ada di kamar Tante Kaynara."


"Tante Kaynara? Siapa itu?"


"Anak angkat nya Oma dan Opa. Lebih tepat nya sepupu nya mami."


"Kak rumah ini bagai panti asuhan ya?"


Syifa menoleh ke arah adik nya. "Apa yang kau katakan Raisa?"


Raisa melihat wajah tidak senang dari kakak nya, Raisa meminta maaf dan tidak berniat membuat kakak nya marah.


"Bukan begitu kak, namun Oma dan opa banyak sekali menampung orang di sini. Bahkan dengan orang asing sekali pun sama seperti panti asuhan yang menerima anak-anak yang tak mempunyai orang tua."

__ADS_1


"Itu karena Oma dan oppa orang yang baik. Mereka ingin membantu dan meringankan kesedihan orang lain." uaje Syifa memberikan pengertian kepada adik nya. Raisa mengangguk mengerti.


"Iya, kak. Oma dan opa sangat baik. Bukti nya mereka menerima ku dengan baik di sini."


"Itu sudah pasti karena kau juga cucu mereka."


"Tapikan mami dan Daddy bukan anak kandung dari omma." Syifa menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Ia di repotkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang begitu menyebalkan dari Raisa.


"Kau ini sudah seperti Alana ke dua saja." sentak Syifa.


Raisa pun hanya tertawa kan tidak salah jika ingin tahu banyak. Karena Syifa sudah tinggal dengan keluarga ini selama bertahun-tahun jadi Syifa yang lebih memahami sifat-sifat semua orang termaksud mami dan Daddy mereka.


"Kau tidak perlu bertanya kepada kkakak bagaimana sifat keluarga ini seharusnya kau bisa merasakan nya sendiri ketulusan dan kasih sayang yang sudah di berikan oleh keluarga ini."


"Iya kak. Maafkan aku ya jika aku membuat kakak kesal."


"Kakak tidak kesal kakak hanya sedikit pusing melihat mu yang berbicara seperti Alana. Begitu banyak tanya dan membuat ku merasa kesulitan untuk menjawab nya."


"Raisa berjanji tidak akan membuat kakak merasakan kesulitan lagi."


Syifa mengajak Raisa untuk masuk ke dalam kamar Kaynara dan melihat apakah Rey ada di sana. Benar saja dugaan nya Rey ada di sana tidur dengan Oma mereka.


"Tidak mungkin kita masuk, ada Oma di sana. Lebih baik kita pergi ke kamar dan tidur."


"Tapi kak."


"Raisa kau sudah berjanji kepada kakak untuk tidak membyaty Kakak pusing namun sekarang kau membuat kakak pusing."


"Maaf kak." Raisa memasang wajah sedih nya, Syifa tidak tega melihat wajah sedih yang di pasang oleh Raisa. Ia pun mengelus pipi adik nya lalu mengajak adik nya untuk kembali ke kamar.


"Kakak tenang saja, biar Raisa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka."


"Terserah kau saja Raisa." Syifa pun berlalu pergi meninggalkan adiknya sendiri di sana tak bisa memanggil nama kakaknya untuk menunggunya namun syifa tidak menggubris ucapan adiknya itu.


Di dalam kamar ayah Gunawan menunggu kedatangan isteri nya namun tak kunjung datang. Ayah Gunawan yakin, jika istri nya tidak bisa keluar dari sana mengingat bagaimana tadi Rey tidak membiarkan istrinya nya untuk pergi.


Namun, bagaimana ayah Gunawan juga tidak bisa tidur tanpa sang isteri di samping nya.


Ayah Gunawan merasa sangat gelisah, ia tak akan bisa tidur tanpa ibu Syafa.


Semenjak mereka menikah kedua nya tidak pernah berpisah walau hanya sebentar saja apalagi tidur pisah ranjang. Tidak akan pernah bisa.


Ia pun tetap menunggu istrinya untuk kembali setelah itu ayah Gunawan bisa tidur dengan nyaman.


Ibu Syafa juga berusaha untuk melepaskan genggaman Rey. Namun tidak bisa, Rey akan terbangun seperti tadi


Rey mengigau dan mengatakan untuk jangan memukul nya, ia memanggil nenek nya untuk menyelamatkan diri nya.


Syafa menenangkan Rey dan memeluk anak nya dengan erat. "Rey sayang tenang lah nak!"


Ibu Syafa mencoba menenangkan Rey, hingga Rey kembali tenang dan tidur dengan lelap. Tidak ada pilihan lain. Ibu Syafa memang harus tetap di samping Rey..


Jika nanti malam Rey histeris ia akan menenangkan hati Rey seperti semula.


*********


Keesokan pagi nya, ibu Syafa terbangun ia melihat ayah gunawan yang ada di samping nya tidur.

__ADS_1


Ibu Syafa tersenyum ia yakin jika suami nya itu tadi malam berada menyusul ke kamar karena tidak bisa tidur


Ayah Gunawan menggeliat kan badan nya ia pun memeluk isteri nya dengan erat.


"Mas bangun sudah pagi. Nanti anak-anak akan lihat rey juga akan bangun."


"Iya, sayang sebentar lagi ya? Mas masih mengantuk."


