Ibu Sambung

Ibu Sambung
Membuat kue


__ADS_3

"Nama kakak, Raisa. Nama kamu siapa cantik?"


"Alan."


"Namanya keren, seperti orang nya."


"Terimakasih."


"Kalau si cantik ini siapa namanya?"


"Alana." ujar Alana yang menatap malas teman kakak nya itu. Syifa pun mengajak Raisa untuk ke kamar nya saja. Melihat raut wajah Alana, ia sangat tahu jika Alana tidak menyukai sahabat nya itu. Alana anak yang sangat cerita, jika dia diam. Tanda nya, Alana tidak menyukai orang itu. Walau Syifa tidak mengetahui sebab yang membuat adiknya tidak suka. Tetap saja, Syifa tidak memaksakan adik-adik nya.


*********


Di bawah, Shinta membuat kan kue untuk teman anak nya itu. Ini pertama kali nya, Syifa membawa teman nya bermain ke rumah. Shinta merasa sangat senang karena Syifa mau bergaul dengan teman nya. Yang Shinta ketahui, anak nya itu adalah anak yang pendiam. Tidak mudah bergaul dengan orang lain kecuali keluarga nya sendiri.


"Wangi sekali kue buatan mu." ujar Caca yang memuji masakan Shinta.


"Rasanya aku tidak sabar memakan kue ini."


"Ini untuk Raisa, teman nya Syifa. Bukan untukmu."


"Kan aku juga ingin mencoba nya." Caca yang tak menghiraukan ucapan Shinta pun memakan sedikit kue yang sudah jadi.


"Untung aku mencoba nya."


"Memang nya kenapa?" Shinta menghentikan aktivitas nya.


"Kue ini terbuat dari kacang, suami ku alergi." jelas Caca. Shinta pun baru teringat, jika Arvan alergi dengan kacang.


"Astaga, aku lupa. Aku akan membuat kan kue lagi yang tidak terbuat dari kacang. Lagipula, aku membuatkan ini memang untuk teman nya Syifa."

__ADS_1


"Ta, kamu lihat nggak tatapan anak itu? Aku seakan terikat dengan nya."


"Mungkin, karena dia tidak mempunyai orang tua. Dan kamu pernah kehilangan janin, jadi mengingat tentang janin anakmu itu." ujar Shinta, Caca pun mengangguk. Ia mengingat bagaimana ia kehilangan anak nya karena ibu kandung nya sendiri, Elsa.


Caca menghapus air mata yang membasahi pipi nya.


"Sudah, yang lalu lupakan lah. Jangan di ingat lagi, nanti kau semakin terluka."


"Jika anakku masih hidup, mungkin dia sudah seperti si kembar."


"Kau kan menganggap si kembar seperti anak mu. Sudah, jangan sedih ya? Ingat lah, Sekarang yang bahagia-bahagia aja. Luka di masa lalu biar lah menjadi masa lalu. Jika, kita terus di ruang kesedihan. Mau sampai kapan kita akan bahagia? Aku dulu juga mengalami hal yang tidak mudah, berada di titik terlemah. Kehadiran anak kita, membuat ku belajar menjadi orang yang tidak lemah. Bahkan, setelah pernikahan. Begitu banyak yang ku lalui, kau tau sendiri bagaimana luka dan lika-liku kehidupan ku."


Caca pun mengangguk, ia sadar yang di katakan Shinta itu memang lah benar.


"Kue anak-anak sudah selesai. Aku akan memanggil mereka untuk makan di ruang makan."


"Biar aku saja yang memanggil mereka." tawar Caca kepada Shinta, Shinta pun mengiyakan ucapan sahabat nya. Caca masuk ke dalam kamar si kembar Alan dan Alana.


"Nggak tahu!" jawab Alana dengan ketus. Caca mendekati Alana, memangku tubuh mungil Alana. Membelai lembut rambut Alana."


"Anak mami yang cantik ini kenapa ketus begitu jawaban nya, Sayang?"


"Biasa lah mami, Alana kan selalu membuat dlama jika ada Olang." Alana menatap sinis saudara kembar nya itu, Alan juga menantang Alana.


"Kan Benal yang Alan bilang."


