
"Neng, gapapa kan, tidur di bawah? Besok kita ke pasar beli kasur baru, yah?" kata om Darman sambil menata bantal di atas karpet berbulu. Entah bulu apa.
"Yah udalah." Tanpa menunggu aba-aba segera kubaringkan tubuh ke atas karpet. Asli benaran capek banget.
Sebenarnya rada aneh tidur berdekatan dengan om-om ini, sekalipun dia adalah suamiku yang sah menurut agama dan hukum.
Apa kalian pernah membayangkan tidur di samping laki-laki yang tidak dikenal? terlebih orang itu adalah om-om. Bagaimana rasanya? Jijik-jijik gimana gitu, yah?
"Neng, hadap sini dong!" Om Darman menarik bahuku yang memunggunginya. Merinding aku, tuh.
"Enggak, Dora ngantuk, Bang!" tolakku.
Bodoh amat dengan om Darman yang terus merengek. Kata emak sebelum peduli dengan orang lain, pedulikan dulu dirimu sendiri.
Memang benar kayak gitu, yah?
****
Keesokan Pagi
Oh my God.
Kelopak mataku perlahan terbuka, hampir saja mulut seksi ini teriak kencang saat melirik Om Darman yang masih tidur pulas.
Astaga ... kok bisa orang ini tidur enggak ada cakep-cakepnya.
Dari mulut mangapnya mengalir deras air liur yang aromanya sungguh luar biasa, mengalahkan aroma ikan asin. Kulit wajahnya pun sudah melebihi batas glowing.
Aku tak tahu, sampai kapan akan tinggal bersama orang-orang ini. Entah harus ikut arus, atau pulang ke pangkuan emak.
Ingin rasaya gugat cerai saja, tapi belum siap viral, apalagi kalau harus masuk kategori pernikahan tersingkat ke tujuh versi On The Spot. Sungguh itu bukan cita-cita Dora.
"Tante udah bangun," ucap Doni yang masih bermalas-malasan di tempat tidur, di sampingnya Angga juga rebahan sambil menggigit dotnya yang sudah kosong, sedangkan Cici menaikkan kedua kakinya ke dinding.
Melihat tingkah mereka, aku merasa frustasi. Enggak kebayang, berapa tahun lagi harus mengurusi bocah-bocah ini. Belum lagi kalau sudah tumbuh remaja, bagaimana cara menghadapinya?
Aku segera bangun, duduk sebentar lalu memeluk kedua kaki dan membenamkan wajah ke lutut. Aku hanyut dalam perasaan terdalam.
"Tante, kenapa?" Kedengarannya itu suara Doni.
"Tante, kedinginan?" Kali ini giliran Cici yang bertanya.
Apa peduli anak-anak ini?! Aku mengacuhkan pertanyaan mereka.
Kudengar suara langkah mendekat, tiba-tiba sebuah selimut lembut menutupi tubuhku. Kulirik ke samping, Cici nyengir memamerkan gigi ompongnya.
Siapa yang kedinginan, Sih? nyinyir batinku kesal.
"Ambil, Nih! Aku enggak kedinginan, Kok!" Kulempar selimut ke atas ranjang. Cici menatapku tak berkedip.
Hari kedua di rumah ini. Aku semakin rindu sama emak. Emak lagi apa, yah? Semoga saja mereka enggak kehabisan beras lagi.
Kalau ingat emak aku jadi semangat, ku singsingkan lengan baju tidurku dan mulai berkutat dengan pekerjaan rumah.
Pagi ini aku mau masak tempe goreng dan sayur asam terong. Untung saja emak selalu mengajariku cara masak yang baik dan benar sesuai peraturan dapur emak.
"I love u, Neng!" Dua tangan kekar melingkar di pinggangku.
"Argh ... sial!" Jariku teriris pisau. Ingin rasanya aku nyerocos pakai bahasa Spanyol. Seenaknya kagetin orang. Untung saja hanya luka kecil, bagaimana kalau jariku sampai putus?
"Kenapa, Neng?"
Pake nanya lagi!
__ADS_1
"Jarimu luka, Neng ...."
Yaelah ... yang bilang jariku kebakaran siapa, sih, Om?!
Ada rasa aneh menyeruak dalam sanubari ini saat om Darman memasukkan telunjukku ke dalam mulutnya. Setelah menghisap darahku ia segera meludah ke westafel. Tadinya aku pikir om Darman bakal berubah jadi Drakula lalu berkata, akhirnya aku menemukan darah suci.
"Maaf, yah, Neng! Babang enggak sengaja."
Sekarang aku tersadar kalau om Darman baru saja bangun dan belum ke kamar mandi, matanya belekan, rambutnya juga brekele kayak Lee Min Hoo kerasukan Singa.
Perasaanku tiba-tiba tak enak, kucoba mengendus jari yang tadi diemut om Darman.
Huwaaaaaa .... sungguh ini bau iler yang belum terkontaminasi apa pun!
"Hehe ... bau yah, Neng?"
Yaiyalah bau!
"Hiks, sikat gigi sana!" Lelaki itu berlalu sambil menusukkan jarinya ke telinga lalu digoyang-goyangkan.
Saat om Darman tak lagi terlihat, kini ketiga kurcaci yang datang mendekat.
"Tante, Doni lapar ...!" keluh anak itu sambil mengelus-elus perut buncitnya.
"Cici juga, pengen telur ceplok!"
Yaelah, anak ini suka seenak mulutnya.
Bisa enggak sih, jangan serbu Dora kayak gini?!
