Ibu Sambung

Ibu Sambung
Salah Tingkah


__ADS_3

Tidak seperti mami dan nenek nya. Hanya bisa marah dan marah. Tapi, tidak pernah memperdulikan dia.


Lala masuk ke dalam kamar anak nya, dan mencoba membujuk sang anak.


"Sayang, maafin mami ya? Mami sangat menyayangi mu." Lala pun memeluk Amira.


Amira begitu menyayangi kedua orang tua nya, ia ingin mami nya itu memperhatikan dan memperdulikan diri nya seperti ibu kebanyakan di luar.


Dia tak memahami kasih sayang yang di berikan oleh ibu nya, bagi nya. Sang ibu hanya memberikan nya fasilitas dan uang saja. Tidak ada yang lain, tidak ada suapan dari seorang ibu, masakan dari seorang ibu.


Itu semua tidak pernah Amira rasakan, di rumah itu hanya papi nya yang peduli. Namun, papi nya juga harus bekerja dan seringkali pergi ke luar kota.


Amira mencoba tersenyum, Angga merasa senang. Ia pun ingin turun dan meminta maaf kepada mama nya karena sudah membentak sang ibu tadi.


Di bawah, Angga mendekati nenek nya Amira. Ia memeluk dan mencium tangan nenek nya Amira.


"Ma, maafin Angga. Bukan maksud Angga tadi membentak mama. Tapi, Angga tidak bisa mendengar anak Angga di jelekkan seperti itu, ma. Angga tidak bisa."


Nenek nya Amira pun menatap Angga.


"Apa kamu pikir mama tidak menyayangi Amira? Mama sangat menyayangi nya. Bahkan, di saat kita masih susah dulu. Mama yang paling menantikan isteri mu mengandung dan memberikan mama cucu. Mama yang paling menanti kan kelahiran Amira. Mama yang menunggu dengan tidak sabar, mama juga yang merawat nya dari bayi. Mama menyayangi cucu Mama, tapi kamu lihat! Karena kalian memanjakan nya. Amira menjadi anak yang tidak baik, perlakuan nya sangat buruk. Jauh berbeda dari Kinanti, Adik nya Amira."


"Ma, mengapa mama membandingkan mereka? Mereka berdua adalah anak Angga. Angga menyayangi ke dua nya dengan sama. Mereka adalah belahan hati Angga, mereka juga cucu Mama."


"Mama juga tahu Angga, tapi kamu juga harus tahu dan bisa menilai sikap mereka. Sangat jauh berbeda, kamu juga memberikan fasilitas dan kasih sayang yang sama pada mereka. Namun, lihat lah Kinanti. Dia tidak pernah begitu, itu karena apa? Karena dia mama yang rawat. Dia tinggal bersama mama, dia tidak di didik oleh isteri mu yang hanya tau nya menghabiskan uang saja."


Angga pun tak mau membela siapapun, ia ingin menjadi penengah antara mama dan anak istri nya.


"Ma, mama tau sendiri kan. Lala begitu juga karena dia pernah hidup susah. Sekarang Angga memiliki uang lebih. Jadi, tidak masalah jika Lala menghabiskan nya atau menikmati itu semua ma. Dia selalu ada di samping Angga saat Angga tidak punya apa-apa. Sekarang, Angga punya segala nya jadi itu tidak hal yang masalah untuk Angga jika isteri dan anak-anak Angga menikmati hasil kekayaan Angga. Bukan hanya mereka, tapi juga mama!"


Angga menggenggam kedua tangan ibu nya, lalu mengecup nya dengan perlahan.


"Angga sangat menyayangi kalian, bagi Angga. Kalian adalah segala nya untuk Angga."


Ibu nya pun terdiam, tak mau berdebat lagi kepada anak nya.

__ADS_1


******


Arvan yang berlalu pergi meninggalkan anak dan isteri nya pun menutup pintu kamar.


Caca pun menyuruh Syifa dan Raisa untuk berbaring, Sedangkan diri nya berada di tengah-tengah antara ke dua anak nya.


Raisa dan Syifa pun memeluk Caca dengan erat.


Sedangkan Shinta yang kesal dengan sikap suami nya yang terus saja melempari diri nya pun akhir nya mengalah, ia bangkit dari tidur nya.


Turun dari ranjang secara perlahan untuk ke luar kamar menemui sang suami.


