Ibu Sambung

Ibu Sambung
Rencana si kembar


__ADS_3

Apa yang lebih menyakiti dari itu? Orang yang kita anggap spesial malah lebih sadis menyakiti hati.


Shinta mengelus rambut Syifa dengan sangat lembut. Syifa mengatur nafas dan menahan isak tangis agar tidak di dengar oleh Mama nya.


"M-ma, kepala Syifa sa-sangat sakit, boleh kah mama keluar sebentar dan Syifa istirahat?" tanya Syifa tanpa menoleh ke arah Shinta, Shinta yang berfikir jika anaknya sedang ingin istirahat sejenak pun berlalu pergi meninggal kan Syifa.


"Ya sudah, mama keluar. Kamu tidur ya, jika masih sangat sakit. Kamu panggil Mama ya nak? Mama akan selalu ada buat kamu kapan pun kamu mau. Kita akan pergi ke dokter nanti. Oke?"


"Iya, Ma." Shinta pun bangkit. Meninggalkan sang anak.


Setelah Shinta pergi, Syifa menjauhkan wajah nya dari bantal. Terlihat wajah kacau Syifa, rasanya ia tidak ingin sekolah di situ lagi. Hati nya akan begitu sakit, setiap hari orang yang ia sukai malah menganggu dan menyakiti bersama Amira.


"Dia pasti akan menganggu ku seperti yang Amira lakukan, dia kan ke-kasih Amira." ujar Syifa dengan senggugukan.


Sedangkan, di sisi lain. Ke dua kembar Alan dan Alana masih memikirkan cara agar mama kakek nya berbaikan.


"Ayo Alan, belpikil lah."


"Tunggu, Alana! Alan sedang belpikil, Alana jangan ganggu Alan. Sebaiknya Alana juga belpikil!"


"Kepala Alana masih pucing nih Alan. Tunggu sebental ya? Jika sudah baik, Alana pasti akan belpikil." ujar Alana yang mengeles, sebenar nya Alana tidak tahu bagaimana cara nya.


"Baik lah, Alana." ucap Alan dengan polos nya mempercayai saudara kembar nya itu.


Alana tidur dengan santai, sedangkan Alan memikirkan bagaimana cara nya. Tiba-tiba, Alana terbangun dan mengejutkan Alan.


"Alana tahu bagaimana cala nya." teriak Alana dengan semangat.


"Bagaimana? Bukan kah kepala Alana sakit?"

__ADS_1


"Syudah sembuh dong Alan. Makanya Alana bisa belpikit dan memiliki lencana."


"Lencana apa?"


"Sini!" Alana menyuruh saudara kembar nya itu untuk dekat, setelah Alan dekat dengan Alana. Alana pun membisik kan sesuatu kepada Alan.


"Apa kau yakin?" Alan sedikit ragu, namun Alana meyakinkan saudara kembar nya jika rencana nya itu pasti akan berhasil.


"Bagaimana jika kakek malah?" Alana pun terdiam sejenak, memikirkan ucapan dari Alan, saudara kembar nya itu.


"AHA, Alana punya lencana lain nya."


"Apa?"


Alana kembali membisik kan sesuatu pada Alan, kali ini. Alan tersenyum dan begitu yakin dengan rencana dari Alana, saudara kembar nya itu.


"Tapi, Alan juga halus membantu Alana. Dan, jangan membeli tahukan ini pada siapapun."


"Jangan, Alan! Jika ada yang tahu, lencana ini bisa Gagal. Alan mau melihat mama dan kakek beltengkal?" dengan cepat Alan menggelengkan kepala nya.


"Tidak! Alan tidak suka melihat keuaga kita beltengkal."


Alana begitu pusing dengan cara bicara saudara kembar nya, Alan. Walau diri nya juga celat dalam bicara, namun setidaknya ucapan Alana lebih jelas dan mudah di mengerti ketimbang ucapan Alan yang sudah salah dan sulit di pahami.


**************


Keesokan pagi nya, Shinta melihat jam sudah pukul enam lewat. Ia masuk ke kamar Syifa. Terlihat anaknya tidur dan belum bersiap-siap. Shinta mendekati dan mencoba membangun kan Syifa.