Kulihat Angga hanya diam, mulutnya masih tersumpal dengan dot kosong. Saking penuhnya popok, celananya melorot.
Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. Tubuh kurusku harus melayani seisi rumah ini, yang ada sebulan kemudian bermetamorfosis jadi rangka hidup.
Tapi, mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur masuk dalam kehidupan mereka, lagi-lagi hanya penyesalan. Harusnya masa mudaku ceria ceriwis, nongkrong bareng teman, jalan sana jalan sini, bangun pagi bisa leha-leha dulu, senam dulu, nonton kartun dulu, enggak langsung jadi upik abu kayak gini.
Huaaaaaaaaaaaaaaaaa! Lengkap lah sudah penderitaan ini.
Setelah menyiapkan sarapan dan keperluan penduduk rumah, akhirnya aku bisa duduk santai di depan televisi dengan daster lusuh yang basah oleh keringat.
Aroma asam menyeruak dari kedua ketekku, tapi aku suka, kecutnya bikin aku ketagihan ngendus-ngendus ketiak.
"Neng, mandi sana! Kita ke pasar."
Yaelah, baru juga duduk ini ... udah main menyuruh-nyuruh aja.
"Ntar, Bang ... nafasku hampir habis!"
"Yaelah, Neng ... kerja gitu aja udah capek!" ketus Om Darman bikin kepalaku makin mumet, ingin kutonjok mulutnya biar bonyok.
"Besok gantian, Babang yang ngurusin rumah!" keluhku lalu pasang wajah manyun.
"Yah, enggak gitu juga kali, Neng!" Om Darman malah senyum-senyum, bikin otakku mendidih.
Dua hari sudah menikah, tapi aku belum merasakan indahnya pernikahan, yang ada hidupku makin repot saja. Aku kira pengantin baru itu penuh kebahagiaan.
"Bulan madu di atas pelangi ... hanya kita berdua ... nyanyikan lagu cinta, walau seribu duka, kita takkan terpisah ...."
Tuh, kan ... nyanyi lagi, udah kayak drama India aja.
Setelah perdebatan panjang dengan diri sendiri, akhirnya bisa keluar juga dari zona nyaman dan bergegas ke kamar mandi.
Guyuran air dari gayung bagaikan air terjun yang tumpah di kepalaku. Segar sekali. Urat-urat yang tadinya menggumpal seketika terasa lebih rileks.
__ADS_1
"Neng, buruan mandinya ... keburu pada pulang orangnya!" teriak om Darman dari ruang tengah.
Yaelah, ganggu banget.
"Babang aja yang pergi!" teriakku balik sambil memijat rambut yang berbusa.
"Ya enggak bisa gitu, toh, Neng. Nanti siapa yang milih kasurnya!"
"Hoalah, Bang ... tinggal ambil aja enggak usah milih, toh juga sam--- puuihhh!" Tuh, kan kebanyakan ngomong busa sampo masuk mulut.
Setelah beres mandi, aku segera keluar berjalan menuju kamar dengan sarung yang melilit di badan. Kulihat om Darman sudah rebahan di atas karpet sambil main handphone. Tapi, saat menyadari keberadaanku dia melirik dengan mata membesar.
Dasar mata keranjang!
"Jangan liat aku kayak gitu, Bang!" protesku yang merasa risih.
"Emang, kenapa?" laki-laki itu mengelak.
"Ya, pokoknya jangan!"
"Kenapa, sih?" Keningnya mengerut tidak kuhiraukan.
Aku tak ingin om Darman berlama-lama menatapku seperti itu, segera kubuka lemari mencari baju yang cocok untuk ke pasar.
Pilihanku jatuh pada blus batik dan rok ungu. Lumayan, daripada harus pakai daster dan dikatai pembantu lagi sama nenek sihir kemarin.
"Babang, Dora udah siap, nih ...." Sekali lagi kupastikan dandananku cantik membahana. Di depan cermin serong kiri, serong kanan, putar. Mantap!
"Yaelah, Neng ... kita mau ke pasar, bukan mau kondangan. Ngapain pake batik segala, sih?" Lagi-lagi yang kudapat protes semata.
Seketika aku insecure.
Udah cantik gini enggak dipuji malah--- arrrgghhhh ...!
"Yaudah, Dora enggak jadi berangkat. Babang aja sana!" Tuh, kan aku jadi ngambek. Makin malas mau perginya.
"Iya, deh ... iya Dorabela mau pakai baju apa aja tetap cantik, kok! Ayo buruan," Aku tahu itu hanya gombal om Darman.
"Halah gombal! enggak ikhlas gitu lagi ngomongnya."
"Duh, harus gimana sih, ngomongnya ... aku serba salah, nih!"
Siapa suru protes sembarangan, udah cantik gini kagak dihargain.
Pokoknya aku enggak mau ke pasar. Hatiku sudah terlanjur terluka. Kumenangis membayangkan ketidak pergianku ke pasar, harus selalu kau tahu, akulah hati yang telah kau sakiti ....
'Cup!'
Bhuuuuaaaahaaaaaaa ...! sial kena kecup lagi. Tapi, Dora kamu harus konsisten!
"Buruan, Neng! Bentar lagi pasarnya bubar," bujuk om Darman sambil guling-guling di atas karpet. Rangga yang tiduran di kasur menatap bapaknya keheranan.
"Enggak!" ketusku
"Neng ...."
"Babang ...."
"Neng ...."
"Babang."
"Nenggggggg ngggggg!"
__ADS_1
"Babanggg ngggg!"
Gini aja terus sampai Naruto ama Spongebob besanan.