
Syifa memaksa sang mama untuk istirahat yang cukup. Shinta merasa sangat bersalah, liburan ini seharus nya menjadi liburan yang paling bahagia untuk mereka. Mereka bersenang senang dan bermain di pantai bukan malah berkurung diri di dalam kamar hotel. Dan shinta sangat merindukan kedua bayi kembar nya
"Gimana kabar Alan dan Alana ya. Aku sangat merindukan mereka." batin Shinta
********
Caca dan Arvan pun sudah kembali ke rumah, mereka merasa sangat bahagia. Walau pun kini mereka harus bangkit menata usaha dari 0 lagi. Mereka duduk di ruang keluarga
"Setelah kepulangan Tata dan Revan liburan kita akan merancanakan pernikahan Kaynara dan Rangga." ucap Caca
"Ide yang sangat bagus." ucap Arvan. Tabungan nya masih cukup untuk pernikahan adik sepupu dari isteri nya tersebut
***********
Sudah seminggu berlalu.....
Kini Shinta, Revan dan juga Syifa kembali dari liburannya. Mereka menjemput Baby Alan dan Alana terlebih dahulu kerumah orang tua Shinta. Kedua orang tua nya pun menyambut mereka dengan sangat baik
__ADS_1
"Anak mama." ucap Shinta yang langsung menggendong Alana. Begitu juga Revan yang menggendong jagoannya si Alan.
"Mama sangat merindukan kalian." Shinta mencium kedua pipi bulat Alana. Berpisah dengan Anak anak nya seminggu seperti berpuluh puluh tahun. Syifa menyiap kan makanan untuk anak, menantu dan cucu nya yang baru pulang dari liburan.
"Ayo kita makan dahulu." ajak Syifa. Shinta pun mengangguk, mereka berjalan ke arah ruang makan keluarga dan duduk di tempat yang mereka ingin kan
"Hari ini Ibu masak kesukaan kalian."
"Terimakasih bu, harus nya ibu jangan repot-repot seperti ini." Shinta merasa tidak enak hati, harus nya ia yang melayani dan memasak untuk kedua orang tua nya.
"Ibu tidak merasa di repot kan."
Suara klekson berbunyi
"Siapa itu yang berisik sekali!" kesal Shinta. Shinta pun bangkit dan berjalan ke arah luar rumah sambil menggendong baby Alana. Seketika wajah kesal Shinta berubah menjadi senyuman lebar yang menunjuk kan gigi putih nya. Caca pun dengan semangat menghampiri Shinta yang di ikuti oleh Arvan dan Kaynara
"Akhir nya kamu pulang juga. Kemana anak aku? aku udah rindu banget sama dia. Apalagi sama anak mami yang satu ini" Caca mencubit pipi gembul Alana dengan gemas
__ADS_1
"Enak aja! anak aku tau! kamu apaan sih cubit cubit alana, sakit tau! iya kan nak." Shinta menepis tangan Caca dari pipi Alana dan mengelus pipi Alana dengan lembut
"Kalian ngapain ke sini?"
"Terserah kami dong, ini kan juga rumah kami." Caca merenggut Alana dari gendongan Shinta dan menerobos masuk ke dalam. Shinta membuang nafas dengan kasar
"Sungguh menyebal kan." gumam Shinta
"Bodo amat, yakan nak? ejek tuh mama mu." ucap Caca kepada Alana. Alana hanya mengekeh kecil seakan mengerti apa yang Caca ucap kan
"Mimimi." oceh Alana dengan tidak jelas
"Iya, Sayang. Sini sama mami aja ya. Gak usah sama mama Tata, sangat galak." bisik Caca pada Alana
"Ngomong apa? aku dengar ya. Gak tuli!"
"Enggak ada ngomong apa-apa. Yakan nak ya."
__ADS_1
"Tolong mami nak dari mama mu yang galak ini." bisik Caca pada Alana yang hanya di balas oleh kekehan kecil dari si baby Alana
Semenjak kehamilan mereka, Shinta dan Caca bersikap seperti anak-anak dan selalu saja bertengkar kecil. Namun, hal itu tidak membuat mereka memiliki rasa benci, bahkan ikatan Caca dan Shinta semakin kuat layak nya kakak dan adik. Berbeda dengan Kaynara yang tetap bersikap dingin dan pendiam. Ia hanya bisa menggeleng kepala saja melihat tingkah kakak-kakak nya yang seperti anak- anak. Shinta dan Caca juga sangat menyayangi Kaynara walau Kaynara lebih banyak diam.