"Diam kau!" ketus Alana kembali kepada saudara kembar nya itu. Caca melerai mereka.


"Sayang, kamu belum jawab pertanyaan Mami?" Alana kembali menoleh ke arah Caca. Ia mengatakan jika diri nya tidak menyukai teman kakak nya itu.


"Alana nggak suka dengan teman kakak."

__ADS_1


"Loh, kenapa nak? Kan teman nya kakak baik, tidak membuat kekacauan."


"Mami, jangan dengelin omongan Alana! Dia memang suka begitu." Sambung Alan kembali. Caca yang tak ingin kedua anak sahabat nya itu bertengkar. Mengajak mereka ke bawah untuk makan kue. Alan dan Alana begitu senang, kue kacang memang kesukaan mereka. Apalagi, Jika itu buatan dari mama mereka sendiri.


"Hole!" Heboh kedua nya, Setelah si kembar turun ke bawah. Caca masuk ke dalam kamar Syifa, terlihat Syifa sedang bercanda gurau dengan teman nya itu.


"Asyik banget ngobrol nya." Caca mendekati dan duduk di samping Syifa dan Raisa.


"Kalian sedang apa? Kok kelihatan nya asyik banget."


"Kita sedang membicarakan tentang sekolah, Ma."


"Iya, Tante. Kita sedang membicarakan hal di sekolah. Rasanya, enak banget setelah Amira keluar dari sekolah. Dia tidak akan mengganggu kami lagi. Amira memang anak yang sangat nakal." ujar Raisa, yang mengingat setiap perbuatan teman nakal nya itu.


"Sayang, ingat ya. Walau dia jahat, kalian tidak boleh mempunyai sifat benci kepada teman kalian itu. Semua orang memiliki kesalahan, tapi bukan berarti kita harus membenci dan menjelekkan nya."


"Iya, Ma. Syifa juga nggak benci kok sama mereka yang menyakiti Syifa. Tapi, Syifa hanya ingin mereka mendapatkan hukuman atas apa yang sudah mereka perbuat."


"Sayang, pihak sekolah sudah menghukum mereka. Jadi, kalian jangan pernah berfikir untuk membalas mereka lagi ya? Anak cantik nggak boleh memiliki sifat pendendam ya nak?" ujar Caca lagi, menasehati anak dan teman anak nya dengan lembut dan penuh perhatian.


Raisa memandangi Caca, Raisa merasa seakan mendapatkan ketenangan melihat wajah Caca.


Andai, aku mempunyai mama. Pasti, mama ku akan bersikap yang sama seperti itu. Aku akan merasa sangat bahagia, di mana mama ku, Tuhan? Apakah dia masih ada atau sudah tenang di sisi mu? ~ Raisa.


Tanpa sadar, Raisa meneteskan air mata nya. Caca yang melihat Raisa menangis pun mendekati dan menghapus air mata teman Syifa itu.


"Anak cantik, kenapa menangis? Tante nggak bermaksud menyakiti hati kamu dengan ucapan Tante."


"Tidak, Tante. Raisa hanya berfikir, jika mama Raisa ada di sini. Pasti, Raisa akan merasa sangat bahagia."


"Sayang, Tante yakin. Di mana pun mama kamu berada dia akan selalu menyayangi kamu. Dulu, Tante juga tidak bersama Syifa, Tante jauh banget dari nya. Tapi, tiada sedikit pun doa yang tidak Tante berikan untuk anak Tante. Tante selalu berdoa, untuk keselamatan dan kebahagiaan anak Tante."

__ADS_1


"Syifa memang beruntung, walau sempat jauh dari Tante. Tapi, dia mempunyai ibu lain. Tante juga kembali bersama nya. Sedangkan, Raisa. Raisa hanya sendiri. Tidak sendiri juga, Raisa mempunyai teman-teman dan Ibu di panti. Namun, demi pendidikan dan masa depan Raisa. Raisa harus jauh dari mereka, di asrama sekolah. Raisa hanya sendirian, tidak ada ibu panti lagi yang memperhatikan Raisa. Hanya dia yang Raisa punya, namun Tuhan juga mengambil nya dari Raisa."


__ADS_2