Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kenangan Menyakitkan


__ADS_3

"Aku juga. Namun, anak kita ingin bersama kakak nya di sana. Kita juga harus menghargai, dia juga membutuhkan waktu untuk menerima semua nya."


Caca dengan wajah sendu nya pun mengangguk, Caca sangat menyayangi anak-anak nya. Namun, hanya dengan Khanza ia merasakan menjadi ibu yang sempurna. Mengetahui dan melewati masa-masa perkembangan anak nya.


Arvan membelai kepala Caca dengan lembut, ia mengerti apa yang istri nya rasakan. Namun, Caca juga tidak bisa terjebak oleh rasa bersalah di masa lalu. Semua sudah terjadi, waktu tidak bisa di putar kembali, lagipula kesalahan yang Caca buat di masa lalu juga itu karena faktor dorongan dari Arvan. Jika Arvan tidak egois di masa lalu, mungkin semua tak akan terjadi.


Khanza menggerakkan tubuh nya perlahan, membuat Caca kembali bersemangat. Ya, Khanza kekuatan bagi Caca saat ini, melihat senyum Khanza membuat hati nya begitu bahagia, apalagi Caca beberapa kali mengalami keguguran. Rasanya, ia tak ingin lagi kehilangan Khanza, Syifa dan juga Raisa.


"Sayang, nanti saat Khanza udah mulai bisa berjalan, kita buat jagoan ya buat keluarga kita." ujar Arvan. Caca merasa malu, namun ia pun mengangguk.


"Iya, aku ingin sekali memiliki anak lelaki, agar bisa menjadi pelindung untuk mami dan kakak-kakak nya. Karena, aku tidak bisa selama nya menjaga kalian."


"Jangan mengatakan itu! Kami membutuhkan mu, kamu akan selalu melindungi dan menjaga kami."


Ucapan Arvan seketika membuat Caca takut, mengapa Arvan mengatakan hal yang tak pernah ia katakan sebelum nya.


"Iya, Sayang. Aku akan menjaga kalian sampai akhir hayat ku. Namun, tidak bisa selama nya umur tidak ada yang tahu. Jika kita mempunyai jagoan di rumah kita, dia akan menjaga kamu, Raisa, Syifa dan juga Khanza."


"Sudah, jangan mengatakan itu. Jika ada jagoan di rumah kita, kamu dan dia akan selalu menjaga kami." Caca memeluk suami nya dari samping, ucapan suami nya berhasil membuat hati nya merasa gelisah dan takut.


Raisa telah sampai di rumah nya, ia pun menghampiri mami dan Daddy nya di kamar. Namun tidak ada, ia melihat ponsel mami nya di charger. Raisa pun melangkah kan kaki nya menuju kamar Khanza. Dan memang benar, Mami dan Daddy nya sedang berpelukan di kamar Khanza.


"Mami, Daddy." panggil nya, ke dua orang tua nya sontak melepaskan pelukan mereka dan menoleh ke arah Raisa.


"Sayang, kamu udah pulang nak?" tanya Caca. Raisa tak banyak bicara, ia langsung berlari ke arah Caca dan memeluk Caca.


"Mami, maafkan Raisa. Raisa bersalah, Raisa terlalu egois untuk memahami mami, dan juga Daddy."


Caca dan Arvan begitu bingung, mengapa anak nya menangis.


"Sayang, jangan menangis nak. Ada apa?"


Raisa masih senggugukan di pelukan Caca. Ke dua nya masih bingung


Apakah kamu bertengkar dengan kakak mu?


Caca dan Arvan bertanya dengan serentak, Raisa menggeleng. Ia melepaskan pelukan nya dengan Caca.


Raisa mengatakan jika Raisa merasa bersalah dengan Caca dan juga Arvan karena sudah berfikiran buruk tentang mereka.


"Kakak sudah memberitahu segala nya kepada ku, bagaimana mami dahulu menghadapi kehidupan dengan sangat buruk."