"Tapi mas"


"Lima menit lagi sayang ku yaaa?"


Ibu syafa pun mengiyakan ucapan suami nya.


Sinta dan Caca sedang menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh keluarga mereka pun menyusun makanan yang mereka masak di atas meja makan titik sebelumnya Sinta sudah menyiapkan anak-anak untuk mandi terlebih dahulu lalu menyuruh mereka untuk kembali ke meja makan untuk sarapan bersama.


sinta dan Caca ingin mengecek keadaan tapi mereka tahu jika ibu dan ayah mereka tidur di kamar adik mereka Caca dan Sinta pun tak ingin mengganggu tidur mereka.


"biarkan saja mereka tidur sebentar lagi Ibu pasti akan bangun, Ibu sudah terbiasa bangun pagi-pagi mungkin tadi malam Ibu menjaga diri kita dengan sampai dengan larut malam."


Caca pun mengiyakan ucapan cinta karena memang benar pasti ayah dan ibu begitu lelah menghadapi Rey jika sudah histeris seperti semalam.


anak-anak sudah selesai mandi Mereka pun duduk di bangku dengan baik, Alan dan Alana bertanya di mana Om mereka Kenapa belum ada di meja makan Shinta mengatakan jika mereka sedang bersiap untuk sarapan. hal ana bertanya apakah mereka akan seperti kemarin?


shinta pun mengatakan kepada anaknya jika mereka itu tidak akan melakukan hal yang membuat mereka sakit atau ketakutan Alana mempercayai ucapan mamanya karena ia tahu mamanya tidak pernah berbohong.


namun bagaimanapun Alana masih trauma dengan sikap dari Om ya itu yang tiba-tiba histeris tak karuan bahkan mau menyakiti saudara kembarnya itu Alan


Sinta memberikan piring untuk anak-anaknya dan an mengambil nasi dan lauk yang anak-anak yang ingin makan, akhirnya Ibu dan Ayah pun keluar dari kamar membawa Rey.


Alana bertanya kepada Oma dan opanya Mengapa lama sekali keluar dari kamar,, Gunawan pun meminta maaf kepada cucunya karena telah membuat mereka menunggu lama hal Anda mengatakan jika itu bukanlah hal yang salah terlalu serius tetapi Oma dan opanya tidak pernah terlambat jika berada di ruang makan


menegur anaknya untuk tidak terlalu banyak bicara jika berada di ruang makan, Alana pun terdiam ia tidak mau menjawab ucapan mamanya yang akan membuat namanya semakin marah. karena Alana sudah berjanji kepada mamanya dan yang lain tidak akan membuat kekacauan lagi


Alan tersenyum kearah saudara kembarnya itu ia berpikir jika Alana hanya berbicara kosong untuk berubah namun Alana menempati omongannya.


semua orang begitu senang dengan perubahan dari Alana, semua menyangka jika Alana hanyalah anak yang manja dan tidak pernah bisa berubah Namun ternyata Alana bisa berubah bahkan ia belajar dari setiap kesalahan.


Alana masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang benar dan salah, tidak terlalu masalah besar jika Lana membuat sedikit kekacauan memang pada dasarnya anak-anak akan bersikap seperti itu.


Alana pun memakan makanannya dengan lahap tanpa membuat masalah di depan meja makan Setelah selesai makan Alana minta izin kepada yang lainnya untuk kamar terlebih dahulu.


sungguh Alana merasa takut jika terus berada di dekat Rey, Rey nanti bisa akan mengamuk seperti kemarin lagi dan melukai nya.


Alan mengejar saudara kembarnya itu Ia bertanya Mengapa Anda cepat sekali pergi dari meja makan titik Alana menjawab Jika ia hanya ingin berada di dalam kamar saja, jika ia terus ada di sana mungkin Alana akan membuat kekacauan yang akan membuat mamanya marah.


Alan memeluk saudara kembarnya itu dengan erat ia mengatakan jika dirinya begitu sangat menyayangi Alana dan dia pun bahagia melihat perubahan yang dilakukan oleh Alana.


Alana pun mengatakan kepada alan Jika dirinya juga menyayangi saudara kembarnya itu, Alana juga meminta maaf kepada saudara kembarnya itu karena sering membuat Alan kesal dan marah karena sikap Alana yang terlalu kekanak-kanakan terkadang Alana berpikir jika memang mereka itu masih anak-anak dan nakal itu sangat wajar, entah Alana yang bersikap kekanak-kanakan atau memang alan terlalu dewasa sikapnya


Alana pun tidak mengerti, alan menemani Alana untuk kembali ke dalam kamar


Alana bertanya kepada saudara kembar nya mengapa ia mengikuti Alana .


Alan menjawab jika dirinya sudah selesai makan dan ia mengira Jika dia tidak perlu untuk terus berlama-lama disana, Alana apa mempercayai ucapan Alan, namun pada kenyataannya,alan sama seperti Alana yang takut dengan Rey


bahkan alan membuat keputusan akan meminta segera pulang kepada mama dan papanya lagipula Opa dan Oma mereka sudah sembuh jadi mereka bisa segera meninggalkan rumah Oma dan opanya

__ADS_1


__ADS_2