
Sesampai di rumah, Caca tidak menghirau kan panggilan dari Elsa. Ia menatap tajam ibunya lalu dengan cepat berlari ke kamar. Arvan pun mengejar Caca dari belakang, sama hal nya dengan Caca. Arvan tak menghirau kan mertua nya yang bertanya. Elsa merasa bingung, namun ia bersikap tidak perduli.
"Terserah lah," ucap nya dengan sombong.
*****
Di dalam kamar, Caca sedang memasukkan pakaiannya dan juga Arvan ke dalam koper sambil menangis.
"Sayang, mengapa kau menyusun pakaian kita seperti ini?“
"Aku ingin kita pindah, aku tak ingin tinggal bersama mama lagi."
"Sayang, tenanglah! ingat kau sedang mengandung." Arvan memegang pipi Caca, Caca pun menangis sejadi-jadi nya di pelukkan Arvan.
"Mengapa? Mengapa mama tidak berubah juga?"
"Aku sangat bahagia, karena mama sudah berubah. Syifa mau menerima ku dan sekarang aku hamil. Tapi, seketika mama merusak semua kebahagiaan yang aku miliki. Mama tidak pernah berubah hiks."
"Sayang, tenang lah!" Arvan mengusap rambut Caca dengan lembut. Ia semakin mengerat kan pelukkan nya.
"Kita akan pindah, tapi aku mohon. Kamu yang tenang!" pinta Arvan, mereka pun melepaskan pelukkan satu sama lain.
"Sudah ya," Menghapus air mata Caca, lalu Arvan membantu istri nya tersebut untuk berkemas.
"Ayo,"
"Apa tidak ada yang ketinggalan?"
"Tidak,"
"Aku saja yang bawa, ini sangat berat."
"Tidak apa-apa, aku bisa membawa nya."
__ADS_1
"Sayang, aku percaya kau bisa membawa nya. Namun, bayi yanga ada di kandungan mu. Kau tidak lupa kan? kamu sedang hamil sayang. Biar aku saja yang bawa ya."
"Baik lah," Caca pun mengalah, ia membiarkan Arvan membawa koper nya. Mereka pun keluar kamar dengan membawa 2 koper besar. Elsa yang awal mula sedang bersantai menonton televisi, ia langsung bangkit melihat anak dan menantu nya turun tangga dan membawa 2 koper besar.
"Kalian ingin berlibur?" tanya Elsa, namun Caca enggan untuk menjawab. Arvan meminta sopir untuk membawa barang mereka ke dalam mobil.
Caca berjalan saja untuk keluar. Elsa yang paling tidak suka jika di abaikan pun emosi nya memuncak.
"Cassandra, jawab mama jika mama bicara!!!!" teriaknya. Caca pun menoleh ke arah sang ibu, mata nya sudah berkaca-kaca. Ia mendekati Elsa.
"Cassandra dan Arvan akan pindah dari rumah ini!" tegas Caca namun dengan nada khas nya yang lembut.
"Pindah? memang nya kenapa dengan rumah mama? apa kalian tega meninggalkan mama sendirian? kalian kan tahu, bahwa papa mu sudah menikah lagi dengan wanita murahan itu,"
"Seharus nya emang dari dulu yang di lakukan papa, mama tidak pantas di perjuangin!"
"Kurang ajar!" Elsa ingin menampar Caca namun dengan cepat Arvan mencegah nya, ia menggenggam lengan tangan Elsa dengan sangat kuat.
"Jangan pernah menyentuh istri ku atau melukai nya!" tegas Arvan memberikan peringatan.
"Oke! tapi saya butuh alasan mengapa kalian tiba-tiba ingin pindah dan meninggalkan saya?"
"Kenapa? apa mama tidak sadar dengan perbuatan mama?" tanya Caca dengan air mata yang berlinang. Ia menatap ibu nya dengan tatapan tajam, begitu banyak kecewaan yang Caca rasakan.
"Dulu, Caca kehilangan kakak Lee karena mama,"
"Caca kehilangan bi Molley juga karena mama."
"Caca kehilangan Cinta Caca karena mama,"
"Caca jauh dari anak Caca juga karena mama."