Caca menghela nafas nya dengan perlahan, seharusnya anak-anak mereka tidak perlu tahu apa yang ia alami selama ini karena Caca tidak mau anak-anak nya mengalami trauma yang berat seperti diri nya.


"Sudah ya nak, tidak usah menangis. Semua nya udah lewat, gak perlu di bahas kembali. Yang penting sekarang kita sudah bahagia semua nya." ujar Caca.


Caca mengajak anak nya untuk makan siang bersama, Raisa mengatakan jika diri nya sudah kenyang.


"Mi, Raisa masih kenyang. Tadi mama memasak makanan banyak sekali untuk ku dan juga kakak."


Caca tersenyum, ia pun tahu jika dirinya tidak perlu khawatir kalau anak nya ada di rumah Shinta.


"Mama shinta memang begitu, dia ibu yang terbaik di dunia ini."


"Mami juga ibu terbaik di dunia ini. Semua ibu itu terbaik untuk anak-anak nya." ujar Raisa.

__ADS_1


Memang benar, setiap ibu adalah ibu yang hebat untuk keluarga dan anak-anak nya. Ibu bisa mengorbankan apapun demi anak-anak nya. Rela menahan lapar agar anak-anak merasa kenyang, rela kedinginan agar anak nya merasa hangat, bahkan tidak pernah membeli baju baru agar kebutuhan anak nya terpenuhi, rela sakit dan menderita demi anak nya bahagia. Pengorbanan dan kasih sayang ibu tiada batas.


Caca memeluk Raisa dengan erat, ia merasa beruntung memiliki anak-anak yang baik dan pengertian seperti Raisa dan juga Syifa. Caca berharap jika besar nanti, ketiga anak nya tetap memiliki hati yang rendah dan baik kepada siapapun.


Caca mengingat kakak nya Lee yang sudah tiada, andai kakak nya masih ada. Pasti sangat bahagia melihat anak-anak Caca yang sangat baik, Caca juga meminta dan berdoa kepada Tuhan agar sifat buruk ibu nya jauh menghantui keluarga mereka.


"Mami aja nih yang di peluk? Daddy nya enggak?" ujar Arvan yang memasang wajah cemberut. Raisa pun melepaskan pelukan nya dengan Caca. Ia menoleh ke arah Daddy nya yang memasang wajah cemberut. Raisa langsung memeluk ke dua orang tua nya dengan penuh hangat.


"Kamu tau, Sayang. Tadi mami dan Daddy merindukan kamu. Ternyata, kamu datang ke kita."


"Iya, Daddy. Tadi nya Raisa selalu memikirkan Daddy dan juga mami. Raisa bilang sama kak Syifa mau pulang aja, kakak juga mengerti. Kakak meminta tolong kepada supir nya untuk mengantarkan Raisa pulang ke rumah."


"Kenapa Raisa enggak telepon Daddy dan Mami?" tanya Caca yang membelai rambut Raisa, Raisa mengatakan jika diri nya tidak mau merepotkan ke dua orang tua nya.


"Tadi Mami dan Daddy baru pulang mengantarkan Raisa ke rumah kakak. Enggak mungkin Raisa meminta mami dan Daddy untuk menjemput kembali. Kasihan baby Khanza jika harus di tinggal sendirian di rumah."


"Baby Khanza tidak sendirian sayang, kan ada baby sister yang menjaga nya."


"Tapikan dedek Khanza juga harus di temani oleh Mami dan Daddy. Lagipula, Raisa sudah kembali sekarang ke rumah." ujar Raisa kepada ke dua orang tua nya, Caca dan Arvan hanya tertawa gemas melihat anak nya.


*Bodoh sekali aku yang membuang anak semanis dan sebaik Raisa.


Mungkin jika bukan karena aku yang egois, kamu selalu bersama kami nak tanpa harus di buang di panti asuhan*.


Ke dua nya memiliki pikiran masing-masing, mereka sangat menyayangkan mengapa Raisa tidak tumbuh dan tinggal dengan mereka dari kecil.


