
Kebahagiaan apalagi yang di ingin kan oleh gadis cantik ini, keluarga nya sudah berkumpul semua lalu Syifa terdiam. Caca dan yang lainnya bertanya mengapa Syifa terlihat murung? Syifa mengatakan bahwa diri nya mengingat Tante nya Kaynara.
"Mama akan menghubungi Tante mu ya, Sayang. Mama yang salah. Mama terlalu egois, memikirkan duka mama sendiri sampai melupakan kalian semua. Mama terlalu larut dalam kesedihan." Shinta mendekati Caca, mengelus lembut bahu sahabat nya itu.
"Wajar, kau telah kehilangan seseorang yang paling berharga bagi diri mu. Apalagi, kau telah kehilangan ibu mu. Walau seburuk apapun perbuatannya dia adalah wanita yang melahirkan mu. Jika aku di posisi mu, mungkin aku tak akan sekuat diri mu Ca. Jangan menyalah kan diri mu, kau memang berhak berduka atas kepergian ibu mu." ujar Shinta. Caca perlahan mengambil nafas lalu membuang nya, menoleh dan tersenyum pada Shinta.
"Aku sudah keluar dari zona terpuruk ku. Apalagi, sekarang aku mempunyai anak-anak yang harus ku perhatikan. Ada Syifa, si kembar, dan kedua bayi kita. Aku tidak cukup egois untuk melupakan tanggung jawab ku kepada anak-anak kita. Oh iya, siapa anak mami yang satu ini?" Caca mendekati bayi Shinta.
"Kami belum sempat memberikan dia nama, Karena kemarin begitu banyak masalah yang ada hingga lupa memikirkan nama untuk si baby. Kalau anak mama ini siapa nama nya?" Shinta pun menghampiri bayi Caca yang terlihat begitu sangat menggemas kan dengan pipi chubby nya.
"Namanya Khanza."
__ADS_1
"Nama yang indah, seperti orang nya." Shinta mengambil Baby Khanza dari gendongan Arvan. Shinta pun mengecup kening baby Khanza.
"Anak mama imut sekali, ya nak?" gumam Shinta kepada baby Khanza.
Caca pun kembali bertanya kepada Shinta dan Revan akan memberikan nama anak mereka siapa. Revan berkata jika ia memberikan nama Rayhan. Namun, Revan menoleh ke arah Shinta yang seketika terdiam. Caca pun mengingat nama Rayhan. Ia ingat jika itu adalah nama mantan kekasih Shinta yang telah meninggal. Melihat wajah Shinta yang berubah, Caca mengerti jika sahabat nya itu tak mensetujui. Caca pun mencoba melarikan pembicaraan yang lain.
Caca mendekati si kembar Alan dan Alana. Memeluk kedua nya dengan penuh kehangatan, Si kembar pun begitu antusias menyambut kedatangan Mami mereka.
"Alana juga, begitu Lindu. Lebih Lindu Dali Alan!" ujar Alana yang tak mau kalah, Shinta pun tersenyum dan melupakan ucapan suami nya tadi.
"Apa kau tahu, anak mu ini sangat pandai bersandiwara!"
__ADS_1
"Bersandiwara?" tanya Caca yang mengerut kan dahi nya.
Shinta pun segera menceritakan semua yang terjadi kepada Caca dan Arvan, mendengar ucapan Shinta. Caca tertawa dan men-jewer pelan kuping si kembar Alan dan Alana.
"Anak mami sekarang nakal ya? Berani mengerjai mama dan kakak Syifa nya. Kenapa Mami nggak di ajak?" mendengar ucapan Caca, si kembar Alan dan Alana pun tertawa.
"Ini semua ide nya Papa, Lain kali kita yang akan buat lencana ya mi?" ajak Alana
Kami tak akan percaya lagi!
Ucap Shinta dan Syifa secara bersamaan, Syifa pun mendekati kedua adiknya. Dan berkata, jika lain kali diri nya akan berhati-hati dan tak akan mudah menangis agar kedua kembar yang nakal ini tak akan bisa mengerjai nya.
__ADS_1