"Karena keegoisan dan ke angkuhan mama Caca menderita dan harus menanggung semua nya."
__ADS_1
"Tapi Caca ikhlas ma, semua itu Caca lakukan karena Caca sangat menyayangi mama. Bahkan Caca rela kehilangan nyawa Caca sendiri demi mama." Ucap nya tersedu-sedu. Begitu sesak rasanya. Arvan menyuruh Caca untuk tenang, Namun Caca mengeluarkan segala kekecewaanya terhadap sang ibunda.
"Tapi kenapa ma? kenapa?" tanya nya dengan lemas, suara nya bergetar. Tangan Caca dingin dan gemetar, Arvan berulang kali menyuruh Caca untuk tenang. Namun, Caca masih ingin mengeluarkan semua rasa sakit dan kecewa nya.
"Kenapa ma? jawab Caca kenapa?" Caca menggoyang kan tubuh Elsa yang membisu. Elsa pun menepis tangan Caca dari bahu nya.
"Mama gak ngerti sama apa yang kamu bicarakan. Kamu pulang diemin mama, terus tiba-tiba bawa koper begini dan ingin pergi dari sini, terus marah-marah gak jelas begini dan bersikap kurang ajar sama mama."
"Mama enggak mengerti juga?" Caca berusaha mengatur nafas nya yang begitu sangat sesak. Ia memegang dada nya, lalu menatap Elsa kembali.
"Mengapa mama tega memperngaruhi anak Caca?"
"Apa mama tahu, ulah mama bisa merusak mental anak Caca, Ma."
"Oh jadi ini masalah nya." ucap Elsa tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Caca, mama melakukan ini semua demi kebahagiaan kamu."
"Tapi kini Caca sudah bahagia ma!"
"Anak Caca sudah mau menerima Caca, Arvan sudah mencintai Caca dan memperlakukan Caca dengan lembut, Caca juga mencintai Arvan. Kini, Caca juga sudah mengandung anak dari hasil cinta Caca dan juga Arvan. Apalagi yang Caca butuh kan ma?"
"Dan, jika menghasut Syifa untuk membuat dia benci terhadap papa dan ibu sambung nya. Caca gak bahagia ma, sama aja dengan mama menghancurkan kan masa depan anak Caca. Mama menabur kebencian kepada Syifa dari sekarang, itu sangat buruk untuk kehidupannya. Cukup Caca saja yang menderita ma, jangan mama buat anak Caca seperti itu!" kesal nya.
"Kamu gak usah naif! dengan begitu, anak mu bisa seutuh nya bersamamu dan menyayangi mu."
"Caca emang bahagia kalau Syifa bersama Caca, kalau Syifa menyayangi dan menerima Caca. Tapi, bukan berarti harus mempengaruhi nya untuk membenci Ibu sambung yang udah menyayangi dan mencintai nya dengan tulus."
"Caca enggak ada untuk anak Caca dari dia bayi, di saat ia membutuh kan kasih sayang seorang ibu. Caca gak ada! dan Shinta hadir di kehidupan anak Caca dan memberikan segala nya yang Caca gak berikan dulu, seharus nya mama berterima kasih sama Shinta bukan membenci nya seperti ini!"
"Percuma Caca ngomong panjang lebar sama mama, percuma! Mama tidak akan pernah berubah! Caca gak mau anak yang ada di kandungan Caca ini nanti lahir dan di besar kan oleh nenek nya yang penuh dengan rasa iri dan benci. Caca gak mau! Dan mulai sekarang, Caca tidak akan lagi menemui mama. Caca akan pindah yang jauh,"
"Enggak! mama enggak mau kehilangan kamu lagi Ca! mama enggak mau!" ucap Elsa.
__ADS_1
"Mama sudah lama kehilangan Caca ma," Lagi-lagi Caca menetes kan air matanya.
"Mama sudah kehilangan Caca sewaktu kakak Lee meninggal, mama kehilangan Caca sewaktu mama membuat bi Molley kecelakaan dan meninggal,“ Dada Caca semakin sesak, ia harus mengingat masa lalu nya yang begitu menyakit kan. Di saat ia harus kehilangan semua orang yang ia cintai karena ulah dan keegoisan Ibu nya Elsa.