"Mami dan Daddy jangan pernah merasa bersalah lagi karena sudah membuang Raisa di panti. Itu juga demi kebaikan Raisa karena jika Raisa tetap tinggal dengan mami dan Daddy. Mungkin grandma Elsa akan memberikan pengaruh buruk untuk Raisa."


***Memang benar yang Raisa katakan, jika saja Raisa hidup dan tinggal bersama Caca dan Arvan mungkin Raisa akan tumbuh menjadi anak yang memiliki sifat egois dan keras kepala seperti nenek nya.


"Mungkin juga grandma akan menyakiti Raisa seperti grandma menyakiti mami. Mami jangan merasa bersalah lagi, anggap saja dulu mami menitipkan Raisa di panti asuhan sebagai bentuk perlindungan untuk Raisa."


Caca dan Arvan begitu takjub dengan ucapan Raisa yang begitu bijak. Mereka tahu, Raisa belajar dari kakak nya Syifa.


Caca bersyukur dengan Shinta, karena Shinta telah mengajarkan dan mendidik anak nya Syifa menjadi anak yang baik dan bijak. Kasih sayang yang di berikan oleh Shinta membuat anak nya tidak pernah merasakan dendam.


"Mami, Daddy ada yang Raisa katakan."


"Apa itu nak?" tanya ke dua nya dengan serentak.


Raisa mengatakan jika Minggu depan ada acara sekolah dan anak murid akan menginap di puncak. Raisa meminta izin kepada ke dua orang tua nya.


Arvan sudah mengetahui ini, karena ia pemilik dari sekolah itu. Arvan pun menyetujui permintaan anak nya.


"Apakah Daddy akan ikut?"


"Tidak, Sayang. Daddy tidak akan ikut karena Daddy harus menjaga mami dan adik kamu di sini. Tapi, Daddy sudah menyuruh orang untuk menjaga kamu dan kakak kamu di sana."


"Mengapa Mami tidak ikut aja?" tanya Raisa. Caca menjelaskan jika adik nya Khanza masih sangat kecil, tidak mungkin membawa Khanza ke puncak. Udara di sana terlalu dingin untuk anak sekecil Khanza.


Raisa pun mengerti, ia juga tidak mau adik nya sakit karena ikut.


"Daddy ingin sekali ikut nak, tapi juga kerjaan Daddy banyak di sini. Makanya, Daddy enggak bisa ikut." timpal Arvan kembali, ia sangat menjaga perasaan putri nya. Arvan tak mau anak nya merasa sedih karena mereka hanya memikirkan tentang Khanza.


"Apakah mama Syifa mengizinkan kakak untuk ikut nak?" Raisa mengangguk, ia mengatakan jika Shinta dan Revan juga mengizinkan Syifa untuk pergi.

__ADS_1


"Tadi Raisa enggak ketemu sama om Revan, namun mama Shinta sudah mengizinkan kakak untuk pergi."


"Jika sudah setuju, pasti Revan juga sudah mengizinkan nya." gumam Caca.


Karena ke dua nya tahu, kalau Shinta dan Revan begitu overprotektif kepada Syifa. Sangat sulit bagi mereka untuk melepaskan Syifa apalagi sampai ke puncak.


"Enggak mungkin kakak enggak di izini kan yang punya sekolah itu juga Daddy nya kakak. Pasti om dan mama juga percaya." ujar Raisa.


"Iya, Sayang. Nak tapi Daddy minta jangan terlalu membanggakan Daddy di sekolah ya nak? Daddy enggak mau kamu atau kakak di anggap sombong karena kalian anak dari pemilik sekolah itu."


"Iya, Daddy. Raisa enggak bakalan sombong kok. Raisa juga tahu diri dengan posisi Raisa."


"Bukan begitu, Sayang.. Tapi, Daddy gak mau mereka menjauhi kamu dan kakak karena takut dengan daddy."


Memang sulit sekali menghadapi anak remaja yang baru tumbuh, memang Raisa anak yang baik namun ia juga sulit menerima dan gampang tersinggung oleh ucapan Caca dan Arvan.