"Mengapa kau terus saja melempar ku? Itu sangat sakit."


"Jangan berisik, atau mereka akan bangun. Ayo ikut aku!" Revan menggendong isteri nya secara tiba-tiba. Shinta kaget, ingin berteriak namun dengan cepat Revan menutup mulut isteri nya agar tidak berteriak.


"Apa kau tidak senang jika tidak berteriak." Shinta memukul tangan suami nya. Ia merasa sangat sesak nafas karena dekapan Revan yang terlalu kuat.


"Aku hampir kehilangan nafas karena kau, dan apa ini? Tolong lepaskan aku, kau seperti seorang penculik saja."


Revan membawa Shinta ke kamar mereka, ia membaringkan Shinta di tempat tidur. Lalu, bangkit sebentar untuk mengunci pintu kamar mereka.


Revan tidak ingin, ada yang mengganggu waktu ke dua nya malam ini..Revan sungguh merindukan kehangatan sentuhan dari Shinta.


Shinta Seakan mengerti maksud dari suami nya. Ia pun tersenyum, sungguh suami nya begitu sangat manis ketika menginginkan sesuatu dari tubuh nya.


Revan tidak langsung mendekati Shinta, ia membuka lemari. Mengambil sesuatu, ternyata itu adalah lingerie berwarna merah.


"Apa ini?"


"Sepatu, tentu saja ini baju tidur!" kesal Revan yang tak mengerti dengan jalan pikiran sang isteri. Sudah tahu masih saja bertanya. Apakah Shinta sengaja berpura-pura polos? Revan menepuk kening nya sendiri. Lalu meringis, ia menepuk dengan kekuatan. Tentu saja ,dahi nya merah dan terasa sedikit sakit.


Shinta tertawa melihat tingkah suami nya. Ke dua nya sama-sama konyol jika sedang berduaan seperti ini. Padahal, sudah memiliki empat anak. Masih saja bersikap seperti anak-anak.


Revan bertanya mengapa Shinta tertawa, Shinta mengatakan jika suami nya begitu sangat lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


Revan memberikan lingerie itu kepada isteri nya, ia menyuruh Shinta untuk mengganti pakaian di hadapan nya.


"Tidak mau!"


"Kenapa?" tanya Revan yang mengerut kan dahi nya.


"Aku malu!"


"Astaga, aku suami mu dan aku sudah memberikan empat anak untuk mu, kau juga sudah melahirkan tiga anak untukku dan kau mengatakan malu?"


Shinta dengan polos nya mengangguk, seperti anak kucing, ia juga mengatakan kepada Revan untuk apa memakai lingerie itu toh juga nanti semua nya akan terlepas dari tubuh nya.


Revan yang mendengar itu pun merasa begitu gemas dengan sang isteri.


"Aku ingin kau memakai nya, apa harus aku yang memakai nya kan?" ujar Revan yang menggoda sang istri. Pipi Shinta seketika memerah karena malu.


"Ti-tidak! Aku bisa sendiri!" Shinta merampas lingerie berwarna merah itu dari tangan Revan dan ingin pergi ke kamar mandi untuk mengganti nya. Namun, Revan menghentikan nya.


"Kan sudah ku katakan, ganti saja di sini!"


Shinta melotot kan mata nya, ia semakin malu dan salah tingkah.


Bagaimana bisa suami nya bisa berfikiran semesum ini.


Ia kan malu jika harus membuka pakaian nya satu satu, walau itu di depan suami nya sendiri.


*********


------------------


...Hallo sayang-sayang nya sangrainily, jangan lupa like, komen dan vote nya yaak. Mau nya author update yang banyak, yang rajin. Tapi untuk like, komen dan vote aja males huhu:( ...


Dan iya, jangan tanya kenapa kok bisa ada cerita Amira? Nggak nyambung banget! Bukan nya nggak nyambung, tapi author memang sengaja menceritakan kehidupan yang lain di sekitar Syifa dan yang lainnya agar cerita nya gak itu-itu aja. Kan bosen wkwk.


...Yaudah deh sangrainily cuman mau bilang, like nya dong kakak, komen nya, vote nya biar menambah semangat author buat update yang rajin. Like, komen dan vote itu ga mahal kol, gratis. Jangan mau nya nuntut author untuk update yang banyak terus😭...

__ADS_1


__ADS_2