"Sayang, kamu kenapa belum siap-siap nak? Nanti kakak telat loh. Ayo, bangun dan bersiap lah." Shinta menggoyangkan tubuh anak nya dengan pelan, Syifa menggeliat dan bergumam dengan tidak jelas.

__ADS_1


"Ma, kepala Syifa begitu sakit. Syifa izin tidak sekolah ya? Sangat sakit rasanya."


Shinta melihat kebohongan dari wajah anak nya, mata Syifa juga begitu sembab. Ia menaikkan alis nya satu.


"Kakak sakit? Mama akan panggil kan dokter untuk menyuntik kakak." mendengar kata suntikan, mata Syifa terbelalak dan segera bangkit.


"Suntik? I-itu tidak terlalu penting ma, kakak hanya perlu tidur sejenak ma, ke-kenapa harus suntik?"


"Iya, Nak. Di suntik, dan di berikan obat pusing. Jadi, kakak akan segera sembuh. Lihat itu mata kakak, begitu sembab. Pasti, karena sakit nya kepala kakak semalaman kakak jadi menangis dan tidak tidur." Syifa salah tingkah mendengar ucapan Mama nya. Tidak mau masalah ini semakin lanjut, Syifa pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"Pusing kakak seperti nya udah hilang ma, kakak bersiap-siap dulu." Syifa pun dengan langkah kaki yang cepat masuk ke kamar mandi. Shinta menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah anak nya itu.


"Nak, walau kamu tidak menceritakan nya pada mama, tapi mama tahu. Jika kamu sedang memiliki masalah, dan tidak pusing." gumam Shinta.


Di kamar mandi, Syifa pun tidak melakukan apapun. Rasanya ia sangat malas ketemu dengan Amira dan teman-teman lainnya yang sudah menganggu nya. Tapi, jika Syifa tidak sekolah. Sang mama akan selalu bertanya bahkan datang ke sekolah. Syifa tidak mau ada terjadi keributan. Dengan perasaan ingin dan tidak ingin, Syifa pun segera mandi.


Setelah mandi, ia keluar dari kamar mandi. Melihat sang mama sudah tidak ada di kamar, di atas tempat tidur. Terdapat pakaian sekolah yang sudah di siapkan oleh Mama nya. Syifa memakai baju sekolah dengan rapih. Ia menatap cermin melihat diri nya sendiri.


Syifa, jangan lemah! Kau adalah anak dari papa Revan yang memiliki Sifat pemarah, dan tegas tetapi juga pemberani. Anak dari mama Caca yang memiliki sifat manis, lemah lembut tapi juga bijaksana. Anak dari Mama shinta yang mempunyai sifat pemberani, bar bar, Manja, dan Daddy Arvan yang memiliki sifat cuek, gagah, pemberani dan bijaksana. Lalu kenapa harus takut? Hadapi mereka dengan berani. Pasti kamu bisa Syifa! Ke dua mama mu sudah menghadapi rintangan yang lebih sakit daripada itu. Tapi, mereka kuat dan tidak lemah ~ Gumam Syifa dalam hati menatap diri nya sendiri dengan penuh keyakinan.


Kini, Syifa tersenyum pada diri nya. Ia seakan mendapat kan kekuatan dan kepercayaan penuh. Dengan penuh semangat, Syifa turun ke bawah untuk sarapan. Shinta menatap anaknya dari bawah. Kini, wajah Syifa penuh dengan semangat. Jauh berbeda, dari sebelum nya.


"Gitu dong, nak. Ceria." ujar Shinta, Revan dan ke dua orang tua nya memandangi Shinta dan Syifa secara bergantian.


"Ada apa? Seperti nya kalian ada urusan pribadi." tanya Revan.


"Tidak! Memang nya salah jika aku menyemangati anak-anak ku di setiap hari nya?"


"Tidak. Sudah lah, ayo cepat makan makanan mu, nanti kita bisa telat." ujar Revan kepada anaknya. Syifa duduk dan melahap roti yang sudah di siapkan. Dia juga menghabis kan susu nya dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Ma, Nek, Kek. Syifa pergi dulu ya?" setelah selesai sarapan, Syifa berpamitan dan menyalami mama, kakek dan nenek nya satu persatu.


"Hati-hati, Sayang. Belajar lah dengan baik." ujar Shinta. Syifa pun mengiyakan ucapan Mama nya.


__ADS_2