Sebagai orang tua, ke dua nya juga harus lebih berhati-hati bicara kepada Raisa agar anak nya tidak salah paham dan mudah tersinggung.


"Iya, Daddy. Raisa memahami apa yang Daddy ingatkan. Raisa juga enggak suka memamerkan apa yang Raisa miliki sekarang, karena dulu Raisa hidup nya tidak beruntung"


"Sudah nak, jangan katakan hal seperti itu lagi ya?"


Raisa mengangguk, tak lama baby Khanza bangun dan menangis. Dengan sigap, Caca memeluk dan menenangkan anak nya.


Raisa memandangi mami nya, ia mengatakan dalam hati begitu rasanya di gendong oleh ibu kandung saat masih bayi.


"Sayang, anak mami. Kenapa nak? Iya sayang, jangan menangis ya." ujar Caca yang menenangkan Khanza yang sangat rewel.


Arvan menoleh ke arah Raisa, ia pun mendekati anak nya dan mengelus rambut Raisa. Raisa menyenderkan kepala nya di dada bidang sang Daddy.


Walau Raisa bersandar di pundak Daddy nya. Namun, mata nya masih tertuju kepada sang mami. Ia melihat bagaimana sayang dan sabar nya sang ibu menenangkan adik nya.


"Nanti, saat Raisa udah dewasa dan memiliki keluarga serta anak. Raisa bisa tahu bagaimana mengurus anak dengan baik ya." ujar Arvan yang mengecup kepala anak nya. Raisa mengangguk, sedari dulu ia ingin merasakan bagaimana rasanya di sayangi oleh ke dua orang tua


Ibu-ibu panti memang menyayangi Raisa, namun kasih sayang mereka terbagi untuk puluhan anak-anak lainnya. Jadi, ibu panti tidak bisa memberikan kasih sayang seutuhnya untuk Raisa. Begitu juga dengan Caca, yang membagi kasih sayang nya untuk Raisa dan juga Khanza.


Bukan nya Raisa tak bisa memahami segala nya, ia mengerti dengan keadaan ibu nya. Namun, apakah ia salah jika ia juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang utuh tanpa harus di bagi?


"Daddy." panggil nya, Arvan pun menyahuti anak nya.


"Iya, Sayang?"


"Apakah dulu Mami nya Daddy menyayangi Daddy?" tanya Raisa dengan serius.


Arvan mengatakan jika nenek nya Raisa telah meninggal saat melahir kan Arvan.


"Nenek meninggal saat melahirkan Daddy. Daddy juga tidak memiliki saudara. Dan saat umur Daddy masih sangat kecil, papa nya Daddy juga pergi meninggalkan daddy. Daddy dari kecil hanya hidup sendiri dan berjuang sendiri." ujar Arvan.


"Berati kita sama ya Daddy?"


"Iya nak, namun kamu lebih beruntung karena masih ada ibu-ibu panti, dan juga ada mami dan daddy di sini walau sudah terlambat. Kamu juga masih punya Kakak Syifa dan juga Khanza. Kalau Daddy, Daddy hidup sendirian, sebatang kara. Daddy harus tetap bangkit demi melanjutkan kehidupan Daddy. Dan sekarang, Daddy sangat bersyukur mempunyai kalian. Daddy menyayangi kalian, melebihi Daddy menyayangi dan mencintai diri Daddy."


"Bagaimana Daddy bisa kuat melewati semua nya?" tanya Raisa. Ia penasaran dengan kehidupan ayah nya di masa lalu. Namun, Arvan mengatakan jika semua nya telah berlalu, Arvan juga tidak mau membuka luka lama nya. Ia juga tidak ingin anak-anak nya merasakan penderitaan yang ia alami dahulu.


"Semua telah berlalu, Sayang. Kita juga harus melanjutkan hidup, jika kita ingin melanjutkan kehidupan kita. Kita harus mengubur kenangan menyakitkan di masa lalu."

__ADS_1


__ADS_2